Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Traktir Bini Belanda

Siapa yang suka ditraktir?

Pasti banyak yang mengacungkan jari. Bahkan mungkin sambil teriak-teriak,”Saya! Saya!”

Tapi, sudah pernah tahu traktir ala Belanda? Go Dutch

Konon orang Belanda dikenal paling kikir di kalangan bangsa-bangsa Eropa. Tak heran, dalam bahasa Inggris, ada istilah “go dutch”, yang artinya bayar masing-masing. Jadi, jangan ge-er dulu, jika kekasih Anda saat makan siang di restoran bilang,”Let’s go Dutch.” Itu bukan berarti ia mengajak Anda tamasya ke Belanda. Tetapi artinya ia bokek, dan minta Anda membayar pesanan Anda sendiri. Nah, inilah yang disebut Dutch Treat, yang secara harfiah diterjemahkan sebagai “traktir ala Belanda”.

Bukti kekikiran Belanda juga tercermin dari gaya penjajahan yang dilakukannya terhadap koloni-koloninya dari Afrika Selatan, sebagian Amerika Serikat hingga kawasan Nusantara (semenanjung Melayu, Indonesia dan kepulauan Borneo). Dalam bukunya berjudul Actie Massa, Tan Malaka menyebut gaya penjajahan Belanda sebagai gaya penjajahan “kuno” atau “barbar” dengan mengeksploitasi habis-habisan sumber daya alam dan sumber daya manusia di koloninya tanpa kompensasi sedikitpun terhadap rakyat jajahan. Adapun Politik Etis – yang akhirnya melahirkan Boedi Oetomo dan gelombang gerakan perjuangan nasional dimotori kalangan terdidik – dengan menyelenggarakan pendidikan bagi rakyat jajahan yang dilakukan Belanda lebih sebagai kompensasi atas dosa-dosa semasa periode Tanam Paksa-nya Van Den Bosch dan bertujuan untuk menciptakan tenaga-tenaga ahli untuk mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia.

Sementara, masih menurut Tan Malaka, Inggris menerapkan gaya penjajahan generasi kedua yakni penjajahan “modern”, yang lebih “beradab” dengan mengedepankan siasat diplomasi dan soft power. Misalnya, dengan membangun infrastruktur pendidikan dan sistem pemerintahan. Koloni-koloni Inggris pun, setelah resmi “merdeka” dalam artian diberikan kemerdekaan oleh Inggris, dirangkum dalam kumpulan Persemakmuran (Commonwealth). Tak heran negara-negara Persemakmuran seperti Malaysia, Brunei, Australia dan India relatif lebih maju dibandingkan dengan negara-negara bekas jajahan Belanda seperti Suriname, Afrika Selatan dan Indonesia. Meski jelas logika yang ngawur jika ada yang bilang,”Coba Indonesia dulu dijajah Inggris seperti Malaysia pasti lebih makmur.” Karena bagaimanapun penjajahan adalah penistaan derajat dan pengekangan hak-hak asasi manusia yang tak dapat diterima maupun dibenarkan dengan alasan apapun.

Intinya, bahasa memang tak bisa lepas dari budaya baik etnik, ras atau bangsa. Dalam bahasa Inggris, kita lazim mengenal empat standar keterampilan berbahasa yakni reading (membaca), writing (menulis), listening (mendengarkan), dan speaking (berbicara). Namun ada satu faktor lain yakni cultural awareness, faktor kesadaran budaya, yang justru secara praktis diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat, sering diabaikan.

Alhasil – sewaktu saya masih aktif sebagai pengajar kursus bahasa Inggris untuk kelas karyawan dan bisnis – beberapa murid saya yang fasih berbahasa Inggris dan cerdas-cerdas merasa frustrasi ketika menghadapi atasan mereka yang rata-rata expatriate. Antara lain mereka mengeluh karena perilaku atasan yang dianggap tidak punya ewuh pakewuh atau terlalu ekspresif. Sebagian yang lain merasa kesal karena sang atasan menganggap mereka tak percaya diri. Apa pasal? Ternyata karena mereka tak berani melakukan kontak mata langsung secara intens dengan sang atasan. Maklum, dalam budaya Indonesia, hal tersebut bisa dianggap tidak sopan.

Kisah yang lain adalah sewaktu saya masih duduk di kelas satu Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Saat itu saya belajar di level General English di sebuah kursus bahasa Inggris, dan pihak manajemen kursus sering mendatangkan native speaker (pembicara tamu dari negara asing) sebagai sparring partner siswa-siswanya berbicara bahasa Inggris. Rata-rata native speaker yang didatangkan adalah orang-orang muda dengan penampilan seadanya, sebagian bahkan hanya bercelana pendek. Belakangan saya baru tahu kalau mereka kebanyakan turis dari Jalan Jaksa.

What’s your name?” tanya salah seorang native speaker kepada salah seorang teman sekelas saya. Si turis bule adalah gadis muda bercelana pendek yang sesekali menenggak air mineral dari botol yang ditentengnya. Bulu-bulu lebat pirang di kakinya membuat saya bergidik saat itu.

My name is Ibrahim,” jawab Ibrahim mantap. Bahasa Inggris teman sekelas yang duduk di sebelah saya itu memang cukup lumayan.

“O…Abraham,” tukas si turis.

No, not Abraham. Ibrahim,” teman saya itu bersikeras.

Yes, you are Abraham,” si bule belum ngeh.

Ibrahim masih ngotot dan akhirnya si turis bule mengalah dengan susah-payah melafalkan kata “Ibrahim”. Untunglah nama saya kemudian tidak dipanggilnya “Salom”. Dan, untungnya lagi, teman-teman sekelas waktu itu tidak ada yang bernama Nuh, Musa, Daud, Yusuf, Ya’kub atau Ayub. Jika ada, tentu akan terjadi perdebatan yang lebih panjang hanya karena perbedaan pelafalan dan budaya. Karena saya yakin mereka tentu tidak terima dipanggil Noah, Moses, David, Joseph, Jacob atau Job.

Juga terkait dengan budaya, harus jujur diakui, Belanda adalah yang berjasa memperkenalkan budaya tidur menggunakan guling kepada bangsa kita. Konon, karena tidak membawa istri dalam perjalanan dinas ke Hindia Belanda (nama Indonesia dulu), para pejabat Belanda menciptakan guling sebagai teman tidur. Belanda juga yang memperkenalkan guling ke Eropa dan Amerika. Hal tersebut diabadikan dengan adanya istilah “dutchwife”, selain kata “bolster”, untuk “guling”. Orang Palembang menyebutnya Bini Blando. Tidur dengan guling? Inilah budaya yang paling khas Indonesia. Tak ada di manapun di dunia.Bantal guling

Jadi jangan kaget kalau seorang kawan bercerita kepada Anda,”Gue punya bini Belanda nih!”

Bisa jadi ia hanya ingin memamerkan guling barunya.
Tidur dengan guling - - hanya ada di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: