Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Kenapa Cina Tangerang Disebut Cina Benteng?

Pakaian adat Cina Benteng

Pertanyaan itu muncul di benak saya berawal dari pertanyaan seorang penumpang KRL (Kereta Rel Listrik) jalur Serpong yang bertanya,”Kenapa ya di tiket kereta Serpong Ekspress tertulis Benteng Ekspress?”

Selidik punya selidik, ‘Benteng‘ tak lain adalah nama lain yang sangat historis bagi kota Tangerang. Dan kawasan Serpong adalah bagian dari wilayah Tangerang.

Lantas muncul pertanyaan berikutnya, kenapa orang Cina yang berdomisili di Tangerang disebut Cina Benteng?

Cina Benteng adalah sebuah komunitas Cina tersendiri yang berbeda dengan Cina Glodok yang kulitnya lebih putih dan lebih makmur secara ekonomi.

Cina Benteng cenderung dikenal sebagai komunitas Cina berkulit gelap atau hitam yang tingkat ekonominya lebih rendah dan posisi kekuatan sosial ekonomi dan politik lebih marjinal. Tercermin dari kasus penggusuran yang dilakukan pemerintah kota Tangerang terhadap pemukiman tradisional mereka yang bernilai historis dan telah didiami sejak ratusan tahun lalu.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, mari kita kembali kepada azimat Bung Karno yakni JAS MERAH – Jangan Sekali-Kali Melupakan Sejarah.

Menurut sejarahnya, orang Cina atau Tionghoa – sebutan resmi sejak jaman Soekarno – yang pertamakali membuka hutan di kawasan Tangerang yang sekarang menjadi kota Tangerang.

Istilah Benteng sebagai padanan kota Tangerang berawal dari didirikannya sebuah benteng (fort) oleh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) — sebuah perusahaan dagang asal Belanda yang lebih dikenal sebagai Kompeni — pada 1685 setelah terjadi perjanjian damai antara Banten-VOC pada 1682. Letaknya di sebelah timur Sungai Cisadane.

Tujuan didirikannya benteng yang kemudian oleh penduduk setempat lebih dikenal sebagai Benteng Makassar, sebab para serdadu penjaganya kebanyakan orang Bone (yang dianggap sama dengan Makassar oleh penduduk setempat), anak buah Aru Palakka, untuk mencegah direbutnya kembali Tangerang dari tangan VOC. Benteng Makassar sendiri sekarang sudah tidak ada, digusur oleh Plaza Tangerang.

Nama Tangerang sendiri berasal dari kata Sunda, Tanggeran, artinya `segala sesuatu yang didirikan dengan kokoh’ (naon-naon anu ditangtungkeun kalawan ajeg).

Dalam perjanjian damai 1682 itu ditetapkan wilayah yang terletak di antara kota Batavia hingga sebelah timur Cisadane merupakan milik VOC. Untuk mengolah kawasan yang masih berupa hutan belukar itu, VOC memberikan hak milik kepada orang-orang yang pertama-tama membuka lahan. Yang datang membuka lahan kebanyakan orang Tionghoa yang mempunyai keterampilan bertani dan mengolah tanah. Sebagian lahan dijadikan kebun sayur-mayur, namun sebagian besar dijadikan perkebunan tebu yang hasilnya untuk memasok kebutuhan gula di pasaran Eropa.

Orang Tionghoa inilah yang merupakan penduduk pertama lahan yang masih kosong tersebut. Setelah orang Tionghoa, orang orang yang berasal daerah lain di Nusantara turut meramaikan daerah ini dengan kehadirannya. Laki-laki Tionghoa totok yang datang ke Nusantara kemudian menikah dengan orang-orang dari berbagai daerah itu, sehingga lahirlah Tionghoa Peranakan.

Orang Tionghoa dari kawasan Ommelanden (luar tembok Batavia) ini sebenarnya tidak disebut Cina Benteng, namun Cina Ilir (Utara) bagi penduduk di utara Tangerang (termasuk Kampung Melayu, Tanjung Burung, Mauk dll) dan Cina Udik (Selatan) bagi penduduk Tionghoa di selatan Tangerang (termasuk Curug, Legok, Panongan dll).

Dalam bahasa Melayu, bahasa yang berlaku di kawasan ini, Ilir artinya Utara, Udik artinya Selatan, Kulon adalah Barat, dan Wetan itu Timur. Mereka yang tinggal dari Ilir atau Udik mengatakan “hendak ke Benteng” bila ingin ke Tangerang.

Versi lain dapat dilihat di Wikipedia di tautan berikut: http://id.wikipedia.org/wiki/Tangerang#Asal-usul_Tangerang_disebut_juga_sebagai_Kota_.22Benteng.22

Negeri ini memang melting pot, yang melahirkan paduan yang indah dari komposisi etnis dan komunitas yang beragam.

Jakarta, 15 Juni 2011

Sumber foto: http://www.duniachiben.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s