Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Untuk Para Orang Tua: Anakmu Bukanlah Anakmu!

Jangan sepelekan tangis anak Anda

Sabtu sore di penghujung 2006.

Ini kisah saat aku masih melajang.

Supermarket waralaba Perancis di bilangan Jakarta Selatan ini luar biasa padat. Di waktu akhir pekan pengunjungnya memang berlimpah. Apalagi supermarket ini terletak di jalan protokol ibukota.

Alhasil, bila troli saling beradu atau mendadak terseruduk ibu-ibu yang terburu-buru memanggil partner belanjanya, itu hal biasa.

Atau jika bahkan mendadak seorang anak menubruk kita dengan es krim yang lantas membasahi baju kita. Salah satu temanku pernah mengalaminya. Untungnya aku tidak. Setidaknya sampai saat ini.

Di deretan stand buah segar hanya ada seorang ibu dan anak laki-laki keriting. Lucu wajahnya. Persis di belakangnya, tengah melihat-lihat buah kurma, juga ada pria berambut keriting. Tapi tidak lucu wajahnya. Itulah aku.

“Kurang ajar!”Mendadak si ibu menyalak. Berderet-deret nama binatang keluar dari mulutnya. Mulai dari yang berkaki empat hingga sang uwak manusia versi Darwin. Lengkap. Apa dakwaan terhadap si anak yang tampak mengkeret dengan wajah pasi itu?

Ia rupanya tak sengaja menyenggol tumpukan apel impor hingga berjatuhan. Orang-orang menonton dengan berbagai ekspresi. Lebih banyak yang tampak kasihan.

Petugas hipermarket lekas membereskan. Singkat saja untuk membereskan tumpukan apel yang jatuh. Namun rasanya tak sebentar untuk mengobati luka hati bocah usia dua tahunan itu. Sepertinya demikian bagiku sebagai orang luar.

Wajah anak itu meringis dengan linang air mata di pipi putih montoknya. Ia menunduk. Kakinya yang bersepatu mungil menggosok-gosok lantai. Mungkin ia tengah minta bantuan pada peri tanah.

Anak tirikah ia?

Sudut batinku bertanya. Teringat stereotipe anak tiri a la Ary Anggara dan di sinetron-sinetron TV kiwari. Tapi, ah, tidak. Wajah mereka mirip betul.

Drama ibu-anak itu berakhir dengan si ibu menggeret si anak berjalan sambil terus menyumpah-nyumpah tak jelas. Si anak melangkah terseret-seret bak anak kambing dipaksa masuk kandang. Anehnya, tangisnya tak bersuara. Hanya deras airmata yang kian menganaksungai.

Ah, malang nian dikau bocah keriting! Maaf, sebagai sesama keriting, aku tak kuasa membantumu. Moga Tuhan melindungimu.

Shopping sendirianku berlanjut. Maklum, baru dapat transfer honor terjemahan yang lumayan besar. Namun refleksi tentang si bocah malang terus mengembara.

Tidakkah si ibu tahu bahwa anak bukanlah hak milik atau investasi yang leluasa diperlakukan seenak hati? Ia adalah amanah Tuhan. Seperti kata Khalil Gibran,”anakmu bukanlah anakmu. Ia adalah milik kehidupan.”

Dalam sebuah riwayat, Nabi Muhammad SAW pernah menegur seorang ibu yang memarahi anaknya dengan kasar karena mengencingi baju sang Nabi.

“Noda di bajuku ini dapat segera hilang, tapi tidak demikian dengan luka hati anakmu,” tegur sang Nabi yang lembut hati dengan bijak.

Di kesempatan lain Umar Ibnu Khattab bertanya keheranan ketika seorang sahabatnya merasa lebih “jantan” daripada sang khalifah—yang dikenal berperawakan besar dan jago perang–karena tak pernah mencium anaknya.

“Bagaimana mungkin kau ini dapat dikatakan beriman? Bukankah Allah sendiri mencintai kelembutan? Aku sendiri mencium anak-anakku. Rasulullah pun amat menyayangi anak-anak dan cucunya. Bahkan ia rela memanjangkan rukuknya tatkala sang cucu bermain-main di punggungnya.”

“Anak adalah amanah bagi kedua orang tuanya. Hatinya yang suci adalah permata yang sangat mahal harganya. Jika dibiasakan pada kejahatan dan dibiarkan lepas seperti hewan, ia akan celaka dan binasa. Sedang memeliharanya adalah dengan upaya pendidikan dan pengajaran akhlak yang baik,” demikian tulis Imam Ghazali dalam kitab masterpiece-nya, Ihya ‘Ulumuddin.

Seorang sahabat zaman kuliahku terkekeh mendengar ceritaku via telepon. Ia juga baru punya anak usia beberapa pekan.

“Kok ketawa?” tanyaku heran. Agak tersinggung juga.

“Ente mah kalo teori jago, Akhi. Prakteknya dong. Makanya nikah!” ujarnya dengan tawa kian keras.

Aku terdiam. Benar sekali. Untuk mencontohkan mendidik anak yang baik, idealnya kita memang harus menikah dahulu. Karena ternyata anak itu tidak datang begitu saja dibawa burung bangau di paruhnya yang panjang dan diletakkan di tempat tidur orang yang menginginkannya seperti dalam dongeng kuno Eropa.

Bangau pembawa bayi ke dunia -- mitologi dongeng Eropa kuno

Jakarta, 12 Juli 2011

8 Komentar

  1. anung umar

    haha, kocak sekaligus haru baca tulisan ini..tapi memang betul ibu itu nggak sadar, kalau kata-kata kasarnya itu akan berdampak negatif ke anaknya.
    yang namanya anak kecil itu mudah sekali merekam suatu kejadian, makanya kata-kata kurang beradab dari ibunya bisa membekas di pikiran anaknya( walaupun masih kecil) hingga terbawa ketika ia dewasa. bisa jadi psikisnya akan trganggu..
    kalau sudah gitu siapa yang mau disalahkan?
    tulisan yang bagus mas..cuma ada sedikit kritik (boleh ya?) hindari istilah “peri”, karena itu nggak ada dalam islam…karena yang bisa menolong seorang ketika membutuhkan itu hanyalah Allah, melalui makhluk2-Nya yng sudah kita ketahui
    semangat menebar kebaikan, salam kenal dari bujangan juga (hehe)
    wassalamualaikum..

    • Hehe…ini kisah 5 tahun lalu, Mas Anung. Tahun 2006. Setahun kemudian saya menikah, di penghujung 2007.

      Oh ya, soal peri, ini dalam konteks khayalan anak-anak kok. Kadang anak kecil kan kerap mengkhayalkan ada peri yang menolongnya saat kesulitan *pengalaman pribadi ini sih*.

      Anyway,makasih ya komentarnya. Saya doakan moga lekas berjodoh segera:).

      • anung umar

        oh ternyata bukan bujangan lagi ya…jadi malu nih (hehe).
        oh ya mas, terkait masalah peri, yang dikhawatirkan itu ya seperti yang Mas sebutkan
        “Kadang anak kecil kan kerap mengkhayalkan ada peri yang menolongnya saat kesulitan”
        nah di sinilah masalahnya. karena kalau anak mengkhayalkan ketika kesulitan ada yang menolongnya selain Allah, itu bisa mengarahkan anak menuju penyekutuan Allah (syirik), sebab ia akan menyandarkan keselamatan kepada makhluk, bukan khalik.

        kalau sekedar mengkhayal ia akan ditolong peri dalam perkara yang masih disanggupi makhluk, seperti mengangkatnya, memberi minum dan semisalnya, mungkin itu ‘wajar’.
        Tapi yang bahayanya kalau ia mengkhayal bahwa peri itu bisa menolongnya dalam perkara yang tidak disanggupi kecuali Allah, seperti menurunkan hujan, menyembuhkan penyakit, atau seperti yang ada di film kartun, ketika seorang anak meminta sesuatu kepada peri, tiba-tiba tring..yang diminta dalam sekejap mata ada di depan mata, dan masih banyak lagi yang mirip dengan itu yang intinya semuanya itu mengajarkan kesyirikan dengan tanpa disadari..
        Dan memang itulah kondisi kita dari dulu sudah dicekoki cerita -cerita seperti ini yang notabenenya bersumber dari orang-orang non muslim. Makanya perlu waspada, jangan sampai anak-anak kita jadi ‘korban’ seperti bapak-bapaknya.
        mungkin gitu aja ya Mas..jadi keenakan komentar nih, yang jelas saya suka tulisan Mas dan banyak ambil faidah darinya.
        doakan saya lekas dapat jodoh ya..
        salam dari bujangan ^-^

      • Terima kasih banyak advisnya, Mas:). Terima kasih sudah mengingatkan. Insya Allah, saya doakan agar lekas berjodoh. Jika sudah berani, Insya Allah ada banyak rekan perempuan saya yang juga belum berjodoh:). Via japri aja ya.

      • Salam kenal, Mbak Jenny. OK, dipantau saja ya blog ini,hehe…

  2. jenny

    terima kasih pencerahannya, pak! semoga tambah berkah ilmunya karena berbagi dan sudah bisa lbh bisa memaknai karena udah praktek…

    • Amin, makasih doanya *terharu sangat*

      Ya, setelah menikah dan punya anak (kini anak saya usia 2,5 tahun) barulah terasa benar-benar beratnya punya anak. Di sisi lain sedikit paham juga kenapa si ibu begitu marah. Meski tak juga dapat dibenarkan kelakuannya itu. Bagaimanapun anak adalah dirinya sendiri, punya dunianya sendiri, dan bukan miniatur orang dewasa.

      Salam kenal ya.

      • jenny

        salam kenal kembali, pak. Saya anggota muda bahterawan. Menunggu tulisan berikunya nih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s