Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Janganlah Menuntut Ilmu Karena Ia Tidak Bersalah

Salah satu kegiatan menuntut ilmu - - belajar di kelas


Janganlah menuntut ilmu karena ia tidak bersalah.

Sebuah kicauan jenaka di salah satu jejaring media sosial tersebut membuat saya tergelak. Sang pembuat kicauan pasti orang yang kreatif. Ia jeli melihat kemungkinan penafsiran lain dari sebuah kata.

Itu kicauan yang mungkin tampak sepele tapi sebenarnya cukup menarik untuk direnungkan dari sisi bahasa. Kenapa untuk “ilmu” digunakan kata “menuntut”? Di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) hal tersebut memang sudah termaktub.

Dari segi asal-usul kata alias etimologi, nampaknya frasa “menuntut ilmu” amat kental dipengaruhi bahasa Arab, yang memang banyak mempengaruhi pembentukan kata dalam bahasa Indonesia modern yang bersumber dari rumpun bahasa Melayu. Dalam bahasa Arab, kata untuk “menuntut” adalah “tholaba”. Atau dalam shorof (tatabahasa Arab) dengan fi’il madhi (past tense), mudhori’ (present continuous) dan ‘amr (instruction), tholaba-yathlubu-uthlub (menuntut-tengah menuntut-tuntutlah).

Teks bahasa Arab: Tholabul 'ilmi

Kata “tholaba” ini bermakna meminta atau menuntut. Juga digunakan dalam pengertian “belajar”. Para pelajar atau mahasiswa disebut “tholib” atau “thalibun”. Itulah kenapa gerakan dakwah salafi di Afghanistan yang bertujuan mengembalikan kejayaan Islam di Afghanistan dengan model Islam salafi disebut “Thaliban”. Karena gerakan tersebut didirikan dan sebagian besar penggerak dan pendukungnya adalah kalangan pelajar atau mahasiswa atau tholiban asal Afghanistan yang belajar di madrasah atau perguruan tinggi Islam di Pakistan (dan termasuk membangun basis kekuatan di kawasan perbatasan Pakistan-Afganistan).

Para pejuang Thaliban adalah para mahasiswa Afghanistan yang belajar di Pakistan

Aktivis Thaliban sebagian besar adalah anak-anak Afghanistan yang lahir dan besar di barak pengungsian di Pakistan karena keluarga mereka terusir dari tanah kelahirannya sejak invasi Uni Soviet (sekarang Rusia) pada tahun 1970-an. Dan pergolakan di Afghanistan terus berlanjut setelah Uni Soviet hengkang dan bubar (karena pertarungan antarkelompok pejuang) hingga invasi pasukan koalisi yang dipimpin Amerika Serikat setelah 11 September 2001.

Dalam variasi kata yang lain dari kata “tholaba”, sejarah emas perjuangan kemerdekaan Indonesia mencatat nama Sekolah Thawalib di Sumatera Barat yang melahirkan para ulama dan pejuang seperti Buya Hamka.

Dalam pengertian filosofi kenegaraan, ilmu memang harus dituntut karena itu adalah hak. Konstitusi banyak negara di dunia termasuk UUD 1945 di Indonesia mencantumkan pendidikan sebagai hak asasi warganegara yang harus dipenuhi negara. Jika tidak, negara dianggap alpa dan lalai menjalankan kewajiban mendasar tersebut. Di Indonesia, rezim saat ini menetapkan angka 20 persen untuk anggaran pendidikan di APBN meskipun besaran tersebut juga mencakup biaya tetek-bengek lain seperti gaji guru dll, dan tidak sepenuhnya dikembalikan kepada siswa atau mahasiswa dalam bentuk fasilitas sekolah atau pengadaan buku pelajaran yang memadai.

Dalam tataran personal, ilmu memang harus dituntut setiap pribadi karena itu juga kewajiban asasi. Agama Islam, misalnya, menjanjikan derajat tinggi untuk orang berilmu, dan belajar ilmu pengetahuan apapun adalah kewajiban tiap orang, lelaki dan perempuan, kaya atau miskin, tanpa pandang bulu atau jenis kelamin.

Jakarta, 7 Juni 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: