Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Berbuka dengan Tiga Kata

Writer's block adalah saat otak dan hati Anda "berpuasa" (buntu menulis)

Menulis adalah makanan jiwa. Ia merupakan bentuk ekspresi diri, yang menurut Abraham Maslow, merupakan bentuk keparipurnaan psikologi seorang individu.

Jika Anda ingin sekali mencurahkan isi hati, mendamba sangat untuk menuangkan isi otak namun tangan kaku atau — dalam istilah Taufik Ismail– lumpuh menulis, hmm, barangkali secara tak sadar Anda sedang “berpuasa” menulis. Otak Anda sedang rehat, menunggu waktu berbuka. Jiwa Anda menggelegak namun tangan kelu beku di depan keyboard komputer atau pena terkulai loyo di atas kertas. Anda mengalami writer’s block (buntu menulis). Jadi, marilah berbuka!

“Kak, gimana caranya?” seorang murid menulis saya bertanya demikian.
Yang tidak bertanya atau malu bertanya, lebih banyak menerawang ke langit atau menekuri bumi. Sebuah pemandangan umum yang saya temui dalam berbagai pelatihan menulis mulai dari anak-anak buruh pelabuhan Tanjung Priok, siswa SMA di sebuah kawasan elite, karyawan-karyawan sebuah kementerian bahkan hingga anggota baru sebuah komunitas kepenulisan (Forum Lingkar Pena hingga Komunitas Matoa).

Mereka lupa bahwa ide harus dikejar, bukan dinanti seperti pasifnya menanti kereta Jabodetabek yang kerap telat.

Film yang mengisahkan kiat menulis yang baik. Sangat direkomendasikan!

Mereka abai bahwa seorang Sean Connery– dalam perannya sebagai seorang penulis novel misterius dalam film Finding Forrester — mendidik keras muridnya (seorang remaja kulit hitam) agar “menuliskan apa yang terlintas, bukan memikirkan apa yang hendak ditulis”. Namun, jika konsep itu kelewat mewah, maka seperti berbuka puasa, awalilah dengan yang ringan. Jika berbuka disunnahkan dengan kurma, maka berbukalah dari puasa menulis dengan tiga kata.

“Caranya?” Mata-mata bingung itu menatap tajam. Mungkin mereka kira saya bercanda.

Apapun bentuk tulisan Anda, persetankan apapun kata kritikus nantinya, “dobrak” kebekuan es dalam benak dengan menuliskan “tiga kata”. Apapun kata yang terlintas di benak Anda.

Contoh: Apa yang Anda pikirkan saat membaca tulisan ini? Sebut saja: bingung, penasaran dan tak tahu. Yup! Anda sukses mencicipi “kurma”. Apakah Anda biarkan kurma itu sekedar menempel di bibir? Jangan puas hanya dengan merasakan teksturnya. Santap saja, Kawan!

Kurma adalah makanan pembuka (ta'jil) yang terbaik. Demikian juga dengan jurus 3 kata.

Buatlah kalimat dari ketiga kata temuan tersebut. Tak peduli dari manapun kata itu Anda pungut (apakah dari kelebatan rok mini cewek kantoran di depan Anda, dari headline sebuah koran atau dari kelebatan ide iseng), tuliskan saja.

Misalnya, terciptalah, “Aku bingung dan penasaran untuk menulis apa yang aku tak tahu untuk menulisnya.” Itu satu contoh. Terus, dan teruslah menulis. Sengawur apapun. Hingga, singkat cerita, terciptalah sebuah paragraf pendek berikut:

Aku bingung dan penasaran untuk menulis apa yang aku tak tahu untuk menulisnya. Tapi aku tahu harus menulis apa. Karena aku penulis serba bisa. Biarpun judulnya “Kecanggihan Teknologi IT” tapi aku tahu aku pasti bisa menulisnya. Apapun itu…”

Bagaimana?

Selamat berbuka dengan tiga kata!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: