Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Merdeka 100%?

“Merdeka 100 persen!” (Tan Malaka)

Selalu, jelang 17 Agustus, saya teringat kisah diskusi di suatu sore tahun 1998 saat saya masih tercatat sebagai mahasiswa Universitas Indonesia (UI).

“Mending tetap dijajah Belanda deh kalo merdeka cuma sengsara begini!” gerutu seorang mahasiswa dalam sebuah obrolan santai selepas Zuhur di selasar sebuah mushola fakultas.

“Jangan Belanda ah. Sadis!” tukas seorang rekan yang lain. “Coba kalo Indonesia dijajah Inggris seperti Malaysia atau Singapura. Pasti kita lebih maju. Lihat saja kemajuan Malaysia dan Singapura sekarang!”

Rekan yang satu ini menambahkan betapa beruntungnya orang Malaysia dan Singapura karena pernah menjadi koloni Inggris sehingga lebih menguasai bahasa Inggris yang notabenemerupakan bahasa pergaulan internasional dan salah satu persyaratan mutlak dalam seleksi penerimaan karyawan.

“Dasar bego!” sembur seorang mahasiswa berambut gondrong dan bertubuh tegap. Yang lain terperangah. Kami belum pernah mengenal si gondrong kurang ajar itu.“Bagaimanapun dan siapapun penjajahnya, dijajah itu hanya jadi budak,” lanjut Si Gondrong dengan tegas. “Belanda atau Inggris hanya berbeda tipe. Belanda menganut model penjajahan klasik yang tahunya hanya memeras dan menghisap darah rakyat jajahannya tanpa tersisa. Sementara Inggris menganut model penjajahan modern yang menjajah secara halus. Rakyat jajahan diberi kebebasan apa saja termasuk pendidikan dan ekonomi kecuali kebebasan politik dan kemerdekaan.”

Tan Malaka (2 Juni 1897-21 Februari 1949). Foto: http://www.myfirecracker.multiply.com

Bertahun-tahun kemudian, setelah membaca buku Massa Actie karya Tan Malaka, saya baru menyadari bahwa saat itu Si Gondrong pasti sudah membaca pemikiran sang pejuang kemerdekaan berdarah Minang yang kerap menggunakan nama samaran Pacar Merah tersebut.

Massa Actie“, salah satu buku karya Tan Malaka (foto: http://www.himakame.multiply.com)

Si Gondrong juga menguraikan betapa berbedanya model kemerdekaan Indonesia yang harus melalui perjuangan bersenjata dibandingkan kedua negara jiran tersebut yang “cukup” melalui perjuangan diplomasi dan “hadiah” dari Inggris. Setelahnya pun, dengan cerdik, Inggris mengikat negara-negara bekas jajahannya itu termasuk Australia dalam ikatan yang disebut Persemakmuran atau Commonwealth. Sehingga hubungan antara penjajah dan negara jajahan lebih menyerupai hubungan silaturahmi ketimbang sebuah penjajahan yang sejatinya merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

Setelah memberi kuliah singkat, si Gondrong ngeloyor pergi tanpa basa-basi. Sebagian rekan mencibir. Namun, jujur, saya mengaguminya. Belum pernah saya mendapatkan pemahaman yang “berbeda” tersebut mengenai makna kemerdekaan.

Dan, jujur pula, sebelumnya saya kerap mengidamkan jaman “normal”, demikian yang dibahasakan ayah saya ketika menceritakan betapa tertibnya peraturan yang diberlakukan Belanda terhadap rakyat Indonesia waktu itu. Seorang teman ayah sampai ditangkap opas (sebutan polisi di zaman tersebut) karena kedapatan membuang sampah ke Kali Ciliwung. Teman yang lain sampai diinterogasi dan kena denda karena menebang pohon meski tumbuh di halaman rumahnya sendiri sebab pohon tersebut termasuk jenis pohon yang wajib ada menurut peraturan pemerintah demi penghijauan kota. Di bidang pendidikan, ketika bersekolah, setiap murid Sekolah Rakyat (SR)—setara SD sekarang—mendapatkan alat-alat tulis gratis.

Belakangan saya ketahui melalui penelusuran bacaan termasuk roman Pramoedya Ananta Toer bahwa sejak 1930an Belanda—dengan desakan Partai Sosialis di negerinya—sedikit meniru taktik Inggris dengan menerapkan Politik Etis sebagai balas budi kepada penduduk Hindia Belanda sebagai gabus yang membuat negeri Belanda—yang sebagian besar wilayah mungilnya berada di bawah ketinggian air laut—dapat mengapung di lautan. Salah satu siasat Politik Etis usulan Van Der Venter tersebut adalah educatie yakni pendidikan, dengan membuka sekolah-sekolah bagi pribumi Hindia Belanda termasuk STOVIA sebagai sekolah calon dokter Jawa yang kini menjadi Fakultas Kedokteran UI di Salemba, Jakarta.

Sama seperti ketika Bani Israil—yang sebagian keturunannya melalui nasab Yahuda Askariya mendirikan negara Yahudi Israel di zaman modern—yang berabad-abad menjadi kaum budak di negeri Mesir dibebaskan Musa yang datang dengan keyakinan pencerahan. Sang Nabi yang perkasa membawa mereka ke sebuah tempat baru yang bebas dengan jaminan makanan gratis setiap hari dari surga berupa manna dan salwa yakni sejenis madu dan daging burung sejenis puyuh. Namun apa tuntutan mereka?

“Wahai Musa, kami tidak tahan hanya makan satu jenis makanan saja. Mintalah kepada Tuhanmu agar memberi kami apa yang ditumbuhkan bumi seperti sayur-mayur, ketimun, bawang putih, kacang adas dan bawang merah.” Konon itulah makanan yang biasa dimakan para penduduk Mesir di mana selama berabad-abad Bani Israil mengabdi sebagai budak tertindas.

Dalam dialog bersejarah yang termaktub dalam Surah Al Baqoroh ayat 61 tersebut, Nabi Musa balik bertanya,”Apakah kamu meminta sesuatu yang buruk sebagai ganti sesuatu yang baik?” Bukan jenis makanan itu yang haram tetapi mental budak yang selalu menghamba budaya lama itulah yang haram dipelihara.

“Sesungguhnya raja-raja apabila menaklukkan sebuah negeri, mereka tentu membinasakan negeri itu dan menjadikan penduduknya yang mulia menjadi hina,” ujar Ratu Balqis–seorang penguasa Negeri Saba’–yang dalam Al Qur’an perkataannya tersebut diabadikan dalam ayat 34 Surah An-Naml.

Itulah hakikat penjajahan atau imperialisme atau kolonialisme. Itulah saripatinya hingga dalam apapun bentuk dan strateginya penjajahan adalah tetap penjajahan. Sehingga, dengan ketajaman analisis dan kesadaran sejati anti-imperialismenya, Bung Karno—sang orator ulung yang berhasil memaksa ayah saya dan teman-temannya rela berjalan kaki puluhan kilometer dari Kalibata ke Gambir untuk mendengarkan pidatonya di Lapangan Ikada–dengan lantang berseru,”Zionisme adalah bab terakhir dalam sejarah kolonialisme di muka bumi.”

Dr. (HC) Ir. Soekarno (6 Juni 1901-21 Juni 1970). Foto: http://www.rosodaras.wordpress.com

Bung Karno, sang bapak bangsa berwajah tampan ini, memang dikenal konsisten terhadap perjuangan rakyat Palestina melawan aksi pendudukan kaum Zionis Israel. Pada 1950an, ia mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) yang melarang keberadaan seluruh organisasi underbouw Yahudi Zionis di Indonesia. Beberapa organisasi tersebut antara lain Freemasonry, Lions Club dan Rotary Club.

Namun sampai sang putera fajar kelahiran Blitar ini wafat pada 1973, penjajahan kaum Zionis terus berlangsung. Bahkan, ironisnya, pada tahun wafatnya sang proklamator bangsa tersebut wilayah yang diduduki kaum Zionis semakin luas pasca kemenangan mereka dalam Perang Enam Hari melawan gabungan negara-negara Arab seperti Mesir dan Suriah yang bertarung setengah hati.

Saking setengah hatinya sampai-sampai laskar Ikhwanul Muslimin—yang merupakan organisasi masyarakat berpengaruh di Mesir dan merupakan pelopor pendukung pengakuan kemerdekaan Republik Indonesia di Timur Tengah melalui lobby Haji Agus Salim sebagai menteri luar negeri pertama RI—yang turut berjuang di garis depan sewaktu perang dibubarkan paksa dan para relawan ditangkapi serta dihukum mati. Ada apa dengan para penguasa negara-negara Arab itu? It is a matter of mentality.

Nah, itulah juga masalah mental yang membelenggu bangsa kita. Indonesia kita belumlah merdeka 100 persen, seperti cita-cita besar yang diteriakkan Tan Malaka. Jika kita enggan membuka mata bahwa belenggu kapitalisme global yang menjerat Indonesia—yang secara gamblang dikupas dalam buku Confession of an Economic Hitman–bukanlah sebuah bentuk yang secara hakikatnya merupakan penjajahan maka setidaknya kita, yang lebih memilukan, dijajah oleh bangsa kita sendiri. Sebagian kita memangsa bagian bangsa yang lain. Sebagian anak bangsa “menjajah” anak bangsa yang lain. Ekonomi biaya tinggi—karena red tape bureaucracy atau birokrasi yang berbelit–dan korupsi mengakibatkan, contohnya, tersumbatnya dana pembangunan gedung sekolah yang rusak atau klinik kesehatan di pedesaan terpencil. Homo homini lupus.

Meminjam istilah Presiden Zimbabwe Robert Mugabe—yang tragisnya juga diduga korup—di awal periode pertama jabatannya,”Berbahaya jika di sebuah negeri selalu berlimpah uang untuk sepatu orang kaya namun tak pernah ada uang untuk periuk nasi kaum miskin.”

Tak heran jika di awal jabatannya, lagi-lagi cerita ayah saya, Bung Karno menghapus berbagai pungutan pajak atau blasting sebagai simbolisasi kemerdekaan bangsa yang (sebenarnya) besar ini.

Merdeka bukan hanya urusan fisik. Tak heran juga bila Wage Rudolf Supratman dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya versi 3 stanza—yang entah mengapa “dikorting” menjadi 1 stanza—tidak hanya satu kali berseru mengenai pentingnya pembangunan jiwa atau character building.

Di stanza satu, ia berseru,”Bangunlah jiwanya/bangunlah badannya…”. Di stanza dua, “Suburlah tanahnya/suburlah jiwanya/bangsanya, rakyatnya, semuanya/sadarlah hatinya/sadarlah budinya/untuk Indonesia Raya. Di akhir stanza ketiga, ia pun berharap, “Indonesia tanah berseri/tanah yang aku sayangi/marilah kita berjanji/Indonesia abadi…”*)

Maka sudahkah masing-masing kita—sebelum bergerak ke level yang lebih luas seperti bangsa — memerdekakan mental kita? Jika tidak, seperti kata Bung Karno, kita hanya akan jadi kuli, nation of kuli, bangsa kuli. Meski istilah tersebut lebih halus dari “budak” namun acapkali perlakuannya tak jauh beda. Seperti para “kuli” perempuan Indonesia di Arab Saudi yang tewas dicambuki para majikan. Persis kelakuan kaum Arab jahiliyah dulu. Hanya bedanya, itu terjadi ratusan tahun silam.

Bedanya juga, dulu para syaikh itu menaruh hormat luarbiasa atas perjuangan kemerdekaan dan gagasan nasionalisme Indonesia–hingga peci hitam khas Indonesia yang sering dikenakan Soekarno disebut sebagai “topi Soekarno” atau Soekarno’s Hat—termasuk berhutang budi kepada Indonesia—lagi-lagi sebab ide Soekarno—karena Padang Arafah sebagai tempat wukuf haji sedunia kini ijo royo-royo berkat bibit tanaman yang didatangkan dari Indonesia.

Kini barangkali kaum Bani Saud itu hanya kenal Indonesia sebatas kemolekan “ayam Arab” di daerah remang-remang Puncak Pass, Jawa Barat. Hingga Singapura—yang hanya “sebuah titik merah di peta” menurut mantan Presiden BJ Habibie—berani mengusik kedaulatan ibu pertiwi dengan draft perjanjian kerjasama pertahanan yang merisaukan pada 2008.

Padahal negara kota bentukan Thomas Stamford Raffles—yang menambah luas wilayahnya dengan jutaan ton pasir laut ilegal dari Bangka Belitung–ini dulu hanya sebuah pulau kecil melarat bernama Tumasik yang merupakan bagian dari imperium besar Majapahit dan Sriwijaya yang kekuasaannya membentang hingga Pattani di Thailand Selatan.

Di tahun 1930-an, menurut cerita salah seorang kakek kerabat saya yang pernah bermukim bertahun-tahun di Singapura, ketika Jakarta di Hindia Belanda dikenal sebagai kota yang bersih dan tertata apik, penduduk Singapura —yang waktu itu masih bagian dari Persekutuan Tanah Melayu yakni gabungan kerajaan-kerajaan Melayu di Semenanjung Malaya– masih punya kebiasaan membuang tinja dan sampah rumah tangga ke jalan raya melalui jendela rumahnya yang seperti pagupon hingga sering menyebabkan keributan antarwarga.

Kenapa kini “semua tak sama”?**)

No one kick the dead dog, ujar Dale Carnegie. Orang hanya takut dan peduli pada anjing yang menyalak, anjing hidup. Anjing mati, sudahlah, (buang) ke laut saja! Maka, sebelum mati, mari kita bertanya pada diri sendiri: “Sudahkah (mental) kita merdeka?”

Tetap semangat! Merdeka!

*) Indonesia Raya versi 3 stanza dapat diklik di http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/08/tgl/06/time/083803/idnews/813513/idkanal/10

**) Potongan lirik lagu group band Padi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: