Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Dihina itu Berkah

“Dirampok atau hati dilukai, tidak berarti apa-apa kecuali jika Anda terus-menerus mengingatnya.” (Konfusius)

Menjadi penerjemah sama sekali bukan cita-cita saya. Barangkali ini lebih sebagai jalan hidup. Dan jalan hidup itu berawal dari sebuah hati yang terluka dua puluh dua tahun lalu, pada awal 90-an.

Ya, hari itu, saat jam istirahat Sekolah Arab (sebutan orang Betawi untuk Madrasah Diniyah setingkat SD) sekitar pukul 2 siang, adalah hari yang paling saya kenang dengan segala macam rasa di dada.

“Eh, sudah nonton film di TV semalam?” ujar saya saat kongkow di warung Bang Nashar di depan sekolah.

“Film apa?” sahut teman-teman antusias. Saat itu saya sudah dikenal sebagai movie freak. Meski televisi di negeri ini saat itu masih TVRI saja, dan film hanya sekali diputar di penghujung acara, pukul sebelas malam.

“Itu Believe it or Not, yang tentang keajaiban-keajaiban di dunia,” lanjut saya, siap-siap hendak bercerita.

”Huh! Nyebut judulnya saja nggak becus!” sergah Judin, kakak kelas kami, yang saat itu ikut nimbrung. Ia lantas tertawa terbahak-bahak dengan gaya yang luar biasa menyebalkan.

Saya tersentak. Rasanya saya menyebutkan judulnya dengan benar. Sialnya, teman-teman saya ikut-ikutan tertawa. Ya, jadilah saya objek tertawaan! Padahal biasanya saya jadi pusat perhatian dan kekaguman karena mampu menceritakan kembali isi film yang ditonton dengan detil. Termasuk Hunter, sebuah serial action kegemaran kami saat itu.

Bertahun-tahun kemudian saya baru sadar jika saat itu saya melafalkannya “be-li-pit” bukan “be-lif-it”, sebagaimana seharusnya ejaan dalam bahasa Inggris. Namun saat dihina dan ditertawakan di depan umum saya hanya tahu saya harus balik mempermalukan Judin.

Bagaimana caranya? Saya tahu kemampuan bahasa Inggris si Judin juga tak lebih baik dari saya yang sama-sama anak kampung di pinggiran Jakarta. Saya bertekad saya harus berbahasa Inggris lebih baik dari pada Judin, dan pada saat yang tepat saya akan mempermalukannya. Ya, itu tekad sekaligus dendam seorang bocah!

Saya merengek-rengek kepada orang tua minta dikursuskan bahasa Inggris. Memang dikabulkan, tetapi baru satu tahun kemudian. Itu pun ditanggung kakak sulung saya yang bekerja sebagai pengajar bahasa Indonesia di sebuah lembaga bimbingan belajar sekaligus penulis lepas di sela-sela kuliahnya di Universitas Indonesia (UI).

Biaya kursus bahasa Inggris yang lumayan mahal saat itu (tahun 1991), Rp. 90.000 sebulan, mendorong saya terjun ke dunia penulisan semata-mata demi honor. Waktu itu sebuah koran ibukota, Sinar Harapan (kini menjadi Suara Pembaruan), membuka rubrik humor pendek dengan honor Rp. 6000/tulisan tiap hari Minggu.

Bayangkan saja, hanya dengan cerita humor sepanjang dua hingga maksimal empat baris bisa dapat Rp. 6000. Tiap minggu, jika produktif, 4-6 humor pun dimuat.

Belum lagi jika artikel humor saya yang lain juga dimuat di sebuah majalah anak-anak, Ananda (majalah Grup Kartini ini sudah almarhum). Ditambah honor cerita anak sebesar Rp. 30.000/cerita. Pernah juga satu dua cerita anak karangan saya dimuat di majalah Bobo dengan honor saat itu Rp. 80.000 per cerita. Sungguh suatu jumlah yang lumayan besar untuk seorang siswa kelas 1 SMP saat itu.

Alhamdulillah, biaya kursus bahasa Inggris dapat tertanggulangi dengan tidak merepotkan kakak sulung saya lagi. Dan tahun-tahun berlalu seiring bertambahnya kemampuan bahasa Inggris saya. Sewaktu SMA, saya sudah mengajar privat bahasa Inggris.

Kendati tidak mengambil vak bahasa Inggris, saya membiayai kuliah dengan menjadi pengajar bahasa Inggris privat dan di berbagai kursus. Hingga sebuah proyek terjemahan, operan dari seorang rekan kerja di lembaga kursus, mengantarkan saya menapaki dunia penerjemahan. Mulai dari penerjemah di sebuah biro penerjemahan kecil di pinggir got hingga sebuah griya produksi sinetron terbesar dan firma hukum papan atas di Indonesia telah saya lakoni hingga saat ini.

Ya, merenungi hari penghinaan itu dan semua yang telah dicapai di tengah kelelahan kerja saat ini sebagai penerjemah di salah satu firma hukum yang termasuk tier 1 (papan atas) di Indonesia, menjadikan saya banyak berucap syukur. Ya, semua berawal dari hinaan.

Jadi, siapa bilang dihina SELALU menjadikan kita terpuruk? Kadang kesuksesan atau jalan gemilang kita berawal dari berkahnya hinaan. Dengan kata lain, kita dapat mengatakan,”dihina itu berkah, asal…”

4 Komentar

  1. jenny

    asal kita tau bagaimana cara yang benar untuk membalasnya.
    Senang bisa banyak baca tulisan Bapak lagi.

    Salam,
    jenny

    • Betul sekali, Mbak. Apapun yang terjadi, yang terpenting adalah persepsi dan respons kita terhadap apa yang terjadi tersebut.

      Terima kasih telah berkunjung.

      Salam jumpa ya:).

  2. Salam kenal yah mbak saya mau curhat nih kak saya selalu dihina sama teman2 dr SD hingga kini kuliah harus gimana yah mohon di balas

    • Salam kenal, Mbak Diana. Oh ya, saya laki-laki ya. Masih tulen, dari lahir sampai punya anak sekarang.:)

      Saya turut prihatin untuk perlakuan yang diterima Mbak Diana. Tapi, pertama, mungkin harus introspeksi diri dulu kira-kira kenapa penghinaan tersebut terus berlanjut bertahun-tahun.

      Jika itu soal kecacatan tubuh, bersabarlah, Tuhan tidak tidur. Ada saat pembalasan dan ada saat ketika Tuhan mengambil pahala penghina Anda menjadi bagian pahala Anda.

      Jika soal perilaku dll, inilah yang saya sebutkan harus masuk dalam wilayah introspeksi diri untuk dievaluasi dan diperbaiki. Orang yang merugi adalah orang yang hari ini lebih buruk daripada hari kemarin.

      Jika ada hal pribadi yang ingin dibagikan, silakan kirim email ke salam.translator@gmail.com

      Have a happy life!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: