Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Kisah Koin Lima Ratusan

Ilustrasi: ww.kaskus.co.id

Ilustrasi: ww.kaskus.co.id

 

Selasa pagi.

Pagi itu, setelah berbondong-bondong turun dari KRL Jabodetabek di Stasiun Sudirman, sebagian penumpang KRL yang mayoritas orang kantoran menyeberang keluar stasiun ke arah Jembatan Sudirman untuk kemudian menaiki tangga ke atas hingga ke jalan protokol Jenderal Sudirman. Inilah kawasan pusat bisnis utama di Jakarta, ibukota Indonesia.

Pagi itu, di tangga Jembatan Sudirman, seorang pengemis cilik berjilbab dengan luka bakar permanen di kaki (yang membuatnya berjalan terpincang-pincang) duduk dengan bokor kumal di hadapan. Itu yang dilakukannya setiap hari.

Saya ambil koin lima ratusan, memasukkan ke bokornya dan lantas berlalu. Tidak seperti biasanya, ia berteriak memanggil saya, “Pak! Tisunya!”


Saya terhenyak dan menoleh kebingungan. Ia mengacungkan sebungkus tisu mini bergambar karakter kartun favorit, Angry Birds.

“Saya sekarang jualan tisu,” ujarnya sambil menunjuk deretan tisu-tisu mini di depannya, yang luput saya lihat. Tak banyak, hanya 10 bungkus.

“Berapa satunya?” tanya saya.

 

“Lima ratus.”

 

Saya beli empat bungkus dan keluarkan lagi uang Rp 2000. Satu tisu yang diacungkannya tak saya ambil. Untuk bonus, saya pikir, supaya bisa ia jual lagi.

 

Bonus yang kelewat kecil, belakangan saya pikir, untuk sebuah pelajaran besar pagi itu. Pelajaran bahwa orang bisa berubah dan kemandirian bisa ditumbuhkan, jika kita mau.

Dukuh Atas, 3 September 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: