Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Merawat Sahabat

Sahabat adalah jalinan jemari yang (semestinya) saling menjaga dan menguatkan

“You should not judge another person until you have walked two moons in their moccasins.” (pepatah Indian kuno)

Sahabat itu ibarat tanaman di pekarangan. Ia harus dirawat dan dipupuk. Jika tidak, ia akan mati meranggas. Selayaknya tanaman, ia juga berbeda-beda jenis. Sehingga berbeda-beda pula perlakuan kita untuk lebih menyuburkannya.

Saya sebetulnya baru-baru ini saja memahami betul perbedaan makna “sahabat” dan “teman”. Secara teori kognitif, perbedaan semantik tersebut sudah saya kunyah sejak SMP. Namun secara maknawiyah atau nilai rasa mungkin baru beberapa tahun belakangan. Terlebih ketika saya memasuki gerbang kehidupan berumah tangga dengan segenap suka dukanya.

Ketika banyak orang menyangka seseorang yang sudah menikah, dengan asumsi punya istri atau suami sebagai teman hidup juga sahabat hidup, otomatis tak butuh sahabat, sejatinya kebutuhan akan sahabat itu sebenarnya tetap sama. Bahkan bisa jadi lebih besar dari fase kehidupan sebelumnya.

“Tenang, Lam, gue bantu elo deh nanti. Gue utang budi sama elo.” Janji seorang teman zaman kuliah dulu masih nyaring di telinga saya meski telah bertahun-tahun lamanya ia berikrar demikian selepas sebuah jasa yang saya berikan kepadanya. Tanpa pamrih, sebetulnya. Cuma menolongnya, itu saja niatan saya. Soal janjinya adalah kesalahan saya yang bertahun-tahun kemudian – di waktu saya sulit – menganggapnya sebagai tali penyelamat ketika arus terlalu deras untuk dilawan seorang diri.

“Wah, sorry, Lam, gue baru bayar sekian untuk ikutan seminar profesi. Lain kali deh gue pasti bantu elo!” Glek.

Ia menyebut sekian jumlah nominal yang saat itu lebih dari yang ingin saya pinjam. Waktu itu bisnis bimbingan belajar yang saya bangun bersama kakak saya ambruk dan kami terjerat hutang besar. Tidak besar, mungkin, untuk ukuran dia yang sedang cemerlang karirnya selepas kuliah.

Apalagi, setelah penolakannya tersebut, entah sadar atau tidak, setiapkali ia mencapai kesuksesan materi – beli mobil, cicil rumah dll – ia selalu bercerita dengan bangga kepada saya, dan tak lupa diakhiri dengan repetisi ikrar yang sama: “Gue utang budi sama elo, Lam. Pasti gue bantu elo!”

Saat itu saya masih memandangnya sebagai “sahabat”. Namun ketika kesulitan yang sama selalu saja menimpa saya – hingga saya sempat berpikir untuk minta diruwat – dan penolakan sang “sahabat” selalu sama, dan ia terhenti sampai di batas itu tanpa ada sodoran alternatif yang lebih empatik maka saya mulai meninjau ulang dan menarik batas baru. Ia kini sekadar “teman” bukan lagi “sahabat”.

Dasar filosofis penarikan garis demarkasi tersebut, saat itu, sederhana saja: a friend indeed is a friend in need. Sahabat adalah teman di kala susah.

Dalam perjalanan waktu berikutnya saya mendapati kebenaran adagium tersebut. Tapi, seiring matangnya usia dalam artian tumbuhnya uban, tampaknya saya “dipaksa” memberi pengayaan dan pemaknaan yang lebih atas definisi “teman” dan “sahabat”

Sahabat-sahabat baru

“Mas, butuh bantuan apa?”

“Aku sudah transfer ya ke rekeningmu…”

“Ini sedekah dari saya…”

Peristiwa banjir bandang pada Februari 2007 adalah salah satu titik balik dalam hidup saya. Menjelang pernikahan – yang saya rencanakan pada April 2007 yang terpaksa diundur hingga akhir 2007 – segenap harta benda lenyap termasuk aset biro penerjemahan yang saya kumpulkan dan tabung bertahun-tahun.

Yang menyedihkan, hanya beberapa gelintir sahabat yang datang menengok. Padahal, bukan soal mereka bawa bantuan atau tidak, tapi kehadiran mereka setidaknya jadi obat. Ketika kepala terasa pecah dengan beban berat, niscaya akan plong dengan bercerita kepada seseorang. Di sisi lain, peristiwa banjir itu juga mengubah cara saya bercermin diri.

Allah menunjukkan—dengan sederet sms di atas – bahwa definisi “sahabat” yang lain yang juga saya pegang bahwa adalah “mereka yang akrab secara fisik atau kerap bertatap muka” adalah tidak cukup untuk menggambarkan keragaman makna persahabatan.

Para pengirim sms tersebut adalah sahabat-sahabat online di sebuah milis. Ketika kepala saya penat dan hati remuk dan solusi terbaik adalah bercerita – salah satunya melalui postingan tulisan di milis – resonansi energi tersebut menggetarkan dawai empati kalbu mereka.

Padahal seorang kawan pernah berujar,”Tak ada yang tahu apakah yang berada di depan komputer saat online itu seekor anjing atau bukan.”

Artinya, dibutuhkan rasa kepercayaan yang luar biasa besar dari para sahabat “baru” tersebut untuk mengirimkan bantuan kepada saya ketimbang para sahabat “lama” saya yang entah ada di mana saat itu – yang sebagian bahkan sudah saya kenal bertahun-tahun.

Air mata saya menetes waktu itu.

Muhasabah

Dalam suatu titik waktu dalam hidup saya, saya pernah merenungi bagaimana saya memperlakukan orang-orang di sekitar saya – keluarga, teman dan sahabat. Dalam sebuah daftar yang saya buat, saya mendapati saya adalah orang yang tidak pandai merawat sahabat.

Apatah lagi mengucapkan tahniah ultah, memenuhi undangan pernikahan mereka kadang saya bisa tak datang dengan alasan sepele, semisal “tak enak badan” atau 5A (Afwan, Akhi, Ana Ada Acara) atau yang sejenisnya.

Kelahiran anak, bagi saya yang waktu itu masih melajang, adalah hal biasa, teramat biasa. Orang lahir dan mati, itu sunnatullah.

Maka saya tak merasa berdosa ketika hanya bisa ucapkan tahniah via sms untuk sang sahabat yang sedang berbahagia itu. Dan saya terkadang bingung ketika mendapati orang yang rungsing hanya karena belum sempat menjenguk tetangganya yang melahirkan. Hey, is it a problem?

Mungkin itu bukan masalah jika kita tak memandangnya sebagai masalah. Tapi, saat kita menganggapnya bukan masalah, sebenarnya itulah masalah sebenarnya. Saat tampak noda hitam di wajah kita saat becermin bisa jadi bukan masalah di wajah kita tetapi masalah di cermin yang memang bernoda hitam.

“Berjalanlah dengan sepatu orang lain” mengandung makna empati terhadap orang lain. Pepatah Indian kuno di awal tulisan ini mengisyaratkan bahwa “perjalanan dua purnama” dengan “moccasin (alas kaki suku Indian)” pun baru hanya menempatkan kita pada posisi “memahami”.

Apatah lagi, tentu butuh energi lebih, untuk mendorongnya ke arah “membantu”. Di sini dimensi waktu turut berperan. Maka, dalam konteks itulah – dalam sebuah muhasabah atau renungan—saya kian takjub dengan para sahabat baru saya dengan sedekahnya. Sebab kami baru saling kenal dalam kurun waktu kurang dari setahun. Hanya bilangan bulan. Dalam kesempatan yang sama, saya menjadi semakin malu dengan diri saya sendiri, yang kerap abai dengan orang lain.

Ketika istri saya melahirkan anak pertama kami, terasa betul di hati saya bahwa saya dulu tidak memperlakukan kerabat atau para sahabat – yang mereka atau para istrinya melahirkan lebih dulu – dengan perlakuan yang “adil”. Ketika saya sakit batuk darah dua pekan terakhir nyatalah bahwa keberadaan sahabat itu diperlukan. Ini bukan soal finansial. Tapi soal keberadaan orang-orang yang memberi kita hidup – dalam artian semangat dan keceriaan menjalani hari.

Laugh, and the world laugh with you. Weep, and you weep alone.” Tertawalah, maka dunia tertawa bersamamu.

Menangislah, dan kamu menangis sendirian. Perkataan Ella Wheeler Wincox tersebut mengena betul. Tapi kini, saya bersyukur dapat memandangnya dari sudut yang lebih leluasa.

Give, and it will be given to you

Ikhlas memberi, tak peduli apa pun balasan yang akan diterima (apakah pahit, manis atau masam), itu intinya dalam merawat sahabat. Toh, Tuhan Maha Tahu akan hamba-Nya. Ia takkan pernah alpa akan, hatta, setitik pun debu di penjuru bumi.

Betul, bahwa sahabat adalah orang yang, terutama, datang di waktu duka. Betul, bahwa saat duka, cenderung kita hanya akan mendapati diri kita seorang diri. Apalagi jika saat menangis itu tampang kita menjadi jelek sekali. Tak enak dilihat. Tapi hidup ini bukan soal betul atau salah seperti soal ujian di sekolah. Ia adalah kumpulan hikmah, yang terkadang perlu dilihat dari sudut yang lebih kaya dengan kelapangan hati karena sifatnya yang misterius.

Maka saya putuskan untuk berdamai dengan masa lalu, dengan sebuah perspektif baru.

“Lam, gue mau tes TOEFL nih. Bantuin ya!” Lagi-lagi sang “sahabat” meminta bantuan via sms.

OK. Itu yang saya ketik.

Ia pun menelpon saya dan berkonsultasi panjang lebar. Hingga sekitar sejam. Di tengah malam itu.

Perdamaian memang indah, seperti tertera di spanduk-spanduk yang dipasang TNI pada sekitar 1999. Meski belum tentu memenuhi hasrat keadilan. Tapi, inilah hidup. C’est la vie. Enjoy aja! (kata sebuah iklan rokok di TV).

Tips: Persahabatan adalah tanaman yang harus dirawat dengan perhatian, kepedulian dan kasih sayang. Keikhlasan dalam memberi adalah pupuk terbaik untuk persahabatan karena apapun yang kita beri – kendati tidak berbalas – akan berbuah di kemudian hari. Inilah hukum besi Semesta.

4 Komentar

  1. wietyaz

    Subhanallah… makasih Mas, utk pencerahannya,, really want to believe friendship again…

    • Sama-sama, Mbak. Percayalah, jika kita kecewa akan sebuah persahabatan, bahwa masih banyak orang baik di sekitar kita, dan masih banyak sahabat yang baik. Karena baik dan buruk sejatinya adalah pasangan abadi.

      Terima kasih atas apresiasinya. Salam kenal.

  2. well done. i’ll try

    • Good, just let me know if you succeed to do that,right?:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: