Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Bolehkah Mencantumkan Nama Suami di Belakang Nama Istri?

Demikian suatu pertanyaan yang mengemuka di sebuah mailing list atau milis.

Suatu diskusi yang menarik. Karena yang punya argumentasi mengemukakan pendapatnya berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW tentang dilarangnya menisbatkan nama suami di belakang nama istri seperti yang banyak dilakukan orang saat ini. Misalnya, istri mantan presiden AS,Bill Clinton, yang menisbatkan nama suaminya di belakang namanya menjadi Hillary (Diane) Rodham Clinton.

Hillary Diane Rodham Clinton

“Barang siapa yang mengaku sebagai anak kepada selain bapaknya atau menisbatkan dirinya kepada yang bukan walinya, maka baginya laknat Allah, malaikat, dan segenap manusia. Pada hari kiamat nanti, Allah SWT tidak akan menerima darinya ibadah yang wajib maupun yang sunnah.” Hadis tersebut diriwayatkan oleh Muslim dalam Al-Hajj (3327), Tirmidzi dalam Al-Wala’ wal Habbah bab Ma ja’a fiman tawalla ghoiro mawalihi (2127), dan Ahmad (616) dari Ali bin Abi Thalib.

Hadis-hadis rujukan lain dapat dilihat di http://www.defry.net/ustad-menjawab/hukum-seorang-wanita-menambahkan-nama-suaminya-di-belakang-namanya/.

Di sebuah artikel lain yang pernah saya baca, praktik penisbatan nama suami seperti itu dianggap sebagai bentuk dominasi patriarki (kekuasaan lelaki) atas perempuan.

Hemat saya, soal nama, khusus untuk kaum perempuan apalagi ibu-ibu memang unik. Di lingkungan sekitar rumah saya yang baru (yang baru ditempati sekitar 5 bulan ini), istri saya biasa dikenal dengan 3 nama: Umminya Alham (nama anak saya), Mamanya Alham dan Bu Nursalam. Nama aslinya sendiri (Yuni) tenggelam.

Pernah ibu-ibu tetangga bilang ke istri saya,”Ih,ibu kok kemarin dipanggil ga nengok?”

Karena istri saya keliatan bingung, ia menambahkan,”Itu, waktu saya panggil ‘Bu Nur..Bu Nur’.” Oalah, pantas saja istri saya tak menoleh. Ia mengira yang dipanggil adalah orang lain.

Yah, itulah budaya yang hidup di masyarakat. Dan budaya sejatinya adalah realitas, bukan kebenaran itu sendiri. Sehingga sifatnya bisa berubah, dan tentu saja bisa salah. Tergantung kita mengarifinya.

Dalam hal ini, saya sendiri membebaskan istri saya untuk menggunakan namanya sendiri, Yuni Meganingrum, baik di formulir formal atau akun jejaring sosial sekalipun. Dan bukan Yuni Salam atau Yuni Rahman.

Sebab, lepas dari ‘ancaman’ hadis tersebut, salah satu hikmah pelarangan penisbatan nama suami tersebut adalah pembebasan atau pengakuan Islam atas hak identitas perempuan.

Di masa jahiliyah, sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW, perempuan biasa dianggap sebagai barang atau aset, yang bisa diwariskan ke anak atau diberikan kepada orang lain. Perempuan tak punya hak secuil pun termasuk hak identitas atas namanya sendiri.

Hikmah lainnya, juga tentang keajegan. Jika dinisbatkan pada ayah maka jelas dan tak berubahlah statusnya. Karena tak ada bekas ayah atau bekas anak. Yang ada adalah bekas istri atau bekas suami.

Kasus seperti ini pernah terjadi atas penyanyi Ellya Khadam yang terkenal dengan lagu fenomenal pada awal 60-an, ‘Boneka dari India‘.

Ellya Khadam dalam salah satu sampul kasetnya

Konon di awal karirnya ia pakai nama Ellya Agus, sesuai nama ayahnya. Namun karirnya berjalan biasa saja. Setelah menikah dan pakai nama Ellya Khadam, karirnya melejit dengan hits lagu ‘Boneka dari India’ tersebut. Beberapa tahun setelah tenar, ia bercerai dengan Khadam. Memang tak ada persoalan soal penggunaan nama ‘Khadam’ karena Ellya pun masih menggunakannya hingga bertahun-bertahun setelah cerai. Meski sempat berubah menjadi Ellya M. Haris, sesuai alur pernikahannya. Belakangan ia kembali ke nama aslinya ‘Ellya Agus’ hingga wafat pada usia 80 tahun (2009).

Sampul album Ellya Khadam yang menggunakan nama Ellya M. Harris

Kasus lain yang serupa juga terjadi pada seorang aktris sinetron Firda Razak yang dulu populer dengan sinetron awal 90-an yakni “Opera Tiga Jaman” di RCTI. Saat ngetop ia adalah istri Razak Satari, seorang produser di RCTI. Setelah bercerai, ia pun masih memakai nama itu karena sudah merupakan trademark atau label keartisan. Meski kemudian setelah menikah dengan seorang bule Jerman ia berganti nama menjadi Firdha Kussler.

Firda Razak

Itu sekadar contoh saja, tanpa bermaksud menyalahkan pilihan setiap orang.

Tiap aturan — terlebih yang mengatasnamakan agama dan Tuhan — tentu punya alasan tersendiri. Dan tiap pilihan juga harus, dan selayaknya, beralasan.

Jakarta, 14 Juni 2011

6 Komentar

  1. ya cukup masuk diakal..dan secara umum saya setuju.Alhamdulillah suaqmi sya tidak pernak meminta say untuk menggunakan nama beliau dibelakang nama saya(mungkin nama saya juga dah cukup panjang) dan dilinglkungan sekitar kami dipanggil sesuai nama asli kami

    • Betul, Bu. Sungguh beruntung ibu mendapat suami yang paham dan pengertian seperti itu. Terima kasih ya atas kunjungannya:).

  2. wietyaz

    Life is choices..
    Sebenarnya sah” saja kan klw laki” juga bisa legowo untuk membebaskan istrinya menentukan pilihan hati, apakah mencantumkan nama suaminya atau tidak… Terkadang… kalau tidak dibahasakan (secara verbal),, terkesan… “wanita dijajah pria” masih berlaku ya??🙂

    • ya, itulah hikmah aturan yang termaktub dalam hadis tersebut. Seperti yang disitir oleh Ismail Marzuki dalam lagunya “Sabda Alam”. Sejak dulu wanita dijajah pria….:D

  3. Neneng dh

    Terima kasih pak Nursalam AR atas sharingnya…

    • Terima kasih untuk kunjungan dan komentarnya, Bu Neneng. Semoga artikelnya bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s