Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Perihal Menunggu

“Hidup ini hanya kepingan….” (Pas Band)

Menunggu adalah pekerjaan yang paling asyik sekaligus paling membosankan. Tergantung dari sisi mana kita memandang dan menikmatinya. Saat menunggu kereta api dalam kondisi santai, misalnya, bersama kekasih atau istri, barangkali itu merupakan momen mengasyikkan. Bahkan, jika itu merupakan pertemuan perpisahan, kita berharap kereta itu lambat datang. Meski tanpa diharapkan demikian kereta api di Indonesia memang sudah sering terlambat datang.

Namun, jika kita hendak berangkat kuliah atau kerja dan jam masuk merangsek cepat, penyakit telat kereta itu menjadi sungguh menjengkelkan. Lebih-lebih jika ia datang dengan berjubel penumpang hingga ke atap. Hendak diselipkan di mana lagi tubuh tipis atau tambun ini, mungkin demikian gerutu kita.

Soal menunggu, sebagaimana saya jalani semasa kuliah hingga empat tahun menikah – saat saya menjadi penumpang tetap kereta rel listrik (KRL) — adalah persoalan tersendiri. Namun saat menunggu di stasiun kereta, saya belajar beragam hal. Antara lain, belajar mengisi waktu, dengan baca koran atau sekadar mencuri baca dari kawan sepenungguan di peron yang membentangkan lebar-lebar korannya. Itu jika tanggal tua. Juga belajar menilai karakter peminta-minta.

Ya, tentu saja, keluarnya uang dari kantong ke telapak tangan si peminta-minta butuh siklus keputusan dengan berbagai parameter: Pengemis cacat atau tidak? Ada uang di kantong apa tidak? Pengemis wanita atau laki-laki? Jika wanita, sudah tua apa belum? Jika laki-laki, kelihatan gagah atau tidak. Terus, dari air mukanya, kira-kira jujur atau tidak. Tapi jika malas atau mengantuk selepas begadang malamnya ya sudah siklus itu lewat saja, dan yang ada adalah isyarat penolakan halus dengan ucapan,”Maaf, Pak/Bu.”

Saya juga belajar menahan pandangan mata meski lewat seliweran gadis-gadis pekerja kantor dengan beraneka busana menantang. Mencoba mengingat wajah cantik istri dan, saat anak sudah lahir, tidur lelap si mungil yang kini sudah jadi si bongsor.

Ah, menunggu memang paling mengasyikkan sekaligus paling membosankan. Tergantung bagaimana kita memaknainya, tergantung bagaimana kita mengisi waktu selama penantian. Kita mengisi waktu dalam penantian dan kita belajar banyak hal selama penantian berlangsung. Barangkali seperti itulah hidup kita — yang menunggu di tiap stasiun kehidupan menuju destinasi akhir, kematian. Kereta kehidupan akan selalu datang dan, beda dengan buatan manusia, akan selalu tepat waktu.

Di tiap stasiun kita punya cerita penantian masing-masing. Di stasiun kelahiran, ada tawa ceria dan melulu bahagia. Mungkin hanya di stasiun ini tak kita kenal rasa bosan. Di stasiun SMP, kita bosan dianggap “anak bawang” dan pingin cepat-cepat pindah ke stasiun berikutnya, agar dipercaya belajar mengendarai motor bapak, misalnya. Di stasiun yang lain, stasiun SMA, misalnya, ada cerita cinta dan mungkin patah hati.

Di stasiun favorit, seperti stasiun jodoh, banyak yang mengantri naik. Ada yang datang belakangan namun langsung naik duluan. Namun ada yang harus sabar menunggu hingga giliran belakangan. Jika yang tak berikhtiar sama sekali, ia akan termangu diam dan ragu, penuh kebimbangan dan ketakutan akan seperti apa perjalanan kereta di stasiun-stasiun berikutnya.

Hidup ini, seperti lirik lagu Pas Band, adalah kepingan-kepingan yang harus berupaya kita rangkai menjadi utuh. Satu stasiun, semisal stasiun jodoh atau rejeki saja, bukanlah gambaran kehidupan itu sendiri secara menyeluruh. Kereta harus melalui tiap stasiun agar tercipta satu rangkaian rute yang utuh dan lengkap. Dan setiap kita akan menjalaninya, lantas apakah garis hidup setiap orang akan sama?

Tidak, karena yang membedakan adalah pada kualitas waktu penantian itu sendiri. Akankah kita menggerutu atau tersenyum dalam tiap menit penantian? Apakah kita terlena tidur atau bersiap siaga? Apakah kita mengatur rencana atau sekadar menatap hampa dengan wajah bosan?

Ya, menunggu di stasiun kehidupan semestinya adalah seperti tukang koran menunggu pembeli di stasiun. Ia aktif, ia bergerak, ia mengalir dengan semangat untuk hidup.

Sumber foto: http://www.blog.adeputra.com

2 Komentar

  1. ditaku

    menunggu… bisa asyik tp bisa juga menggelitik.

    • Bisa sekali, Dita. Asyik dan menggelitik. Apalagi jika saling menggelitik,hehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s