Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Afriani, Khamr dan Gaya Hidup Modern

Kisah Afriani Susanti (30 tahun), the lady killer dengan minibus mautnya, yang menewaskan 9 orang (dan melukai 3 orang lainnya) di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat, pada Ahad, 22 Januari 2012, adalah pengulangan (deja vu) kisah kelam dari dampak penggunaan narkoba (narkotika dan obat-obatan berbahaya) sejak berabad-abad lalu alias jaman baheula.

Dalam khazanah kisah klasik, diceritakan seorang sufi yang dalam kondisi terjepit diharuskan membuat pilihan yang sulit. Jika tidak, nyawanya terancam. Beberapa pilihan tersebut adalah berzina, membunuh anak kecil, atau meminum khamr (khamar). Dengan pertimbangan atas kadar mudarat — yang dianggapnya — yang paling rendah, sang sufi malang memilih menenggak khamar. Ternyata itu pilihan yang sangat salah. Ia menjadi kehilangan kendali diri dan melakukan kedua perbuatan nista yang lain. Benar, seperti sebuah adagium mengatakan bahwa minuman keras (khamar atau liquor) adalah induk kejahatan. Sumber dari segala kerusakan dan kriminalitas.

Khamr dalam pengertian fiqih Islam sebenarnya bukan hanya minuman keras (sebagaimana makna serapannya “khamar” dalam bahasa Indonesia) tapi juga mencakup narkotika dan zat-zat memabukkan lainnya.

Dalam Qur’an, tahapan pengharaman khamr pun bertahap. Dari sebuah sinyal bahwa “bermanfaat, namun mudaratnya lebih besar daripada manfaatnya” hingga pengharaman total. Konon, dalam literatur siroh Nabawiyah, ketika turun ayat yang mengharamkan khamr, serentak selokan-selokan kota Madinah (tempat Nabi Muhammad SAW bermukim dan menerima wahyu) penuh dengan khamr yang ditumpahkan. Ini jelas sebuah kesadaran religius dan hukum yang mengagumkan, yang tentu saja tidak terbangun secara seketika atau sim salabim, namun melalui tahapan pembinaan kepribadian dan keimanan yang intensif dan disiplin.

Dalam konteks lebih luas, sekaligus menarik lurus dari kasus sang sufi dan Afriani, bahaya khamr atau miras dan narkoba bukanlah problem atau urusan suatu agama saja. Ini adalah masalah peradaban, masalah kemanusiaan, yang melumpuhkan kompetensi terbaik dan kontribusi produktif umat manusia tanpa mengenal suku agama atau ras bahkan jenis kelamin.

Bahaya tersebut lebih mengerikan lagi jika tersamar — atau sengaja disamarkan — dengan dibungkus gaya hidup (lifestyle) modern yang dicitrakan sebagai ciri globalisasi. Ketika generasi muda, terutama remaja, yang sangat rentan dengan dampak pencitraan tersebut terhanyut dan lepas kendali dalam gaya hidup bebas yang identik dengan miras, free sex (seks bebas) dan drugs (narkoba), di situlah kita dapat melihat model umum bangsa ini di masa depan.

Karena itu, persoalan bahaya khamr atau narkoba sebenarnya bukan hal kelewat sederhana untuk dipahami — karena berjalin berkelindan dengan faktor globalisasi dan sosiologi budaya — namun juga tidak terlalu rumit untuk diatasi.

Terlepas dari bingkai ideologis atau frame sosiologis yang dipilih, gaya hidup sehat tanpa alkohol atau narkoba dan segenap derivatnya adalah label “netral” yang universal secara ilmiah dan alamiah yang relatif dapat diterima semua pihak. Karena persoalan utamanya adalah pada saat kita memilih: mau hancur atau mau mujur?

Dan hidup dengan segenap kompleksitasnya adalah sebuah pilihan. Pilihan yang menentukan nasib kita, keluarga, keturunan, dan masyarakat kita di masa mendatang. Sebuah pilihan yang kelak akan membuat kita tersenyum bahagia atau justru menangis meratap, menyesali waktu yang tak mungkin kembali, di bui seperti yang diancamkan kepada Afriani dan kawan-kawan.

Jakarta, 25 Januari 2012

Catatan: sebagian isi tulisan ini diambil dari kata pengantar yang ditulis oleh Nursalam AR pada buku “Bahaya Alkohol” karya Dra. Hartati Nurwijaya dan Prof. Zullies Ikawati, Ph.D (terbitan Elex Media Komputindo, Jakarta, 2009).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s