Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Bencana itu Seperti Jelangkung

Andai ‘kutahu kapan datang ajalku, ‘kuakan memohon,”O, Tuhan, panjangkan umurku.”….(Group band Ungu)

Salah seorang temanku bilang bencana itu seperti jelangkung, datang tak dijemput pulang tak diantar. Kawan yang lain membantah, menurutnya lebih mirip kuntilanak. Bila suaranya dekat berarti jauh, dan bila suaranya jauh berarti dekat.

Ah, mereka terpengaruh film-film horor yang kini merajai sinema bioskop Indonesia, pikirku waktu itu.

Jika memang belum ajal, siapapun bisa lepas dari bencana atau kematian. Namun pasti akan menemuinya dalam kesempatan yang lain. Seorang jenderal besar, Abdul Haris Nasution yang ditakdirkan Tuhan untuk lolos dari pembunuhan pada 1 Oktober 1965 ternyata harus wafat karena koma di tempat tidurnya.

Karena apa?

Ia keserimpet sarungnya yang kepanjangan, kemudian terjatuh membentur lantai. Sementara Khalid bin Walid, sang panglima perang yang sangat perkasa di zaman Nabi Muhammad, pun menutup mata dengan sakit demam di atas tempat tidurnya. Dalam skala kecil, itulah bencana. Terlebih lagi jika ia seorang tokoh yang bermanfaat, tentu kadar kehilangan dan bencananya akan besar.

Bencana, ia datang tak dijemput (siapa pula gila-gilanya menjemput bencana?) bahkan tak diantar. Ia datang semaunya. Dan ketika dahulu pada 2006 kita waspada setengah mati soal potensi letusan Merapi tiba-tiba gempa bumi mengguncang Jogja. Bukankah itu seperti perilaku kuntilanak? Sesuatu yang kita ributkan terkadang masih jauh terjadi atau bahkan tak terjadi. Akan tetapi sesuatu yang tampaknya jauh malah mendadak tampak di depan mata.

Namun tentu Tuhan Maha Penyayang, ada sesuatu hikmah di balik deretan bencana yang Ia perlihatkan. Tentu Ia berikan tanda-tanda sebelumnya. Problemnya, kita yang alpa atau lalai mencermati tanda-tanda itu.

Ketika banjir menerjang Jakarta 2002 dan 2007, termasuk ancaman banjir awal tahun ini yang ditandai dengan tergenangnya daerah sekitar Jakarta seperti Banten dan Bekasi, itu tanda bahwa semestinya daerah resapan diperbanyak dan drainase kota diperbaiki.

Namun ketika kita abai, datanglah banjir bandang. Ibarat murid di sekolah, kita adalah murid yang nakal, atau mungkin bebal. Atau justru amnesia dengan sejarah.

Sama amnesianya ketika para gubernur DKI Jakarta menenangkan warganya bahwa Jakarta aman dari gempa. Siapa bilang? Tahun 1700-an kerajaan Pajajaran yang meluaskan pengaruhnya ke wilayah pantai Jakarta pernah menyaksikan kekuasaan Tuhan: istananya bergeser ratusan meter karena gempa dahsyat. Kendati tak terletak di jalur patahan gempa atau garis tsunami rasanya tak ada wilayah di negeri ini yang sangat aman 100 persen.

Seperti kisah yang dituturkan guru ngaji saya sewaktu Madrasah dahulu. Tentang seorang sufi yang berdialog dengan malaikat tentang ajal. Karena merasa sudah soleh, ia merasa berhak meminta privilege kepada Tuhan. Maka kepada malaikat sebagai ‘bawahan’ Tuhan, sang sufi berkata,”Mintakan kepada Tuhan agar Ia beri tanda-tanda jika ajalku tiba.”

Sesuai perintah Tuhan, malaikat pun mengiyakan. Sang sufi merasa tenang. Puluhan tahun ia hidup dan beribadah dengan khusyuknya. Rambutnya pun memutih. Kulit keriput. Namun ia selalu merasa ajalnya masih lama.

Hingga suatu ketika malaikat Izrail datang dan berkata,”Wahai Tuan, kini ajalmu telah tiba sesuai kehendak Tuhan. Bersiap-siaplah! Aku akan mencabut nyawamu!”

“Bukankah kau telah berjanji akan memberikan tanda-tanda?Aku tidak pernah mengetahui tanda-tanda darimu!” protes sang sufi.

“Bukankah putihnya rambutmu dan keriputnya kulitmu sudah merupakan tanda-tanda itu sendiri?”

Sejenak sang sufi tercenung. Ia beristighfar kepada Allah akan kebodohan dan kelalaiannya menafsirkan tanda-tanda kematian.

Saat itu, sebagai bocah, aku hanya menertawakan si sufi malang. Tapi kini barangkali kita yang ditertawakan bangsa lain karena bebal dengan sederet tanda-tanda.

Di luar bencana yang memang tak terduga, Tuhan pasti memberikan tanda-tanda. Hanya kita saja yang lupa. Tak heran Kafka mengatakan bahwa musuh yang terbesar bagi manusia adalah lupa.

2 Komentar

  1. Tapi sekarang sudah 30 tahun lebih masih juga belum kelihatan tanda tanda tercapainya tujuan menduduki pemerintahan yang telah digariskannya.

    • Nah, di situlah konsistensi dan daya tahan perjuangan diuji:).

      Salam kenal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: