Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Memilih Gila

Alun-alun Rangkasbitung. Ahad pagi di tahun 2007. Cerah. Ramai. Murid-murid sekolah dengan kostum olahraga beradu lari di lintasan sederhana. Aku jadi teringat semasa SMP ketika latihan atletik di stadion olahraga Ragunan, Jakarta Selatan. Para ibu mendorong-dorong kereta bayi dan sibuk menyuapi si kakak yang kadang berlari-larian bersama teman-teman sebayanya.

Di ujung timur, sekelompok lelaki dan perempuan dewasa mengikuti gerakan bela diri sang instruktur silat yang tegap. Ah, inilah ruang publik yang kian lama kian langka di Jakarta, gumamku seraya berdesis kepedasan menyantap kupat tahu. Seorang kawan, yang mengajakku jalan-jalan cari sarapan sebelum agenda rapat dimulai, tampak asyik menyeruput teh botolnya.

Ya, kami, para penulis yang tergabung dalam organisasi kepenulisan Forum Lingkar Pena (FLP), sedang mengadakan rapat kerja kepengurusan baru di Rangkasbitung, sebuah kota kecil di wilayah Lebak, Banten. Kota kecil yang menyimpan aura sejarah Multatuli dengan karya monumentalnya Max Havelaar. Sayang Rumah Sakit Missi yang konon sejaman dengan sang penulis sudah banyak berubah arsitekturnya. Tak tampak lagi jejak sejarah zaman perlawanan rakyat Lebak yang dulu aku kenal dalam film di era 80an berjudul Lebak Membara.

Jika dahulu Multatuli—seorang Belanda yang dianggap pembelot oleh bangsanya—tergerak melukiskan derita rakyat Banten ketika melihat seorang lelaki tua terkapar kelaparan, mungkin saat ini jika ia berumur panjang penanya akan gesit menari melihat pemandangan mengenaskan yang kulihat saat ini.

Di belakangku sejarak sepuluh meter, seorang lelaki usia tiga puluhan berwajah keruh duduk memeluk kaki. Termenung. Pandangannya kosong, lurus ke depan. Kaus hitam yang dikenakannya sobek di sana-sini. Lusuh. Kontras dengan tiang pendopo alun-alun yang berwarna cerah yang sejak setengah jam lalu disandarinya. Sebentar-sebentar ia tersenyum dan bergumam. Sesekali ia bergerak seperti menangkap sesuatu dengan tangannya yang aku rasa tak terbasuh air berhari-hari. Hitam dan kotor. Tak usahlah dibayangkan berapa juta kuman yang hinggap di sana.

Waktu awal krisis ekonomi pada 1997 disinyalir orang-orang seperti si lelaki malang meningkat jumlahnya. Hingga rumah sakit jiwa kewalahan menampung lonjakan jumlahnya. Ya, saat itu ketika rupiah runtuh dan gelombang PHK mendera Indonesia banyak orang tak kuat menanggung badai yang dikatakan presiden RI saat itu “pasti berlalu”. Memang badai pasti berlalu. Seperti juga banjir yang akan surut. Namun bagaimana dengan dampak kerusakannya?

Sejarah pun mencatat sang presiden tumbang bersama optimismenya itu. Nama besarnya pun ambrol. Bahkan seorang rekan mahasiswa demonstran ‘98 dengan berani berkali-kali berteriak,”Hang Soeharto!” dengan jempol mengarah ke bawah di depan kamera jurnalis BBC yang mengabadikannya dengan antusias. Suatu hal yang tak terbayangkan di orde rezim sebelumnya ketika intel-intel negara bahkan menyelusup ke dalam kampus dengan memanfaatkan mahasiswa-mahasiswa yang mau menjual idealisme dengan uang besar bulanan dan beasiswa studi.

Dari dulu sampai sekarang si lelaki malang itu sebetulnya tak sendiri. Ketika pemerintahan SBY jilid 1 hasil pemilu 2004 memutuskan ‘menyesuaikan’ harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan persentase terbesar sepanjang sejarah republik ini, dan harga-harga kebutuhan hidup meningkat sebagai akibatnya, seakan hanya ada tiga pilihan: tabah menderita, menjadi gila atau bunuh diri.

Gila memang bukan takdir Tuhan, ia bukan hal yang bersifat qoth’i (pasti). Kita sesungguhnya dapat memilih menjadi gila atau tidak. Dr. Jalaludin Rakhmat dalam Psikologi Sosial berujar,”Perilaku seseorang dipengaruhi oleh pola pikir yang mendominasinya. Bila ia berpikir positif, tindakannya pun positif. Bila ia berpikir ia berani, tindakannya pun tindakan seorang pemberani. Sebaliknya jika ia berpikir negatif, tindakannya pun cenderung negatif. Jika ia berpikir ia tak becus bekerja, ia pun tidak mampu berbuat apa-apa.”

Dalam bahasa Ali Syari’ati, seorang pemikir reformis Iran, manusia memiliki free will (kehendak bebas) yakni bebas memilih hendak berbuat dosa atau kebaikan. “Maka Allah mengilhamkan pada manusia jalan kejahatan dan ketakwaan.” (QS Al Lail, 92:8). Toh, segalanya akan dipertanggungkan di hari akhir (the judgment day).

Si lelaki malang yang gila itu memang tak sendiri. Jika dahulu mendiang Gus Dur tersandung untuk mengikuti pemilu presiden tahun 2004 karena dianggap tidak memenuhi syarat “sehat jiwa raga” dengan kebutaannya, barangkali kita juga tak sepenuhnya sehat.

Bukankah health is a state of physical, mental and society well-being and not merely the absence of disease or infirmity (Konstitusi WHO, 1948)? Sehat adalah kondisi kesejahteraan fisik, mental dan sosial dan tidak sekedar tidak berpenyakit atau tidak memiliki kecacatan. Pejabat yang korup dan tuna empati dengan derita rakyat juga menandakan perilaku yang tidak sehat secara mental. Sifat kita yang angkuh dan egois mungkin layak ditahbiskan sebagai tidak sehat secara sosial.

Saudaraku, sudah sehatkah kita? Bukankah kita juga patut mengasihani diri kita sendiri sebelum menganggap diri kita lebih tinggi derajatnya dari si orang gila di alun-alun tersebut?

Namun jangan lantas merasa aman dahulu jika kita sudah merasa berperilaku lurus dan terpuji sesuai aturan agama atau sosial dan etika. Di zaman yang edan, ujar Ronggowarsito—seorang pujangga Jawa termasyhur—orang yang tidak ikut-ikutan ‘gila’ justru dialah ‘orang gila’.

Almarhum Baharudin Lopa (jaksa agung yang jujur dan tegas yang wafat mendadak semasa kepresidenan Gus Dur) adalah ‘orang gila’ di tengah institusi penegakan hukum yang dianggap korup, yang gila memperjual-belikan keadilan. Mendiang Munir juga ‘orang gila’ karena lebih memilih berjuang untuk advokasi hak asasi manusia (HAM) ketimbang jadi pengacara makmur dengan titel sarjana hukumnya. Mahasiswa yang memilih tidak mencontek juga ‘gila’ karena yang lain sudah menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai bagus dengan cara gila-gilaan.

Nah, saudaraku, engkau mau pilih “gila” yang mana?

Sumber foto:
1. Wikipedia
2. http://www.kevscartoons.com
3. Blogspot

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: