Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Ketika Mata dan Hati Melihat Berbeda

Mata (kepala) kadang melihat berbeda dengan (mata) hati. Sumber foto: www.radong.wordpress.comSetengah tahun kembali menjadi pekerja kantoran membuat hidup saya berbeda daripada waktu-waktu sebelumnya sewaktu masih menjadi penerjemah lepas penuh waktu. Salah satunya adalah kesibukan pagi yang berbeda.

Jika sebelumnya, di pagi hari, saya masih bisa bersantai baca koran dengan segelas teh manis hangat di tangan. Atau menemani Alham, anak tunggal saya usia dua tahun, bermain bola di halaman depan sambil tersenyum menatap para tetangga tergopoh-gopoh berangkat kerja. Kini, saya juga ikut tergopoh-gopoh berangkat pagi, mengejar kereta ke kantor. Mungkin ada di antara para tetangga yang kini tersenyum menatap saya yang tergopoh-gopoh pergi. Hidup memang selalu dan kadang harus berubah.

Barangkali, seloroh para pengguna kereta, yang tak pernah berubah adalah tabiat kereta api di Jakarta. Amat sangat jarang sekali ia tepat waktu. Lebih sering terlambat. Dan di pagi berhujan deras itu terjadilah keajaiban Tuhan. KRL (Kereta Rel Listrik) Jabodetabek (Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi) jurusan Tanah Abang itu datang lebih cepat 10 menit dari jadwal semestinya yang pukul 07.50 WIB.

Sayangnya saya termasuk yang tak beruntung menikmati keajaiban tersebut. Meskipun saya sudah lari sprint 200 meter untuk mengejar si Southline Ciliwung berwarna oranye itu, tetap saja si Ciliwung meninggalkan saya.

Ah, jadi teringat judul film lawas, Pacar Ketinggalan Kereta. Meski tak ada pacar yang menunggu saya di kereta itu. Yang ada mantan pacar di rumah yang tentu di jam-jam itu sedang sibuk menyuapi Alham sarapan sambil naik odong-odong favoritnya.

Tapi hidup, terlebih lagi di ibukota, tak boleh menyerah. Sel-sel otak harus diputar dan diulur hingga panjang akal jadinya.

Setelah memutar otak (tentu tidak dalam pengertian sebenarnya), saya memutuskan untuk menuju kantor, sebuah firma hukum di bilangan Sudirman, dengan terlebih dulu naik KRL jurusan Kota, yang saat itu merapat ke Stasiun Cawang. Karena KRL jurusan Tanah Abang – yang sejalur dengan rute ke kantor – baru ada setengah jam lagi (tentu di atas kertas, karena praktiknya beda lagi).

Sesuai rencana, perjalanan ke Kota lancar. Namun rasanya terlalu mudah hidup di Jakarta jika terlalu mudah seperti itu adanya. Bus Transjakarta, lazim disebut Busway, tak muncul-muncul hingga nyaris dua puluh menit.

Padahal, menuju ke Sudirman, saya harus naik Busway dari Kota hingga halte Dukuh Atas. Antrean pun mengular hingga ke ujung pintu masuk halte. Duh, kemana ya ahlinye??

Syukurlah, ketika saya mulai berdiri terkantuk-kantuk dengan ransel besar di dada dan punggung pegal didesak-desak antrean, Busway datang. Terpaan sejuk hawa dari air conditioning menyejukkan badan meski hati masih gondok. Terbayang harus mengabsen dengan sistem sidik jari (finger print) di bawah tatapan teman-teman kantor. Terlambat 1,5 jam gitu lho!!

Setelah merelakan tempat duduk saya kepada seorang ibu-ibu etnis Tionghoa yang berpakaian a la biksu Shaolin (ia juga berucap,”Xie xie”), saya berdiri di dekat jendela menatap pemandangan deretan arcade khas paduan budaya Belanda dan Cina di sepanjang jalan Gajah Mada.

Selepas Harmoni, ketika Busway melambat karena terhalang belasan motor dan mobil pribadi di depannya, di bawah halte, tampak seorang gelandangan berpakaian kaos lusuh robek-robek berwudhu dengan air kali yang hitam dan bau. Dari gerakan wudhunya yang tak beraturan, saya duga ia kurang waras. Kemudian si gelandangan, di atas lembaran kardus, melakukan gerakan sholat, yang juga berantakan. Namun ia melakukannya dengan khusyuk kendati banyak mata tertuju kepadanya. Mungkin tatapan disertai beragam rasa: jijik, kasihan atau iba.

Semula saya bergidik melihat ia berwudhu dengan air kali yang bukan saja tak menyucikan tapi juga sangat kotor dan bau. Yang ada dalam hati saya adalah betapa malangnya orang itu, yang harus sholat dalam kondisi memprihatinkan dan dengan pengetahuan sholat yang terbatas pula.

Tapi, Allah Maha Adil, si gelandangan rupanya adalah prisma, di mana setiap orang dapat melihat keindahannya dalam berbagai sisi yang berbeda.

Seorang bapak etnis Tionghoa – yang berdasi dan menenteng tas koper – yang berdiri di samping saya tampak terkagum-kagum melihat si gelandangan. Ia mencolek lengan petugas pengaman busway yang berdiri di depannya. “Eh, kamu lihat itu? Hebat ya dia!” puji si Engkoh. “Jarang-jarang orang kayak gitu di jaman sekarang. Tetap berusaha sholat.”

Saya tertegun. Merasa tertampar dalam hati. Mengapa saya tidak melihat si gelandangan dari sisi yang sama seperti yang si Engkoh – yang tampaknya seorang non-Muslim — lihat?

Mengapa yang saya lihat adalah gelandangan malang dan kurang waras yang berusaha sholat? Mengapa bukan seorang hamba Allah yang berusaha melaksanakan sholat sunnah Dhuha dengan ikhlas dengan segala keterbatasannya?

Ah, mata dan hati memang kadang melihat berbeda.

Sudirman, jelang 1 Muharam 1432 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s