Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Dua Ayah yang Berpulang

Di pojok rumah sakit darurat
Seorang bapak renta di ambang ajal, tersengal
Ia berpesan pada putranya
Yang meratap, memegangi erat tangan kulit jeruk tuanya
“Anakku, nikmat adalah nikmat tatkala tiada
Saat di genggaman ia hanyalah kewajaran yang lazim ada.”
Sang bapak pamit pergi, tidak untuk kembali
Ialah sang waktu
Kita adalah putranya

Yang acapkali mendurhakainya
Yang hanya sadar jika bencana menimpa
Dan kembali lupa setelahnya.
(Pesan Ajal
karya Nursalam AR)

Puisi ini merupakan puisi favoritku, sering aku gumamkan kala sepi atau kirimkan via sms kepada teman-teman dekat. Ketika aku tuliskan puisi ini rasanya aku seperti mengingatkan diri sendiri bahwa kematian itu begitu dekat, bahkan bisa terjadi begitu cepat dan menimpa sanak kerabat terdekat. Yah, suatu hikmah atau penyesalan memang sudah tugasnya untuk datang belakangan.

Hari Jumat, 8 September 2006 (15 Sya’ban 1427 H), ayahku, Abdul Rahman Hasan (73) berpulang ke rahmatullah. Tepat ba’da maghrib, pukul 18.30 WIB. Aku sendiri saat itu tak sempat menyaksikan saat-saat terakhirnya karena bertugas menjemput dokter untuk memeriksa kondisi ayah yang tampak kritis. Tapi siapa nyana Allah mencabut nyawanya demikian cepat.

Sehari sebelumnya, beliau memang mengeluh sesak nafas dan hernia (turun bero‘—orang Betawi bilang), keluhan serupa sejak beberapa tahun silam. Namun beliau anti-dokter dan paling enggan dirawat di rumah sakit. Beliau lebih memilih pengobatan alternatif atau obat-obatan yang dijual bebas.

Kami berlima, anak-anaknya, paham betul karakter beliau yang keras dan kukuh pendirian. Meski sebetulnya kami sayang betul pada beliau. Karena beliaulah satu satunya orang tua kami selepas kematian ibu pada 1997 (akibat kerusakan ginjal).

Bahkan pada Jumat pagi, aku dan adikku—selepas menikahnya dua saudaraku, praktis hanya kami berempat yang tinggal di rumah—masih sempat bekerja ke luar rumah. Aku pribadi pikir Aba (panggilan kami untuk ayah) hanya sakit seperti biasa, yang biasanya hanya 1-2 hari kemudian sembuh. Fisik beliau yang lumayan prima untuk lelaki sebayanya—banyak orang mengira beliau masih berusia 50 atau 60an tahun–cukup meyakinkanku untuk meninggalkan beliau bersama kakak perempuanku yang mengajar di sebuah TK Qur’an pada sore hari.

Ba’da Jumatan di sebuah masjid di kawasan Jakarta Selatan, setelah urusan dengan klien selesai, sempat terbersit niatku untuk segera pulang ke rumah. Pekerjaanku saat itu sebagai freelancer (penerjemah lepas) memungkinkan jam kerja yang fleksibel. Tapi aku tepis kekhawatiran dan aku upayakan cari obat hernia dulu. Hingga tepat Maghrib, pukul 18.00 WIB, aku tiba di rumah.

Ternyata kondisi Aba sudah sangat mengkhawatirkan, dengan mulut ternganga dan mata terpejam serta tak mampu lagi bicara. Lekas setelah sholat Maghrib ‘kujemput dokter di klinik terdekat untuk memastikan kondisi beliau.

Namun, Allah berkehendak lain. Ketika aku dan Bu Dokter tiba, ‘kulihat Aba sudah tertidur lelap. Ucapan Bu Dokter pun singkat saja,”Maaf, sudah tidak ada.”

“Periksa lagi, Dok!” perintahku seakan tak percaya. Di mataku, Aba hanya sedang tidur dan seakan masih terlihat dadanya naik turun bernafas.

“Benar, Pak, sudah tidak ada. Maaf.”

Deg. Ya Allah, mengapa tak kuturuti firasatku untuk pulang cepat ba’da Jumatan tadi? Sekiranya demikian, mungkin nyawanya lekas tertolong. Berbagai kilasan kenangan melintas cepat bagai siluet. Tangis pecah tanpa suara. Hanya tangis mengalir di pipi hingga dada. Dadaku sesak. Nyaris aku limbung, jika tak sadar bahwa ada tugas segera untuk memberitahu sanak kerabat perihal berita duka ini.

“Kapan lu kawin, Lam?” demikian tanya Aba selalu beberapa bulan ini.

“Ah, gampang, Ba. Tunggu aje tanggal maennye,” jawabku selalu dengan nada bercanda. Beliau memang senang bercanda, sama seperti almarhumah ibu. Tapi barangkali itu keinginan terakhirnya. Sama seperti permintaannya untuk dibelikan lontong sayur pada malam Jumat menjelang kematiannya. Padahal tukang lontong sayur hanya ada saat subuh dan pagi hari.

Kayak orang ngidam aje, ledekku saat itu. Ah, nikmat adalah nikmat tatkala tiada, saat di genggaman ia hanyalah kewajaran yang lazim ada.

SMS dan telepon dukacita berdatangan. Sempat HP-ku hang karena ada 50 pesan tak terbaca yang masuk bersamaan.

Tapi ada sebuah keunikan.

“Bang, Abang baik-baik aja ya. Insya Allah, besok Yuny ke sana bareng Amy. Abang tetap sabar ya,” suara lembut di ujung sana menghiburku. Aku tak sempat menjawab, hanya mengangguk dengan tersengguk haru. Aku menjadi lebih pendiam malam itu.

Ujan Gerimis-nya Benyamin Sueb terdengar kembali. Itu bunyi ringtone ponselku. Kulihat layar HP. Nomornya tak kukenal. Saat itu pukul 20.00 WIB.

“Assalammu’alaikum. Salam, ini Mamanya Yuny. Ibu turut berbelasungkawa. Tetap tabah. Salam juga dari bapak.” Suara keibuan mengiang di telingaku. Pernyataan turut berduka dari Lampung sana.

“Iya. Kirim salam ya,” terdengar suara berat. Mungkin itu suara Pak Sulaeman, ayah Yuny. Seseorang yang kurencanakan akan kutemui pada Lebaran berikutnya. Untuk sebuah acara penting dalam hidupku.

Mama Yuny menutup telepon dengan sebuah penghiburan. Berturut-turut masuk telepon dari teman-teman yang lain. Sedikitnya bebanku agak berkurang. Aku tak sendiri.

Pukul 23.00 WIB. Aku dan saudara-saudara sedang menerima tetangga dan tamu yang ta’ziah atau melayat ke rumah. Tenda mulai terpasang di depan rumah. Kursi-kursi sudah ramai diduduki para pelayat. Aku sedang melayani tetangga yang sibuk bercerita dengan berderai airmata betapa baiknya Aba yang banyak membantu dia dan keluarganya. Ah, moga kesaksiannya itu jadi pertanda kematian Aba yang husnul khotimah. Amien…

Masuk sebuah SMS.

“Abang, Yuny disuruh pulang ke Lampung. Bapak meninggal.”

Pesan singkat yang mengejutkan. Bukankan 3 jam yang lalu suaranya masih terdengar sehat-sehat saja? Bukankah beliau tidak ada kabar sakit beberapa minggu ini?

Beberapa hari kemudian baru kuketahui ada skenario Allah yang berjalan demikian unik. Pukul 22.00 WIB, Pak Sulaeman izin ke toilet. Ternyata beliau batuk darah. Diduga pembuluh darahnya pecah. Beliau mengidap hipertensi dan diabetes. Belasan menit kemudian, di pangkuan istrinya, dengan mengucapkan istighfar beliau menghembuskan nafas terakhir.

Ah, barangkali Aba dan Pak Sulaeman sudah janjian di surga sana, gumamku tersenyum nyeri. Ya, dua ayahku telah berpulang.Ya Allah, Engkaulah Sang Sutradara semesta!

Kematian adalah sarana belajar mengingat Allah, pesan Imam Ghazali. Kita memang hanya debu kecil di tangan Allah SWT. Tiada guna sombong seakan hidup kita kekal selamanya. Karena ketika kematian kita hanya tubuh telanjang tak berdaya. Hanya amal yang menjadi pembela kita, bukan pengacara lihai atau bodyguard kekar.

Di kala jatuh cinta, seseorang menjadi penyair. Di kala berduka, seseorang menjadi filsuf dan sufi sekaligus.

Sumber ilustrasi: http://www.nyophy.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: