Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Jangan Takut Menjadi Penerjemah!

Cover buku “The Translator” oleh Daoud Hari – kisah pengalaman seorang penerjemah di medan perang Darfur, Sudan

Profesi penerjemah konon identik dengan profesi intelek yang kadung diasosiasikan dengan tingkat pendidikan tinggi. Benarkah seperti itu? Sayang sekali jika pemeo lama tersebut masih dipegang. Padahal profesi ini sangat menjanjikan sebagai suatu karir atau bisnis.

Menurut Femmy Syahrani Ardiyanto, salah seorang penerjemah lepas asal Bandung (lulusan ITB Bandung) dalam jurnal blognya di http://femmy.multiply.com/journal/item/24, untuk berkarier sebagai penerjemah kita tidak memerlukan lisensi atau sertifikasi tertentu. Sebagai penerjemah, keterampilan adalah yang dibutuhkan. Bukan gelar pendidikan atau nilai TOEFL (Test of English as Foreign Language) atau apakah sudah pernah tinggal di luar negeri untuk beberapa lama. Bukti keterampilan itu terletak pada hasil terjemahan. Jika sudah pernah bermukim di luar negeri tetapi hasil terjemahannya belepotan ya tetap saja kita tidak dapat menjadi penerjemah. Sebaliknya, meskipun kita belajar bahasa secara otodidak, misalnya, asalkan hasil terjemahannya bagus tentu klien atau penerbit akan dengan senang hati memberikan order kepada kita.

Anton Kurnia (36), seorang penerjemah buku-buku sastra yang sudah menerjemahkan lebih dari 50 buku dalam wawancaranya dengan harian Pikiran Rakyat, Bandung, mengaku belajar menerjemahkan secara otodidak. Lulusan Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB) ini tertarik menerjemahkan karena awalnya suka membaca buku-buku sastra berbahasa Inggris. “Saya meningkatkan kemampuan diri dengan banyak membaca, belajar dari kamus dan referensi lainnya,” ujar penerjemah yang salah satu karya terjemahannya adalah novel Les Miserables edisi bahasa Inggris karya Victor Hugo.

Karena menurut Anton, terlepas dari apakah penerjemah itu berpendidikan formal atau belajar otodidak, yang penting adalah apakah sang penerjemah mau belajar lagi atau tidak. Seorang penerjemah sekalipun lulusan Sastra Inggris jika tidak mau belajar akan ketinggalan dibandingkan penerjemah yang belajar otodidak tetapi mau terus belajar.

Nah, ada dua jenis ‘makhluk’ penerjemah di dunia ini. Pertama, translator (penerjemah tulisan), yakni penerjemah yang menerjemahkan dokumen tertulis seperti script, dokumen kontrak, naskah buku dll, dan yang kedua, interpreter (penerjemah lisan) yang dalam istilah resmi Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) disebut sebagai ‘jurubahasa’. Makhluk yang kedua ini bertugas menerjemahkan komunikasi verbal atau lisan baik antara dua orang atau banyak orang, misalnya, dalam seminar atau konferensi.

Film “The Interpreter” yang dibintangi oleh Nicole Kidman – kisah jurubahasa PBB

Pernah nonton The Interpreter? Nah, film ciamik (2006) yang dibintangi aktris cantik Nicole Kidman ini mengisahkan seorang penerjemah lisan yang kedapatan menyimpan rahasia konspirasi besar di tempat kerjanya di gedung PBB. Keren kan? Yup, seperti itulah kerennya gawean penerjemah lisan atau jurubahasa.

Lebih jauh, translator atau penerjemah tulisan juga masih ada penggolongannya. Kompleks ya? Tidak. Secara umum, pembagiannya cuma dua: penerjemah buku dan penerjemah dokumen hukum. Penerjemah buku ya menerjemahkan buku yang untuk diterbitkan penerbit. Untuk yang satu ini memang tidak perlu lisensi atau sertifikasi khusus. Asal dapat menerjemahkan dengan mahir, Anda sudah masuk kualifikasi. Tapi untuk menjadi penerjemah dokumen hukum yang mumpuni, kita harus ikut ujian sertifikasi penerjemah tersumpah atau bersumpah (sworn translator) yang disebut Ujian Kualifikasi Penerjemah (UKP).

UKP diadakan setiap tahun biasanya di bulan November atau Desember di Pusat Penerjemahan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (PPFIB-UI), Jakarta. Dan yang berhak menyandang predikat sworn translator hanya yang lulus ujian Bahasa Inggris Hukum.

Mengenai info pendaftaran ujian dan lain-lain? Silahkan kontak Pusat PPFIB-UI di no.telp. (021) 31902112 atau datang langsung ke Sekretariat PPIB-UI di Gedung Rektorat UI di Jl. Salemba Raya atau satu kompleks dengan Fakultas Kedokteran UI di Jakarta.

[Catatan: UKP terakhir diselenggarakan pada 2010 dengan format dan sistem baru. Namun setelah 2010 UKP belum diadakan lagi. Konon karena terhentinya kerja sama antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan PPFIB-UI sebagai penyelenggara UKP. Namun, sebagai alternatif ujian penerjemah bersertifikat, Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) telah menyelenggarakan Tes Sertifikasi Nasional (TSN) untuk para penerjemah sejak 2010. Detil tentang UKP dapat dilihat di http://www.hpi.or.id dan termasuk daftar para lulusannya yang bergelar HPI Certified Translator.]

Kenapa sih penerjemah harus ikut ujian segala?

Karena bidang pekerjaan penerjemah terutama dokumen hukum terkait dengan dokumen hukum yang perlu keakuratan data. Nah, stempel seorang sworn translator salah satunya diperlukan untuk menjamin bahwa terjemahan sebuah dokumen hukum semisal kontrak bisnis, akte notaris, akte kelahiran atau surat nikah memang benar dan akurat. Juga sesuai dengan isi bahasa aslinya sehingga berkekuatan hukum yang sama seperti aslinya dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum jika sewaktu-waktu diperlukan kesaksiannya di muka pengadilan.

Haruskah kita berijazah Sarjana Hukum atau SH? Tidak. Salah satu syarat menjadi peserta ujian penerjemah tersumpah hanya fotokopi ijazah terakhir (minimal SMA/sederajat). Titel SH juga tidak menjamin kualitas terjemahan hukum seseorang lebih baik. Karena banyak dari para peserta yang lulus dalam ujian ini yang bertitel non-SH atau bahkan hanya pernah kuliah atau lulusan SMA. Saya secara pribadi kenal betul beberapa kawan penerjemah tersumpah yang dropped-out dari kuliah S-1 dan berhasil lolos sebagai sworn translator (penerjemah tersumpah atau bersumpah) serta kemudian sukses membangun biro penerjemahan atau bekerja di perusahaan asing atau konsultan hukum.

Jika pun kita gagal atau belum berani ikut ujian penerjemah tersumpah, tidak lantas pintu rejeki tertutup. Rata-rata biro penerjemahan di Jakarta, contohnya, untuk menghemat biaya mensubkontrakkan terjemahan hukum kepada para penerjemah lepas atau freelance translator yang belum berpredikat sworn translator. Namun ada beberapa jenis terjemahan yang hanya boleh ditangani oleh penerjemah tersumpah. Tentunya tarif penerjemah non-tersumpah dan penerjemah tersumpah berbeda.

Sekedar buka rahasia dapur, pada tahun 2004, bila untuk subkontrak terjemahan, penerjemah tersumpah bisa mengantungi minimal Rp. 20 ribu sampai Rp 50 ribu per lembar hasil maka penerjemah non-tersumpah hanya pada kisaran Rp 6 ribu sampai 10 ribu per lembar hasil. Ini untuk bidang bahasa Inggris. Perlu diingat ini harga rata-rata di pasar karena sebetulnya standar HPI sebagai organisasi resmi penerjemah cukup tinggi. Yakni 50 ribu rupiah per halaman hasil (tahun 2006). Namun sering atas nama kompetisi pasar para penerjemah dan biro penerjemahan melakukan strategi banting harga. Nah, untuk bahasa lain seperti Mandarin, Perancis, Arab atau Jerman biasanya lebih tinggi. Bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Terlebih penerjemah tersumpah untuk bidang bahasa selain bahasa Inggris sangat sedikit.

Setiap tahun untuk bidang bahasa Inggris saja ujian penerjemah tersumpah yang diselenggarakan PPFIB UI hanya meluluskan maksimal sekitar 5% peserta saja.Untuk bidang bahasa lain, bukan hal aneh jika dalam beberapa tahun tidak ada peserta yang berhasil lolos dan berhak diwisuda oleh Gubernur DKI Jakarta dan menggondol sertifikat yang resmi ditandatangani gubernur DKI.

Lantas bagaimana dengan penerjemah buku yang konsumennya adalah para penerbit? Kendati tidak mengenal sertifikasi khusus seperti bidang penerjemahan dokumen hukum, para penerjemah buku memiliki keuntungan yakni lebih dikenal masyarakat karena nama mereka tercantum dalam buku yang diterjemahkan. Contohnya, seperti Femmy Syahrani Ardiyanto yang telah banyak menerjemahkan buku nonfiksi atau novel dan menjadi langganan penerbit-penerbit besar seperti Gramedia dan Mizan. Beberapa nama lain seperti Sofia Mansyur atau Ari Wulandari—yang kini lebih sering menulis buku—dapat disebut sebagai para penerjemah buku.

Lantas, apakah semudah itu jadi penerjemah?

Of course not, tentu tidak. No pain no gain, kata orang bule. Tetap saja harus ada ikhtiar atau pengorbanan yang kita lakukan untuk mendapatkan segala sesuatu.

Ada sejumlah investasi yang harus kita lakukan yakni investasi waktu, uang, tenaga dan membangun jejaring (network). Kenapa harus demikian? Konon orang bijak bilang keberuntungan itu adalah hasil pertemuan antara kesempatan dan persiapan. Jadi jika mau sukses ya jalan kesuksesan harus ditempuh dulu. Jangan berharap duduk melamun lantas dapat keberuntungan gratis begitu saja. No way, man!

Investasi waktu untuk menjadi seorang penerjemah adalah menjatahkan waktu untuk belajar suatu bahasa yang kita minati dengan sepenuh hati. Intinya kita harus punya minat dalam bahasa. Apakah itu bahasa Inggris, Perancis, Arab, Mandarin atau Jepang dan bahasa lain. Whatever languages you are interested of. Geluti dan pahami sedalam-dalamnya. Jika masih blank atau nol sama sekali, kita bisa menetapkan prioritas untuk terlebih dahulu menguasai bahasa lisan atau percakapan bahasa tersebut. Karena hal ini relatif lebih mudah ketimbang menguasai grammar atau tatabahasa atau bahasa tertulis. Minimal, ketika sudah lancar cas-cis-cus ngomong bahasa asing paling mentok bisa jadi pemandu wisata (tourist guide) atau jurubahasa (interpreter).

Tahapan selanjutnya, kuasailah tatabahasa tertulis. Konon gramatika adalah faktor paling rumit dalam penguasaan suatu bahasa karena memerlukan kerja kompleks dalam otak. Tapi jika yang satu ini sudah terlewati alamat pintu jadi translator atau penerjemah (tertulis) bisa mulai terbuka. Tentu ditambah banyak membaca berbagai macam bacaan dan berdiskusi tentang bahasa.

Investasi tenaga? Ya, butuh energi lebih untuk jadi penerjemah. Waktu istirahat atau bersantai harus lebih sedikit. Karena kita harus alokasikan waktu untuk kursus bahasa asing, ulang pelajarannya atau pergi ke tempat-tempat yang dapat menambah wawasan bahasa kita seperti pusat kebudayaan negara yang bahasanya tengah kita pelajari atau acara-acara dan seminar tentang bahasa tersebut.

Investasi uang?

Ya, ini faktor penting juga. Secara berseloroh, money is not everything but without money everything is nothing. Untuk kursus bahasa tentu saja perlu uang. Kendati di Jakarta atau beberapa tempat di kota lain ada beberapa tempat yang memberikan kursus gratis. Umumnya untuk kalangan tidak mampu. Atau coba berkunjung ke pusat-pusat pembinaan remaja dan pemuda punya pemerintah. Di Jakarta, seperti Gelanggang Olahraga Bulungan (Jaksel) atau Gelanggang Olahraga Jakarta Timur. Di tempat-tempat seperti ini umumnya ada program pendidikan dan keterampilan gratis seperti komputer dan bahasa asing.

Salah satu buku karya komunitas Bahtera yang memuat aneka pengalaman penerjemah dan jurubahasa

Investasi membangun jejaring?

Yup, rasanya ini faktor terpenting. Terlebih jika kita setelah lulus SMA mau menjadi penerjemah. Dari banyak penerjemah yang saya temui dan termasuk pengalaman saya sendiri, jejaring justru lebih berperan penting ketimbang latarbelakang pendidikan. Di kalangan penerjemah dokumen hukum di Jakarta sudah merupakan rahasia umum adanya IKIP Jakarta connection. Jaringan alumni atau yang pernah kuliah di IKIP Jakarta khususnya jurusan Bahasa Inggris umumnya banyak jadi penerjemah karena jasa teman-teman satu almamater. Dalam pengalaman saya, banyak order atau klien datang karena jejaring yang saya bangun semasa masih menjadi staf penerjemah di sebuah biro penerjemahan tersumpah. Termasuk jejaring semasa menjadi pengajar bahasa Inggris di berbagai kursus.

Jika Anda ingin mengawali karir sebagai penerjemah, cobalah magang pada seorang penerjemah tersumpah atau bekerja di sebuah biro penerjemahan tersumpah. Jangan terlalu berharap mendapatkan lowongan penerjemah di koran. Karena umumnya lowongan penerjemah bisa dihitung dengan jari dan hanya beredar di kalangan internal sesama penerjemah. Cari dan temui para penerjemah itu di komunitasnya semisal di acara-acara yang diadakan HPI yang terbuka untuk umum.

Dan yang namanya membangun jejaring juga bisa lewat internet atau melalui milis. Misalnya, bergabung dengan milis bahtera di bahtera@yahoogroups.com. Ini milis komunitas penerjemah dan peminat bahasa Indonesia. Insya Allah dijamin wawasan dan jejaring kita tambah oke! Banyak tulisan menarik di blog Bahtera (www.bahtera.org) yang dapat memandu Anda meniti karir di dunia penerjemahan.

Sebagai catatan, memang peluang jadi translator atau interpreter bagi para lulusan (atau pemegang ijazah) SMA dimungkinkan bahkan terbuka lebar. Tapi kadang beberapa biro atau sejumlah penerbit mensyaratkan penerjemah pernah mengecap jenjang pendidikan tertentu seperti D3 atau lulus S-2. Jangan berkecil hati. It’s life. Hadapi saja dengan bijak. Sekaligus membuat kita termotivasi. Jika sudah sukses jadi penerjemah dengan “hanya” bermodal ijazah SMA kenapa tidak melanjutkan pendidikan lagi?

Saat ini sudah banyak perguruan tinggi yang membuka program pendidikan penerjemah seperti di Universitas Atmadjaya, STBA LIA. Mau yang fleksibel dan terjangkau? Universitas Terbuka (UT) yang jangkauannya tersebar luas di Indonesia juga punya program D-3 Penerjemahan yang sekarang naik status menjadi S-1 Bahasa Inggris.

Alhasil, banyak jalan menuju Roma. Dan jangan takut menjadi penerjemah, sekalipun Anda baru lulus SMA!

Jakarta, 23 Juni 2011

Sumber foto: Google

93 Komentar

  1. April

    saya suka dgn artikel ini,,, sangat menginspirasi saya sebagai seorang mahasiswi yg punya mimpi ingin menjadi seorang interpreter bahasa korea,,,,,, ^_^ Thank you,,

    • Terima kasih, Mbak April. Semoga keinginannya tercapai ya. Oh ya, silakan bergabung dengan milis Bahtera (Bahasa dan Terjemahan Indonesia) di bahtera@yahoogroups.com. Ini milis penerjemah dan juru bahasa. Bisa lihat-lihat dulu di blognya di http://www.bahtera.org. Saya sendiri banyak terbantu secara profesi dan perkawanan di milis ini. Tidak menyesal lho untuk dicoba:).

      • Artikelnya bagus, memotivasi.
        saya berminat bergabung di milis dan blognya, namun tidak bisa dibuka ya?
        mohon bantuannya,, terima kasih.

      • Terima kasih untuk apresiasinya.

        Silakan buka situs Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) di http://www.hpi.or.id. Untuk gabung di milis Bahtera (Bahasa dan Terjemahan Indonesia) di bahtera@yahoogroups.com, kirim surel atau email kosong dengan subyek “SUBSCRIBE” ke bahtera-subscribe@yahoogroups.com. Kemudian tunggu konfirmasi dari moderator. Di FB, juga bisa gabung di grup FB HPI – Himpunan Penerjemah Indonesia.

        Banyak jalan menuju Roma, banyak jalan menjadi penerjemah!🙂

        Happy browsing!

  2. Endang Marina

    Artikelnya bagus sekali. Saya berprofesi sbg penerjemah Jepang dan Inggris selama 12 thn. Ada sekitar 80 buku (novel, komik dll) yg sudah saya terjemahkan. Delapan tahun terakhir ini tinggal di Jepang. Di sini saya berprofesi sbg translator dan intepreter (Jepang-Indonesia). Kebetulan niat mau ikutan ujian Sworn Translator (Jepang-Indonesia, Indonesia-Jepang) thn depan. Mohon kiat-kiatnya Mas.
    Terimakasih

    • Terima kasih atas komentarnya, Mbak Endang Marina. Wah, pengalaman yang berlimpah sekali:). Oh ya, sayangnya, sejak 2010, Ujian Kualifikasi Penerjemah (UKP) yang diadakan UI (untuk syarat mendapatkan gelar sworn translator) sudah dihentikan, dan ditangguhkan untuk waktu yang tidak ditentukan. Konon banyak masalah yang harus dikaji dan kabarnya pemerintah provinsi DKI Jakarta tengah mencari mitra baru untuk mencari penyelenggara UKP tersebut. Jadi, kemungkinan besar UKP 2013 tidak akan ada.

      Nah, alternatifnya, Mbak Endang, jika sudah tercatat sebagai anggota Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI), dapat mengikuti Tes Sertifikasi Nasional (TSN) sejenis UKP namun tidak memberikan gelar sworn translator. Untuk detilnya dapat dilihat di situs HPI di http://www.hpi.co.id. Jika aktif di FB, bisa gabung di group GB HPI di Facebook.

  3. Endang Marina

    Terimakasih banyak Mas Nursalam.
    Saya sudah cek homepage HPI. Akan saya coba hubungi mereka. Semoga ada kesempatan pulang ke Indonesia dan ikut Tes Sertifikasi Nasional (TSN)

  4. Mantap …. ulasannya lugas dan luas. Lama vakum di dunia penerbitan buku terutama penerjemahan, harus mengawalinya lagi dengan penuh kerja keras. Apakah karena lama (4 tahun) tidak pernah bersentuhan dengan urusan terjemah ataukah faktor umur yang menjadi penyebabnya? Mohon pencerahannya…

    • Terima kasih sudah berkenan membaca tulisan saya:). Insya Allah, menurut pendapat saya, usia bukan masalah. ‘Kekakuan’ itu lebih dikarenakan jarang berinteraksi atau lama vakumnya bersentuhan dengan dunia penerjemahan. Untuk itu, yuk mari bergabung dengan komunitas penerjemahan, untuk lebih memompa semangat. Dengan bersama-sama kita, Insya Allah, akan menjadi kuat. Nah, komunitas-komunitas penguat itu antara lain adalah Bahtera dan HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia).

      Mas Yasir bisa bergabung di milis Bahtera di bahtera@yahoogroups.com dan dengan HPI di grup FB HPI.

      Tetap semangat!

  5. Rifqoh

    benar-benar artikel yang kreen yg pnah ku bca, sgt memotivasi:-)
    kak, ada tips tak?
    sy pngeen bgt jd penerjemah kitab b’bhs arab.. tp pndidikan ana msih pemula di STIBA Makassar.

    • Terima kasih, Dik:).

      Justru karena pemula, dengan banyak bergaul, langkah ke depan masih sangat cerah terbentang. Dik Rifqoh beruntung saat kuliah sudah menemukan passion (kesukaan yang menggebu) untuk menjadi penerjemah. Sebagian orang malah baru di usia 40 atau lebih baru menemukan bahwa lentera jiwa mereka ada di penerjemahan. Untuk itu, sama seperti saran saya kepada Mas Yasir, mari kita bergabung dengan komunitas penerjemahan. Silakan ikuti milis Bahtera di bahtera@yahoogroups.com dan dengan HPI di grup FB HPI.

      Tetap semangat!

  6. Wah.. Tulisan nya bagus sekali =)
    sangat memotivasi..
    Saya bercita-cita menjadi penerjemah bahasa jepang, pengen banget kalo kuliah nanti bisa masuk sastra jepang. Tapi orang2 bilang kalo jurusan sastra itu susah dapetin kerjaan =(
    kalo boleh tanya, kalo pengen jadi penerjemah emang harus ngelamar kemana gitu?

  7. awaludin

    tulisan yang luar biasa ,,,
    Mr. nur, saya mau cerita, saya belum pernah berpengalaman menjadi seorang penerjemah, sampai saya lulus s1 pendidikan bahasa inggris, bukan karena saya gk mau tp daerah atw tempat saya memang belum terlalu membutuhkan seorang penerjemah ditambah lagi fasilitas sarana dn prasaran pendidikan masih minim ,,sekarang saya lanjut S2 magister pendidikan bhs inggris UAD yogyakarta smester 1, saya nantinya pengen jadi seorang penerjemaah Bhs Inggris, walaupun bidang sy bhs Inggris tp saya masih kaku untuk mengkreasikan kalimat kedlam bhs target atw menerjemahkan yg bisa dinikmati pembaca, atw mungkin saya terlalu mengartikan kata berdasarkan kamus kurang mengindaahkan konteks ataw gimana???? oh iya gimaanaa kita bisa bergaabung di grup bahtera@yahoogroups.com ,, thanks,,,

    • Mas Awaludin, terima kasih untuk apresiasinya. FYI, untuk pertanyaannya, menurut saya, penerjemahan adalah ilmu dan seni, sehingga harus ada keseimbangan antara makna kata dan konteks. Seiring waktu dan banyak latihan tentu Mas Awaludin akan sangat paham tentang hal ini:).

      Oh ya, untuk belajar menjadi penerjemah, silakan kunjungi http://www.bahtera.org dan http://www.hpi.or.id. Juga bergabung dengan grup Facebook HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia). Dan untuk bergabung dengan milis Bahtera, cukup kirim email kosong dengan subyek “subscribe” ke bahtera-subscribe@yahoogroups.com. Nanti akan ada email konfirmasi dari Yahoo Groups, dan tinggal balas saja.

      Selamat mencoba!

  8. Ferris

    Mas Nur, salam kenal ya! Saya ingin banget terjun ke dunia penerjemah, khususnya bahasa Mandarin, kebetulan lulusan saya bukan dari bidang bahasa(IT), namun saya sangat tertarik untuk bisa masuk ke dalam dunia penerjemahan..Saya belum ada pengalaman dalam menerjemahkan bahasa..Bagusnya startnya bagaimana ya Mas ?
    Thanks!

    • Salam kenal, Mas Ferris.

      Latar belakang pendidikan tidak menjadi masalah berat untuk terjun sebagai penerjemah. Justru sebagian besar penerjemah profesional yang saya kenal bukan berlatarbelakang bahasa.

      Juga soal pengalaman bukanlah penghalang utama sepanjang kita punya semangat belajar dan siap beradaptasi.

      Langkah pertama? Cobalah baca tautan berikut dari blog Femmy Syahrani, salah satu penerjemah andal di Indonesia: http://femmys.wordpress.com/my-translations/cara-menjadi-penerjemah/

      Kemudian bergabung dengan grup Facebook HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia) dan milis Bahtera (Bahasa dan Terjemahan Indonesia) di bahtera@yahoogroups.com.

      Jika belum cukup, ikut kursus penerjemahan online yang saya adakan. Silakan klik bagian “JASA PENERJEMAHAN” di blog ini.

      Happy translating!

      • Everly Jinnie

        Salam kenal Mas Nur, saya tertarik dengan kursus penerjemahan online yang disebut di atas. Tapi bagian yang musti diklik yang mana ya, kok saya belum ketemu. Maaf kalo agak gaptek hehe..

      • Klik ini aja, Mbak: https://nursalam.wordpress.com/jasaterjemahan/ . Cukup lengkap di situ🙂.

      • vino

        Assalamu’alaikum mas, mohon info saya sudah tel fakultas ilmu budaya ui utk mempelajari syarat menjadi penerjemah tersumpah, katanya mereka belum ada informasi. Mas mohon info perkembangannya bagaimana ? terima kasih.

      • Wa’alaikum salam wr.wb.

        Betul, Mas Vino. Memang sejak 2010, sudah tidak diselenggarakan lagi Ujian Kualifikasi Penerjemah (UKP) atau ujian penerjemah tersumpah (bidang Hukum). Konon karena sudah berakhirnya kerja sama antara Pemda DKI Jakarta sebagai pihak pemberi amanat sekaligus pelantik para penerjemah tersumpah dan pihak PP-FIB UI sebagai operator pelaksana UKP. Dan sampai sekarang belum ada kabar kelanjutan nasib UKP ke depan. Untuk alternatif, bahkan digagas sebagai ujian sertifikasi penerjemah berskala nasional, ada TSN (Tes Sertifikasi Nasional) yang diselenggarakan HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia). Silakan kunjungi dan pelajari persyaratannya di tautan berikut: http://www.hpi.or.id/lang/id/sertifikasi .

        Happy translating!

  9. Ni Komang Ariani

    saya juga mau menjadi penerjemah novel, sekaligus untuk media belajar dan meningkatkan kualitas tulisan

    • Mantabb!

      Saya dukung niatnya, Mbak. Banyak kok grup di media sosial yang dapat membantu memfasilitasi niat tersebut. Salah satunya grup Facebook Penerjemah dan Editor Buku, yang banyak para penerjemah buku dan novel saling berbagi informasi di grup tersebut. Tentunya selain tautan-tautan yang ada di komentar saya sebelumnya.

      Happy translating!

  10. Salam kenal mas,,
    jazaakallah khairan tulisannya bermanfaat sekali, memompa semangat saya yang sama sekali tidak punya background kebahasaan ini untuk membulatkan niat terjun ke dunia penerjemahan. Sebetulnya saya sudah tidak asing lagi dengan nama Mas Nur sejak gabung di milis Bahtera beberapa bulan belakangan ini..hehe maklum namanya sering banget malang melintang. Saya masih belajar dan belum punya pengalaman di bidang penerjemahan, dengan gabung di milis bahtera banyak ilmu yang saya dapatkan disana. Mantap pokoknya!🙂

    • Salam kenal, Mbak.

      Alhamdulillah jika tulisan ini bermanfaat.

      Wah, sudah gabung di milis Bahtera ya? Ayo, aktif berkontribusi biar namanya malang-melintang juga,hehe…

  11. hehe…. masih silent reader mas, malu-malu gitu ceritanya🙂

    • Tak apa. Dari silent reader kan lama-lama jadi commentator🙂.

  12. Vino

    Terima kasih mas Nursalam, artikelnya sangat membantu!🙂

  13. Vino

    mohon info websitenya kenapa tidak bisa diakses?

    • Oh ya? Kapan tuh? Maaf, tidak rutin pantau blog ini soalnya.

  14. agnes

    Artikel nya sangat bermanfaat!
    Saya ingin bertanya, kalau ingin menjadi penerjemah lisan maupun tulisan bhs jepang maupun bhs inggris, apakah memerlukan sertifikat Noken atau TOEFL?
    Terima kasih

    • Salam kenal, Mbak Lusi. Sebetulnya tidak. Tapi, namanya klien, ada beberapa kadang yang meminta bukti pengesahan atau bukti kompetensi kita. Nah, dalam konteks itu sertifikat NOKEN mungkin diperlukan. Untuk sertifikasi penerjemahan lainnya, Mbak Lusi bisa bergabung dengan HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia) di http://www.hpi.or.id untuk lebih banyak tahu tentang sertifikasi penerjemahan. Biasanya, sesuai pengalaman saya, penerjemah dokumen hukum yang lebih sering diminta bukti sertifikasi tersebut.

      • evin

        mas mohon info untuk menjadi penerjemah tersumpah bagaimana sebaiknya ? Saya baca threadnya katanya tes di fak. Kebudayaan UI sudah tidak diselenggarkan lagi ya?

      • Betul, Mas Evin. Tes UKP (Ujian Kualifikasi Penerjemah) yang diselenggarakan di UI terakhir kali tahun 2010. Sejak saat itu sampai sekarang belum diselenggarakan lagi. Konon karena pemerintah provinsi DKI (yang mengeluarkan SK gubernur sebagai dasar hukum UKP sekaligus yang melantik para penerjemah tersumpah) telah memutuskan kontrak kerja sama dengan pihak UI. Tapi sampai sekarang belum ditentukan lagi institusi mana yang menggantikan UI sebagai penyelenggara ujian tersumpah itu.

        Tapi, sebagai alternatif, Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) sejak 2011 telah menyelenggarakan TSN (Tes Sertifikasi Nasional) yang mengeluarkan sertifikat TSN HPI (bahkan berlaku nasional) bagi para anggota HPI yang lulus tes tersebut. Biaya ujiannya Rp 1 juta rupiah (sementara baru ada buat pasangan bahasa Indonesia-Inggris dan Inggris-Indonesia) dan dilaksanakan setahun sekali. Biasanya di bulan September atau Oktober. Perinciannya dapat dilihat di http://www.hpi.or.id/lang/en/sertifikasi dan http://dinabegum.wordpress.com/2012/10/21/tes-sertifikasi-nasional/.

  15. Artikelnya benar-benar bermanfaat. Jazakallah sekali Mas Nur.
    Saya mau bertanya, bisakah seorang interpreter menguasai lebih dari 1 bahasa? Misalnya dia ingin menguasai 5-7 bahasa. Sekian, terima kasih.🙂

    • Terima kasih untuk apresiasinya, Mbak Afifah. Insya Allah bisa. Kemampuan otak manusia sebenarnya tak terbatas. Dan kabarnya, berdasarkan hasil penelitian, otak jenius sekaliber Albert Einstein pun baru menggunakan sekitar 10 persen dari kemampuan maksimal otaknya🙂. FYI, untuk kalangan yang menguasai banyak bahasa (polyglot), bisa bergabung lho dengan komunitas Polyglot Indonesia. Ada FB-nya juga kok. Silakan di-search ya🙂.

  16. Reinhart

    Artikelnya bagus mas. Memang kalau nyari lowongan penerjemah di jobfair/ bursa kerja itu susah banget ya, itu pengalaman saya. Saya dulu kuliah D3 bahasa inggris. Setelah itu pernah jadi penerjemah freelance (menerjemahkan subtitle film dokumenter bhs inggris ke indo ) selama 3 tahun, dan sejak itu blm bekerja lagi. Mau pindah ke bidang lain, jujur aja saya kurang pede. Saya blm tau ke depannya apa ingin full jadi penerjemah atau coba yg lain, sebab kesulitan saya kalau jadi penerjemah karena sy pake kacamata sdh minus 4 dan kl jadi penerjemah seringkali harus bisa berlama2 di depan komputer, dan saya gak yakin apa bisa seperti itu lagi. Mohon sarannya ya mas. satu lagi, kondisi dunia penerjemahan bhs inggris ke indo saat ini seperti apa ya? apa prospeknya masih bagus utk jd penerjemah? Mohon sekali pencerahannya.

  17. sri sech

    Tulisan yang menginspirasi saya, mas.

    Saya memang udah lama skali berminat menjadi penterjemah. Oh iya, saya mau tanya, misalnya kita sudah menterjemahkan suatu buku, kemudian harus dikirimkan kemana ya? Siapa tau hasil terjemahan tersebut dapat dipublikasikan.

    Terima kasih…

    • Mbak Sri, terima kasih atas apresiasinya.

      Untuk pertanyaannya mengenai penerjemahan buku, berhubung saya belum pernah menerjemahkan buku (lebih sering dokumen non-buku khususnya dokumen hukum), coba deh kunjungi blog penerjemah senior, Mbak Dina Begum di http://www.dinabegum.com atau blog Mbak Femmy Syahrani (penerjemah buku senior) di http://www.femmys.wordpress.com. Banyak artikel menarik yang dapat menjawab pertanyaan Mbak Sri.

      Happy translating!

  18. Assalamu’alaikum,
    Mas Nursalam dimana saya bisa mendapatkan buku: ““The Translator” oleh Daoud Hari – kisah pengalaman seorang penerjemah di medan perang Darfur, Sudan ?
    Terima kasih,
    Ismail Hamzah (parahmail@gmail.com)

  19. Putri Arifina

    Assalamu’alaikum. Saya siswi kelas 3 SMA di Aceh. Saya mau tanya, untuk menjadi seorang penerjemah haruskah lulusan Sastra Inggris? Kalau iya, universitas manakah yang jurusan Sastra Inggrisnya berakreditasi dan bagus? Terima kasih sebelumnya🙂

    • Wa’alaikum salam wr.wb.

      Putri, salam kenal ya.

      Untuk menjadi seorang penerjemah tidak harus kuliah atau lulusan Sastra Inggris atau jurusan bahasa. Buktinya, sebagai penerjemah dokumen hukum bersetifikat UI dan HPI serta berpengalaman sejak 2003, saya bukan lulusan Sastra Inggris atau Fakultas Hukum. Yang penting kita memahami bahasanya dan memiliki kompetensi penerjemahannya. Dan terutama, bersedia untuk belajar hal-hal baru. Karena, selayaknya industri, dunia penerjemahan terus berkembang. Faktor lain yang menentukan adalah lingkungan dan komunitas.

      Jadi, jika ingin jadi penerjemah, yuk gabung di komunitas penerjemah seperti milis Bahtera di bahtera@yahoogroups.com dan HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia) di http://www.hpi.or.id. Di FB, grup HPI -Himpunan Penerjemah Indonesia.

      Untuk rujukan lainnya, silakan baca artikel di tautan berikut. Tautan: http://femmys.wordpress.com/my-translations/cara-menjadi-penerjemah/.

  20. khalimlive

    Assalamu’alaikum wr.wb.

    salam kenal mas… saya Khalim, dari Semarang.
    saya sangat senang dengan tulisan mas ini. Tulisan mas sangat menginspirasi dan seperti perjalanan kisah saya.

    saya lulus SMA tahun 2011 dan belum kuliah lantaran ada kendala. namun In sya Allah tahun ini, saya berencana masuk UT jurusan Sastra Inggris bidang minat penerjemahan.

    saya sekarang berkerja sebagai seorang tutor grammar di sebuah kursusan di kota Semarang. saya pernah belajar English grammar mulai tingkat intermediate hingga advanced.

    untuk penerjemahan naskah, saya pernah berkerjasama dengan sebuah tim kebagian menerjemahkan 20 halaman dari buku “Foundations of education” (4th edition) karya Allan C. Ornstein dan Daniel U. Levine. saya juga pernah menerjemahkan abstrak skripsi.

    saya ingin sekali bergabung di komunitas penerjemah. ^_^😀

    • Wa’alaikum salam wr.wb.

      Mas Khalim, salam kenal ya. Wah, saya terkesan dengan semangat dan antusiasme Mas Halim. Untuk lebih memperkaya wawasan dan mengakselerasi pengetahuan penerjemahan, yuk, gabung di HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia) di http://www.hpi.or.id. Juga Mas Khalim dapat berdiskusi tentang bahasa dan penerjemahan di milis Bahtera (Bahasa dan Terjemahan Indonesia) dengan mendaftar di bahtera@yahoogroups.com.

      Semoga sukses ya!

      • khalimlive

        oke…. (^_^)b 😀

    • ria

      Assalamu’alaikum mas khalim,
      Saya juga berniat kuliah d UT jurusan sastra inggris, dan sedang mencari info, bisa minta alamat emailnya mas, soalny byk yg ingin saya tanyakan..hehe terima kasih sebelumnya..

  21. Assalamu’alaikum wr.wb.
    Saya mahasiswa dari Universitas Indraprasta PGRI Jakarta ingin bertanya, apakah jurusan yang saya geluti sekarang selain jurusan bahasa inggris akan menjadi penghalang bagi saya yang nantinya ingin sekali menjadi penerjemah pemula? Dan bagaimana cara kita menghilangkan rasa takut akan suatu kegagalan sebagai penerjemah pemula?
    Terima Kasih

    • Wa’alaikum salam wr.wb.

      Mbak Dessy, salam kenal. Sebagaimana yang saya bahasa dalam artikel ini, tak ada batasan jurusan atau latar belakang pendidikan apa pun untuk menjadi penerjemah sepanjang yang bersangkutan memiliki keinginan dan kemauan belajar serta update dengan perkembangan ilmu dan teknologi penerjemahan. Untuk hal yang terakhir ini tentu, seperti saran-saran saya sebelumnya, tak mungkin didapatkan tanpa bergabung dengan komunitas bahasa atau penerjemahan.

      Silakan lihat tautan berikut: http://blog.bahtera.org/2009/07/tersesat-membawa-nikmat/ untuk mendapat inspirasi betapa seorang Sofia Mansoor, alumnus ITB yang apoteker menjelma menjadi penerjemah kawakan, sebagai contoh.

  22. hendy

    Salam kenal pak Nur, artikelnya enak dicerna, ada tips tidak buat orang pelupa seperti saya, kalau hafalin kosakata baru paling bertahan cuma 1 hari, terima kasih

    • Salam kenal, Mas Hendy. Konon ada pakar neuro-terapis yang bilang bahwa otak juga punya kekuatan seperti otot tubuh, jadi harus dilatih agar tidak kendur dan tetap mengencang. Jika sekadar menghafal, mungkin potensi “penghayatan”-nya kurang mendalam. Cobalah diperbanyak interaksi dengan bahasa, seperti membaca buku, menonton film dengan bahasa yang tengah dipelajari atau menulis. Insya Allah, keberagaman pola interaksi tersebut bukan saja akan membuat kosakata terpatri kuat, tapi juga aplikatif dalam keseharian kita. Setidaknya itulah yang saya jalani dalam pengalaman saya sebagai penerjemah dokumen hukum (yang penuh dengan istilah hukum yang banyak dan ruwet) sejak 2003.

      Selamat mencoba!

  23. Assalamu’alaikum wr.wb.

    salam kenal saya Alfi Nurfadilah mahasiswa dari jurusan sastra inggris dan dari dulu ingin menjadi seorang penerjemah. saya berniat bergabung menjadi anggota HPI dan setelah saya mencoba mengunduh formulir pendaftaran menjadi anggota HPI saya mengalami kesulitan dalam mengisi formulir tersebut. Adanya pilihan “Jenis profesi” dan “status sebagai seorang penerjemah” yang diperuntukkan untuk pendaftar anggota penuh. saya sebagai pendaftar untuk anggota muda harus mengisi kolom tersebut atau tidak? lalu dimana saya bisa bertanya seputar HPI ini? mohon bantuannya. terimakasih banyak.

    jika berkenan saya minta tolong kirimkan cara untuk menjadi anggota muda HPI ke email saya: alv.united@gmail.com

    terimakasih banyak sebelumya.

    • Wa’alaikum salam wr.wb.

      Mbak Alfie, salam kenal ya. Salut saya untuk niatnya bergabung dengan HPI. Mungkin, untuk lebih memudahkan, Mbak Alfie bisa gabung dengan grup Facebook (FB) HPI di grup “HPI – Himpunan Penerjemah Indonesia” dulu sehingga bisa interaksi secara daring (online) dengan para pengurus HPI yang tentunya lebih berkompeten untuk menjawab pertanyaan Mbak Alfie tentang teknis pendaftaran.

      Cara alternatif, coba kirim surel atau email ke alamat berikut: sekretariat@hpi.or.id.

      Happy translating!

      • Yuke

        Artikelnya bagus ka😀
        Kebetulan saya baru lulus SMK tahun ini, ingin melanjutkan kuliah di jurusan sastra jepang.
        Alasannya, saya ingin jadi pemandu wisata hehehe
        Kira-kira untuk prospek kedepannya gimana ya ka?
        Dan kalau ingin coba melamar kemana ya?
        Terimakasih🙂

      • Terima kasih ya.🙂

        Btw, untuk jadi pemandu wisata, ada asosiasi profesinya juga lho. Namanya Himpunan Pramuwisata. Singkatannya HPI juga. Silakan aja googling untuk tahu detilnya.

        Prospek pekerja bahasa atau pekerja kata termasuk para pemandu wisata masih terbuka luas kok, apalagi jelang era MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) 2015 saat arus investasi dan pariwisata makin deras ke Indonesia.

        Semangat!

  24. Keren gan… saya suka ini.

    Saya menjadi penterjemah lepas sejak semester 4. Pertama kali menterjemah 1 lembar butuh waktu berhari-hari. Susah sekali untuk mengolah kata. Kemudian semester 6 dapat mata kuliah translation. Mulai ada perbaikan, tetapi memang yang paling banyak berasal dari pengalaman.

    Nah, saat ini saya baru saja diterima sebagai penterjemah lepas sebuah agency penterjemahan. Materi yang diterjemahkan rata-rata adalah surat perjanjian, akta, dan sejenisnya. Agak takut juga karena ini kan bahasa hukum dan jangan sampai salah fasir. Tetapi setelah dicoba dan ternyata klien puas. Makin mantap untuk menjadi freelance translator.

    • Alah bisa karena biasa, practice makes perfect, Mas Lintang. Ditambah dengan diskusi dan terus belajar baik dalam komunitas atau belajar mandiri. Insya Allah, bahasa legalese akan bisa ditaklukkan.🙂

  25. Terimakasih atas sharingnya ya Mas. Saya juga baru belajar menjadi penerjemah. Selama ini sih seringnya menerjemahkan dokumen seperti laporan lingkungan dll.

    • Sama-sama, Mbak Armita. Sudah gabung milis Bahtera, grup FB HPI? Jika mau jajal jadi penerjemah dokumen hukum, bisa ikut kursus online di blog ini kok, hehe🙂

      • Alhamdulillah sudah ikut gabung ke milis Bahtera dan Fb HPI.

  26. ria

    Assalamu’alaikum mas..
    Artikel ini membuat saya semakin semangat untuk belajar bahasa dan tertarik menjadi translator🙂 . Terima kasih..
    Saya sudah mencoba untuk membuka web bahtera tapi kok kosong ya mas?
    Salam kenal,

    Ria

  27. Salam kenal, ini artikel yang sangat bagus dan membuka pengetahuan saya tentang translator dan interpreter.
    Saya mahasiswi yang baru saja lulus sarjana sistem informasi yang juga senang belajar bahasa asing, namun sejak awal kuliah mulai tertarik dengan bahasa korea dan masih belajar bahasa korea sampai sekarang, dan kini bercita-cita untuk menjadi interpreter bahasa korea (sebenarnya sejak SMA sudah ingin menjadi interpreter bahasa inggris-keinginan saat itu-). Hanya saja saat ini saya merasa bahasa korea saya masih di tingkat elementary. Oleh karena itu, setelah selesai urusan kelulusan selesai, saya ingin fokus belajar bahasa korea lagi.

    Saya sangat tertarik untuk menjadi interpreter, namun belum berpengetahuan luas tentang langkah-langkah apa saja yang bisa saya lakukan untuk bisa menjadi interpreter. Entah bisa diawali dari magang-magang atau kursus bahasanya dan sebagainya.

    Apakah Bapak dapat berbagi pengetahuan, informasi dan sebagainya mengenai langkah untuk menjadi interpreter kepada kami?

    • Salam kenal, Mbak Nadia.

      Jika gabung di grup FB HPI dengan nama “Himpunan Penerjemah Indonesia – HPI”, banyak rekan interpreter atau juru bahasa yang bisa dikontak. Dan ada kursus interpreter juga lho. Ada di Pusat Bahasa UI, Universitas Atmajaya dan Trisakti. Masukkan kata kunci “kursus interpreter”. Oh ya, ini dengan asumsi Mbak Nadia tinggal di Jakarta ya.

      Di HPI, juga ada ujian sertifikasi untuk interpreter. Daftar nama interpreter bersertifikat dapat diakses di http://www.hpi.or.id.

  28. Reblogged this on PART OF STORY.

    • Salam kenal dan terima kasih, Mbak Resna.🙂

  29. widya waty

    Assalamualikum, salam kenal.artikelnya bgus sya suka,krna memberi motivasi bagi sya dan orng bnyak.sya berkeinginan ntuk mnjadi pnerjemah bhsa inggris & korea.dngan itu insyaallah sya ingin mrubah derjat kelurga sya.dan jika one day sya sukses,keinginan sya cuman stu yaitu membahagiakan mreka.thank you ats artikelnya mas Nur.smoga keinginan sya bisa trcapai.amin….

    • Wa’alaikum salam.

      Salam kenal juga, Mbak Widya. Moga dengan niatan mulia tersebut, Allah akan permudah jalan Mbak Widya menjadi penerjemah profesional. Selanjutnya, ikuti saja kiat-kiat yang telah diberikan dalam artikel di atas plus yang ada dari pertanyaan-pertanyaan sebelumnya.

      Happy translating!

  30. Endang

    Aku ingin ikut

    • Ikut apa? Ikut jadi penerjemah?

      Mangga atuh.🙂

  31. aldi

    Sangat memotivasi blog nya, mas mau tanya untuk menjadi penerjemah dalam bahasa mandarin apakah terdapat sejenis sertifikasi gitu?

    • Terima kasih kunjungannya. Untuk sertifikasi penerjemah Mandarin, saya kurang tahu apakah tahun ini akan diadakan TSN (Tes Sertifikasi Nasional) untuk penerjemah bahasa Mandarin. Silakan kunjungi laman HPI di http://www.hpi.or.id.

  32. Tassia

    Halo mas aku mau minta pendapat nya dong hahaha lagi bingung nih. Aku anak sastra inggris trs semester 4 nanti bakal ada peminatan: translation, teaching, business, sama creative writing. Mending pilih yg mana ya mas?😦

    • Kenali dirimu sepenuhnya termasuk minat dan keinginan hendak jadi apa. Setelah “kompas” itu mantap, tentukan tujuan dan melangkahlah dengan yakin dan mantap. Nah, sekarang Tassia ingin jadi apa? Penerjemah, guru bahasa Inggris atau penulis? Jika ingin jadi penerjemah, ada baiknya ambil jurusan Translation.

      Selamat menentukan pilihan!

  33. Thanks infonya admin,
    Sekarang saya juga mulai memfokuskan Diri untuk total dalam bidang penerjemahan.
    Indonesia-Inggris ataupun Inggris-indonesia Indonesia, Dan perancis-indonesia (dasar)
    Info lanjut 085624275075

    Sincerely,

    • Happy translating, Pak Dikky. Good luck!

  34. kak cara jadi penerjemah freelance gimana ya kak? ada link-link nya kah? saya kuliah jurusan sastra cina tp belum lulus , sekarang ingin cari pengalaman menjadi penerjemah part time gtu

    • Salam kenal, Deasy.

      Banyak penerjemah senior yang bisa dijadikan guru kok. Coba deh kunjungi mereka di grup FB Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) atau gabung di milis bahtera@yahoogroups.com. Juga beranjangsana ke beberapa blog milik para penerjemah mumpuni nan kawakan seperti Mbak Dina Begum di http://www.dinabegum.com atau Mbak Femmy di http://www.femmys.wordpress.com. Mereka banyak menuliskan tips dan pengalaman menjadi penerjemah freelance atau paruh waktu.

      Tetap semangat!

  35. Bagus tulisannya mas. Jujur saya tertarik untuk menjadi penerjemaah Bahasa Inggris. Namun saya tidak tahu harus memulainya dari mana. Latar pendidikan juga bukan dari sastra inggris. Pengalaman juga masih kurang. Cuman modal otodidak gegara suka ngebaca novel bahasa inggris lama-lama pengen jadi penerjemah. Hehe

    • Terima kasih, Mbak Anisa.

      Apa kabar nih? Masih aktif di FLP Jakarta?

      Untuk menjadi penerjemah, bukan soal latar belakang pendidikannya kok. Yang penting punya niat dan kemauan untuk belajar dan menjalin jejaring.

      Untuk jadi penerjemah novel, silakan kunjungi rekan penerjemah novel kawakan saya, Mbak Dina Begum namanya. Blognya di http://www.dinabegum.com.

      Ditunggu ya karya terjemahan novel perdananya!🙂

Trackbacks

  1. Ingin Jadi Penerjemah (Buku)? | Zona Aini
  2. Kursus Penerjemah | Belajar tiada henti.....Bersyukur tiada lupa...
  3. Ingin Menjadi Penerjemah Buku? – eha translator

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: