Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Sayap-Sayap Kecil Keberkahan

Keajaiban tidak selalu berupa hal-hal besar yang menakjubkan. Bisa jadi hal-hal kecil yang luput dari perhatian kita tetapi sebenarnya bernilai plus dalam kehidupan kita adalah bagian dari keajaiban itu sendiri. Berkah atas sebuah kegiatan adalah juga bentuk keajaiban. Demikian jawabku bila aku ditanya apakah pernah mengalami keajaiban karena ketaatan pada orang tua.

Jika keajaiban yang dimaksud adalah sebuah hal besar, seperti mendapat rumah mewah atau rezeki melimpah karena suatu ketaatan pada orang tua, jelas tidak. Mungkin orang lain pernah mengalaminya, rasanya aku tidak.

Barangkali karena tingkat ketaatanku pada orang tua yang, sejujurnya harus diakui, fluktuatif. Aku bukanlah anak yang taat betul. Sering sekali aku merengut atau membentak orang tua. Bahkan menolak permintaan mereka yang sekedar ringan-ringan saja, seperti meminta dibelikan sesuatu ke warung, hanya karena kemalasan atau kesibukanku.

Kenanganku terputar kembali semasa ibuku, Ulya binti Sayuti masih ada. Terus terang aku lebih dekat dengan ibu ketimbang dengan ayah, yang kami panggil aba’. Aku lebih menurut jika disuruh apa-apa oleh ibu. Tingkat rasa bersalahnya pun lebih besar jika aku mengabaikan perintah atau keinginan ibu ketimbang saat membantah disuruh aba’.

Ada kenangan tersendiri mengenai ibuku. Saat SMA, aku bukanlah murid yang pintar dalam artian menduduki rangking sepuluh besar di kelas. Bahkan pernah di kelas tiga, aku mendapat rangking 29 dari 46 siswa dan ada satu mata pelajaran yang dapat angka merah. Memang aku saat itu sangat aktif di kegiatan rohis sekolah. Aktif yang sangat berlebih, hingga melupakan kewajiban sebagai seorang siswa untuk belajar. Ulangan banyak yang harus her (mengulang) terutama Fisika sebagai mata pelajaran wajib di jurusan A1 (Fisika) karena selain aku tidak punya waktu mengulang pelajaran juga otakku tidak terlalu kuat untuk pelajaran eksakta. Singkatnya, dengan kondisi seperti itu, lolos UMPTN—tes penerimaan mahasiswa baru—di universitas negeri jurusan IPA pula—rasanya jauh dari bayangan.

Yang aku ingat saat itu menjelang UMPTN beberapa bulan sebelumnya aku ikut bimbingan belajar—ini pun atas beasiswa bimbel tersebut sebagai bentuk santunan kepada keluargaku karena almarhum abang tertua pernah mengajar di bimbel tersebut—dan belajar semampuku. Ibadah pun diusahakan rajin dengan tahajud dan mengaji Qur’an. Yang lebih penting aku ingat betul petuah aba’ yang mengatakan doa orang tua mustajab.

Sebetulnya jauh-jauh sebelum UMPTN aku sudah memilih Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran (Unpad) di Bandung yang termasuk jurusan IPA.

Berbeda dengan fakultas Psikologi UI yang termasuk jurusan IPS. Selain berminat dengan psikologi, menurutku, jurusan psikologi di Unpad menawarkan ranah ilmu yang lebih lengkap dengan mata kuliah anatomi dan syaraf manusia persis seperti yang dipelajari di fakultas kedokteran. Mungkin karena itu F-Psi Unpad digolongkan dalam fakultas IPA.

Namun ibu tak setuju dengan pilihanku itu. “Pilih aje di Jakarta, biar gak jauh-jauh.” Memang jika aku pilih Unpad otomatis aku harus indekost di Bandung, jauh dari ibu. Dengan setengah hati, berusaha mengikhlaskan diri, aku pilih jurusan IPA di Universitas Indonesia (UI) yang tak jauh beda dengan F-Psi Unpad, tak terlalu eksakta tapi masih termasuk jurusan IPA: Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM).

Aku sendiri dalam formulir pendaftaran UMPTN memilih IPC, program campuran dengan dua pilihan fakultas non-eksakta yakni Sastra Inggris di pilihan pertama dan Sastra Indonesia di pilihan ketiga. FKM di pilihan kedua. Itu pun karena pertimbangan strategi dengan asumsi seburuk-buruknya aku masih dapat tembus di Sastra Indonesia UI yang tingkat persaingannya lebih rendah daripada di FKM.

Faktor lain, karena almarhum abang sulungku alumnus FS-UI jurusan Sastra Indonesia. Aku menikmati membaca buku-buku kuliahnya yang tebal. Tak lupa pertimbangan terutama adalah biaya kuliah di UI yang saat itu relatif lebih murah dibandingkan dengan perguruan tinggi swasta.

Saat pengumuman UMPTN pun tiba. Pagi itu, 27 Juli 1996, aku mendapati namaku dengan suatu kode nomor pendaftaran tertera di lembaran koran. Saat itu pukul 08.00. Aku luarbiasa gembira. Tapi aku tidak tahu di fakultas mana aku diterima. Aku lebih hafal kode jurusan Sastra Inggris atau Sastra Indonesia. Sejenak aku terkaget ketika mencocokkan kode fakultas yang tertera dengan buku panduan UMPTN, dan mendapati aku diterima di FKM-UI.

Memangnya aku pernah memilih FKM-UI sebagai pilihan?

Batinku sempat berbisik demikian. Ya, aku sendiri sudah pesimis untuk dapat menembusnya karena konon tingkat persaingannya termasuk papan tengah.

Aku bersujud syukur dan mencium tangan kedua orang tuaku. Mereka tampak senang. Mata ibu berkaca-kaca.

Ya, pilihan yang tepat, Bunda. Terima kasih, Bunda, jika aku abaikan kemauanmu bisa jadi takdir Alah berbicara lain: aku mungkin tidak lolos UMPTN dan mengendap di rumah sebagai pengangguran.

Sedari awal aba’ dan ibu wanti-wanti bahwa mereka tak mungkin mengkuliahkanku di perguruan tinggi swasta karena biaya yang mahal.

Teman-temanku terkaget-kaget ketika mengetahui aku diterima di UI. Siapalah aku yang sering bolos demi kegiatan rohis, dan rangkingnya pun jauh di luar 10 besar?

Aku hanya suka membaca. Itu saja. Dan di antara siswa yang biasa menduduki rangking 10 besar di kelasku, tak satu pun yang lolos UMPTN.

Yah, inilah berkah yang aku rasakan, jika kecil kadarnya jika disebut keajaiban. Aku yakin ini berkat doa orang tuaku.

Ya, aba’ benar, doa orang tua mustajab. Ibuku orang yang rajin bangun malam untuk qiyamul lail dan kemudian pagi-pagi membuat kue untuk dititipkan di warung-warung di dekat rumah, membantu penghasilan aba’ yang pas-pasan sebagai montir mobil panggilan selain pendapatan bulanan dari rumah kontrakan petakan kelas bawah yang tak seberapa.

Pada 1997, ibu wafat karena kerusakan ginjal. Tepat ketika aku menginjak tahun pertama perkuliahan. Tinggallah aba’ sebagai orangtuaku satu-satunya. Sempat aku mengalami depresi berat hingga kuliahku berantakan.

Tahun-tahun berlalu selepas kuliah, hingga setelah beberapa kali keluar-masuk berbagai pekerjaan, aku memilih jadi penerjemah full-time di rumah. Beberapa tahun sebelumnya setelah kematian ibu hubunganku dengan aba’ agak renggang.

Kata orang tabiat kami sama-sama keras kepala. Tapi ketika aku memilih bekerja dan punya kantor SOHO (Small Office Home Office) selepas bekerja di sebuah production house besar, alhamdulilah, hubungan kami mulai membaik. Frekuensi pertengkaran agak berkurang. Aku jadi lebih dapat memahami aba’. Aku jadi lebih memahami betapa aku salah menafsirkan sikap keras aba’ yang dulu kurasakan sangat mengekang sehingga aku sering berontak adalah bentuk kasih sayangnya yang memang terkesan over-protective. Namun, itulah orang tua yang masing-masing punya ciri-khas mendidik anaknya.

Kenangan mengenai aba’ berawal ketika suatu kali aku kemaruk mengambil order terjemahan. Sebagai penerjemah, aku tidak berpayung badan perusahaan. Klien-klienku sebagian besar adalah biro-biro penerjemahan yang mensubkontrakkan pekerjaannya kepadaku dengan honor terjemahan saat itu yang berkisar Rp 6.000 sampai Rp 10.000 per halaman hasil.

“Mas, ada kerjaan (terjemahan) Inggris-Indonesia, kontrak bisnis, untuk Selasa bisa nggak?” tanya klienku. Waktu itu hari Jumat.

“Berapa halaman?’

“Banyak nih, 100 halaman. Sanggup tidak? Atau di-split aja?”

Wah, lumayan nih, pikirku. “Oke, Mas, sanggup. Saya ambil semuanya.”

“Oke, nanti kurir saya antar dokumennya ke rumah. Benar ya, Mas, Selasa. Jangan sampai telat. Kalau tidak, kami kena penalty dari klien.”

Aku mengiyakan. Entahlah, aku lupa, sudah mengucapkan Insya Allah atau tidak saat itu. Yang jelas, ini order kakap. Itu yang ada dalam pikiranku.

Tak lama masuk satu orderan lagi dari bahasa Inggris untuk diterjemahkan ke bahasa Indonesia, sekitar 30 halaman spasi rapat, untuk hari Rabu. Aku sanggupi pula. Dalam hitung-hitunganku, 30 halaman spasi rapat itu berarti sekitar 90 halaman hasil. Kalikan saja dengan Rp 7.000, lumayan kan?

Eh, ‘ndilalah, ada lagi order terjemahan ekspres untuk keesokan harinya 10 halaman. Ini berarti double price, honornya bisa Rp 14.000 sampai Rp. 20.000 per halaman hasil. Juga aku ambil.

Saat itu aku tidak ada niatan untuk mengoper sebagian orderan itu ke penerjemah lain. Yang lebih aku pikirkan banyaknya uang yang bakal aku dapat sendirian. Sebab jika dibagi dengan penerjemah lain otomatis pendapatanku berkurang. Bayang-bayang penghasilan sekitar Rp 2,5 juta dalam waktu kurang dari sepekan lebih menggiurkan saat itu.

Alhasil keserakahanku menyeretku dalam perjibakuan dari Jumat sampai Selasa dengan ketiga order terjemahan dengan total halaman hasil sekitar 300 halaman lebih. Padahal kemampuanku menerjemahkan dokumen adalah 30 halaman spasi dua dalam sehari.

Ketika tenggat berjatuhan, mulailah bencana itu. Dua orderan memang terkejar tuntas pada waktunya meski di ujung-ujung injury time. Namun justru orderan pertama sebanyak 100 halaman tak tertanggulangi. Aku gagal menyelesaikannya tepat waktu. Selisihnya pun jauh, masih separuh halaman lagi.

Aku minta maaf pada pemilik biro tersebut yang habis-habisan memakiku. Sebagai bentuk pertanggungjawaban, aku gratiskan klienku tersebut untuk tak perlu membayar jumlah halaman yang sudah aku kerjakan. Ini musibah betul buatku. Klien itu termasuk klien yang rajin menyuplai order kepadaku, dan hubungan bisnis kami sudah terbina hampir separuh perjalananku bekerja SOHO. Aku pun sudah berpikir ia akan memasukkanku dalam daftar hitam penerjemah. Alamat sepi order.

Memang setelah itu entah bagaimana order sepi. Bahkan dalam dua minggu aku hanya dapat order terjemahan dokumen 20 halaman. Untungnya aku hobi menulis sehingga dapat mengisi waktu yang lowong dengan menulis. Namun hikmahnya adalah dalam waktu sekitar tiga pekan kosong tanpa order terjemahan aku punya banyak waktu luang untuk menemani aba’ ngobrol di ruang depan.

Bekerja SOHO tidak serta-merta menjamin kita bisa dekat dengan keluarga atau orang-orang yang kita sayangi. Terlebih jika Anda orang yang workaholic dan tidak mempekerjakan orang lain untuk membantu pekerjaan Anda.

Aku pun jadi tahu ada tagihan Pajak Bumi Bangunan (PBB) yang belum dibayar aba’. Aku tahu itu setelah aku menangkap gelagat aneh saat beliau tampak tercenung di suatu siang sambil mengisap rokok dalam-dalam. Dalam hitungan aba’, sangat riskan untuk menggunakan uang hasil kontrakan rumah hanya untuk membayar uang PBB sebesar Rp 2,8 juta setahun.

Tiap tahun tagihan PBB memang terus membubung tinggi. Aku pun menyanggupi menyumbangkan Rp 1,2 juta. Agak nekat, karena saat itu tabunganku sedang menipis. Tapi aku pikir biarlah, toh kapan-kapan aku bisa pinjam dari aba’ jika ada keperluan mendesak atau kepepet membeli sesuatu. Aku pikir ini shodaqoh kepada orang tua. Kakakku nomor dua menyanggupi menambahi Rp 500 ribu. Jadi aba’ cukup perlu mengeluarkan Rp. 1,1 juta. Jumlah sebesar itu dalam hitunganku tidak mengganggu cash-flow bisnis kontrakan rumah petakan yang kami punyai.

Aba’ awalnya menolak, namun akhirnya bersedia menerima dan sangat berterima kasih. “Aba’ doain biar rejeki lo lancar, ngalir.” Aku mengaminkan. Meski aku tak pernah cerita soal sepinya order terjemahan mungkin beliau tahu kegundahanku, puteranya yang memilih kerja SOHO di rumah.

Kami saat itu di rumah memang tinggal berempat: aba’, aku, kakak perempuanku dan satu orang adikku laki-laki.

Selang dua hari kemudian datang kurir dari biro klien yang aku kira sudah memasukkanku dalam daftar hitamnya. Ada kerjaan yang tenggatnya seminggu. Total honor Rp. 300.000.

Lumayanlah, yang penting aku masih mendapat kepercayaan. Itu hal yang mahal dalam bisnis. Berturut-turut masuk order terjemahan lain dari biro-biro rekananku yang lain. Total omzetku sepekan itu Rp. 2 juta lebih.

Barangkali ini berkah lain dari bakti pada orang tua. Benar kata salah satu hadits Rasulullah SAW, orang tua adalah keramat kita. Hal yang keramat tentu akan membawa berkah jika kita taat dan membawa laknat jika kita tidak hormat.

Kini kedua keramatku telah sirna. Aba’, Abdul Rahman bin Hasan, wafat lima belas hari menjelang Ramadhan 1427 Hijriah setelah sakit panas satu hari.

Ah, jika mengingat kedua orang tua yang telah tiada ingin aku meminta kepada Allah agar waktu-waktu semasa keduanya masih ada dikembalikan lagi, dan aku akan berbakti kepada mereka setaat-taatnya. Sepenuh waktu, sepenuh hati.

Semasa mereka hidup, aku melupakan sayap-sayap kecil keberkahan dari mereka yang sebenarnya telah menerbangkanku tinggi.

Kasih dan doa orang tua adalah sayap-sayap kecil yang mengangkat kita lebih tinggi

Kini aku hanya bisa panjatkan doa untuk aba’ dan ibu di ujung sholat. Agar Allah terangi kubur keduanya dan pertemukan keduanya di surga-Nya.

Nikmat adalah nikmat tatkala tiada, saat di genggaman ia hanyalah kewajaran yang lazim ada.

Jakarta, 17 Ramadhan 1427 H

Sumber foto: http://www.thinkstock.com

2 Komentar

  1. Birrul Walidain

    Tulisan ini apik, dan mengesankan…

    salam kenal

    Facebook : a reza fuadi

    • Terima kasih, Bung Reza.

      Salam kenal juga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: