Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Paradoks Globalisasi

Globalisasi dapat disebut sebuah kemasan budaya kontemporer berlabel paket kebijakan ekonomi berupa free trade and free competition (pasar bebas dan persaingan terbuka) yang mengikat instrumen-instrumen seperti AFTA,APEC,NAFTA, Uni Eropa dan WTO. Side effect-nya mengakibatkan dunia menyempit menjadi sebatas global village (desa global), sehingga nyaris tiada batas teritorial negara yang berlaku. Tiap warga dunia berhak bekerja dan memperoleh pendidikan atau bersekolah di belahan dunia manapun tanpa mengalami proteksi atau terkena kewajiban membayar visa.

Dengan demikian, komoditas industri mengalir masuk ke tiap negara tanpa hambatan dan tak diperkenankan lagi kebijakan proteksi atas produk lokal suatu negara. Contohnya, proteksi Malaysia atas mobil nasionalnya, Proton Saga, atau kebijakan penghambatan ekspor produk negara berkembang—secara halus—terutama produk pertanian yang diberlakukan negara-negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat demi melindungi industri pertanian lokal.

Di Asia Tenggara, pasar bebas berlaku dalam bentuk Asean Free Trade Area (AFTA) di mana setiap negara ASEAN mengurangi proteksi atas produk lokalnya dan membuka pintu lebar-lebar terhadap arus impor untuk pasar bebas ASEAN pada 2003. Kawasan perdagangan bebas tersebut meluas pada tingkat Asia Pasifik atau Asia Pacific Economic Countries (APEC) yang mengikutsertakan Australia, Selandia Baru, dan sebagian negara Pasifik.

Di belahan dunia lain, Eropa dan Amerika, pasar bebas regionalnya adalah European Union (EU)—yang memiliki Euro sebagai mata uang bersama—dan North America Free Trade Area (NAFTA). Kedua arus besar pasar bebas tersebut kemudian bertemu pada pasar bebas global yakni World Trade Organization (WTO) pada 2010.

Tak dinafikan adanya muatan budaya maupun ideologi yang merupakan implikasi dari proyek global tersebut. Secara das sollen (cita-cita ideal), globalisasi bermakna kesimetrisan informasi maupun muatan budaya dari satu ujung dunia ke belahan dunia yang lain. Artinya, arus informasi dan budaya dari kawasan Timur semestinya mengalir lancar tanpa hambatan menuju Barat sebagaimana derasnya arus budaya Barat mengalir ke dunia Timur selama ini.

Namun, secara das sein (realita) terindikasikan globalisasi lebih merupakan paket New World Order, tata dunia baru a la Amerika sebagai representasi Barat, di mana derasnya arus informasi dan muatan budaya dari Barat ke Timur seperti budaya pop (MTV, NBA atau fast food) tidak diimbangi secara sebanding dengan kebebasan masuknya arus budaya Timur ke Barat. Sebagai contoh, penyebaran agama dan budya Timur seperti Islam dan Zen terutama pasca tragedi 11 September 2001 terhalang kebijakan pemerintahan Barat, maupun pencitraan negatif secara berlebihan terhadap apa-apa yang datang dari Timur khususnya Islam.

Fakta lain, transfer sains dan teknologi dari Barat ke Timur yang semestinya merupakan konsekuensi logis dari globalisasi terjadi secara lambat bahkan cenderung terkendala karena kebijakan protektif Barat sebagai negara produsen atau pusat sains dan teknologi. Bahkan justru meruak fenomena brain drain (pelarian kalangan intelektual) dari mahasiswa-mahasiswa Timur, khususnya negara-negara Muslim, yang dikirim belajar di Barat untuk seterusnya menetap dan bekerja untuk Barat dengan iming-iming besar. Bila kondisi seperti ini terus berlanjut, negara-negara Barat dan Amerika akan menjadi tuan dunia yang menguasai sains teknologi dan informasi sedangkan negara-negara Timur—yang mayoritas Muslim—terus menjadi budak dan konsumen permanen produk Barat.

Dalam kondisi paradoks itulah kita harus mempersiapkan diri menghadapi globalisasi dengan segala kondisi dan konsekuensi, mau tidak mau dan suka tidak suka. Sejarah mengajarkan kita bahwa setiap bangsa mampu bangkit dari keruntuhan melalui penguatan akar budaya dan religi atau basis ideologi. Sebutlah Cina dan Jepang di Asia Timur dengan Konfusianisme, Jerman semasa Hitler dengan spirit Deutsche Uber Allez atau Amerika Serikat dengan etik Protestan yang dikembangkan Max Weber.

Religi atau basis ideologi yang kuat memiliki beberapa syarat. Pertama, mampu berfungsi sebagai cross-cutting loyalties—meminjam istilah Clifford Geertz—yakni menjadi ikatan kesetiaan yang lebih utama di atas ikatan kesetiaan yang lain. Kedua, terinternalisasi sebagai budaya dominan di masyarakat. Dan memiliki etos revitalisasi (renewable resources) sehingga selalu up to date dengan perkembangan zaman.

Sumber ilustrasi: Blog ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: