Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Ketika Bangku Bis Kota Terasa Mahal

Dulu dan kini berdesak-desakan dalam bis kota di jalanan Jakarta adalah hal biasa. Terlebih pada jam-jam pulang kantor. Maka mendapat “berkah” bangku kosong di saat itu adalah hal luar biasa. Meskipun saat itu (tahun 2005) aku bukan pekerja kantoran, karena memilih kerja SOHO (Small Office Home Office) alias kerja di rumah sebagai penerjemah yang punya biro penerjemahan sendiri tak ayal aku harus terjebak pula jika ada urusan pekerjaan yang memaksa keluar rumah. Seperti sore itu di hari-hari pertama Ramadhan dalam bis kota jurusan Blok M-Kampung Melayu.

Sejak dari terminal Blok-M bis sudah mulai padat. Apalagi di jalan Mampang Prapatan yang sedang ada proyek jalur busway menuju Ragunan. Padat merayap, demikian istilah penyiar radio yang terdengar dari tape mobil mewah yang bersisian jalan di sebelah bis. Penumpangnya hanya dua orang saja, seorang lelaki muda berdasi dan wanita cantik dengan busana kantor yang apik. Tertawa ceria di tengah kemacetan. Di sebelahnya, bis yang kutumpangi, padat berjejal penumpang bak pindang presto. Duh, senjangnya!

“Bis kota tua miring ke kiri oleh sesaknya penumpang. Aku terjepit di tengah-tengah padatnya para penumpang yang bergelantungan….”

Aku teringat syair lagu mendiang Franky Sahilatua itu. Lumayan agak hafal sedikit untuk menghilangkan jenuh menunggu kemacetan.

Mau ngobrol?

Rasanya wajah-wajah di sekitarku terlalu lelah dan mengantuk untuk diajak bicara.

Mau membaca?

Terlalu repot tanganku menjangkau ransel besar di dada (sengaja ditaruh di depan agar tidak kecopetan) untuk mengaduk-aduk isinya, mencari buku yang baru kubeli di Gramedia Melawai.

Mau tidur?

Panasnya minta ampun. AC (Angin Cendela) juga bertiup malas. Terlebih bulan puasa begini yang rasanya dosa-dosa pun turut terbakar suhu Jakarta yang konon menurut berita sekitar 30-33 derajat Celcius.

Alhasil, jadilah aku seperti puluhan penumpang lain: bergelantungan sambil menatap sekeliling. Termasuk menatapi mobil-mobil mewah yang berkali-kali umbar klakson. Menatapi tukang ngamen dan pedagang asongan yang silih berganti naik-turun bis. Termasuk para peminta dengan kotak amal untuk pembangunan mesjid yang entah di mana letaknya.

“Kantor Pos!Kantor Pos!” teriak kenek dengan suara parau. Beberapa orang penumpang turun di halte Kantor Pos Mampang. Seorang bapak tergopoh-gopoh bangkit dari bangkunya. Sejak tadi ia tertidur. Pada jam-jam ba’da Ashar di bulan puasa ini sudah merupakan pemandangan umum orang tertidur di bis kota. Ia bergegas turun sambil ribut mengetok-ngetok atap bis dari alumunium. Bis yang hendak sedikit beranjak kemudian tertahan mendadak.

“Siap-siap dong, Pak, dari tadi!” sembur kenek. Matanya mendelik. Entahlah tak kulihat reaksi si bapak. Yang ada di sampingku adalah bangku kosong di samping seorang anak muda.

Ya, sejak tadi bapak itu duduk di bangku bis samping tempatku berdiri. Dan sekarang bangku itu kosong. Alhamdulillah, kududuki bangku itu dengan gempita. Lumayanlah untuk sekedar memejamkan mata barang beberapa waktu. Aku berniat turun di jembatan Ciliwung.

Dalam jarak dua halte di depan, naik serombongan lagi penumpang. Tambah padat nian bis ini. Seorang gadis muda menyandang dua tas besar menyesak masuk ke tengah-tengah dan berdiri persis di sampingku. Belum lagi ia mengepit map tebal di dada. Kulirik sejenak.

Ah, masih muda, batinku. Jika sudah tua, mungkin aku rela melepaskan bangku ini. Aku memang biasa mengalah kepada orang tua atau orang cacat, sesama penumpang bis kota, untuk jatah bangku di bis kota.

Bis bergerak lagi, kencang. Kendati kadang harus tertahan mendadak karena salipan kendaraan di depan atau kemacetan. Gadis itu tampak kerepotan. Satu tasnya kini ditaruh di lantai bis.

Hmm…kasih duduk tidak ya? Tapi, ah, dia masih muda kok, pasti kuat. Kalo tuaan dikit, aku kasih deh. Lagian capek kan menunggu hampir satu jam dari Blok M ke Mampang hanya untuk satu bangku kosong.

Demikian batinku berperang.Satu sisi ingin mengalah, tapi rasanya badan ini lelah betul.

Ah, Allah juga maklum kok, beramal tentu harus sesuai kemampuan, batinku menjelajah mencari justifikasi.

Bis terus berjalan.

Menjelang studio Trans TV di Mampang, ketika penumpang makin bertambah, tampak betul gadis itu makin kerepotan. Ia berkali-kali melihat ke sekitar. Termasuk ke arahku yang pura-pura ngantuk. Aku tentunya tidak ge-er dilirik gadis yang lumayan manis itu. Tentu aku yakin bukan wajahku yang biasa-biasa saja yang diliriknya tapi ya bangku bis ini!

Ya, bangku bis yang saat ini terasa sangat mahal bagiku. Yang kudapatkan dengan peluh dan pegal menunggu dengan beban berat ransel di dada.

“Mbak, duduk sini aja!” Suara halus di sebelah mengejutkanku. Kulirik dengan mata yang setengah mengantuk. Ini memang mengantuk betulan. Di seberangku, seorang mahasiswi berkaus menggantung menyilakan si gadis kantoran duduk.

“Eh, terima kasih ya!” Si Mbak itu duduk. Ia sempat pula melirikku.Entah setajam apa, aku lekas melengos. Ada tombak ironi menelusup ke dadaku. Kenapa aku yang laki-laki tak lebih rela berkorban dibandingkan si mahasiswi mungil yang kini gantian berdiri di sampingku?

Mungkin jika laki-laki lain yang mengalah demi si Mbak tadi aku tak bakal merasa segundah ini. Meski sempat terbersit,”Ah, biar saja, toh solidaritas sesama wanita!”

Lagi-lagi justifikasi.

Selanjutnya tak perlulah kuceritakan lagi perasaanku dalam bis kota hingga aku turun di tempat tujuan. Sore itu baru aku sadari makna fastabiqul khoirot, berlomba-lomba dalam kebaikan. Yang jelas aku kehilangan satu peluang berbuat baik. Tidak ada pembenaran yang lain. Titik.

Jakarta, Ramadhan 2005

Sumber Ilustrasi: Blog f4tim3.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: