Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Kiat Menyalurkan Kemarahan dalam Tulisan

Salurkanlah kemarahan via tulisan dengan cerdas. (Sumber: www.abovethelaw.com)

Salurkanlah kemarahan via tulisan dengan cerdas. (Sumber: http://www.abovethelaw.com)

Karut-marut kondisi keseharian kita terutama jagat politik Indonesia memang kerap membuat kita muntab dan ingin meluapkannya dalam tulisan. Terlebih bagi orang-orang yang berkhidmat dalam dunia kepenulisan. Tapi tak jarang esai atau tulisan kita berakhir sebagai tulisan penuh caci-maki, penuh amarah dan justru membuat kita ruwet sendiri. Ruwet dan justru tak tercerahkan, apalagi untuk mencerahkan orang lain.

 

Selayang pandang melihat deretan tulisan penuh amarah di media sosial membuat saya teringat sebuah surel (surat elektronik) yang dilayangkan seorang rekan saya beberapa tahun lalu. Berikut kutipan lengkapnya:

 

 

On 5/5/09, Boy SpEakinG <sihitamYY@xxx.co.id> wrote:

Sepertinya menulis tentang zionisme Israel sangat menarik dan penuh dengan kiasan yang perihatin akan saudara kita yang di tindas, cuma Bos, saya mau tanya nh, gimana caranya agar menulis tentang essai ini lebih berarti untuk di angkat menjadi tulisan, saya sudah beberapa kali coba, ujung-ujungnya selalu saja bernada amarah di tulisan saya Bos, saya sih inginnya menulis secara objektif dan bisa mengangkat bukti2 yang kuat bahwa penindasan Israel itu benar terjadi, ya bukan topik ini saja sih bos, karena saya selalu melihat ulasan Bos Nursalam lebih condong kepada hal yang tidak jauh pada kenyataan masalah, selalu fokus kepada hal yang bisa menjadi acuan bukti dan di poles beberapa opini murni hingga menjadi tulisan yang baik untuk di baca sambil minum kopi hangat…ya sedikitnya saya ingin membuat tulisan seperti itu dalam menulis topik hal apa pun, mungkin saja bos bisa memberikan sedikit tips jitu kalau bisa secara rahasia aja melalui kiriman email personal heheheheheh….sebelumnya thanks for sharing

 

Jawaban:

 

FYI, prinsip menulis saya sama seperti kawan-kawan penulis yang lain.

 

Ada prinsip umum dalam menulis: “don’t tell it; just show it“. Jangan (cuma) diceritakan tapi tunjukkan saja, demikian terjemahan bebasnya. Kendati prinsip ini lebih banyak digunakan untuk penulisan fiksi tapi cukup mujarab untuk menulis tulisan non-fiksi.

 

IMHO, esai tidak “bunyi” jika hanya mengungkapkan sesuatu, tapi juga ia harus, jika memungkinkan, merinci sesuatu tersebut. Contoh: Tidak cukup kita bilang Zionis kejam tapi akan sangat oke jika dirinci bagaimana kekejaman Zionis Israel itu berlangsung (mematahkan kaki tangan anak-anak Palestina, merobohkan rumah warga Palestina dll).

 

Hal lain, dalam menulis esai, saya mengagumi Goenawan Mohammad (GM) dengan masterpiece-nya ‘Catatan Pinggir’. Terlepas dari pemikiran liberalnya — dengan TUK (teater Utan Kayu) dan Komunitas Salihara yang dibidaninya — ia termasuk esais Indonesia papan atas selain, konon, Nyoto (tokoh PKI yang dieksekusi mati tahun ’65).

 

Saya belajar gaya bertutur GM yang kaya metafora (permisalan, perumpamaan) dan muatan isinya yang kaya filosofi, berwawasan dan nyastra. Berangkat dari kekaguman tersebut, saya menyelami (kendati baru di permukaan) buku-buku filsafat, psikologi, sosiologi dan terutama sejarah. Disiplin ilmu tersebut, tanpa harus kuliah di fakultas bersangkutan, adalah pisau analisis untuk memperkaya esai kita. Di samping tentunya belajar Qur’an dan Islam sebagai bingkai utama pemikiran kita.

 

Soal kemarahan yang muncul, itu hal wajar. Bahkan bagus. Soal Zionisme dan penjajahan Palestina memang semestinya menimbulkan kemarahan kita. Persoalan berikutnya bagaimana kemarahan itu harus disalurkan dengan kritis dan cerdas? Karena esai adalah pemikiran personal maka tak haram kemarahan itu dimunculkan.Tentunya dalam bentuk yang lebih CERDAS. Dalam konteks ini, perihal penyaluran kemarahan dan emosi, kadang tulisan-tulisan kawan JIL atau Komunitas Salihara (yang mengusung liberalisme) lebih cerdas dan menohok ketimbang kalangan Islamis yang kadang kelewat emosional. Ini bukan soal kebenaran yang disampaikan.Tetapi soal mengemas argumentasi dan menyajikannya kepada publik (baca: pembaca). Tugas penulis adalah memenangi hati dan pikiran pembaca.

 

Banyak membaca (saya pasang target minimal menamatkan membaca 2 buku dalam sepekan), berdiskusi (via milis, FB dan tongkrongan lain), dan menulis adalah upaya saya mengasah gaya menulis. Ini pengamalan dari ucapan Francis Bacon (filsuf Inggris abad pertengahan) bahwa,”Membaca membuat kita berwawasan; berdiskusi membuat kita berbagi dan menulis membuat kita menjadi pasti.”

 

Itu saja. Hal-hal yang umum dilakukan penulis lain, bukan? Jika ada yang berbeda, yah, kita harus tetap berbeda. Prinsipnya, ‘if you can not be the first, be the best. If you can’t, be different‘. Diferensiasi inilah yang menjadikan kita punya positioning khas. Prinsip marketing yang sederhana saja (maklum mantan agen asuransi nih)^ _^.

 

Oh ya, saya punya hobi mengumpulkan kata-kata bijak atau kutipan orang-orang terkenal. Itu, buat saya, berguna untuk bahan tulisan. Termasuk hobi yang lain: mengkliping berita atau cerpen dari koran atau majalah, tabloid dll. Termasuk brosur iklan. Kita tak pernah tahu kapan kita membutuhkan informasi tersebut kan? Simpel saja, information is power, informasi adalah kekuatan. Sesimpel atau sesepele apa pun.

 

Nah, akumulasi dari semua itulah yang akan membentuk gaya menulis kita. Selain, tentunya, bergantung pada tipe karakter, jenis pergaulan dan pengalaman hidup kita.

Terima kasih untuk pertanyaannya yang membuat saya menulis sepanjang ini:). Saya cukup terharu untuk apresiasinya untuk esai-esai saya.

 

Tabik,

 

Nursalam AR

2 Komentar

  1. Terima kasih atas informasi yang berguna mas, sangat mencerahkan.

    • Sama-sama, Mas/Mbak Anggara:).

      Salam kenal ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: