Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Hidup itu Memilih

Bumi Manusia, salah satu novel dari Tetralogi "Pulau Buru" karya PramDalam novel Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer berkata,”Kadang manusia dihadapkan pada sebuah pilihan dalam hidupnya. Jika tidak memilih saat itu ia tidak mendapat apa-apa.” Kurang lebih seperti itu bunyinya.

Ya, memilih!

Buat seorang peragu tentu alangkah beratnya. Buat seorang sembrono atau selebor sama juga sulit. Yang berbeda adalah reaksi mereka. Si peragu akan tercenung lama dan kadang menyebalkan banyak orang karena banyaknya waktu untuk memikirkan pilihan yang akan diambil. Si sembrono justru akan tergesa-gesa mengambil pilihan tanpa masak-masak dipikir. Untuk kemudian menyesal. Si peragu juga kerap menyesal karena ia kehilangan momentum. Bukankah segala sesuatu itu indah pada masanya?

“Udah enak-enak kerja kantoran kok keluar sih?”

“Ih, sudah ditawarin akhwat yang pernah jadi cover girl majalah malah nolak. Kenapa sih?!”

“Kan enak jadi wartawan infotainment, bisa ketemu artis. Soal nurani mah dikesampingkan dulu!”

Itu sederet reaksi atas pilihan-pilihanku dulu. Sumber gambar: www.ochiemochie.blogspot.com

Yang pertama, ketika memutuskan keluar dari sebuah griya produksi besar di Jakarta. Produsen sinetron-sinetron penjual mimpi. Bukan sok idealis tapi semata-mata aku merasa tak dihargai. Jiwaku bukan di situ. Terjunlah aku berbisnis terjemahan dokumen hukum hingga kini. Saat itu November 2005. Sebelum kembali kerja kantoran sebagai penerjemah di sebuah kantor konsultan hukum (law firm) pada 2010 dengan tetap meneruskan bisnis tersebut.

Yang kedua, ini sebetulnya karena minder, ketika seorang kawan menyodorkan pilihan. Subhanallah, cantik nian. Gadis keturunan Arab yatim piatu dari keluarga mapan. Lulusan ITB. Lebih muda dua tahun saja. Hm..kenapa ditolak? Entahlah, aku hanya mengikuti alarm intuisiku saja. Minder seperti kataku? Bisa jadi. Hanya saja aku tidak merasa ada chemistry yang sama dengan sekadar melihat foto saja.

Sebagian temanku hanya tertawa. “Ah, mau nikah aja repot banget!” ledek mereka. Trauma? Mungkin juga.

Dulu kakekku, ayah dari bapak, menikah dengan gadis keturunan Arab. Beda status pula. Tapi karena perbedaan status, mereka dipaksa cerai dan meninggalkan seorang anak tunggal: ayahku. Setelah itu Nek Masenun–sebutanku untuk sang nenek yang tak pernah kulihat fotonya itu–dinikahkan dengan seorang yang sekufu, setara. Seorang saudagar kaya dari Arab. Pernikahan mereka tak lama, tak berbuah anak.

Saat itu, di era Jakarta 1930an, stereotipe soal etnis Arab yang sangat eksklusif masih sangat kental. Sialnya, kakekku hidup pada zaman itu. Ia hanya penarik perahu tambang alias perahu eretan di Kali Ciliwung. Konon, cerita almarhum ayahku, kakek seorang yang tampan.

Yang ketiga, pada 2003, ketika aku harus berkali-kali istikhoroh dihadapkan pilihan antara bekerja di sebuah biro penerjemahan tersumpah dengan gaji all in Rp 800 ribu per bulan atau sebagai wartawan infotainment dengan gaji di atas Rp 1 juta plus bonus lain. Termasuk peluang ketemu artis, salah satu iming-iming sang produser yang mewawancaraiku.Belum lagi gaji naik secara berkala. Mereka saat itu memang butuh wartawan untuk program infotainment baru di sebuah TV swasta.

Dengan portofolioku sebagai jurnalis lepas di sebuah media online dan majalah kampus dan pengalaman menulis, itu bukan kendala sebetulnya. Yang lebih menjadi kendala adalah nurani. Persetan dengan sang artis metroseksual yang menjadi pemilik griya produksi itu! Aku hanya ragu apakah aku tidak kelak dicatat di sisi Allah SWT sebagai penyebar gosip atau sumber gunjingan orang?

Mungkin naif. Mungkin tidak strategis, kata seorang rekan dari salah satu pergerakan mahasiswa. Tapi, entahlah, aku hanya merasa tidak sreg. Soal hidup kekurangan, itu biasa. “Yang penting tidak miskin di akhirat,” pesan kedua mendiang orang tuaku.

Menyesalkah aku?

Ada beberapa pilihan dalam hidupku yang sempat membuatku tidak tidur untuk menyesalinya. Meski aku insyaf bahwa hidup harus terus berjalan, dan harus terus memilih. Hidup adalah kumpulan pilihan-pilihan.

Sama seperti sekarang saat merasa beruntungnya aku dulu tidak memilih melanjutkan ke STPDN –kini bernama IPDN–selepas lulus SMA pada 1996. Saat, itu meski gondok dengan teman yang memberi info terlambat padahal kami janji daftar bareng, aku kini bisa tersenyum menyapanya. Ia sudah mendaftar STPDN, dan selamat. Dan ia pernah menjadi ajudan gubernur DKI Jakarta sebelum Fauzi Bowo.

Entahlah, barangkali hanya perasaanku saja, ngobrol dengannya tidak seenak seperti dulu ketika masih aktif jadi aktivis OSIS. Rasanya kepalanya terlalu kosong. Barangkali terlalu banyak dipukuli seniornya hingga isinya berloncatan keluar.

Tapi ia telah memilih. Aku juga telah memilih. Yang penting adalah menentukan pilihan. Soal konsekuensi itulah risiko yang harus dihadapi. Yang berbahaya adalah memilih untuk diam saja, tidak memilih. Yang penting usaha.

‘Kucoba-coba melempar manggis. Manggis kulempar mangga kudapat. Kucoba melamar gadis.Gadis kulamar janda kudapat. (syair lagu Cucakrowo).

Setidaknya sang penyanyi telah berusaha menentukan pilihan kendati kecele. Tidak seperti seorang kenalanku, seorang formator alias penata setting dokumen terjemahan freelance yang selalu saja berkeluh kesah dan berandai-andai atas pilihan hidup yang dulu tidak dipilihnya.

“Dulu gue sebenarnya bisa ke Jerman, beasiswa kerja. Eh, gue keluar. Sayang ya!”

“Itu sih kecil. Gue dulu bisa dapat gaji sekian. Gue aje yang kelewat sensitif sama sindiran boss. Gue resign. Nyesel gue!”

Aku tersenyum masam setiapkali ia curhat via telepon. Topiknya selalu sama: Penyesalan. Jika dibuat serial sinetron alangkah panjangnya barangkali! Tapi cukupkah sekedar menyesal untuk tetap survive? Namun ia memilih jalan itu.

Di usia yang menjelang 40, melajang dan masih meminta uang pada orang tua, ia kerap datang memelas dan bertanya,”Ada orderan ga buat gue?” Padahal aku ingat betul ia pernah ditawari mendirikan bisnis penerjemahan. Modal dan fasilitas ditanggung sang Cina cukong. Ia hanya tinggal menjalankan. Sayang di matanya hanya ada sisi gelap hidup.”Dia kan Cina. Entar gue ditipu lagi!”

Ah, kita memang harus memilih.

Tapi ia dan mereka semua adalah kawanku. Kawan sekaligus guru. Bukankah, kata Kahlil Gibran, kita belajar menjadi orang yang toleran dari orang yang tidak toleran?

Jakarta, 12 Januari 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s