Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Nasib Karyawan di Indonesia, Malaysia dan Singapura

Karyawan di negara manakah yang paling sejahtera?

Mungkin demikian pertanyaan besar yang tersimpan di benak Anda saat membaca judul tulisan ini. Betul?

Atau, “Ah, topik basi. Sudah tentu Singapura dan Malaysia yang paling unggul tingkat kesejahteraan karyawannya.” Barangkali ini juga sebagian respons Anda. Benarkah demikian?

Maaf, jika dahaga Anda tak terpuaskan, tapi kali ini saya tak hendak (juga belum berminat) membahas soal kesejahteraan karyawan di tiga negara serumpun tersebut.

Sebagai penerjemah, suatu mata pencaharian sehari-hari saat ini, saya lebih tertarik membahas nasib “karyawan” dari aspek bahasa.

Mengapa?

Berawal dari kebingungan saya ketika menemukan istilah “racun api” dalam sebuah dokumen yang harus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Selidik punya selidik, cari punya cari, buka-buka kamus mulai dari kamus cetak standar (Echols & Shadilly) hingga kamus setebal bantal (Peter Salim) sampai kamus daring (online), tak ketemu jua makna istilah tersebut.

Atas rekomendasi seorang kolega penerjemah, saya dianjurkan bergabung dengan milis Teraju (teraju@yahoogroups.com), sebuah milis penerjemah bahasa Melayu yang beranggotakan para penerjemah bahasa Melayu dari kawasan Asia Tenggara (antara lain Malaysia, Indonesia, Singapura, Brunei Darussalam dan Thailand Selatan).

Menurut dugaannya, istilah “racun api” adalah istilah Melayu Malaysia. Maka bergabunglah saya, dan pertanyaan pun saya lontarkan ke forum. Beberapa rekan penerjemah negeri jiran itu pun antusias menanggapi.

Hasilnya?

Tahukah Anda, Saudara-saudara, “racun api” ternyata padanan untuk, dalam bahasa Indonesia, APAR (Alat Pemadam Kebakaran Ringan) atau fire extinguisher. Voila!

Sejak itu, meskipun hanya sebagai anggota pasif, saya menikmati diskusi kebahasaan di milis tersebut. Meskipun, harus jujur diakui, dibandingkan dengan intensitas dan dinamika di milis penerjemah Indonesia di Bahtera (bahtera@yahoogroups.com), aktivitas Teraju amat sangat sepi. Entahlah, barangkali terkait dengan perbandingan jumlah penduduk atau kebiasaan orang Indonesia yang doyan ngobrol (tak heran Blackberry laris manis di Indonesia, konon nomor wahid di dunia, karena fasilitas ngobrolnya yakni Blackberry Messenger).

Namun, sesepi apapun, tak ada diskusi ilmu yang sia-sia. Dari salah satu diskusi di milis yang saya ikuti, terungkaplah suatu fakta linguistik bahasa bahwa, kendati “karyawan” adalah suatu istilah yang sama bunyi dan pelafalannya dalam bahasa Melayu yang digunakan di negara-negara tersebut di atas, ternyata nasibnya tak selalu sama.

Di Indonesia, sebagaimana kita mafhum, “karyawan” memiliki pengertian umum sebagai “pekerja” atau employee (dalam bahasa Inggris), yang berasal dari kata Sansekerta “karya” yang sepadan dengan istilah “kerja”. Apakah ia penerjemah, sekretaris, office boy, pialang saham, kasir atau akuntan, sepanjang bekerja pada sebuah perusahaan maka semuanya disebut “karyawan”. Tautan: Kompas.com .

Sementara di Malaysia, istilah “karyawan“ lebih cenderung bermakna “seniman“ atau “pekerja seni” atau, dalam bahasa Inggris, artiste, seperti penyanyi, aktor dan aktris, penulis lirik lagu dan pemain drama. Tampaknya ini berasal dari kata “karya“ dalam bahasa Melayu yang merujuk pada karya seni.

Contohnya, salah satu misi Persatuan Karyawan Malaysia (sebuah perhimpunan pekerja seni di Malaysia) adalah “mencari penyelesaian beberapa masalah yang dihadapi oleh industri hiburan tanah air“ dan “memperjuangkan pelbagai nasib para penggiat seni tanah air“. Tautan: Blog Karyawan Malaysia.

Beda lagi di Singapura. Menurut Bashir Basalamah, seorang penerjemah Melayu senior asal Singapura, pada era 80-an, istilah “karyawan” disematkan pada kalangan profesional, seperti eksekutif dan manajer. Pada akhir 90-an, popularitas “karyawan” mulai tergantikan dengan istilah “profesional”, tetapi hingga saat ini istilah “karyawan” masih diartikan demikian. Setidaknya ini masih tercermin pada nama Melayu dari Association of Muslim Professionals yakni Angkatan Karyawan Islam (sebuah organisasi masyarakat beranggotakan kalangan profesional), yang didirikan pada 1991. Tautan:situs AMP .

Memang benar apa kata pepatah Melayu, lain lubuk lain ikannya. Dan semoga para ikan di masing-masing lubuk tetap rukun dengan saudara selubuk maupun seberang lubuk.

Salam dari lubuk hati!

Jakarta, 8 Desember 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: