Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Pagar 5 cm

Pagar yang membatasi - - itulah stereotipe

Etnis Betawi mengenal roti buaya–ya, roti yang dibentuk serupa hewan buaya— sebagai hantaran wajib dalam perhelatan sakral pernikahan. Umumnya dibuat sepasang, buaya jantan dan buaya betina.

Untuk buaya betina, di punggungnya dibuatkan seekor buaya kecil yang dimaksudkan sebagai anaknya. Dengan ukuran beragam, mulai dari 1 meter yang barangkali merupakan ukuran asli hewan buaya hingga ukuran yang sekadar sebagai pemantas, sepasang “buaya” tersebut diarak rombongan mempelai pria dengan 40 keranjang–konon, ini ukuran umum secara konsensus agar “layak” secara sosial dan adat–ke tempat mempelai wanita pada hari pernikahan.

Roti buaya sebagai hantaran pernikahan

Dilengkapi dengan tradisi palang pintu–semacam tradisi penyambutan pengantin berupa berbalas pantun, adu silat dan adu kefasihan membaca Qur’an–roti buaya jadi menu wajib kendati umumnya bahan roti pembuatnya terlalu keras dan tidak begitu enak untuk disantap.

Ya, roti buaya lebih cocok sebagai roti hiasan ketimbang sebagai penganan.

Seorang kawan yang bukan orang Betawi bertanya-tanya heran kepada saya,”Kenapa orang Betawi pakai simbol buaya? Itu kan hewan simbol playboy dan petualang cinta?”

Saya masih ingat saat itu saya hanya tersenyum seraya mengurut dada tipis ini. Stereotipe memang kejam dan lebih kejam dari sebuah fitnah. Ia adalah pembunuhan karakter. Buaya salah satu korbannya.

Dalam kenyataannya, buaya adalah hewan berperilaku monogami. Ia hanya akan kawin (bukan nikah lho) dengan seekor buaya selama sang pasangan belum tutup usia.

Buaya juga membangun rumah tangga dengan menempati kedung–sebutan untuk sarang buaya yang terletak di dasar sungai–bersama sang pasangan. Kehidupan monogami tersebut berlangsung hingga salah satu mati. Jika takdir menentukan salah satu tutup usia lebih dulu, barulah yang lain cari pasangan baru.

Ya, kesetiaan. Itu pesan khusus dari kehadiran buaya dalam perhelatan pernikahan adat Betawi. Tidak seperti stereotipe di masyarakat yang salah kaprah menahbiskan buaya justru sebagai simbol playboy dan petualang cinta.

Malangnya, stereotipe tersebut juga tak luput dialamatkan kepada etnis Betawi yang katanya tukang kawin. Duh, sedihnya!

Tapi kadang, dalam kehidupan nyata, kebenaran tidaklah penting. Yang penting adalah citra, image. Tak heran seorang pemimpin negara sekaliber Presiden SBY pun sekuat tenaga membangun pencitraan dalam dua kali masa pemerintahannya. Karena dengan citra, salah satu efeknya, stereotipe terbangun dan mengakar. Dengan itulah kita akan dikenang dalam memori banyak orang. Tak peduli sebenarnya seberapa banyak kita berbuat. Mungkin benar seperti kata sebagian orang yang putus asa,”Hidup itu tidak adil.”

Setidaknya tidak adil buat sang buaya. Namanya kadung dilekatkan dengan citra playboy dan penjahat cinta. Mungkin para buaya asli akan menitikkan airmata jika tahu nama mereka didapuk sebagai simbol kejahatan cinta oleh duo Ratu dengan hits Buaya Darat.

Apalah daya, aku hanya buaya, mungkin demikian mereka berkeluh-kesah. Tinggal saja mereka harus menunggu nasib ada lembaga advokasi hak-hak kebuayaan.

Jangankan buaya di mana memang aspek perikehewanan belum lazim dijunjung di negeri ini. Berbeda dengan Perancis, misalnya, yang punya Brigitte Bardott–mantan aktris bomb sex dalam perfilman internasional—yang getol menentang penggunaan mantel bulu atau bahkan penyembelihan qurban di kalangan Muslim. Kaum manusia saja yang mana aspek perikemanusiaan sudah termaktub dalam konstitusi republik ini juga belum sepenuhnya diayomi.

Berbagai etnis di negeri ini, tak hanya etnis Betawi, banyak menjadi korban akibat stereotipe sosial.

“Dia orang Sunda tuh. Pasti nanti dikawinin muda!”

“Orang Batak dia. Jangan-jangan copet lagi!”

“Ah, Cina lu! Mata duitan!”

“Sst…cewek Manado tuh. Biasa deh, biar kalah nasi asal menang aksi!”

“Si Iko jangan dikasih turun di simpangan. Nanti dia bikin rumah makan Padang lho!” Variasi lain, “Jangan kawin sama orang Padang. Pelit!”

Atau sebuah tebak-tebakan iseng.”Kenapa orang Batak tidak cocok jadi pilot pesawat terbang?”

Ketika tak ada yang bisa menjawab, si pemilik tebakan langsung buka suara,”Karena bisa gawat. Nanti di tengah jalan dia buka pintu dan teriak-teriak,”Grogol, Grogol! Masih kosong!” ujarnya seraya menirukan perilaku kondektur angkotan kota di Jakarta yang mayoritas berasal dari etnis Batak.

Soal stereotipe salah satu etnis di pulau Sumatera ini juga pernah mencuat dalam kasus film Maaf, Saya Menghamili Istri Anda (MASMIA) arahan Monty Tiwa pada 2007. Selain digugat keras sebagian ummat Islam mengenai judul film yang dianggap “mengundang”, film MASMIA juga digugat salah satu keluarga besar marga Batak.

Poster film MASMIA

Keluarga besar marga Simamora dari Batak memprotes penyebutan nama marga tersebut untuk tokoh preman bajingan dalam film yang diproduseri Rudy Soedjarwo tersebut. Bahkan film tersebut pernah diancam akan didemo besar-besaran sebelum beredar. Namun, setelah melalui prosedur minta maaf secara adat Batak dan sedikit sensor, akhirnya film itu bertengger dengan aman di jaringan bioskop 21.

Sebetulnya, bukan hanya soal penyebutan marga Simamora saja yang kontroversial. Karena film yang berkisah mengenai seorang aktor nanggung yang diperankan Agus Ringgo yang “terjebak” menebar sperma di mana-mana (menghamili istri sang preman Lamhot Simamora dan juga meniduri adik sang preman Batak tersebut) memang mengangkat setting kehidupan Batak urban di Jakarta dan menggelar banyak nama marga Batak seperti Sidabutar, Sitanggang atau Panjaitan. Bahkan alat kelamin pria pun dicandai sebagai “Si Poltak”.

Yang lebih patut disorot adalah berbagai stereotipe soal etnis Batak yang bertebaran dalam film (yang diupayakan) komedi itu mulai dari perilaku suka makan anjing; senang berdebat dan menyelesaikan persoalan dengan suara keras dan kekerasan; sikap perempuannya yang “agresif” hingga stereotipe orang Batak sebagai kaum preman dan mafia perparkiran di Jakarta.

Entah mengapa tuntutan sebagian orang Batak tersebut terhenti hanya sebatas sensor pada penyebutan marga Simamora — yang tidak substansial dan tidak menukik pada inti persoalan sebenarnya –dalam dialog salah satu karakter. Sebuah sensor yang secara teknis tidak cantik karena kentara betul ada jeda kosong beberapa detik dalam ucapan si karakter tentang nama sang preman gondrong yang terlibat perebutan lahan parkir dengan kelompok preman asal Timor Leste (dahulu Timor Timur).

Membongkar Pagar, Menikmati Taman

The fence is not outside the farm but it is in our mind!” ujar seekor ayam dalam sebuah film animasi Chicken Run (2001). Ia tengah mengagitasi teman-temannya sesama ayam piaraan di sebuah peternakan untuk bersama-sama meloloskan diri dari peternakan dan hidup merdeka. Tanpa harus dipaksa bertelur setiap hari maupun mendapat perlakuan kasar dari sang nyonya pemilik peternakan yang kejam.

Namun sebagian ayam yang merasa nyaman dengan kondisi yang ada tidak tertarik dengan tawaran tersebut. Mereka menganggap memang sudah takdirnya untuk hidup, besar dan mati di peternakan tersebut. Sebagian yang tertarik justru bertanya, “Apakah setelah bebas dari peternakan ini kita punya majikan baru? Apakah majikan itu juga akan memberi makan kita setiap hari?”

Padahal yang dijanjikan sang agitator adalah lebih dari itu. Sebuah kemerdekaan hidup di atas bukit lepas dan bebas mencari makan sesuka hati tanpa paksaan dari orang lain. Tapi penyakit kronis dari sebuah penjajahan bukanlah kungkungan penjara atau todongan senjata tetapi mental budak yang terpelihara.

Dengan tuturan yang menarik dalam salah satu tulisannya, K.H Rahmat Abdullah—salah seorang ulama Betawi binaan K.H. Abdullah Syafi’ie —mengisahkan bahwa salah satu mental budak adalah lekas berpuas diri dengan kondisi (keburukan) yang ada. Ia mengumpamakan pergantian tiap orde pemerintahan di Indonesia–seperti Orde Lama, Orde Baru dan Orde Reformasi–adalah seperti kisah pencurian kain kafan di sebuah kampung.

Almarhum K.H. Rahmat Abdullah, sang syaikhud da'wah

Pada suatu waktu, penduduk kampung dikejutkan dengan hilangnya kain kafan jenazah di salah satu makam. Mereka mengutuk si maling. Di lain waktu, lagi-lagi mereka dikejutkan dengan pencurian kedua. Kali ini bukan saja kain kafan jenazah yang hilang. Tapi juga sang jenazah diangkat keluar dari liang kubur dan dibiarkan telanjang tak bertutup.

“Kurang ajar. Masih lebih baik maling yang waktu itu. Cuma kain kafannya saja yang dicuri!” gerutu salah seorang penduduk.

Sang ayam agitator dalam Chicken Run itu benar. Pagar itu adanya bukan di luar peternakan atau di luar diri kita tetapi di dalam pikiran kita. Dalam bahasa Ali Syari’ati, seorang aktivis dan pemikir Sosialis yang menginspirasi Revolusi Islam Iran, pikiran adalah salah satu penjara yang membatasi manusia.

Nah, stereotipe adalah salah satu penjara pikiran bentukan manusia. Dalam konteks pluralisme, ia virus berbahaya yang menggerogoti sendi-sendi kebhinekaan

Stereotypes are ideas held about members of particular groups, based solely on membership in that group. They are often used in a negative or prejudicial sense and are frequently used to justify certain discriminatory behaviors. More benignly, they may express sometimes-accurate folk wisdom about social reality. (Wikipedia, Free Encyclopaedia).

Menurut Wikipedia, stereotipe adalah gagasan yang diyakini mengenai anggota kelompok masyarakat tertentu, yang semata-mata berdasarkan keanggotaan seseorang dalam kelompok tersebut.

Stereotipe kerap digunakan dalam pengertian negatif atau purbasangka dan cukup sering digunakan untuk menjustifikasi perilaku diskriminatif tertentu.

Dalam bentuk yang lebih lunak, stereotipe dapat mengungkapkan kearifan masyarakat yang terkadang akurat mengenai sebuah realitas sosial.

Dalam psikologi, stereotipe adalah citra mental yang kelewat disederhanakan mengenai sebuah realitas sosial, an over-simplified mental image of the social reality.

Seorang kawan yang bangga sekali dengan kebetawiannya pernah meragukan orisinalitas kebetawian saya. Dia tak percaya saya orang Betawi hanya karena tampang saya dianggap lebih mirip Sunda. Ah, hari gini kok mempermasalahkah silsilah!

Bukankah sejak zaman Volksraad (DPRD jaman kolonial Belanda) dulu, Muhammad Husni Thamrin, sang singa podium dari Kwitang, sudah menyerukan persatuan nasional? Sedangkan Benyamin Sueb yang masyhur sebagai ikon orang Betawi dan berjasa mengangkat derajat kesenian gambang kromong Betawi ke pentas nasional ternyata juga tidak murni berdarah Betawi.

Dalam biografinya yang dirilis pada 2005, terungkap fakta bahwa Bang Ben (panggilan akrab Benyamin Sueb) ternyata anak seorang pensiunan tentara asal Purwokerto bernama Sukirman yang menikahi seorang perempuan Betawi Kemayoran.

Dalam sebuah kesempatan makan siang bersama dengan sang kawan yang chauvinistik itu, saya patut berbangga. Setidaknya darah Betawi saya lebih murni. Sang kawan memang beribukan orang Betawi tulen, menurut pengakuannya sendiri, tapi ayahnya orang Wetan—istilah orang Betawi untuk orang-orang di daerah sekitar Karawang, Subang atau Bekasi.

Ketika mengakui fakta itu, ia tertunduk. Malu rupanya. Saya berusaha menyembunyikan senyum kemenangan saat itu. Sama rapinya saat menyembunyikan fakta darinya bahwa nenek saya alias ibu dari ayah saya adalah hasil perkawinan seorang wan Arab dan perempuan Betawi.

Jadi, meminjam istilah Hitler ketika berusaha mengkampanyekan program pembentukan ras Arya murni di Jerman pada era 40-an, darah saya juga masih “tercemar” ras lain!

Namun, apakah itu penting?

Maaf, rasanya tidak.

Dengan luasnya wilayah Indonesia yang konon bersaing ketat dengan luas Amerika Serikat dan termasuk salah satu negara yang terluas wilayahnya di muka bumi, keberagaman etnis adalah keniscayaan. Dengan keberagaman etnis dan budaya tak ayal pergesekan sering terjadi. Tak jarang fenomena alamiah ini berjalin berkelindan dengan intrik politik dan konspirasi ideologis. Hanya atas berkah Tuhan sajalah negeri tercinta ini tidak pecah berkeping-keping seperti Yugoslavia atau Uni Soviet.

Namun entah sampai kapan ia bertahan jika kita tidak membangun sikap saling mengerti dan memahami. Karena perbedaan sebenarnya bukan pagar pembatas, ia lebih merupakan jembatan penghubung. Sama seperti kita mempersepsi lautan di antara banyak kepulauan Indonesia yang selayaknya tak disebut sebagai pembatas tapi sebuah penghubung di antara banyak pulau yang merupakan hakikat negeri ini sebagai negara kepulauan (archipelago).

Kemalasan kita untuk menaklukkannya sajalah yang membuat kita berprinsip seperti serigala yang gagal menjangkau buah anggur dalam dongeng The Sour Grape.

Ya, kita menyebut anggur yang manis itu sebagai masam rasanya hanya karena kita tak mampu menjangkaunya.

Sementara itu tidak adanya perseteruan terbuka bukan berarti adanya kedamaian, ulas Mahathir Mohammad dalam Malay Dilemma, salah satu masterpiece yang populer pada 1960-an.

Bisa jadi konflik yang sebenarnya hanya terpendam dan menunggu hulu ledaknya terpantik. Inilah yang kita alami beberapa tahun lalu di Maluku, Poso dan Sambas. Ini sekadar menyebut beberapa daerah yang ditimpa konflik etnis yang berjalin dengan ideologi dan politik.

Memang damai itu indah, seperti slogan yang dipopulerkan oleh kalangan TNI di awal era reformasi 1998-an. Tapi rasanya lebih indah jika kedamaian itu tercipta karena keadilan.

Kedamaian yang bersumber dari keadilan niscaya lebih langgeng ketimbang kedamaian yang hanya sekedar bersifat kosmetika. Hanya pemanis. Ia luntur bila bedak basa-basi terguyur realitas hidup yang keras.

“Panggillah saudaramu dengan panggilan yang disukainya,” demikian pesan Al-Qur’an. Sebuah pesan universal tentang pluralisme dan kebhinekaan ummat manusia. Kadang entah bercanda atau tidak kita kerap menjuluki rekan berbeda etnis dengan sebutan pejoratif sukunya. Misalnya, Si Padang, Si Jawa Koek dll.

Pekerjaan rumah kita semua sebagai bangsa adalah bagaimana kita mendefinisikan “saudara” dan “orang asing” dalam kehidupan kita.

Idealnya, secara prinsip, “someone is not a stranger. He is only another person we don’t know.”

Seseorang bukanlah orang asing karena ia hanyalah orang lain yang belum kita kenal. Indah bukan prinsip tersebut? Itulah prinsip yang paling Indonesia.

Dan keindahan taman pluralisme Indonesia dengan bunga-bunga kebhinekaan hanya bisa dinikmati dengan terlebih dahulu meruntuhkan pagar stereotipe yang, letaknya tak jauh-jauh, hanya 5 centimeter dari ujung hidung kita. Ya, di kepala atau pikiran kita sendiri!

2 Komentar

  1. yeti

    mantaaap…
    izin share ya?

    • Terima kasih. Silakan di-share,moga bermanfaat:).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: