Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Norman Kamaru: Kisah Klasik Para Pencari Lentera Jiwa

Nasib (eks) Briptu Norman Kamaru kini persis seperti kata pepatah “sudah jatuh tertimpa tangga“. Sudah dipecat dengan tidak hormat oleh instansi tempatnya bertugas (Polda Gorontalo), dihujat pula oleh banyak orang, terutama di berbagai forum di dunia maya. Kasihan oh kasihan.

Alasan para penghujat, antara lain, adalah karena Norman melakukan tindak indispliner dengan mangkir bertugas selama 2 bulan berturut-turut. Dan itu menurut mereka bukan cerminan citra polisi yang baik. Apalagi buat polisi selebritas sekaliber Norman Kamaru yang terlanjur jadi idola. Barangkali awalnya para penghujat ini adalah pemuja Norman Kamaru yang terlalu menaruh ekspektasi berlebihan di pundak si belia Norman.

Dengan munculnya video Youtube Norman dengan goyangan Chaiya-Chaiya yang asyik, seakan mereka menemukan katarsis atau oase di tengah timbunan kekecewaan mereka terhadap citra dan kinerja kepolisian negeri ini yang memprihatinkan. Mereka berilusi dengan munculnya Norman sebagai ikon polisi yang humanis (berjoget ceria) maka kepolisian akan terdorong untuk lebih baik. Di beberapa kesempatan, pihak kepolisian juga tampak aktif memanipulasinya dengan sederet move kehumasan, seperti mengundang Norman ke mabes Polri dan memberikan penghargaan dll.

Namun, apakah lantas kisahnya menjadi happy ending?

Tidak, bagaimanapun Norman Kamaru adalah manusia biasa. Ia punya jiwa, ia punya kebebasan. Sebagai manusia, ia punya passion.

Dalam istilah Andi F. Noya, pembawa acara talkshow Kick Andy di Metro TV, ada lentera jiwa dalam diri setiap orang yang butuh dipuaskan. Dan Norman Kamaru juga punya itu, saya meyakininya demikian. Dan ia pun berhak mengukir kisah hidupnya sendiri, sebagaimana yang mulai diukirnya dan akan terus bergulir. Sesederhana itu saja saya memandangnya.

Bagi saya, kisah Norman Kamaru bukan kisah pembangkangan seorang polisi terhadap komandannya. Bukan juga kisah orang kampung yang mabuk kepayang dengan ketenaran, sebagaimana banyak dituduhkan orang. Kisah Norman Kamaru adalah kisah klasik para pencari lentera jiwa atau passion, yang menggelegak dalam diri mereka.

Passion itulah yang mengundang sederet drama dalam karier Norman Kamaru: pelarangan manggung hingga “pengamanan” dari pihak kepolisian – sebagai atasan Norman — saat ia menjalani syuting acara musik di sebuah TV swasta di Jakarta. Alhasil, bisa kita tebak alur kemudian adalah, pembangkangan Norman yang berujung pada pemecatan tidak hormat atas dirinya dari korps kepolisian.

Di sini, sikap kepolisian bagai sikap sebagian orang tua kita yang paradoks: membangga-banggakan anaknya yang balita yang berbakat melukis namun menjewer telinganya tiap kali ia mencoret-coret dinding, dan bukannya menyodorkan alternatif media gambar yang lebih memenuhi harapan semua pihak.

Boleh jadi polisi memang sebuah profesi turunan di keluarga Norman, seperti yang diakuinya di banyak berita di media massa. Mulai dari ayahnya, Idrus Kamaru,hingga saudara-saudaranya semuanya polisi. Tapi, salahkah jika Norman punya pilihan sendiri sesuai suara hati atau bisikan nuraninya yang berbeda dari harapan orang tuanya? Terlebih jika ada tawaran menarik secara material dalam profesi barunya itu.

Adalah hak asasi seseorang untuk mencari penghidupan yang lebih layak, lebih baik. Jelas, itu pilihan yang lebih baik, jika memang sesuai dengan suara nuraninya. Bisa jadi pula, sekadar dugaan, Norman yang berjiwa seni tertekan dengan atmosfer kemiliteran di kepolisian yang menekan jiwanya, atau, maaf, budaya sogok atau korupsi yang konon membudaya di dalam tubuh kepolisian. Salahkah jika Norman memilih hijrah dari itu semua?

Sebagian dari kita mungkin pernah mengalami di suatu titik kehidupan kita saat harus membungkam passion atau keinginan nurani kita semata-mata karena menuruti egoisme orang tua atau keluarga. Kita yang bercita-cita menjadi arsitek namun harus memilih kuliah di fakultas hukum hanya karena orang tua kita menganggap profesi arsitek tidak mendatangkan uang lebih banyak daripada profesi pengacara. Jika pun kita mampu, kita tak menemukan kesenangan atau kegembiraan bekerja dalam profesi tersebut. Jika demikian, apakah kita bisa disebut manusia yang merdeka jiwanya?

Norman Kamaru, dengan segala kekurangan dan keterbatasannya, harus jujur kita akui, adalah manusia yang merdeka. Ia memilih mengikuti passion atau lentera jiwanya, melakukan apa yang disukainya. Kita patut iri kepadanya. Sama seperti irinya kita kepada Thomas Alva Edison, sang penemu jenius, yang dalam salah satu kutipan legendarisnya, mengatakan bahwa ia tak pernah merasa bekerja, ia hanya bermain-main.

Ya, bermain-main, karena Edison melakukan segenap upaya penemuan bola lampu dan ratusan hak paten lainnya dengan sukacita, sesukacita balita yang bermain-bermain dengan apa yang disukainya. Pada dasarnya, manusia adalah animale luden, hewan yang bermain-main. Sisi inilah yang kerap hilang dari kita, yang membuat kita iri (dan patut iri) pada seorang Norman Kamaru.

Saat kita iri, jeleknya, kerap kali kita berlaku seperti rubah licik dalam legenda The Sour Grape (anggur asam) yang terkenal itu. Karena sang rubah tak mampu menjangkau anggur yang ranum, ia pun mempropagandakan ke seluruh isi hutan bahwa anggur itu asam.

Dalam bahasa lain, Aa Gym, jauh sebelum beliau berpoligami, sering mengatakan bahwa bangsa kita seperti kepiting. Jika sekelompok kepiting ditaruh dalam baskom, dan salah satu berusaha keluar dari baskom atau wadah itu, yang lain justru akan berusaha menariknya kembali. Ya, dalam bahasa sebuah tagline iklan, susah lihat orang senang, senang lihat orang susah.

Kawan, marilah ambil cermin untuk berkaca, karena bukan mustahil kisah Norman Kamaru diam-diam adalah keinginan terpendam kita bertahun-tahun lalu yang terpaksa luluh dibakar waktu karena kita tak berani keluar dari comfort zone atau kungkungan kebiasaan dan tradisi. Kisah Norman Kamaru adalah kisah klasik para pencari lentera jiwa. Kisah orang-orang yang ingin bebas merdeka mengejawantahkan passion-nya, mewujudkan mimpi-mimpinya, merengkuh masa depannya dengan caranya sendiri. Sesederhana itu saja.

Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.” (Andrea Hirata dalam tetralogi Laskar Pelangi)

Sekadar renungan, berikut lirik lagu Lentera Jiwa yang dinyanyikan Nugie:
reff:
kubiarkan kumengikuti suara dalam hati
yang slalu membunyikan cinta
kupercaya dan kuyakini murninya nurani menjadi penunjuk jalanku
lentera jiwaku

Lirik lengkapnya lihat di tautan ini.

Lenteng Agung, 8 Desember 2011

8 Komentar

  1. wawan irwandi

    Ya tampaknya memang seperti itu.

    • Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya:).

  2. andrey

    dipuja….dihujat…sdh biasa di negeri kita ini….
    tergantung kita melihat dri sisi sebelah mana..

    • Yup, betul sekali. Selalu ada dua sisi dalam segala sesuatu. Tergantung kita memilih yang mana sesuai pilihan dan keyakinan:).

  3. irham

    Ah woe is him…

    Semoga semua bisa mengambil hikmah dari fenomena ini.

    Mungkin bagi Norman Kamaru:
    “Good judgment comes from experience, and experience comes from bad judgment.”
    (Rita Mae Brown, Alma Mater)

    Mungkin bagi kita semua para pemerhati:
    “Smart people learn from their mistakes. But the real sharp ones learn from the mistakes of others.” (Brandon Mull, Fablehaven)

    An inspiring article.

    Semoga nantinya saya bisa nulis seperti mas Nursalam AR:)

    • Terima kasih, Mas Irham. Kutipan-kutipannya sangat dalam sekali. Cukuplah untuk melengkapi tulisan saya:). Dan cukup juga untuk modal menulis. Tetap semangat dan terus menulis, itu kuncinya🙂.

  4. Save my soul

    Mudah2an dia tidak menyesali langkahnya kini dan bebas mengikuti kata hatinya kini, tp kata hati tak selamanya benar, yg benar adalah kebenaran itu sendiri…

    • Apa pun langkah yang diambil Norman Kamaru tentu ada risiko yang akan ditanggungnya. Tentu saja, sebagai konsekuensinya, ada kebahagiaan atau penyesalan. Ini seperti dua mata koin yang tak terpisahkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s