Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Belajar dari Hemingway dan Hamka

Ernest Hemingway (21 Juli 1899-2 Juli 1961)

Dua persoalan terbesar dalam menulis adalah bagaimana memulai sebuah tulisan dan mengakhirinya.

Konon, Ernest Hemingway–seorang sastrawan Amerika peraih Nobel sastra (1954) atas karyanya The Old Man and The Sea (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Sapardi Djoko Damono menjadi Lelaki Tua dan Laut)—punya kiat jitu untuk mengatasi kevakuman ide.

Ia tidak akan menunggu ide atau inspirasi datang begitu saja dengan bengong sepanjang hari. Ia memutuskan untuk menjemput ide dengan mengetikkan apa saja yang terlintas di benaknya pada mesin ketiknya. Apapun itu. Hingga lambat-laun berawal dari sebuah tulisan yang kacau-balau, tak jelas juntrungannya akan menjadi tulisan yang bermakna.

"The Old Man and the Sea" (ditulis pada 1951 dan diterbitkan pada 1952) adalah karya terakhir Hemingway yang diterbitkan

Awalnya memang sekadar kumpulan kata tak bermakna, namun semakin digeber semakin lancar hingga terbentuklah pola tulisan yang tertata. Alhasil, setelah diedit dan diperbaiki di sana-sini, jadilah karya-karya besar Hemingway yang kita kenal seperti For Whom The Bell Tolls dan The Snow On Kilimanjaro (keduanya pun sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Melani Budianta, istri penyair Eka Budianta).

"Lelaki Tua dan Laut" (penerjemah: Sapardi Djoko Damono)

Apakah semua karya besar sastrawan yang tewas bunuh diri ini lahir begitu saja dan sempurna sekali jadi?

Tentu tidak. Persis seperti kata Shakespeare,”Di dunia ini tidak ada karya yang baik yang sekali jadi.” Proses editing atau penyuntingan adalah elemen mutlak, sebuah keniscayaan.

Jadi masih mencari ide dengan gaya konvensional melamun seharian atau jalan-jalan?

Kenapa tidak mencoba gaya menjemput ide-nya Oom Hemingway ini?

Lebih produktif dan tentu saja irit ongkos.

Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) (17 Februari 1908-24 Juli 1981)

Jika tulisan sudah sukses dimulai dan tuntas ditulis namun kita masih merasa tulisan itu kering atau kaku, barangkali kita dapat berkaca pada pengalaman seorang murid Buya Hamka yang beberapa puluh tahun lalu juga mengalami problem yang sama.

Ketika sang murid mengkonsultasikan masalah tersebut kepada sang sastrawan kelahiran Maninjau yang juga ulama besar Indonesia ini, Hamka—akronim dari nama lengkapnya yakni Haji Abdul Malik Karim Amrullah—menanyakan bagaimana proses kreatif sang murid dalam menyelesaikan tulisannya.

“Tentu saja saya memulai dengan menuliskan berdasarkan data yang sudah terkumpul terlebih dulu, Buya,” jawab sang murid dengan tersenyum karena merasa itu pertanyaan yang terlalu sepele.

“Engkau salah,” kata Hamka tersenyum bijak. “Cobalah tulis dari hatimu dahulu. Tangkap ide yang berkelebat agar tak segera lenyap. Alirkan apa saja emosi dan pikiran yang ada di benak dan hatimu. Biarkan ia mengalir sebebas-bebasnya hingga mencapai keutuhan dan garis besar tulisan. Setelah itu barulah kumpulkan serta sisipkan data-data pendukung dalam tulisanmu agar ia lebih berbobot dan argumentatif.”

Ya, itu dia. Selama ini kita mungkin terlalu terfokus untuk menulis melulu berdasarkan data yang terkumpul sehingga lalai menangkap ide-ide yang berkelebat cepat. Sehingga ketika data terkumpul, ide itu sudah menguap, kehilangan kesegarannya. Hingga yang berbicara adalah tumpukan data yang kering dan kaku. Yang sama sekali tidak menyentuh apalagi mencerahkan.

"Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck" (1939)

Hamka sendiri sudah membuktikan keampuhan kiatnya tersebut dengan karya-karyanya mulai dari buku Tasawuf Modern, Tafsir Al-Azhar hingga roman Di Bawah Lindungan Kabah atau Tenggelamnya Kapal Van der Wijck yang tak kehilangan daya argumentasi namun juga menghanyutkan perasaan serta mencerahkan.

"Di Bawah Lindungan Ka'bah" (1936)

Yuk Nulis Cerpen Yuk! (1985) - memuat wajah penulisnya sendiri di cover buku

Nah, setelah tulisan sudah tuntas ditulis dengan mengindahkan kiat-kiat di atas, “tinggalkan saja barang dua minggu, bersantailah dengan bermain voli dengan tetangga”, pesan guru kita yang ketiga, Mohammad Diponegoro dalam bukunya Yuk Nulis Cerpen Yuk!

Almarhum penulis novel Siklus (pemenang hadiah sastra pada 1970-an) ini —yang ber-setting di Taiwan meski ia sama sekali tak pernah pergi ke Taiwan—menekankan pentingnya mengendapkan segala emosi dan perasaan setelah merampungkan sebuah karya.

Caranya dengan melakukan aktivitas lain yang mengalihkan pikiran kita dari tulisan yang baru kita tulis.

Terkadang kita masih sering terkagum-kagum sendiri dengan tulisan yang baru kita tulis lantas terbirit-birit mengirimkannya ke media baik diposting di internet atau dikirim via pos.

Andai kita endapkan semuanya barang beberapa waktu kemudian kembali menghadapinya dengan suatu sudut pandang lain barangkali kita akan mendapati banyak “lubang” atau kesalahan dalam tulisan itu.

Seperti buah, tulisan juga perlu diperam. Mungkin tidak mesti selama dua minggu seperti nasihat Mohammad Diponegoro dari Semarang itu. Beberapa penulis seperti Pipiet Senja atau Helvy Tiana Rosa kabarnya memeram tulisan mereka selama sekitar sepekan.
Yang lain bisa jadi hanya tiga hari atau bahkan satu jam saja. Sangat relatif memang.

Yang penting ketika kita mulai duduk kembali di depan komputer atau di depan tumpukan draft naskah dengan pena di tangan, pikiran kita sudah terbebas dari narsisme akan karya sendiri dan sudah objektif untuk mulai mengedit.

Percayalah, tak ada tulisan manusia yang langsung sempurna hanya dalam sekali tulis! Hanya kitab suci buatan Tuhan yang sedigjaya itu.

Lantas jika semua kiat ketiga guru tadi sudah diterapkan namun masih saja tulisan kita ditolak redaksi atau gagal menang lomba? Alam terkembang nan jadi guru, demikian pepatah bijak orang Minang. Semua hal dapat dijadikan tempat belajar. Belajarlah dari para guru kehidupan yang tak kunjung menyerah walau berkali-kali tulisan mereka ditolak bahkan dihina redaktur media.

Toh, semua penulis besar seperti Goenawan Mohammad, Rendra, Pipiet Senja, Andrea Hirata, Labibah Zain, Helvy Tiana Rosa, Nova Riyanti Yusuf, Fira Basuki, Ayu Utami dll awalnya adalah pemula juga. Lakukan korespondensi lewat surel (surat elektronik atau e-mail) atau milis, blogwalking, dan selami perjuangan jatuh-bangun mereka dalam dunia kepenulisan. Baca dan bedah karya-karya mereka.Copy the master adalah keharusan tanpa harus menjadi plagiat. Cukup tiga kata saja: baca, bedah dan tulis!

Jika anak-anak muda pencari cinta dalam reality show Katakan Cinta yang dulu pernah berjaya di salah satu stasiun TV swasta bisa berkata dengan lantang,”Love will find you if you try!“, kita—para calon penulis atau penulis pemula–tentu dapat bertekad untuk tetap gigih menulis dengan slogan,”LUCK will find you if you TRY!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: