Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Intellectual Idol

Ilustrasi: www.inc.comAda fakta menggelitik sekaligus ironi dalam riwayat pergerakan reformasi di Indonesia (Mei 1998). Sejarah mencatat, sebagai musuh abadi, kaum intelektual memiliki saham besar dalam setiap proses keruntuhan rezim otoritarian. Sejak zaman Kaisar Louis XIV (Perancis), Shah Pahlevi (Iran), Czecescu (Rumania), Pinochet (Chili) hingga Park Chung Hee (Korea Selatan). Bahkan Soeharto sebagai simbol Orde Baru di Indonesia -sekaligus rezim terkuat dan terawet di Asia Tenggara– ditumbangkan oleh gerakan reformasi 1998 yang dimotori kalangan mahasiswa.

Namun, gerakan kolektif dan masif yang dimotori mahasiswa sebagai bagian dari kaum intelektual untuk menentang suatu rezim otoritarian di Indonesia tersebut-yang bahkan menjadi model perjuangan serupa di Zimbabwe, Myanmar atau Filipina sehingga dijuluki “student miracle”-ternyata tidak dilakoni oleh kaum intelektual dalam artian sejati-yang giat mengkampanyekan pemikiran-pemikirannya melalui tulisan-tulisan seperti gerakan perlawanan serupa di Korea Selatan, Kuba, Chili atau Indonesia era 1966 yang diwarnai kehadiran harian Angkatan ‘66, Angkatan Baru (HMI), KAMI (pimpinan Nono Anwar Makarim) dan Mahasiswa Indonesia edisi Bandung (pimpinan Rahman Tolleng) yang merupakan koran-koran mahasiswa terbesar berskala nasional yang turut dibreidel pada peristiwa Malari 1974 setelah bertahan sejak 1966.

Tipe aktivis ‘98 adalah aktivis jalanan yang berdiskusi di kafe dan mengorganisir aksi-aksi massa secara sporadis, dan tidak menyuguhkan wacana intelektual alternatif melalui tulisan-tulisan media massa kepada publik untuk kemudian ditindaklanjuti dengan aksi massa seperti pada era Soe Hok Gie (1966) atau Soekarno semasa menjadi mahasiswa ITB dengan Indonesia Menggugat dan Di Bawah Bendera Revolusi (1920an).

Hanya segelintir aktivis yang rela berjuang dalam sunyi menggulirkan wacana-wacana alternatif di surat kabar kampus atau nasional ketimbang larut dalam gemerlap lampu sorot TV dan kerumunan wartawan selepas press conference, demonstrasi atau seminar ala selebritis. Barangkali, tanpa bermaksud menuding, inilah refleksi dari kemampuan intelektual mahasiswa Indonesia era 90-an yang disebut sang penyair Taufik Ismail sebagai “rabun membaca dan lumpuh menulis”. Barangkali ini pula yang menyebabkan agenda reformasi tak kunjung tuntas.

Sebagai elemen elite masyarakat atau-dalam bahasa Soe Hok Gie-”the happy selected few”, kaum intelektual yang persentasenya dalam masyarakat ibarat lapisan tipis kulit bawang memiliki tradisi-yang mencerminkan kematangan intelektual sebagai buah pendidikan yang dienyam-budaya literasi (budaya baca-tulis) yang tinggi, aktif membaca dan produktif menulis. Inilah budaya yang merupakan puncak peradaban intelektual manusia; cerminan masyarakat yang matang. Bahkan negara-negara maju rata-rata memiliki budaya literasi yang kuat sebagai parameter tebal-tipisnya lapisan intelektual di suatu negeri.

Tingginya tingkat budaya literasi adalah simbol jiwa yang merdeka, merdeka berpikir, salah satunya. Kemerdekaan berpikir adalah hak asasi umat manusia yang dianugerahkan Tuhan. Kekuasaan negara sekalipun tak berhak merenggut kemerdekaan tersebut. “Orang tidak dapat dihalang-halangi untuk memikirkan apa saja yang ia kehendaki selama ia menyembunyikan buah pikirannya. Pekerjaan otak hanya dibatasi oleh batas-batas pengalamannya dan daya khayalnya,” tulis J.B Buri dalam Sejarah Kemerdekaan Berpikir (1963). Kemerdekaan berpikir secara inheren merupakan satu mata rantai tak terpisahkan dengan kemerdekaan berpendapat. Ekspresi dari sebuah pemikiran adalah pendapat yang tercurah melalui lisan atau tulisan. Terlebih manusia secara naluriah mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi dan menyalurkan gagasan-gagasannya.

Salah satu kesalahan terbesar rezim Orde Baru-dan rezim-rezim otoritarian lainnya–adalah menindas kemerdekaan berpikir rakyatnya. Rezim Orde Baru adalah sebuah sistem di mana feodalisme mendapatkan ruang hidupnya. Setidaknya ada tiga hal yang diberangus di dalam sistem Orde Baru menurut Yasraf Amir Piliang(2001), yaitu (1) daya kritis, (2) daya kreatif, dan (3) daya spiritualitas. Dengan tidak berkembangnya daya kritis maka tidak berkembang pula daya kreatif. Masyarakat selalu diselimuti ketakutan untuk menyampaikan ide-ide baru. Ide-ide baru justru jatuh dari atas.

Secara riil, rezim Orde Baru konsisten melakukan hal tersebut-yang juga dilakukan rezim-rezim despotik di manapun dan kapanpun-secara masif dan eskalatif terutama dengan kebijakan P-4 dan asas tunggal Pancasila. Jean Baudrillard dalam In The Shadow of The Silent Majorities (1981) mengilustrasikan mesin-mesin pikiran Orde Baru menciptakan sebuah masyarakat yang mayoritas diam (silent majority), yang bagaikan sebuah sarang laba-laba, menangkap dan memamah apapun yang disuguhkan kepada mereka oleh siapapun termasuk penguasa.

Inilah paradoks reformasi di Indonesia. Tak hanya kalangan aktivis mahasiswa, paradoks ini juga menjangkiti senior-seniornya, para intelektual tamatan perguruan tinggi yang menjadi dosen atau pegawai negeri dan banyak nyambi sebagai staf ahli menteri atau think-thank pemerintah. Kegemaran tampil sebagai idol-dalam kancah yang disorot publik dan dielu-elukan massa-menyebabkan mereka lebih senang berbicara di ruang-ruang seminar ketimbang menulis di media yang lebih bernas namun sunyi applause.

Tak jarang pula mereka berselingkuh dengan rezim despotik dan mencari “kerajaan di dunia ini” dengan berlindung di balik tampuk kekuasaan dan mempertaruhkan otoritas keilmuannya sebagai tameng kekuasaan berlabel “cendekiawan” beserta tameng-tameng lain yang berlabel “militer”, “birokrat” maupun “pemuka agama” untuk melegitimasi kebijakan-kebijakan penguasa yang tidak pro-publik dengan dalil-dalil ilmiah. Tak luput pada masa SBY-JK dengan mengatasnamakan lembaga survei yang menjustifikasi kenaikan harga BBM yang irasional dan segala keberhasilan parsial pemerintah saat itu hingga era SBY-Boediono saat ini.

Padahal sejarah peradaban menyiratkan bahwa musuh permanen penguasa yang despotik atau rezim otoritarian-yang membelenggu kemerdekaan jiwa–adalah kaum intelektual. Mengapa? Seorang Julien Benda menemukan jawabnya,”Intelektual adalah orang-orang yang kegiatan hakikinya bukan mengejar tujuan-tujuan praktis. Kaum intelektual adalah orang-orang yang mencari kegembiraan dalam lapangan kesenian, ilmu pengetahuan atau teka-teki metafisika. Singkatnya, dalam hal-hal yang tidak menghasilkan keuntungan kebendaan, dan dengan demikian-dalam artian tertentu-kerajaannya bukanlah di dunia ini.” (The Treasons of The Intellectuals, 1928)

Bagi Julien Benda, intelektual yang menyimpang dari kualifikasi tersebut adalah pengkhianat (traitor). Kendati dalam beberapa hal pandangan Benda masih dapat diperdebatkan (debatable) namun esensi argumentasinya adalah betapa pentingnya kaum intelektual memegang teguh idealisme kemanusiaan dan etika otoritas keilmuannya. Dalam bahasa Edward Schills (1972), “Kaum cendekiawan adalah orang-orang yang mencari kebenaran.”

Namun, teori adalah satu hal dan Indonesia adalah hal yang lain. Tak salah bila Indonesia dijuluki the land of possibilities, negeri tempat segala kemungkinan dapat terjadi bahkan segala kemungkinan yang meruntuhkan teori-teori baku dalam politik dan sosial-budaya. Termasuk sistem pendidikan Orde Baru yang membelenggu kemerdekaan berpikir tetapi sukses melahirkan “anak-anak muda pemberang”-meminjam istilah Jose Anwar, aktivis ‘66-yang merontokkan sistem politik Orde Baru itu sendiri yang sekaligus mentransformasi citra intelektual-aktivis yang penulis-ideologis menjadi sosok aktivis-selebritis yang friendly bahkan bergenit-genit dengan industri media. Mungkin suatu saat kita perlu adakan polling SMS untuk memilih intellectual idol of the year. Bagaimana?

*Tulisan ini pernah dipublikasikan di www.rumahdunia.net  dan Koran Pak Oles (terbit di Bali) edisi 97 hal. 6, 16-31 Januari 2006.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: