Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Jablay dan Eufemisme

Angkot warna telor asin berhenti tepat di bawah sebuah flyover, jalan lintas layang. Persis di seberang sebuah mall di bilangan Jakarta Selatan. Aku bergegas turun setelah mengulurkan dua lembar ribuan. Kemudian menyeberangi jalan.

Ya, Sabtu itu aku menuju sebuah mall yang telah meraksasa dengan keberadaan sebuah supermarket asal Amerika Serikat. Deretan bilik ATM-nya pun lengkap dari berbagai bank nasional. Termasuk bank tempat salah satu pundiku.

Hoi! Jablay!Jablay!”

Pelacur alias jablay alias gongli alias WTS alias PSK

“Godain kita dong!”

“Ah, sombong lu. Mau gue bayar berapa sih?!”

Aku tersadar. Jelas seruan-seruan iseng itu bukan untukku. Pakaianku cukup sopan. Kaus casual dan blue jeans. Plus sandal gunung. Maklum, saat itu aku masih pekerja lepas. Bukan orang kantoran.

Tapi pemandangan di depanku memang menggiurkan. Tubuh putih mengkal dengan kaus ketat sebatas pusar dan nyaris tanpa lengan. Jaket mininya pun tak kuasa menutupi bagian tubuhnya yang menonjol menantang.

Tak heran tiga remaja laki-laki tanggung menarik-narik lengan gadis belasan tahun berambut mayang itu. Ia meronta, memaki lantas berlari-lari menjauh. Tiga remaja kurang ajar itu tertawa-tawa senang. Mata mereka jalang melihat megal-megol pinggul montok dengan sebagian celana dalam yang mencuat keluar seakan berteriak,”Hey, ini aku lho!”

“Dasar jablay!” seru mereka sambil kembali nongkrong di depan gerbang mall. Di antara deretan gerobak kaki lima penjual penganan. Di antara bisingnya derit kereta yang melintas di dekat stasiun.

Barangkali gadis manis itu salah satu dari sekian banyak perempuan penjaja cinta yang sering berkeliaran di sekitar mall terutama pada sore dan malam hari. Mall yang satu ini konon salah satu dari dua mall yang santer disebut-sebut sebagai pusat pekcun terbesar di wilayah Jakarta Selatan.

Ya, pekcun. Itu istilah tahun 90-an. Ada juga yang menyebutnya ayam. Kini lebih populer dengan sebutan ‘jablay‘ alias ‘jarang dibelai’ (padahal mereka justru sering dibelai bahkan lebih!). Sebuah istilah slank yang populer seiring larisnya film Mendadak Dangdut yang dibintangi Titi Kamal pada 2007.

Tikam—akronim gaul dari nama si aktris sexy tersebut—berperan sebagai penyanyi pop masyhur yang menyamar sebagai penyanyi dangdut tarkam (tarikan kampung) ketika terpaksa buron karena diduga sebagai pengedar narkoba.

Lai…lai..Panggil aku si jablay. Abang jarang pulang aku jarang dibelai,” senandung Tikam dengan ekspresi datar dan cengkok seadanya. Sepertinya artis-artis organ tunggal di sebuah studio tarkam di Kampung Bahari, Tanjung Priok—persis di depan rumah seorang kawan–bisa menyanyikannya dengan lebih asyik.

Akting Tikam pun kalah dengan akting Kinaryosih yang berperan sebagai kakak sekaligus manajernya. Untung saja ia terselamatkan dengan fisiknya yang—kata sang kawan— napsuin dan lirik lagu gubahan Monty Tiwa yang menggelitik tersebut.

Tapi barangkali juga si gadis itu hanya sekadar senang berbaju sexy yang memamerkan keindahannya—sebagaimana trend mode saat ini–yang konon merupakan “naluri alamiah perempuan”. Yang jelas apapun motifnya, bagi laki-laki, pemandangan yang tersuguh sama saja. Entahlah jika ada stiker atau label pada punggung si gadis bertuliskan,”AKU BUKAN JABLAY”. Mungkin dengan demikian baru jelas. Setidaknya jelas-jelas menggelikan.

Yang pasang label itu justru bukan si gadis mengkal. Tapi seorang pengamen remaja di sebuah bus kota yang membawaku selepas dari bilik ATM ke tempat pameran buku. Pada bagian depan kaus hitamnya tertulis dengan font besar JABLAY ONLY. Di bawahnya ada gambar seorang perempuan bugil duduk bersimpuh seraya menyisir rambutnya dengan tangan dan kepalanya miring ke kanan. Pose yang seronok.

Dalam sejarah negeri ini berkeliaran istilah-istilah untuk profesi perempuan penjaja cinta ini dari zaman ke zaman: jablay, gongli (bagong lieur), bispak (bisa dipake), ayam, pekcun, lonte, cabo (konon dari ca bau kan), Salome (satu lobang rame-rame), pelacur, kupu-kupu malam sampai WTS ( Wanita Tuna Susila).

Eufemisme yang terakhir ini pun karena dianggap “kasar” diperhalus lagi menjadi PSK alias Pekerja Seks Komersial. Aku pernah kena tegur salah satu dosen dalam mata kuliah Sosiologi Kesehatan ketika menyebut-nyebut istilah WTS dalam presentasiku. Katanya istilah tersebut “tidak up to date dan tidak berempati pada nasib mereka”.

Ah, eufemisme. Ia menjajah benak sebagian besar kita.

“Rumah tidak dikunci?” tanya salah seorang teman kakak perempuanku. Minggu siang itu kakak perempuanku dan beberapa rekannya berangkat kondangan. Aku asyik mengejar-ngejar makna dalam sebuah teks. Mataku berpindah-pindah dari teks, kamus dan layar komputer. Ditemani lantunan serak syahdu Opick dari speaker komputer.

“Ada Salam yang nungguin,” jawab kakakku.

“O, ada penunggunya! Serem dong!” celetuk salah seorang di antara mereka. Para perempuan itu tertawa cekikikan. Aku tersenyum seraya mengunci pintu depan.

Ya, kata “penunggu” kadung diasosiasikan dengan si Mbah Jambrong atau sederet dedemit makhluk halus yang menghuni sebuah tempat yang dianggap keramat.

Pernah seorang klien terbahak-bahak ketika memeriksa hasil terjemahanku. Entah mengapa aku tak mengerti. Baru kemudian, setelah tawanya usai, ia menyoal sebuah istilah.

“Mas, ini tidak usah diterjemahkan. Biarkan saja,” ujarnya seraya menunjuk kata software. Kebetulan naskah terjemahan yang aku kerjakan mengenai manual produk komputer terbaru.

“Kenapa, Pak? ‘Kan sudah ada bahasa Indonesia bakunya?”

“Tidak kenapa-kenapa sih,” balasnya sambil garuk-garuk kepala. “Tapi saya jadi ingat punyanya istri saya!” Ia melirik penuh arti. Lalu tenggelam dalam gelak tawanya.

Masya Allah, sedemikian asosiatifnyakah kata itu?

Dalam naskah tersebut, software aku terjemahkan menjadi perangkat lunak.

Akhirnya didapat suatu istilah hasil kompromi–karena aku sedapat mungkin menjunjung prinsip indigenasi (pribumisasi) bahasa—yakni piranti lunak. Demi menghindarkan asosiasi negatif, dalihnya. Entahlah apakah sedemikian ngeresnya benak para konsumen produk komputer tersebut.

Ah, kata. Suatu kata kadang lekat dengan pemaknaan tertentu. Ketika santer disebut-sebut istilah teroris barangkali dalam benak sebagian kita langsung tertayang citra seorang berjenggot tebal, sorot mata tajam dan menyandang nama berbau Arab atau Islam seperti yang banyak diberitakan di media massa.

Padahal di sisi lain seseorang berpenampilan klimis dan tanpa jenggot semacam George Bush Jr, Barrack Obama atau para koruptor di Indonesia juga dapat didapuk sebagai teroris dalam perspektif korban akibat dampak kebijakan dan ulahnya.

Kata dan makna sejatinya adalah saudara kembar, bisa berdamai atau bahkan bertengkar. Tak ayal Soetardji Calzoem Bachri—yang sempat dijuluki Presiden Penyair Indonesia pada era 70an—dalam kredo sastranya mengajak “membebaskan kata dari makna”. Membebaskan kata hingga sebatas kata saja, tanpa interpretasi lain.Soetardji in action

Tapi mungkinkah jablay bisa dibatasi tafsirannya hingga sebatas “perempuan kesepian yang rindu belaian laki-laki” saja seperti makna aslinya dalam lagu yang dipopulerkan Titi Kamal tersebut? Jablay ya jablay saja. Mungkinkah?

“Kata ibarat tanah lempung. Ia dapat dibentuk sesuka hati.” (Pramoedya Ananta Toer)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: