Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

8 Tips Wawancara Efektif

Salah satu kado (selain goody bag cantik) dari Kompasiana Blogshop (blogging workshop) pada Senin, 16 Juli 2012 (bertempat di @america, Pacific Place, Jakarta) adalah jurus-jurus maut sebagai citizen journalist yang diajarkan oleh Professor Melinda J. Mcadams.

Sang guru besar jurnalisme online dari University of Florida, Amerika Serikat ini membawakan materi Citizen and Multimedia Journalism yang, dalam rentang waktu sekitar 90 menit (pukul 19.00 -20.30 WIB), dibagi dalam tiga sesi pembahasan yakni Better Photos for Journalism, Digital Photo Editing dan Interview Basics. Highlight (kilas balik) dua sesi pertama sudah dibahas oleh Aulia Gurdi dan Valentino di blog jurnalisme warga, Kompasiana.

Nah, berhubung saya sedang sedang berbahagia karena bertambah ilmu secara cuma-cuma (yang jika dirupiahkan, blogshop gratis Kompasiana rasanya setara dengan tiket seharga jutaan rupiah untuk seminar tokoh internasional sekaliber Prof. Mcadams!), berikut saya bagikan 8 tips wawancara efektif dalam sesi Interview Basics. Materi inidiambil dari bahan kuliah jurnalistik tingkat dasar yang diampu Bu Mindy di University of Florida:

 

1. Always chat with subject before interview

Menurut Bu Mindy, sebut saja demikian biar akrab untuk penggemar gudeg ini, bercakap-cakap (baca: ngobrol santai tentang hal-hal ringan) dengan orang yang akan kita wawancarai penting sebagai warming up (pemanasan) sekaligus untuk membuatnya rileks dan tidak tegang saat wawancara berlangsung.

Ingat! Yang kita wawancarai adalah manusia, maka hargailah subyek wawancara kita, dengan membuatnya nyaman dengan keberadaan kita. Prakondisi inilah yang akan menimbulkan suasana natural atau alami — sebuah prinsip penting dalam jurnalisme yang berkali-kali ditekankan oleh Bu Mindy — dan akan menghasilkan hasil wawancara yang baik.

 

2. Be prepared

Dalam istilah Bu Mindy, do your homework! Setiap jurnalis termasuk citizen journalist seperti Kompasioner WAJIB mengerjakan P-R (baca: pekerjaan rumah) sebelum melakukan wawancara. Maksudnya? Lakukan riset, baik lewat googling atau studi pustaka, tentang profil tokoh yang akan diwawancarai atau tentang tema yang akan dibahas. Jangan sampai — ini contoh dari saya ya — ketika mewawancarai Jokowi (cagub DKI pada pilkada 2012), kita mengajukan pertanyaan, “Bapak lahirnya di Solo ya?”

Hal-hal kecil seperti itu semestinya sudah selesai di tahap riset pra-interview.

 

3. Don’t read verbatim from page

Jangan baca pertanyaan (jika kita sudah menyiapkan pertanyaan tertulis) secara kata per kata (verbatim). Selain membosankan, itu juga tidak alami. Juga akan membuat kita terlalu terpaku pada pertanyaan yang sudah ada di atas kertas. Padahal, seperti halnya percakapan, wawancara semestinya mengalir dan tentu banyak hal yang bisa digali — yang dapat dikembangkan dari jawaban subyek wawancara — yang bakal terlewat jika kita berlaku seperti robot atau mesin pembaca otomatis:).

 

4. Make it a conversation

Seperti pada poin 3, wawancara yang baik semestinya seperti aliran air. Mengalir dan fokus. Selain membuat subyek wawancara rileks dan bersikap terbuka dan apa adanya, juga memungkinkan kita menggali secara bebas tentang topik yang dibahas. Sebagai ilustrasi, Bu Mindy mengambil contoh sebuah acara wawancara di TV Amerika Serikat. Untuk konteks lokal, menurut saya, acara Perspektif yang dibawakan Wimar Witoelar di SCTV pada tahun 1994-an memenuhi syarat ideal untuk kategori wawancara yang mengalir.

 

5. Avoid yes-no question

Jenis pertanyaan yang hanya menghasilkan jawaban “ya” atau “tidak” adalah contoh pertanyaan yang buruk. Sayangnya, menurut saya, kebanyakan reporter salah satu stasiun TV berita terbesar di Indonesia masih saja mempraktekkan hal ini. Misalnya, “Ibu merasa sedih?” tanya reporter TV tersebut kepada seorang istri terduga tindak terorisme yang ditembak mati oleh polisi. Bodoh kan?:)

 

6. Get what you need, interrupt if you have to

Fokus pada topik wawancara, itu intinya. Jika kita ingin mendalami berita tentang korupsi seorang calon gubernur DKI, fokus dan perdalam itu kepada narasumber yang kita wawancarai. Jika sang narasumber terlalu bertele-tele atau berkepanjangan (penyakit khas politisi dan orang-orang yang bersalah!), jangan ragu untuk menginterupsi. Tentunya dengan teknik yang manis dan tegas *silakan dibayangkan sendiri seperti apa*:).

 

7. Don’t be too smart

Penyakit “sok pinter” ini tampak pada pertanyaan sang pewawancara yang kelewat panjang dan tidak fokus. Seakan ingin memamerkan keluasan ilmunya atau khazanah bacaannya dan abai bahwa tugasnya adalah bertanya, dan bukan berkomentar panjang lebar — yang semestinya menjadi porsi pihak yang diwawancarai. Ingat! Jangan sampai posisi ini tertukar:).

 

8. The end of interview is not the end of interview

Bingung dengan pernyataan di atas? Akhir dari suatu wawancara bukanlah akhir dari wawancara itu sendiri. Sama seperti olahraga, wawancara yang diawali dengan pemanasan berupa small talk (basa basi atau ngobrol ringan) perlu juga diakhiri dengan peregangan (baca: ramah tamah atau obrolan penutup) yang manusiawi. Sekali lagi, ingat, subyek wawancara kita adalah manusia yang harus diperlakukan manusiawi. Mereka bukan barang atau produk, yang hanya kita perlukan saat kita butuh saja, dan ditinggalkan begitu saja setelah kebutuhan tercapai.

Selamat berlatih!

 

Sudirman, 17 Juli 2012

 

2 Komentar

  1. Terima kasih banyak atas nasihatnya.

    • Sama-sama, Mbak. Terima kasih sudah singgah.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: