Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

[Cerpen] Nostalgia Banjir

Nostalgia Banjir

Oleh Nursalam AR

Banjir adalah peristiwa yang meriah.

“Banjir!Banjir!”

Orang-orang berlarian hilir-mudik. Barisan sepeda motor juga berparade menuju tempat yang lebih tinggi. Tak lupa klakson saling bersahut-sahutan bercampur teriakan-teriakan tak sabaran. Ramai bukan?

Mas Parino menggedor-gedor pintu kamar.

“Bu, cepetan!”

“Sebentar, Pak. Sedikit lagi!” sahut Mbak Min, istrinya.

“Barang jangan dibawa semua, Bu. Yang penting-penting aja!”

“Ih, siapa yang buntelin barang. Bapak ini sok tahu ah!”

Mas Parino mangkel. “Lha lantas ngapain lama-lama?! Ayo, lekas keluar. Air sudah tinggi. Kita harus ngungsi!”

Mbak Min menjawab santai,”Sebentar to, Pak. Riasanku belum beres. Malu aku kalo tampil jelek. Di pengungsian kan banyak orang!”

Tensi darah Mas Parino naik lagi.

Di sebuah kampung di bilangan Jakarta Selatan ini banjir adalah rutinitas tahunan. Warga pun terlatih mengantisipasi tanda-tanda alam dan mengevakuasi barang. Namun tak urung kedatangan banjir yang malam itu berarus deras dan cepat menimbulkan kepanikan. Seperti Hamdi, lajang duapuluhan, yang tergopoh-gopoh mencari neneknya yang sedang asyik nonton TV. Neneknya yang sudah pikun dan agak tuli itu penggemar berat sinetron religi yang tayang pada saat prime-time.

“Nyak! Banjir dateng!”

Neneknya diam. Terpukau dengan kesaktian sang ustadz sakti nan ganteng.

“Nyak!Nyak!”

“Hah?!” Neneknya menjawab tanpa menoleh.

“Banjir dateng!”

“Ya udah suruh masuk aje. Sediain aer. Namenye juga tamu.”

“Bukan tamu, Nyak. Tapi yang dateng aer!”

“Ade-ade aje lu, Tong,” sahut neneknya kesal merasa terganggu. “Masak tamu dateng bawa aer kendiri!”

Hamdi dengan segala hormat segera menarik tangan neneknya.

***

Banjir adalah peristiwa yang menyatukan banyak orang.

“Lama juga ya kita enggak ketemu,” ujar Yanto.

Ia bertemu Amir, kawan sebangku semasa SMP. Yanto bersama keluarganya mengungsi di tenda pengungsian di halaman kantor kecamatan. Meski sama-sama korban banjir, posisi Amir dalam pengungsian lebih tinggi. Ya, karena dia beserta keluarganya tidur di lantai dua kantor kecamatan.

“Sudah dua puluh tahun, kalo nggak salah,” sahut Amir.

Mereka sedang duduk-duduk di depan posko bantuan korban banjir. Sambil asyik menikmati nasi bungkus berlauk telur rebus dan tempe goreng yang dibagi-bagikan para relawan posko.

“Tapi aku heran, Mir. Kok kamu ngungsi juga? Kan rumahmu nggak kebanjiran. Tempatnya tinggi dekat tanjakan.” tanya Yanto.

“Aku nggak enak, To.”

“Nggak enak?”

“Iya, sama tetangga. Entar dibilang tidak solider. Sekarang kan trendnya ngungsi. Ya, aku ikut ngungsilah!”

Yanto bengong.

“Nah, kamu sendiri nggak niat pindah rumah? Kan nggak enak kebanjiran melulu,” Amir balik bertanya tak peduli ekspresi wajah temannya.

“Pengen sih,” ujar Yanto. “Tapi kemana ya? Di Jakarta kan susah cari kontrakan murah dan bebas banjir!”

“Di daerah Lenteng Agung aja. Itu kan dataran tinggi.Perbatasan dengan Depok. Aku juga niat pindah ke situ.” Amir menyeruput air mineral dalam botol kecil.

“Kapan pindahnya?

“Nggak tau. Kan baru niat!”

Yanto keki. Skor 2-0 untuk Amir.

Yanto meremas bungkus nasinya yang tandas. “Aku juga mau pindah. Capek kebanjiran terus. Harga kontrakan naik terus pula!”

“Nah, gitu dong. Pindah ke Lenteng Agung aja bareng aku.”

“Ide bagus tuh. Nanti kita sebelahan ya. Biar tetanggaan.”

Amir tersenyum,”Iya dong. Kita kan teman akrab dari SMP. Nanti kalo kita tetanggaan kan jadi gampang pinjem-pinjeman barang. Ya, nggak?”

Wajah Yanto berubah masam. “Pinjem barang? Nanti kamu masih kayak waktu SMP lagi!”

“Maksudmu?”

“Iya, barang-barangku nggak ada yang balik kalo kamu yang pinjam!”

“Itu dulu. Nanti nggak deh. Swear!”

“Bohong! Kalo nanti aku tetanggaan sama kamu dan punya mobil, gimana? Kamu pasti pinjem.Dan enggak bakal balikin!”

“Lha, To, aku pasti balikin kok mobilmu. Percaya deh!”

“Ah, tukang bohong kamu. Pasti mobilku kamu jual. Kurang ajar kamu!”

Amir geram. Ia berdiri sambil menuding dada Yanto,“Heh! Aku nggak takut sama kumismu tahu. Enak aja nuduh aku jual mobilmu. Nggak percaya banget jadi orang!”

“Bohong! Kamu pasti jual mobilku!” Yanto mendorong dada Amir. Amir membalas. Mereka saling baku hantam.

Ah, banjir memang bisa membikin orang stress mental.

Itulah kenapa berbagai pihak yang berduyun-duyun turun ke lapangan seperti parpol, LSM atau yayasan sosial juga menyertakan para psikolog dalam program bakti sosial untuk para korban banjir.

“Nah, Pak Toto, apa yang Bapak rasakan?” tanya sang psikolog muda dan cantik.

“Macam-macam. Pusing, sedih. Campur aduk,” jawab si pasien tua. Sang psikolog tersenyum. Lantas mengeluarkan selembar kertas dan menuliskan kata STRESS dengan huruf besar-besar. “Pak, coba baca ini. Inilah yang Bapak rasakan. Coba sebutkan!”

Pak Toto menatap tajam kertas itu. Mulutnya menganga. Istrinya juga tampak tegang.

Ya, Tuhan, betapa stressnya mereka! batin sang psikolog.

“Saya tidak bisa baca, Bu,” ujar pak Toto. “Pusing saya!”

Sang psikolog mengangguk-angguk. Ia coba berempati. Memang ketegangan dan tekanan mental dapat menghilangkan sebagian kecerdasan orang, pikirnya menganalisis.

“Santai saja, Pak,” senyum sang psikolog menenangkan. “Saya paham tekanan mental Bapak sangat besar. Tapi saya yakin jika Bapak dapat lebih rileks Bapak pasti bisa membaca tulisan ini.”

“Masak sih, Bu?” Kali ini sang istri pasiennya yang bertanya.

“Betul, Bu. Asal Bapak Toto lebih rileks pasti Bapak bisa. Ibu tenang saja.”

“Tenang bagaimana, Bu? Wong suami saya ini memang tidak bisa baca dari kecil. Alias buta huruf. Disuruh ikut kejar Paket A mabur terus!” sungut istrinya.

Wajah sang psikolog memerah.

“Tapi kalo Ibu bisa tolong ajarin suami saya membaca ya, Bu. Caranya gimana tadi? Rileks ya?” tanya sang istri Pak Toto penasaran.

***

Banjir adalah peristiwa politik.

Para kandidat gubernur tak malu-malu berkampanye melalui bantuan sembako. Foto mereka tercetak pada karung beras atau plastik pembungkus selimut tipis. Dengan senyum semanis mungkin.

“Bu, berasnya merek apa?” tanya seorang gadis kecil dalam antrian kepada seorang ibu yang menenteng sekarung kecil beras.

“Ya, nggak ada mereknya. Namanya beras ransum.Gratisan.”

“Mereknya Bang Adang bukan?” tanya si gadis kecil menyebut nama salah satu kandidat gubernur.

“Bang Adang? Ini sih gambarnya Bang Foke!” Ia mengangsurkan gambar seorang lelaki berkumis tebal dengan senyum lebar.

“Yaa…bukan Bang Adang ya? Ya udah deh, nggak jadi!” si gadis kecil keluar dari antrian.

“Lho kenapa?”

“Emak saya nyuruh ngantri beras yang gambarnya Bang Adang. Katanya Bang Adang lebih ganteng,” jawab si gadis kecil. “Katanya kalo bukan merk Bang Adang mending enggak usah aja.”

Si ibu kemudian memperhatikan foto pada karung berasnya sambil manggut-manggut. “Iya, ya. Si bapak ini terlalu tebal kumisnya. Bisa kerepotan ngurus kumisnya aja nanti kalo mimpin!”

*mengenang banjir bandang Jakarta 2007*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: