Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

My Teacher My Angel

“The mediocre teacher tells. The good teacher explains. The superior teacher demonstrates. The great teacher inspires.” (William Arthur Ward)

 

“Berangkat, Bu?” sapaku pada suatu pagi kepada seorang ibu tua berjilbab yang sedang berjalan tertatih-tatih menuju halte bus. Ia menggunakan tangkai payung panjang sebagai tongkat.

Wajah tuanya terperangah. Kacamata minusnya masih seperti dulu. Hanya bertambah tebal. Di tengah kebingungannya berusaha mengenaliku, aku menjumput lengan keriputnya. Mencium tangannya. Penghormatan untuk guruku.

Keberkahan dan panjangnya umur, itulah yang aku mohonkan kepada Allah untuk guru yang satu ini. Di manapun ia berada saat ini. Ia memang bukan ibuku. Bukan juga saudara atau kerabatku. Namun ia, dalam salah satu fase perjalanan hidupku, sangatlah berarti.

Dan tidaklah hidupku yang sekarang ini lengkap — atau bahkan mungkin aku tidak akan seperti sekarang ini — jika tanpa amal kebaikannya untukku yang ia lakukan sekitar dua puluh tahun lalu saat aku masih di bangku Sekolah Dasar. Boleh dibilang, meski mungkin bagi sebagian orang terasa berlebihan, ibu guruku malaikatku.

Bu Satimah, demikian kami memanggil malaikat ramah berwajah keras itu. Ia guru Sekolah Dasar (SD). Ia juga orang pertama yang mengajariku baca tulis. Tentu itu memang tugas setiap guru kelas satu, di zaman itu, yang barangkali terasa wajar dan tidak istimewa. Barangkali demikian.

Dan memang amal kebaikan Bu Satimah – tanpa mengecilkan jasanya yang satu itu – yang teramat istimewa padaku bukanlah saat ia memosisikan diri khusus sebagai guru. Justru ketika ia memposisikan diri sebagai ibu, sebagai manusia yang punya kepekaan dan nurani. Di situlah ia menjadi sangat berarti dan tak tertandingi.

***

Sewaktu kecil, aku menderita penyakit kencing batu sejak usia empat tahun. Konon sebabnya karena aku terlalu banyak mengonsumsi makanan dan minuman yang manis-manis. Sakitku itu terus berlanjut ke tahun-tahun berikutnya hingga sukses mengubahku yang semula bayi montok yang aktif menjadi balita yang kuyu dan penyakitan.

Pada usia lima tahun, aku dikhitan. Anak-anak Betawi seusiaku memang lazim dikhitan atau disunat pada usia dini. Bahkan ada yang sudah dikhitan sejak masih seminggu setelah dilahirkan – dengan mencontoh Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Namun, khusus untukku, orangtuaku mengkhitankanku – dengan menumpang, karena pertimbangan biaya,  pada perayaan khitanan sepupuku – terutama agar aku lekas sembuh dari penyakitku itu. Mereka tentu saja, yang sangat aku yakini, tak tega melihat anak kedelapan mereka menjerit kesakitan tiapkali buang air kecil dan tak bisa bermain leluasa seperti anak-anak sebayanya. Tubuhku pun saat itu kurus, lesu dan bungkuk.

Untuk yang terakhir itu karena, untuk menahan rasa sakit, aku sering menempelkan perutku ke bagian paha. Menahan sekuat-kuatnya rasa sakit yang mendera. Rasa sakitnya memang tak tertahankan. Karena urine harus berjuang keras melewati gumpalan batu mengeras di kandung kemih. Serasa ada puluhan pisau tajam mengiris bagian dalam kelaminku.

Pernah saking putus asanya, aku berdoa memohon kematian kepada Allah. Ya, aku ingin mati di usia muda agar tak merepotkan orangtuaku lebih lama.

Di usia semuda itu aku tahu betapa bingungnya kedua orangtuaku mencari biaya ke dokter atau berobat alternatif. Mereka tahu satu-satunya jalan adalah operasi bedah. Namun, untuk memberi makan keenam anaknya yang hidup dari 12 anak yang terlahir, mereka berjuang susah payah. Jadi, opsi operasi sungguh suatu kemewahan. Dan untuk menggapainya dibutuhkan keajaiban.

Solusi realistis, menurut saran-saran tetangga, adalah aku harus dikhitan. Barangkali karena niat baik tersebut penyakitku mereda. Aku tak lagi sepayah tahun-tahun sebelumnya kendati masih harus rutin mengonsumsi jamu-jamu dan rebusan daun kumis kucing.

Saat itu, era 1980-an, memang belum ada pil praktis atau obat instan seperti saat ini yang dapat menghancurkan batu dalam kandung kemih. Operasi laser, tanpa harus melalui pembedahan, untuk pasien kencing batu juga belum dikenal saat itu.

Bagi kami, aku dan keluargaku terutama kedua orangtuaku, sekadar meredanya sakit pun sudah merupakan nikmat Allah yang patut disyukuri. Setidaknya aku dapat bersekolah seperti anak-anak kebanyakan.

Meski untuk aktivitas permainan remeh temeh yang umumnya saat itu lazim dikuasai anak-anak sebayaku – seperti bermain layang-layang dan bersepeda — aku sangat tertinggal. Penyakitku memang memaksaku tak boleh kelelahan dan harus banyak berdiam di rumah. Karenanya aku baru bisa belajar bersepeda saat kelas lima SD.

***

Tahun 1983, saat usiaku enam tahun, aku dimasukkan ke sebuah sekolah dasar negeri di dekat rumahku di bilangan Jakarta Selatan. Bu Satimah adalah guruku di kelas satu. Sebagaimana umumnya guru-guru kelas satu saat itu, ia welas asih, penyayang, ramah dan baik hati. Satu hal yang paling mengesankan bagiku adalah saat ia menunjukkan pendirian dan kepeduliannya.

“Kamu harus tetap sekolah,” ujarnya padaku.

“Salam harus ikut testing,” ia tegaskan itu di depanku dan ibuku serta di hadapan guru-guru lain di ruang kepala sekolah. “Meskipun testingnya di rumah.”

“Siapa yang bertanggung jawab? Siapa yang bisa jamin?” tanya seorang guru perempuan, dengan nada sinis.

Bu Satimah menatap tegar. Tegas nada suaranya. “Saya yang jamin. Saya yang bertanggung jawab.”

Waktu itu, di penghujung kelas satu, kembali penyakitku kumat. Kondisiku memburuk. Aku tak bisa keluar rumah. Ibuku pun meminta kebijaksanaan dari sekolah agar aku diberikan dispensasi untuk mengikuti testing atau ujian kenaikan kelas di rumah.

Itu memang di luar kebiasaan dan peraturan umum sekolah. Terlebih lagi kami sebagai pihak yang mengajukan bukanlah orang yang berkecukupan, bahkan serba kekurangan. Itu jelas, bagi pihak sekolah, sebuah permintaan yang luar biasa – jika tidak bisa dibilang mengherankan.

Pandangan tersebut tercermin jelas dalam rapat dewan guru yang dipimpin kepala sekolah. Sebagian melecehkan bahkan menyinggung hal-hal lain yang tak relevan dengan permohonan dari ibuku. Aku dan ibuku duduk mengikuti rapat tersebut dengan berdebar. Aku merasa bagai pesakitan atau terdakwa. Aku rasa ibuku juga merasakan kepedihan yang sama.

Tapi saat itu aku merasakan betapa ibuku – yang hanya berpendidikan kelas 4 Sekolah Rakyat (sekolah dasar di era penjajahan Belanda) – punya keberanian besar, yang jelas didorong cinta, agar anaknya tetap dapat bersekolah. Seburuk apapun kondisinya.

Aku makin cinta ibuku yang duduk terdiam di sampingku. Ia yang lugu tampak bersahaja dengan kerudung dan kebaya yang dikenakannya. Aku tahu dalam diamnya ia berdoa untukku. Dan aku tahu aku merasakan cintaku untuknya makin besar semenjak itu.

Ternyata dalam ruangan itu tak hanya ada satu cinta untukku. Dukungan yang diberikan Bu Satimah dengan tegas untuk kelanjutan sekolahku memapas pelecehan dan pesimisme pihak sekolah. Meski aku tahu beberapa guru bersungut-sungut tak setuju, tapi sang penyelamat itu – dengan rambut ikal pendeknya dan kacamata minusnya – bersiteguh dengan argumentasinya yang cerdas.

Wajahnya memang terkesan keras. Konon ia kelahiran Malang, Jawa Timur. Namun hari itu ia menunjukkan kelembutan sayap-sayap hatinya. Mengutip lirik lagu masyhur dari girl band Cherrybelle yang bergaya K-Pop, ia cantik dari hatinya…

Bukan itu saja yang membuatku kian salut kepada Bu Satimah. Setelah perjuangannya yang keras di depanku, ia memberikan kepercayaan yang besar kepadaku dan keluargaku. Semestinya, dengan saran kepala sekolah, Bu Satimah harus selalu mengawasiku ketika sedang mengerjakan soal testing di rumah.

Namun ia sepenuhnya mempercayakan pengawasan itu kepada kedua orangtuaku. Selama pekan testing, ia hanya mengantarkan bahan testing ke rumahku dan mengambilnya selepas jam sekolah.

“Saya percaya kok bapak ibu orang jujur. Salam juga anak jujur. Jadi saya percaya saja,” demikian katanya.

Kedua orangtuaku yang terharu dengan kepercayaan tersebut menjaga betul amanah tersebut. Bahkan ayahku tak segan-segan menjewer salah satu kakakku yang mencoba membantuku mengerjakan soal testing. Kepercayaan adalah barang mahal yang memang harus dijaga baik-baik.

Alhamdulillah, dengan prosedur testing yang ‘di luar kebiasaan’ itu, aku dinyatakan berhak naik kelas ke kelas dua. Namun sakitku yang bertambah parah, dan ketiadaan dana orangtuaku, aku pun cuti dari sekolah. Bedrest. Lagi-lagi di luar kebiasaan.

Setahun kemudian – setelah menjalani operasi pada 1984 dengan biaya pinjaman dari kerabat – aku melanjutkan ke kelas dua. Teman-teman seangkatanku sendiri sudah berada di kelas tiga.

Bu Satimah juga yang mengusulkan gagasan cuti tersebut. Dan, lagi-lagi, dengan gemilang ia membelaku di hadapan para rekan sejawatnya. Sungguh, bagiku, ia malaikat. Siapa pula yang saat itu – mungkin hingga kini — mau membela murid miskin sakit-sakitan tanpa bayaran?

Di tahun-tahun belakangan, setelah memahami realitas kehidupan yang keras dan kompleks, aku semakin menganggapnya malaikat.

Sayang tahun-tahun berlalu menerbangkan sekaligus melipat segala kenangan termasuk kebaikan. Waktu memang paling ampuh memusnahkan segalanya. Ditakar dengan besarnya jasa Bu Satimah, balasanku atas kebaikannya sangat tak sepadan. Aku hanya satu dua kali berkunjung ke rumahnya. Itu pun semasa aku bersekolah di SD.

Selepas SD, aku sama sekali melupakannya. Kendati ibuku, yang merasa amat berhutang budi kepada Bu Satimah, selalu memintaku mengunjungi sang ibu guru yang hidup sederhana di bantaran Kali Ciliwung yang selalu kebanjiran dari tahun ke tahun.

Yang aku tahu, untuk beberapa belas tahun kemudian, Bu Satimah masih mengajar kelas satu di almamaterku itu. Tapi kini dengan penampilan fisik yang menua dan gaya jalan yang tak lagi gagah dan cepat seperti dulu.

Namun, lagi-lagi hanya berdasarkan kabar dari orang, di usia menjelang pensiun ia masih melanjutkan kuliah S-1 di IKIP (sekarang Universitas Negeri Jakarta) Jakarta.

Guru-guru SD seangkatannya – dan yang menjadi para guruku di SD – memang rata-rata lulusan SPG (Sekolah Pendidikan Guru), sebuah sekolah pendidikan guru tingkat menengah yang telah dibubarkan pemerintah era Orde Baru. Dan, untuk dapat terus mengajar dan tentu saja mendapat gaji yang lebih layak, mereka diharuskan melanjutkan sekolah lagi untuk meraih gelar sarjana (S-1).

Hingga terjadilah pertemuan saat itu antara si Malin Kundang ini dengan sang malaikat penyelamatnya – yang ironisnya telah dilupakannya bertahun-tahun.

“Sudah SMP kamu, Lam?” Bu Satimah akhirnya mengenaliku. Pandangannya menelisik dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Aku yang masih kelas tiga SMP saat itu merasa risih dengan bulu kakiku yang mulai tumbuh lebat.

“Makin jangkung aja!” Ia tersenyum.

“Belajar yang bener ya!” Ia menepuk-nepuk bahuku yang kini jauh lebih tinggi darinya. Malaikat berhati emas ini memang berukuran tak seberapa tinggi namun – dalam kenanganku – nyalinya dan kepeduliannya jauh melebihi tinggi tubuhnya.

Teramat sayang saat pertemuan itu – mungkin karena gumpalan perasaan yang campur baur di hatiku – aku tak banyak berkata-kata. Bertemu dengannya – setelah lama melupakannya – bagaikan bertemu dengan seorang pemberi hutang yang sama sekali tak menagih hutang dan bersikap seakan-akan kita tak punya hutang kepadanya. Hanya saja sang pengutang, dalam hal ini aku,  yang merasa kikuk bukan kepalang.

Di akhir pertemuan singkat itu, Bu Satimah menawariku berkunjung ke rumahnya. Dengan gaya polos khas ABG, aku jawab,”Iya, Bu, kapan-kapan.”

Aku lupa mengucapkan “Insya Allah”. Dan memang bertahun-tahun setelahnya aku tak pernah mampir ke rumahnya yang terletak di daerah Cawang. Hanya beberapa kilometer dari rumahku. Hanya dibatasi Kali Ciliwung yang kecoklatan airnya.

Sewaktu kuliah, aku mendapat kabar ia tak lagi tinggal di daerah itu. Tak seorang pun di sekitar rumah lamanya yang tahu kemana sang malaikat itu berada.

Aku kian merasa sebagai Malin Kundang. Bahkan hingga saat ini, detik ini. Rasa bersalah itu tetap ada meski rasanya aku telah menebusnya dengan meneruskan kebaikannya yang pernah dilakukan kepadaku. Pay it forward.

Jika dulu Bu Satimah berjuang membantu anak melarat ini untuk tetap bersekolah maka sejak lima tahun lalu aku menjadi bapak asuh, melalui sebuah lembaga zakat, untuk anak-anak yatim dan dhuafa yang kesulitan untuk melanjutkan pendidikannya.

Bu Satimah memang guru besar, dalam pengertian keluasan hati, yang menginspirasi. Namun sayang kebesaran hatinya itu tidak mendapat penghormatan yang selayaknya dariku.

Ah, seandainya saja takdir kembali mempertemukanku dengannya, dengan ilustrasi adegan khas drama Korea yang sedang booming saat ini, ingin aku menjumput serta mencium takzim tangannya seraya berucap, “I am sorry, My teacher. Thank you. You are my angel.“

Dukuh Atas, 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: