Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Tentang Nama Pena, Judul, Dialog dan Narasi

Nama Pena

Seorang kawan meminta saya mengomentari tulisannya. Saya tertegun. Nama penanya unik, macaca fascularis, yang menurutnya nama spesies monyet berekor panjang di pedalaman Sumatera. Terdengar bagus di telinga. Memang banyak orang yang memakai nama Latin sebagai nama identitas. Seperti seorang kakak kelas SMA saya yang dinamai oleh orangtuanya Oryza Sativa (nama genus untuk padi). Sebuah nama yang cantik dan beraura positif. Barangkali sinonim dengan Sri, nama dewi padi yang banyak dipakai untuk nama perempuan di Jawa.

Memang nama pena apapun adalah hak prerogatif seorang penulis. Yang lebih mengejutkan, seorang kawan di blog Multiply memperkenalkan identitasnya sebagai, maaf, beha38b! Dahsyat, bukan?

Perihal nama, William Shakespeare bilang, “What’s in a name, rose is a rose“, apalah artinya sebuah nama, mawar tetaplah mawar. Tetap harum mewangi. Sementara Nabi Muhammad SAW–diriwayatkan Bukhori—mengatakan bahwa nama adalah doa, di mana setiapkali orang memanggil kita maka itu adalah doa bagi kita.

Secara psikologis, atribut yang kita pakai termasuk nama diri atau nama pena memiliki dampak atau menimbulkan image (pencitraan) terhadap diri kita. Ada yang namanya “bad effect” (pengaruh buruk) atau “halo effect” (efek halo, semacam lingkaran cahaya yang biasanya melingkari kepala malaikat yang biasa kita lihat di film-film), asosiasi positif atau menguntungkan karena atribut yang disematkan pada diri kita.

Contoh halo effect, jika kita mendengar nama seseorang “Yasmin Mumtaz” yang terdengar manis di telinga, ada asosiasi di benak kita bahwa pemilik nama itu pastilah secantik namanya. Dalam bahasa Arab, nama itu bermakna “melati yang istimewa”. Sang empu nama memang seorang presenter dan produser salah satu stasiun TV swasta yang cantik dan cerdas.

Para produsen barang juga berlomba-lomba memilih nama yang bagus untuk produk mereka, unik dan bermakna positif. Terlebih jika kita merujuk pada fengshui-Hongshui Tionghoa yang amat detil mengkalkulasi potensi citra dan rejeki dari nama identitas kita.

Judul

Jurus pertama ‘menaklukkan’ pembaca adalah dengan membuat judul yang membuat penasaran, eye-catching. Awali tulisan kita dengan ledakan (bang), mengutip Ismail Marahimin dalam Menulis Secara Populer.

Ada prinsip kuno— dengan majas ironi —dalam jurnalisme: Good news is bad news, but bad news is good news, yang contoh klasiknya adalah berita yang luar biasa bukanlah anjing menggigit orang tapi orang yang menggigit anjing. Barangkali terkesan ngawur. Namun dalam konteks menarik perhatian pembaca, pendekatan tersebut bisa kita pakai. Misalnya dalam pemilihan judul. Seperti manusia, penampilan luar adalah hal penting.

Dalam konteks ini, maaf, kata mutiara don’t judge a book by its cover menjadi kurang relevan. Surat kabar nasional sejenis Poskota atau Rakyat Merdeka biasa memampang judul yang provokatif seperti: “JANDA DIPERKOSA, RAIB 300 JUTA”.

Judul berita di harian Poskota yang provokatif dan "eye-catching"

Meskipun kadang informasi tersebut hanya dibahas sekilas. Tapi intinya tonjolkan kelebihan dan tutupi kekurangan dalam tulisan kita. Ini sah-sah saja dalam dunia penulisan yang bisa dibilang sudah menjelma menjadi sebuah industri, yang karib dengan pranata pemasaran (marketing) yang canggih.

Dalil tentang pemilihan judul yang menarik atau eye-catching juga relevan di dunia maya atau permilisan di internet. Bayangkan, di antara banyak postingan atau berita, kita cenderung hanya memilih yang menarik perhatian.

Contoh, sebuah tulisan mengenai kisah pengorbanan induk monyet untuk mempertahankan anaknya yang diberi judul “MENCINTAI SESAMA MAKHLUK TUHAN” tentu baik—tergantung untuk segmen konsumen siapa—tapi tidak menggairahkan, kurang sexy. Lebih menarik bila judul tersebut dikemas menjadi “MARI BELAJAR DARI MONYET”, “NALURI KEIBUAN SEEKOR KERA ” atau “BALADA KERA” atau judul-judul yang eye-catching lainnya.

Perlu diingat juga prinsip marketing yang kerap dikutip Zig Ziglar—salesman mobil terlaris dalam sejarah–bahwa “orang membeli karena didorong emosi”. Coba pelajari emosi dasar apa sih yang memancing naluri pembaca untuk membaca? Judul yang memancing naluri seksual (itulah kenapa RUU Anti-Pornografi yang kini menjadi UU Pornografi perlu disokong untuk diberlakukan secara efektif), SARA atau kebutuhan perut tentu lebih mengundang perhatian ketimbang seputar pemikiran ilmiah atau berat (kecuali pembaca kita adalah ilmuwan, lain soalnya).

Sesuai Teori Hierarki Maslow bahwa kebutuhan akan hal-hal tersebut adalah basic needs yang merupakan dasar piramida dalam survival hierarchy, sementara kebutuhan akan prestasi atau ekspresi diri adalah bagian puncak piramida yang hanya akan dicapai bila perut sudah kenyang atau kebutuhan lain akan keamanan terpenuhi.

Jadi judul untuk tulisan tersebut bisa dikasih judul “NASEHAT DARI NENEK MOYANG DARWIN” (ingat teori Darwin tentang evolusi? Terlepas apakah kita mempercayainya atau tidak) atau “MONYET JUGA MANUSIA(WI)” yang merujuk pada sifat-sifat kemanusiaan yang luhur. Lebih jauh judul juga perlu disesuaikan apakah kita akan mengembangkannya menjadi bentuk tulisan non-fiksi atau fiksi. Dalam hal ini wajib hukumnya adanya pertimbangan yang matang dan amatan pasar yang cermat.

Dialog dan Narasi

Seperti dalam dunia kuliner, dialog adalah ingredient yang penting. Rekannya, narasi, juga tak kalah penting. Porsi keduanya harus pas, agar tidak kepedasan atau terlalu hambar. Salah menempatkan keduanya bisa berabe.

Novel sejarah karya 'Afifah Afra

Menurut Afifah Afra, novelis Bulan Mati di Javasche Orange—novel sejarah yang konon disejajarkan dengan Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer–narasi ditulis agar pembaca seperti mengalami sendiri kisah yang ditulis oleh pembaca. Tetapi terlalu banyak memainkan jurus narasi alih-alih menyegarkan justru bikin pembaca ngantuk dan pegal membacanya.

Di sisi lain, ada adagium penulisan don’t tell it but just show it. Jangan cuma diceritakan tapi juga tunjukkan. Pelukisan kejadian atau tindakan dalam sebuah tulisan dapat memperlancar sebuah tulisan untuk dicerna dan diserap saripatinya. Di sinilah dialog berperan. Karena dialog pun dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan informasi.

Buku panduan menulis dari Josip Novakovich, sastrawan dan dosen penulisan kreatif dari Amerika Serikat

Josiph Novakovich dalam Berguru kepada Sastrawan Dunia (Mizan, 2003) mengatakan: “Karena dialog mengungkapkan informasi tentang perjuangan seseorang, pastikan Anda tidak memberi kami informasi yang sepele dan tidak relevan. Hindari pendahuluan yang realistis; buatlah ringkasan pendahuluan yang enak lalu langsung masuk ke dalam dialog…Jangan tunjukkan semua contohnya, sajikan yang dramatis, saat diperlukan saja, dan sajikan yang lainnya dalam bentuk ringkasan.” (hal. 182-183).

Namun, terlalu banyak dialog, ujar Mohammad Diponegoro dalam Yuk Nulis Cerpen Yuk (Shalahuddin Press, Yogyakarta, 1991), bisa bikin tulisan terlalu encer. Jadi memainkan keduanya butuh nilai rasa, seperti memainkan gas atau rem ketika mengendarai motor atau mobil.

Dialog dan narasi ibarat gas dan rem, harus pas takarannya jika ingin mulus berkendara

Seperti masakan pula, coba minta keluarga atau sahabat kita untuk ‘mencicipi’ tulisan kita. Apakah sudah ganyeng atau bumbunya sudah pas? Sudahkah mencapai efek yang kita inginkan?

Jika belum, mari banyak berlatih menulis dan membaca. Ini juga nasihat untuk saya pribadi. Selain itu, persiapkan mindset kita dalam menulis karena menulis seperti meludah dan buang hajat, harus ikhlas. Dari sekian banyak tulisan yang belum baik kelak seiring bertambahnya jam terbang dan referensi bacaan pasti muncul yang terbaik. Practice makes perfect.

Bagaimana jika tulisan kita dikritik? Kritik juga bahan bakar bagi energi kepenulisan. Ibarat sebuah bahtera, kritik adalah angin yang justru mendorongnya bergerak sampai ke daratan harapan. Selain itu, seberapapun kadarnya, mari berbagi apa yang kita tahu. Karena berbagi ilmu itu sesungguhnya sedekah, dan setiap sedekah berbuah keuntungan baik berupa tambahan ilmu atau manfaat lainnya.

Jakarta, 30 Juni 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: