Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Let’s Talk about Diary!

Diary atau cathar merupakan "museum" hati penulisnya

Di antara banyak pertanyaan tentang menulis yang datang kepada saya via surel (surat elektronik) atau blog, salah satu yang cukup menarik adalah tentang diary atau cathar (catatan harian). Diary, sesuatu yang personal dan kini lebih cenderung terbuka dalam metamorfosisnya berbentuk situs atau blog atau bahkan buku seperti Raditya Dika dengan catatan hariannya yang konyol dan segar. Tapi rupanya pertanyaan-pertanyaan klasik seputar apa manfaat menulis diary masih juga ada hingga kini. Seperti yang tercermin dalam pertanyaan-pertanyaan di bawah ini.

Ass.wr.wb.
Kak, saya mau tanya:
1.Apa benar menulis diary hanya membuang-buang waktu saja dan membuat kesal?
2.Mengapa diary selalu dijadikan alat tuduhan dikala hati saya sedang galau?Padahal saya menulisnya berdasarkan saran darimu,lho….
3.Apa manfaat lain diary selain melukiskan perasaan? Apa boleh ditambah dengan sinopsis acara favorit atau sejenisnya?
4.Saya sering dan suka sekali menulis diary. Tapi kadang-kadang ketahuan juga. Padahal saya tidak ingin hal itu diketahui oleh orang lain. Bagaimana caranya agar saya bisa leluasa menulis tanpa ketahuan orang lain? Apakah saya harus bersembunyi di gudang untuk menulisnya?
5. Oh ya, ini tentang novel. Dalam menulis novel, saya selalu mengalami stagnasi.Tolong jelaskan bagaimana caranya agar saya bisa lancar melakukannya tanpa ada stagnasi? Apakah syarat-syarat menulis novel?
Itu saja.
Wass.wr.wb
Nn. Viny (bukan nama sebenarnya)
Jawaban:
• Tidak benar sama sekali jika menulis diary hanya merupakan pemubaziran waktu. Menulis apapun seperti halnya membaca hatta sebuah curahan kekesalan adalah bentuk pekerjaan intelektual yang melibatkan kerja otak dan bahkan perasaan. Sudah banyak penelitian yang membahas manfaat menulis terhadap kesehatan mental dan bahkan kesehatan fisik. Taslima Nasreen, seorang penulis dari Bangladesh, menyatakan bahwa menulis dapat membuat kita awet muda. Dalam novelnya, The Alchemist, Paulo Coelho bahkan menyarankan, setiap kali kita sedih, untuk menuliskan kesedihan dan melarungkannya ke sungai agar kesedihan tersebut hilang. Dalam banyak literatur medis dan terapi psikologi, cara pengenyahan kesedihan tersebut diadopsi sebagai trauma healing. Cobalah merujuk banyak buku teori penulisan, dan lakukan pencarian di Google tentang hubungan menulis dan kesehatan. Sementara dari sisi teknis, practice makes perfect. Semakin banyak berlatih menulis terlebih lagi secara rutin seperti menulis diary maka semakin sempurna tulisan kita asalkan ditopang dengan banyak membaca dan berdiskusi.

• Dijadikan alat tuduhan? Terus terang saya tidak mengerti betul inti pertanyaannya. Barangkali ini terkait dengan masalah pribadi atau rumah tangga ya. Tapi jika maksudnya diary dijadikan kambing hitam sebagai pelarian atas kekesalan seseorang ya memang itulah fungsi dasar diary. Dari jaman Ibnu Batutah (sang pengelana Arab) hingga Robinson Crusoe dan era diary dalam bentuk blog, seperti itulah fungsi primer diary. Tidak ada yang salah dengan itu. Yang salah ya yang coba-coba mengintip diary kita meski sudah terkunci dalam lemariJ.

• Yup, selain melukiskan perasaan, menulis diary melatih keterampilan teknis menulis dan juga menyembuhkan trauma. Tentu saja sah-sah saja dan sangat boleh jika ditambah dengan sinopsis acara favorit atau resep masakan. Terutama jika diary kita dalam bentuk blog atau website. Tapi ada tren saat ini yakni orang punya banyak blog (atau lebih dari satu blog) untuk satu tujuan (personalized purpose), misal blog di Facebook untuk curhat atau sarana pergaulan atau sosialisasi saja, sementara di Multiply atau WordPress atau Blogspot atau Kompasiana isinya gado-gado. Itu sah-sah saja. Prinsipnya, bebas euy!

• Ya, saya kira itu soal pintar-pintarnya kita menyiasati keadaan. Sekadar berbagi, saya dan beberapa teman yang punya kebiasaan menulis diary juga mengalami kasus yang sama. Saat SMP hingga masa kuliah, saya menyiasatinya dengan menulis diary di tengah malam saat semua anggota keluarga sudah tidur. Dan menyimpannya di satu tempat khusus di pojok lemari buku. Itu pun masih diselubungi plastik biar tersamar. Yah, perlakukanlah ia bagai harta karun. Karena kita tidak tahu kapan catatan kecil tersebut yang kita “tabung” setiap hari menjadi bahan buku atau novel yang hebat. Jadi, selamat bergerilya menulis diary!
Mungkin suatu kali kita akan menikmati pengalaman tersebut sebagai sebuah lelucon kehidupan. So, be relax and enjoy your diary writing time!
• Ada banyak kiat mengatasi stagnansi menulis atau writer’s block dari para penulis besar dunia. Termasuk Ernest Hemmingway, sang sastrawan peraih Nobel sastra dari Amerika Serikat. Hemmingway, jika mentok dan tidak punya ide untuk menulis, justru akan menulis apa saja. Pengalaman praktisnya mengatakan bahwa dalam sekian menit pertama memang tampak tak ada korelasi apapun antara setiap kata yang kita tulis dengan metode asal-asalan tersebut. Tapi sepuluh menit berikutnya akan ada pikiran utama atau ide yang bisa dikembangkan menjadi sebuah tulisan. Dan, ingat, waktu Hemmingway mempraktekkan hal itu, belum ada komputer seperti yang sekarang kita punya. Jadi di zaman modern ini tentu kita bisa lebih mudah menulis tanpa kehilangan ide dibandingkan Hemmingway yang masih menulis dengan mesin ketik. Soal syarat menulis novel, sama seperti tulisan yang lain: punya niat dan terutama punya nafas panjang. Menulis cerpen ibarat lari sprint, sementara menulis novel ibarat lari marathon. Taktik dan persiapannya tentu beda. Soal ini, untuk lebih spesifik, banyak buku yang dapat menjadi rujukan seperti panduan menulis novel dll.
Selamat menulis! Dan rayakan setiap keberhasilan dalam menulis, apapun bentuknya (diary, opini dll) sekecil apapun ia!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: