Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Mitos Budaya Asli Indonesia

Di kancah media massa, termasuk di dunia maya, bertebaran artikel atau pendapat yang mengagung-agungkan “budaya asli Indonesia”.  Pengagungan ini menurut kalangan pendukungnya adalah hal sakral nan kudus, sebagaimana kudusnya konsep NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dalam konteks yang berbeda.

 

Bagi kelompok fanatik ini, fenomena banyaknya orang berjilbab dewasa ini adalah bentuk “Islamisasi” atau, lebih sarkastis lagi, “Arabisasi”, yang dianggapnya jilbab atau hijab adalah serapan dari budaya Arab di kawasan Timur Tengah sana (yang sebenarnya, dari sudut pandang geografis Asia, yang lebih tepat adalah Asia Barat). Di sisi lain, fenomena sebaliknya, seperti maraknya orang pakai rok mini atau baju seksi terbuka disebut-sebut sebagai “westernisasi” alias pengaruh Barat, yang juga tak sesuai dengan kultur atau budaya Indonesia.

 

Benarkah demikian? Lalu bagaimana kita atau, lebih tepatnya kalangan ini, menjelaskan tentang fenomena historis rimpu (tudung dengan bahan dasar sarung semodel burqa yang dipakai kalangan wanita) di Lombok pada abad 15? Sebaliknya, bagaimana pula mereka menjelaskan gaya busana suku Papua yang hanya berkoteka (bagi lelaki) dan mengenakan rok jerami (bagi perempuan) sejak berabad-abad lalu?

 

Jika mereka menyandarkan pada budaya candi Budha atau Hindunya Majapahit atau Sriwijaya, tidakkah itu bisa disebut, dengan logika mereka, adalah Indianisasi? Yakni pengaruh budaya dari India yang erat mempengaruhi budaya Nusantara di masa lampau.

 

Lagipula dengan ribuan pulau dan ribuan budaya di gugusan kepulauan Nusantara ini, masih ada problem utama untuk menjelaskan secara tegas yang mana yang merupakan “budaya asli Indonesia”? Baju kurung Makassar? Kemben Jawa atau koteka Papua? Sementara proses kita menjadi suatu bangsa bernama Indonesia rasanya masih belum tuntas.Meski secara politis telah dinyatakan rampung pada saat Proklamasi Kemerdekaan 1945 saat Indonesia didefinisikan sebagai seluruh wilayah bekas Jajahan Belanda, yang memberikan sempadan secara geografis. Kendati memutus hubungan budaya dengan puak Melayu di Sabah atau Serawak (notabene di satu pulau Kalimantan) yang dikuasai Inggris yang kemudian dimasukkan dalam wilayah Kerajaan Malaysia.

 

Mari berpikir mendasar secara jernih. Menurut Koentjaraningrat budaya adalah keseluruhan sistem gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan cara belajar. Artinya, tak ada budaya yang statis. Budaya itu dinamis karena berasal dari proses belajar di lingkungan baik level kampung atau kampus, dan negara serta antarnegara. Sejatinya, budaya tak bisa diklaim secara sepihak. Ia mengalir dan merembes laksana air, dan bisa bermuara di mana saja.

 

Intinya, tak ada itu yang namanya budaya asli Indonesia, yang mana hanya merupakan mitos tanpa logika. Di sisi lain, mitos tak berdasar ini cenderung dilegitimasi oleh sebagian kalangan untuk memperkuat dalil atau argumen mereka guna menyerang kelompok lain. Kelompok liberal sekuler memanfaatkan isu “Arabisasi” untuk menyerang kelompok Islamis di Indonesia, dengan tujuan (secara politis) pertarungan pemilu lima tahunan dan (secara sosiologis) memperluas pengaruh sekularisme. Kelompok Islamis juga memanfaatkan isu “Westernisasi” untuk menerjang lawan tradisional sekaligus politisnya, kalangan sekuler. Sebuah pertarungan ideologis berusia panjang sejak dulu yang salah satu puncaknya adalah pada sidang Konstituante 1945 yang berujung pada pencoretan 7 kata pada Sila Pertama Pancasila dalam Piagam Jakarta: “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya”.

 

Jika kita mau sehat berpikir, pertarungan ini hanya melelahkan energi bangsa. Ini karena mitos “budaya asli Indonesia” tersebut. Secara diplomasi internasional, mitos tak berdasar ini juga menyulitkan untuk mendefinisikan apakah rendang itu benar-benar khazanah kuliner Indonesia atau sebenarnya rumpun besar khazanah kuliner Melayu, yang artinya dapat diklaim juga oleh Malaysia atau Brunei. Pada akhirnya ini berasal dari mitos tersebut di atas.

 

Jika kita mau membuka mata dengan akal sehat, mitos seperti ini layak diberantas. Mari bersatu dan serukan satu kata untuk mitos budaya asli Indonesia: BERANTAS!!!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: