Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Pemuda: Kata Sifat atau Kata Benda?

Himmatus syabab, hikmatus syukhuh”. Semangat pemuda dan kebijaksanaan seorang tua. Demikian sebuah adagium Arab mengatakan. Itulah gambaran ideal karakter seorang pemimpin. Ia bersemangat berapi-api seperti pemuda dan bijaksana laksana orang tua.

Tentang kebijaksanaan, Victor Frankl, pakar psikologi kenamaan, mengatakan bahwa mereka yang mampu memaknai setiap aktivitasnya dalam hidup memiliki kekuatan untuk bertahan hidup di dunia yang fana ini.

Bersemangat dan bijaksana. Dua hal yang saling melengkapi dan tak jarang menjadi kontroversi. Seperti wacana “presiden muda versus presiden tua” yang menjadi isu abadi jelang pemilu presiden, seperti pada pemilu presiden 2009 dan (jelang) pemilu 2014.

Pemuda, seperti yang asosiasi yang melekat padanya, mewakili sesuatu yang baru, perubahan. Wacana serupa yang juga diusung Barack Obama, 47 tahun, presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat yang dalam kampanye pemilu 2008 mengusung tema “the change we can believe in”. Perubahan dan memercayai perubahan, itulah semangat muda yang diusung Obama yang juga didukung mayoritas kalangan muda Amerika Serikat.

Yang unik, seperti adagium di atas, Obama yang merupakan presiden keturunan Muslim dan kulit hitam pertama di negara adikuasa tersebut menggandeng seorang politisi kawakan berusia 65 tahun – yang dianggap berpengalaman dalam persoalan internasional – Joe Biden sebagai kandidat wakil presiden.

Di sisi lain, lawan Obama yang dianggap sebagai kalangan tua – John McCain – yang merupakan kandidat presiden AS tertua sepanjang sejarah, 72 tahun, juga menggaet Sarah Palin, seorang gubernur negara bagian Alaska, berusia 44 tahun sebagai kandidat wakil presiden. Sepertinya mereka percaya betul dengan adagium di atas. Lalu bagaimana dengan kita di Indonesia?

Muda versus tua

Wacana “presiden muda versus presiden tua” di Indonesia yang sempat hangat bergulir di media massa jelang pemilu 2009 – yang kini mulai bergaung kembali jelang pemilu 2014 — konon melemah tuahnya pada 2009 seiring sedemikian banyaknya statement perelatifan yang dilakukan kalangan politisi di Indonesia – yang didominasi kalangan berusia 50-an tahun ke atas – yang gencar menyerukan bahwa kualitas kepemimpinan tak memandang usia atau wacana tua-muda hanya memecah belah bangsa. Sangat disesalkan wacana berharga yang sebetulnya bisa menjadi gelindingan diskursus yang lebih serius dan formal mengenai peran kepemimpinan pemuda dalam bangsa Indonesia ini layu sebelum berkembang.

Sebetulnya, berpijak dari wacana tersebut, kita sebagai anak bangsa dapat merangkai dan mengurut secara historis rekam jejak kontribusi pemuda dalam kepemimpinan bangsa ini. Setidaknya sejak Sumpah Pemuda tahun 1928, sebagai titik tolak bersama.

Selanjutnya, berdasarkan kajian historis dan tinjauan kekinian tersebut niscaya ada input produktif dan potensial bagi narasi besar bangsa ini tentang konsep kepemimpinan bangsa ke depan, yang jangkauannya tidak hanya sebatas hingga Pemilu 2009 tapi beberapa dekade ke depan.

Minimal dapat membuahkan sebuah konsep regenerasi atau suksesi kepemimpinan negara yang teratur dan bervisi – namun dengan lebih humanis dan demokratis — seperti yang diterapkan Lee Kuan Yew di Singapura. Sayang realitas politik praktis negeri ini terlalu kejam memangsa buah ide brilian dari anak bangsanya sendiri.

Namun di sisi lain, sebagai pemuda, kita layak mengevaluasi dan berintrospeksi apakah kontribusi pemuda dalam kepemimpinan bangsa (baca: kepemimpinan pemuda) yang selama ini didengung-dengungkan – di mana peristiwa Sumpah Pemuda secara kolektif dikenang sebagai tonggak historis – merupakan mitos atau fakta.

Sebagai komunitas atau bangsa, sesuai fungsinya, kadang mitos memang diperlukan untuk membangkitkan semangat atau membangkitkan kenangan heroik nan patriotik. Namun, mitos yang kelewat megah juga acapkali membelenggu dan memanjakan para pengagum yang menganggapnya sebagai hal yang taken for granted, diberikan begitu saja. Padahal realitas keseharian kita membuktikan bahwa no free lunch, tidak ada hal yang gratis alias diberikan begitu saja. Semua perlu ikhtiar dan tekad kuat.

Memang versi resmi rekaman sejarah nasional berbicara bahwa pada setiap pergolakan kekuasaan di negeri ini kalangan muda selalu tampil terdepan. Bahkan jauh sebelum 1928, pada tahun 1905, H. Samanhudi sebagai tokoh muda pedagang batik dari Semarang tampil membangun SDI (Serikat Dagang Islam) sebagai organisasi perjuangan melawan dominasi penjajahan. Tahun 1908, dr. Soetomo dari STOVIA, sebuah sekolah dokter Jawa yang didirikan Belanda, mendirikan Boedi Utomo. Gerakan-gerakan perjuangan kebangsaan tersebut memuncak pada 1928 ketika berbagai jong atau bond pemuda dari berbagai penjuru nusantara menyatukan tekad kebangsaan pada Kongres Pemuda II di Jakarta.

Saat proklamasi 1945, Soekarno dkk yang berusia 45-an tahun bergerak mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia. Tahun 1966, Soe Hoek Gie dkk gantian menggulingkan rezim Orde Lama yang dipimpin Soekarno – tokoh pemuda yang berubah menjadi tiran. Tahun 1974, Hariman Siregar dkk menggoyang dominasi produk Jepang di Indonesia di bawah rezim Orde Baru pimpinan Soeharto. Tahun 1998, gerakan reformasi 1998 yang dimotori kalangan mahasiswa melengserkan Soeharto — seorang perwira muda berusia 46 tahun yang menggantikan Soekarno sebagai presiden Republik Indonesia melalui Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) 1966 – dan menjelma menjadi diktator yang berkuasa selama 32 tahun. Selepas 1998 pun berbagai aksi demonstrasi – sebuah fakta yang kasat mata – banyak dilakukan pemuda dalam hal ini kalangan mahasiswa dan intelektual muda.

Apakah semua itu murni kontribusi pemuda? Tidakkah kelewat berat beban sejarah tersebut dipanggul sendirian oleh kalangan muda sebagai satu kalangan dari banyak elemen penyusun sebuah bangsa?

Maaf, jika terkesan terlalu skeptis. Seperti kata Rene Descartes, “I think therefore I am.” Untuk menemukan kebenaran, salah satunya, kita harus mempertanyakan banyak hal secara kritis. Termasuk terhadap diri kita sendiri.

Kahlil Gibran berkata, “Kita semuanya terpenjara, namun beberapa di antara kita berada dalam sel berjendela. Dan beberapa lainnya dalam sel tanpa jendela.” Nah, haruskah kita terpenjara dalam berbagai dikotomi yang menyekat kehidupan sosial bangsa seperti nasionalis-religius, tua-muda, atau ortodoks-progresif?

Siapakah pemuda?

Ada tiga hal yang merupakan ciri pemuda: perubahan, semangat dan kemandirian. Perubahan sarat dengan muatan visi, gagasan, kepedulian dan harapan. John C. Maxwell berujar, ”Orang tidak peduli seberapa banyak yang Anda ketahui, hingga mereka tahu seberapa jauh Anda peduli.”

Dalam The Seven Habits for Highly Effective People, Stephen R. Covey berpesan, ”Taburlah gagasan petiklah perbuatan; taburlah perbuatan petiklah kebiasaan; taburlah kebiasaan petiklah karakter; taburlah karakter petiklah nasib.”

Harapan, menurut Ary Ginanjar Agustian dalam bukunya berjudul ESQ (Emotional Spiritual Quotient), 2005, adalah bahwa saat kita berjanji, sesungguhnya kita menarik energi suara hati orang lain secara besar-besaran. Inilah yang dinamakan harapan. Lalu energi itu kita bawa pulang, dan jika tidak kita kembalikan ke sumbernya, keseimbangan orang lain akan terganggu. Harapan (akan realisasi janji tersebut) telah kita tarik, dan belum kita kembalikan (baca: janji belum terealisasi). Percayalah, setiap aksi akan menimbulkan reaksi.

Sementara semangat mewakili aksioma optimisme dan proaktif. Menurut Stephen R Covey, ”Sikap proaktif sangat berguna bagi manusia terutama dalam menghadapi rintangan maupun dalam berinteraksi dengan manusia lain. Sikap proaktif menunjukkan tingkat kecerdasan emosional yang tinggi.”

Lawan proaktif adalah reaktif, lagi-lagi meminjam istilah Stephen R. Covey, “Reaktif adalah sikap seseorang yang gagal membuat pilihan respon saat mendapat rangsangan atau stimulus dari orang lain.”

Dan kemandirian mewakili muatan kritisisme dan nalar. “Menerima ide-ide tanpa berpikir merupakan virus yang meracuni kebutuhan manusia akan pembebasan, berolah nalar, bertanya dan berimajinasi,” ujar Milan Kundera. Menurut sastrawan dan cendikiawan dunia ini, hal tersebut menelan individu dalam kerumunan kolektif. Kebutuhan manusia akan individualitas, prinsip dan orisinalitas lenyap dalam komunalitas tanpa makna. Ya, komunalitas tanpa makna inilah yang saat ini, dalam konteks lokal, dalam salah satu bentuknya menjelma dalam demonstrasi atau tawuran brutal.

Selama perjalanan sejarah republik ini, kontribusi pemuda dalam kepemimpinan bangsa, hukum besi semesta tersebut telah terbukti dalam berbagai bentuknya.

Namun, ada sebuah pertanyaan besar lain: apakah pemuda lebih merupakan kata sifat atau kata benda? Perhatikan berbagai fakta sejarah tersebut di atas. Sebagai kata sifat, ia tak butuh rupa fisik yang gagah. Sepanjang ia memiliki semangat dan visi perubahan, ia adalah pemuda. Meskipun seorang gaek sekalipun seperti mendiang Abdurrahman Wahid yang berusia 69 tahun. Sebagai kata benda, ia memang harus muda, cergas dan lincah selayaknya Barack Obama. Tapi banyak orang-orang muda gagah, berusia belia yang pemikirannya hanya mengkopi ide-ide lama bahkan anti perubahan. Apakah mereka layak disebut pemuda dalam artian sebenarnya?

Singkatnya, secara ideal, pemuda adalah kata sifat dan kata benda. Seorang pemuda selain berusia muda (di bawah 50 tahun) juga memiliki visi perubahan (ke arah yang lebih baik) dan memiliki semangat antusiasme yang besar. Demikian juga soal hikmatus syukhuh, kebijaksanaan, yang erat diasosiasikan dengan privilege kalangan tua—bahkan terkesan dilegitimasikan dengan UU Mahkamah Agung (MA) yang sukses menjadi UU dan memperpanjang usia pensiun hakim agung hingga usia 70 tahun – adalah suatu hal yang juga lebih merupakan kata sifat.

Seorang pemuda, dengan intensitas dan interaksinya, dapat memiliki kebijaksanaan tersebut dalam satu wujud. Tak perlu harus dalam satu paket tua-muda seperti pola pencalonan kandidat presiden dan wakil presiden di Amerika Serikat yang terkesan melestarikan dikotomi abadi tersebut.

Jika ada standar saklek, itulah perubahan. Pemuda adalah perubahan. Itu harga mati.  Soekarno muda pada 1945 – tatkala usia 45 tahun–adalah seorang pendobrak. Tapi ketika ia tak mau berubah, ia menjadi tiran, dan menua. Soeharto muda mendobrak ekonomi bangsa selepas 1966 dengan konsep pembangunan Repelita terencana. Tapi ketika ia tak mau berubah baik karena alasan kroni atau korupsi, ia anti perubahan, ia menua. Lagi-lagi pemuda adalah perubahan. Demikian hukum semesta yang berlaku pada kalangan pergerakan dari Akbar Tanjung dkk (1966), Hariman Siregar dkk maupun kalangan aktivis pergerakan 98 dan angkatan-angkatan pemuda yang akan terus bermunculan.

Yang muda yang memimpin

Dalam kutipan panjangnya, Ary Ginanjar Agustian mengatakan,“Manajemen adalah mengerjakan segalanya secara benar (do the things right); kepemimpinan adalah mengerjakan hal-hal yang benar (do the right thing). Manajemen melakukan efisiensi dalam menaiki tangga keberhasilan; sedangkan kepemimpinan adalah menentukan apakah tangganya bersandar pada dinding yang benar.”

Untuk menentukan keberhasilan sang peletak tangga, kita memerlukan sumber komitmen. Di level korporasi, Kouzes dan Postner (Leadership Challenge, 2002) mengatakan bahwa sumber komitmen yang tinggi bukanlah pada kokohnya core values perusahaan tetapi lebih kepada personal values (nilai-nilai pribadi) karyawan yang kokoh. Karena justru nilai pribadilah yang sesungguhnya lebih tercermin dalam praktik kerja sehari-hari, bukan nilai perusahaan. Inilah yang disebut spiritual capital, modal spiritual. Hal ini dapat diproyeksikan dalam skup yang lebih luas yakni bangsa. Kita perlu lapisan (baca: bukan hanya seorang tokoh atau pemimpin tunggal) pemimpin yang berkomitmen berdasarkan modal spiritual.

Dalam konteks anatomi sejarah peradaban, kepemimpinan pemuda adalah hal yang alamiah, fitrah. Di usia tua, seseorang cenderung lebih banyak berpikir dan akibatnya cenderung lebih ragu atau takut memulai untuk sesuatu yang baru. Sementara pemuda, dengan kemudaannya dan semangat menyala, cenderung bertindak.

Namun, dalam banyak riwayat perjalanan sejarah, kalangan tua terbukti banyak menyokong kalangan muda. Ini artinya kepemimpinan muda bukanlah hal yang kelewat istimewa atau megah, yang harus dipuja-puja dengan meninggalkan atau bahkan menginjak kalangan tua. Ia hanyalah merupakan pergiliran alamiah.

Maka membincangkan kontribusi pemuda dalam kepemimpinan bangsa adalah membincangkan suatu bangsa secara utuh, tak bisa terlepas dari kontribusi elemen bangsa yang lain termasuk kalangan tua. Dalam teori marketing, semua segmen sama, dan pemuda hanyalah merupakan satu segmen yang tingkat urgensinya tergantung konteks. Jadi kepemimpinan pemuda adalah suatu fakta. Tapi ia bukan pemuda an-sich. Ia adalah bagian elemen anak bangsa yang tidak bisa berdiri sendiri. Dalam sebuah keluarga besar tak semua harus maju terdepan. Tak lantas setiap orang muda membawa perubahan.

Pemuda adalah kata sifat dan kata benda, dan standarnya adalah perubahan. Sekalipun ia berusia muda namun hanya membawa ide lama maka ia telah gagal sebagai pemuda kendati mengusung bendera ormas pemuda dengan gegap-gempita. Dan ia tak layak sebagai pemegang estafet untuk menentukan ke arah mana tangga bangsa akan disandarkan,

Seperti kata Isaac Newton, “I could see farther because I was standing on the giants’ shoulders.” Jika para pemuda dapat memandang lebih jauh ke depan, itu juga karena berpijak pada pengalaman dan kontribusi para raksasa tua sebelumnya. Alangkah indahnya jika bangsa ini dapat menghapus segala sekat dan dikotomi sosial yang ada dengan memerhatikan hukum besi semesta dan sejarah bangsa yang merupakan sunnatullah bahwa adalah hak dan kewajiban orang muda sebagai pemimpin dengan bimbingan kalangan yang lebih tua sebagai pemandu.

Jika demikian adanya, sebagai bangsa, kita Insya Allah sangat yakin bahwa negeri ini pasti akan bangkit menjadi bangsa yang besar sebagaimana sejarahnya di masa lampau. Percayalah, harapan itu masih ada.***

 

 

 

2 Komentar

  1. arif fahrurrozi

    keren mas …. mantappppp

    • Terima kasih atas apresiasinya, Mas Arif. Salam kenal:).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: