Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Kok Ngantor Lagi???

office

“Kok ngantor lagi???”

Demikian pertanyaan dua tahun lalu bahkan hingga sekarang dari banyak orang atau kolega penerjemah mengenai keputusan saya untuk kembali ngantor setelah sekian lama hidup sebagai penerjemah lepas di rumah.

Dan dua tahun lebih sudah saya bekerja sebagai penerjemah purnawaktu di salah satu kantor konsultan hukum (law firm) di bilangan Sudirman, Jakarta. Ini merupakan lompatan karier bagi saya yang sebelumnya staf penerjemah di sebuah kantor hukum kecil dengan nominal gaji seperempat dari gaji sekarang. Jauh sebelumnya, di awal karier penerjemahan (tahun 2003), saya hanya staf penerjemah di sebuah biro penerjemahan bergaji 700 ribu sebulan.

Selama lebih dari dua tahun ini, banyak suka duka sebagai penerjemah purnawaktu di sebuah kantor konsultan hukum tier 1 di Indonesia ini. Bombardemen istilah legalese dan tenggat waktu yang ketat dengan tumpukan pekerjaan yang tiada henti (hingga menginap berhari-hari di kantor) adalah makanan sehari-hari. Alhamdulillah, sebelumnya saya pernah mengecap masa dua tahun sebagai penerjemah lepas yang terbiasa dengan ritme dan tenggat waktu yang ketat.

Salah satu alasan utama saya kembali ngantor adalah pengembangan diri dan keterampilan. Minimal di posisi sekarang, selain merasakan atmosfer kerja sebuah law firm, saya banyak belajar dari atasan saya, seorang penerjemah senior asal Inggris. Juga leluasa mengakses berbagai kamus hukum (PH Collins, Black Laws dll) secara gratis.

Selain itu, sebagai penerjemah dokumen hukum (legal translator) yang merupakan brand positioning saya, dalam 2 tahun ke depan saya menargetkan dapat menambah portofolio saya dengan sertifikat tersumpah (sworn) UKP UI (yang sekarang tengah moratorium karena terputusnya kerja sama UI dan Pemprov DKI Jakarta) dan sertifikat NAATI. Saya sendiri telah berhasil menyabet sertifikat kelulusan UKP UI tahun 2005 bidang Hukum pasangan bahasa Indonesia-Inggris (dengan nilai C) dan sertifikat kelulusan Tes Sertifikasi Nasional (TSN) HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia) dengan gelar HPI Certified Translator (Penerjemah Bersertifikat HPI) bidang Hukum pasangan bahasa Inggris-Indonesia dalam upacara pelantikan pada 12 Februari 2013 di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Cikini, Jakarta. Info tentang TSN HPI dapat dilihat di situs HPI.certificate of translator_cover

saat penyerahan sertifikat HPI

alumni TSN 2010-2012

Back to laptop, hal lain yang saya pelajari di dunia kerja saat ini yang saya yakini berguna untuk bisnis pribadi ke depan adalah sistem manajemen timesheet.

Timesheet?

Timesheet adalah lembar pencatatan jam kerja pengacara atau penerjemah yang direkap per proyek dan kemudian akumulasi jam kerja tersebut akan ditagihkan dalam bentuk invoice (tagihan) kepada klien.

Contohnya, jika saya memerlukan waktu 8 jam kerja untuk menerjemahkan dokumen kontrak CSPA (Conditional Sales and Purchase Agreement) atau Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) maka, setelah dikalikan rate atau tarif sekian ratus dolar Amerika Serikat per jam untuk biaya penerjemahan (standar biaya sudah ditetapkan sebelumnya), pihak keuangan kantor akan melayangkan invoice kepada klien. Sederhananya demikian.

Saat awal masuk kerja (2010) pengisian timesheet dilakukan secara manual (tulisan tangan) pada kertas formulir khusus yang tentu saja cukup melelahkan dan kurang praktis. Untungnya setahun terakhir pengisian timesheet sudah terintegrasi secara elektronik. Jadi saya hanya tinggal buka aplikasi Legal Management (yang dipasang bagian TI di kantor) di komputer dan menginput data-data yang diperlukan seperti Client Code, Project ID, Required Time, Work Type dan Standard Fee (bisa dalam Dolar AS atau Rupiah, sesuai data sebelumnya yang dimasukkan pihak keuangan atau sekretaris dari Partner atau lawyer yang bersangkutan).

Pekerjaan administrasi seperti ini sebetulnya agak menyita waktu apalagi jika kita sudah direpotkan dengan padatnya volume pekerjaan dan tenggat penerjemahan yang ketat (di law firm ini merupakan hal biasa) serta kesibukan mencari referensi atau padanan kata untuk istilah hukum. Namun, pengalaman ditegur langsung oleh salah satu equity partner saat makan siang bersama di kantor cukup membuat saya jeri.

Apa pasal? Saya lalai menginput data timesheet selama 2 bulan! Saat itu saya baru 3 bulan masuk kerja. Alhasil, 2 hari berturut-turut saya harus begadang sampai malam untuk menginput data timesheet selama dua bulan itu. Saat itu kata timesheet di benak saya sejenak berubah jadi timeshit!

Namun, hikmahnya, sejak itu saya berusaha fokus dan disiplin membagi waktu dalam bekerja. Di meja kerja saya selalu siap sedia selembar kertas khusus untuk mencatat jam kerja terpakai untuk pengerjaan dokumen. Tiap jenis pengerjaan (penerjemahan, penyuntingan, proof-reading atau perangkuman) punya kode pekerjaan dan tarif yang berbeda-beda. Termasuk juga kode BUSD untuk pekerjaan internal kantor dan tidak ditagihkan kepada klien.

Pada akhirnya, seperti kata orang bijak, apapun jenis pekerjaan kita, love what you do and do what you love. Toh, pekerjaan yang saya lakoni sekarang adalah kontinuum dari spektrum karier penerjemahan saya secara global. Dan juga tak selamanya saya akan bekerja sebagai fee-earners (penghasil uang) bagi orang lain. Pada saatnya, sudah ada dalam rencana jangka panjang saya, kapan jembatan itu rampung dibangun dan tiba saatnya saya akan menyeberang. Insya Allah.

 Tautan: www.hpi.or.id

8 Komentar

  1. Halo, Mas Nursalam. Saya baca posting ini juga di buku Pesona Menyingkap Makna. Selama ini saya tahunya panjenengan ini penulis sejarah dan sosial. Baru setelah saya mendalami penerjemahan saya tahu ternyata Mas ini fokus utamanya malah terjemahan😀. Saya mau tanya Mas. Kapan ya TSN 2013 diadakan? Saya berencana ikut. Terima kasih.

    • hpi.or.id. Kabarnya tahun 2013 ini juga mulai diadakan TSN untuk juru bahasa (interpreter).

      Semoga membantu ya. Maaf atas keterlambatan membalas pertanyaannya.

  2. Sari

    Halo Mas Nursalam,

    Salam kenal.

    Boleh nanya-naya ya🙂
    Berapa tahun sekali ya, kantornya buka lowongan jadi penerjemah in-house?

    Apakah penyeleksiannya sangat ketat? Apakah dulu mas masuknya gampang aja?

    Dalam satu kali seleksi, berapa orangkah yang diterima?

    Terima kasih sebelumnya

    • Mbak Sari, salam kenal ya. Maaf ya telat balas pertanyaannya.

      Untuk lowongan di kantor saya, tidak ada periode waktu yang pasti untuk rekrutmen tenaga penerjemah baru. Berdasarkan kebutuhan saja, intinya, untuk berapa jumlah tenaga baru yang diperlukan.

      Seperti baru-baru ini, karena per akhir September ini salah satu penerjemah purnawaktu di kantor saya mengundurkan diri, maka dibukalah lowongan penerjemah purnawaktu sejak dua bulan lalu. Sekarang sudah masuk tahap tes tertulis dan interview para kandidat terpilih.

      Untuk kategori seleksinya, sebenarnya relatif ya apakah sulit atau mudah. Secara pribadi, saat ikut tes masuk [ada tahun 2010, bagi saya yang sudah berpengalaman menerjemahkan dokumen hukum sejak 2003, bahan tes tulisnya cukup familiar bagi saya.

      FYI, jika berminat terjun di dunia penerjemahan, dan sudah daftar jadi anggota HPI, ada fasilitas HPI Notice berupa info lowongan pekerjaan freelance atau full-time bagi setiap anggota HPI. Tautan HPI: http://www.hpi.co.id.

      • Sari

        Mas Nursalam makasih ya atas jawabannya.

        Btw apakah sudah dipilih dan sudah mulai bekerja orang (yg lg diwawancara dan tes tertulis sebelumnya) yang akan menggantikan temennya yang mengundurkan diri itu??

        Terima kasih sebelumnya.

      • Mbak Sari, sudah sejak sebulan lalu (Oktober 2013) sudah terpilih satu orang kandidat penerjemah baru di kantor saya yang akan mulai efektif bekerja pada pertengahan November 2013 ini.

        Mohon maaf ya jawabannya telat😦

  3. icha

    Mas, maaf sebelumnya, saya mau nanya. Kalo pengen berkarier sebagai sworn translator yang lebih menjanjikan uang paling besar dan waktu kerja yang lebih fleksibel (tidak bekerja 9 to 5 everday) dimana? Kantor kedubes asing, law firm, atau biro penerjemah? terima kasih sblmnya. mohon tanggapannya.

    • Mbak Icha, mohon maaf jika tanggapannya telat nih😦. Sesungguhnya tak ada jalan pintas ya, butuh waktu dan pembelajaran terus-menerus untuk sampai pada tingkatan keahlian kita dihargai selayaknya apalagi dengan jumlah nominal yang besar. Kebetulan dari tiga institusi yang Mbak Icha sebutkan, saya sudah pernah bekerja di keduanya, yakni di biro penerjemah dan law firm (kantor saat ini). Sementara untuk kedubes asing, saya banyak dengar cerita dari teman-teman penerjemah yang pernah bekerja di sana baik sebagai penerjemah atau juru bahasa.

      Kesimpulannya, jika ingin waktu kerja yang fleksibel sebagai penerjemah ya mending jadi penerjemah lepas atau freelancer. Karena status karyawan di ketiga institusi tsb tetap saja terikat jam kerja setiap hari. Untuk nominal gaji, konon di kedubes asing lebih menjanjikan, meski menuntut keahlian lebih yakni penerjemah merangkap juru bahasa (interpreter).

      Oh ya, untuk informasi detil, gabung saja di milis Bahtera (milis penerjemah dan pemerhati bahasa) di bahtera@yahoogroups.com atau gabung di grup HPI di FB (HPI- Himpunan Penerjemah Indonesia) untuk cari info detilnya. Situs HPI juga bisa ditengok di http://www.hpi.co.id.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: