Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Wahai OB Sedunia, Bersatulah!

Pada kurun waktu 2006-2008, salah satu tontonan favorit saya di petang hari adalah sinetron OB (baca: Office Boy) garapan sutradara Adek Azhar dan penulis skenario Fachri Asiza dkk di RCTI pada pukul 17.00 WIB. Kadang tayangan ulangnya baik jam 07.30 WIB atau pukul 22.30 WIB saya lahap juga. Selalu ada yang segar dan inspiratif dari sinetron bergenre situasi komedi (sitkom) ini.

Kisahnya, sesuai judul, mengangkat kehidupan para pesuruh kantor atau istilah kerennya Office Boy/Girl di sebuah stasiun TV swasta OK TV.

Ada figur Odah (diperankan oleh Tika Panggabean) yang pemalak dan licik. Ada Mail (Daus Separo) yang sok tahu dan kelewat PD (percaya diri), Sayuti (Aditya ‘Padat Karya’ Warman) yang lugu namun jujur, Susi (Oline Mendeng) yang selalu mengejar-ngejar cinta Sayuti, Hendra (M. Ridwan) yang super duper pelit, Gusti (Bayu Oktara) yang sosok playboy sejati, dan jangan lupa, figur Saschya (Winda ‘Idol’ Viska) yang sekretaris cantik tapi ‘tulalit‘.

Figur yang satu ini seakan menguatkan stereotipe miring di sebagian kalangan lelaki tentang perempuan cantik: perempuan cantik itu bodoh. Saking merasuknya stereotipe tersebut, salah satu teori penerjemahan, yang dikemukakan oleh Yevgeny Yevtushenko berbunyi,“Translation is like a woman. If it is beautiful, it is not faithful. If it is faithful, it is most certainly not beautiful”. Terjemahan itu seperti perempuan. Jika cantik, ia tidak setia. Jika setia, ia tentu saja tidak cantik.

Anda tidak setuju? Nantilah, di lain kesempatan kita bahas soal itu.

Ada yang lebih penting dari gemerlapnya kuteks ungu Saschya, atau necisnya dasi Pak Taka (Marlon Renaldy), manajer HRD yang gemar marah namun cinta setengah mampus pada Saschya.

Ya, soal OB, soal orang-orang yang tampaknya sepele, tapi sebenarnya berarti banyak dalam kehidupan kita.

Beberapa tahun sebelumnya, sekitar 2002, sewaktu saya masih mengajar di sebuah lembaga kursus bahasa Inggris di bilangan Jakarta Timur, saya berkawan akrab dengan satu-satunya OB di lembaga kursus itu. Kurijo, namanya. Jo, biasa ia dipanggil. Lajang Ortega (Orang Tegal Asli) dengan logat medoknya yang selalu bikin saya nyengir. Kendati ia juga sering mesem kalau dengar logat Betawi Tengah saya sesekali terlontar dalam percakapan. Dia sering bilang,”Kirain Mas Salam orangnya kalem, eh, ternyata bocor juga!” Saya tersenyum. Yah, setidaknya ‘bocor‘ untuk kalangan terbatas.

Yah, itu perkawanan yang menarik. Entah, apakah tepat disebut perkawanan. Karena jika saya kemalaman selepas mengajar kelas malam—atau malas pulang karena jarak tempuh yang lumayan jauh ke rumah saya dan terbatasnya fasilitas angkutan umum pada malam hari—dan menginap di kantor, Jo memperlakukan saya lebih sebagai atasan.

Tidak saja kepada saya. Juga kepada rekan-rekan pengajar atau staf yang ingin ngobrol semalaman atau sedang ribut dengan istrinya yang turut menginap di kantor. Tetap saja ada jarak antara kami. Mulai dari gaya membungkuknya jika lewat melintas yang mirip pegawai Kraton Ngayogyakarta, tidak bicara sebelum kami suruh bicara atau kami diam, dan selalu sigap menyiapkan makan malam—biasanya nasi goreng dari penjual keliling yang lewat—tanpa diminta. Bahkan lebih sering dengan uangnya sendiri karena ia kerap menolak uang dari saya. “Ndak usah, Mas.”

Padahal saya tahu betul gajinya saat itu hanya 300 ribu sebulan. Bekerja nyaris 24 jam 7 hari seminggu. Saat mau tidur, kasur khusus ia siapkan di ruang guru. Biasanya kami tidur bersebelahan. Kasur itu memang khusus, karena hanya ada satu. Ia sendiri tidur beralaskan tikar tipis yang mulai rombeng.

Jika azan subuh berkumandang, ia yang kadang terbangun duluan sering membangunkan saya dengan suara perlahan dan tepukan halus seakan-akan saya ndoro-nya.”Mas, sudah Subuh.” Terus demikian, sampai saya bangun untuk wudhu dan sholat sendirian.

Sendirian? Si Kurijo kembali tidur. Entahlah, apa agama atau kepercayaannya. Yang jelas ia selalu curhat jika tak boleh pulang kampung jauh-jauh hari menjelang Lebaran. Dengan wajah keruh, tapi tetap dengan suara pelan. Ah, Kurijo.

Rasanya lembaga kursus itu lumpuh jika Kurijo mogok kerja sehari saja. Bahkan suatu kali ketika ia ngambek dan pergi ke rumah saudaranya karena gajinya yang seiprit itu disunat oknum staf administrasi, kami kelimpungan. Sampah berantakan; piring sisa makan siang pengajar yang bertebaran maupun sepeda sepeda siswa yang terparkir sembarangan.

Barulah saat itu terasa betul makna keberadaan seorang Kurijo yang superman. Ia yang menyapu dan mengepel ruang kelas, membelikan makan siang para pengajar; memarkirkan kendaraan pengantar siswa, atau sepeda siswa yang diparkir seenaknya, bahkan sampai mengusir kucing-kucing nakal yang ribut berkelahi di atap gedung. Namun tidak serta-merta derajatnya dianggap setara.

Saat lembaga kursus itu mengalami defisit keuangan konon karena korupsi sebagian orang pusat—dan akibatnya gaji pegawai tertahan dan dibayarkan bertahap sehingga saya pun hengkang sebulan kemudian—Kurijolah yang mendapat amplop gaji terakhir. Hebatnya, tak pernah sekalipun ia mengeluh atau pinjam uang saat tandon uangnya menipis. Hanya saja ia terlihat lebih lemas saat itu. Kata Doni, salah satu staf administrasi kawan akrab saya, Jo sudah dua hari cuma minum air putih. Serentak beberapa pengajar yang peduli urunan membelikannya nasi bungkus.

Lalu apakah Jo dendam dengan segala ketidakadilan itu? Apakah ia lantas pindah kerja sebagai protes? Saya sering memprovokasinya demikian, karena bagi saya dengan segala ketekunan dan kerja gila-gilaannya ia berhak mendapat penghasilan lebih dan perlakuan yang lebih manusiawi.

Apa jawabnya?

Ndak, ah, Mas. Kalau saya pindah, kasihan tempat kursus ini. Siswa-siswanya juga kasihan, ga ada yang ngurusin. Mereka kan sudah akrab sama saya. Lagian saya masih bujangan. Belum ada tanggungan. Jadi ya ndak pa-pa.”

Oalah Jo, Jo…

Pada momen itu saya tertegun. Apakah saya yang terlalu materialistis atau Jo yang kelewat pasrah dengan konsep hidup nrimo ing pandum-nya?

Alkisah, berlangsunglah konferensi organ-organ tubuh. Segenap organ tubuh baik dalam atau luar berkumpul membicarakan untuk mengangkat pimpinan.
“Pilihlah saya! Karena sayalah manusia dapat melihat!” Mata mulai berkampanye.

“Huh! Saya yang lebih pantas. Manusia tidak ada apa-apanya jika tanpa saya!” tukas Otak tak mau kalah.

Berturut-turut Tangan, Kaki, Hati, Jantung, Ginjal dll saling menyela dan menonjolkan kelebihan masing-masing. Rapat mengalami deadlock (kebuntuan).

“Sudah! Sudah! Kenapa saling berkelahi? Kalian mau tahu pendapatku tidak?” Anus berusaha menengahi.

“Pendapatmu? Buat apa? Kamu itu tak pantas dibandingkan kami. Tempatmu di belakang, tempat membuang kotoran. Menjijikkan!”

Anus kecewa berat. Esoknya ia menyatakan mogok kerja. Alhasil, ekskresi pembuangan tinja mogok total. Zat-zat racun hasil metabolisme tubuh yang mestinya dibuang rutin tiap hari terhambat. Zat-zat itu yang tak terbuang itu berputar-putar kembali dalam sistem peredaran darah. Merusak ginjal. Merusak hati. Otak pun terhenti, karena tak mendapat oksigen dari metabolisme yang mendadak kacau. Akhirnya semua fungsi organ terhenti. Manusia pun mati.

Karena apa? Karena ia tak bisa buang air besar. Jangankan tidak bisa buang air besar, untuk bisa mengeluarkan kentut saja, seorang tetangga saya harus mengeluarkan biaya lima juta rupiah. Semata-mata karena anus.

Dalam sebuah struktur bangunan, semua elemennya mulai dari semen, kayu, besi cor dll ditempatkan sesuai fungsinya untuk saling menguatkan. Tidak ada yang hina statusnya. Besi cor tidak hina hanya karena berada di dalam, tak terlihat apalagi menonjol. Jika ia menonjol keluar itu justru berbahaya sekaligus merusak harmoni arsitektur yang ada.

Ah, andai seisi dunia dapat saling menghargai dalam harmoni perbedaan status dan apapun tentulah Karl Marx tak perlu meneriakkan,”Kaum buruh sedunia, bersatulah!” teriak Karl Marx. Itu sudah basi, Mbah.

“Yang sekarang apa?” tanya si Mbah kelahiran Jerman itu sambil mengelus jenggot tebalnya, dalam dialog imajiner saya dengannya.

“OB sedunia, bersatulah!”

Jakarta, 2006-2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s