Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Ana, Antum dan Syukron

Ana”, bukan nama orang, artinya adalah “saya” atau “aku”. Kata sapaan dalam bahasa Arab ini banyak digunakan di kalangan pesantren atau aktivis Islam (harokah). Sementara orang Betawi membahasakannya “ane”, sebuah sapaan yang halus daripada “gue”. Di kali lain, digunakan juga “aye”. Biasanya digunakan untuk memberikan penghormatan kepada teman bicara atau kepada orang yang lebih dihormati atau lebih tua.

Nah, soal “ana” ini, salah seorang kawan saya, seorang Muslimah berjilbab yang aktivis Rohani Islam, (Rohis) sewaktu SMA kerap membahasakan diri sebagai “ana”.

“Ada Nurul tidak?” tanya saya kepada rekan sekelasnya. Saat itu saya hendak mengembalikan buku Fisika kepada kawan saya itu.

Anehnya, rekan sekelasnya itu tampak kebingungan. “Nurul? Yang mana?”

“Nurul Fadhliyah, yang pakai jilbab,” saya merinci deskripsi sang kawan. Sang kawan memang satu-satunya yang berjilbab di kelasnya. Kami berbeda kelas di jurusan A1 (Fisika).

Baru jelas rupanya. “O, si Ana! Itu ada di kelas.”

Rupanya nama “Ana” lebih populer daripada nama aslinya. Sampai sekarang sang kawan masih dipanggil “Ana”. Atau, sebagian cukup berkompromi, “Nurul Ana”.

Nah, nasib “antum” tak jauh beda. FYI, “antum” adalah sapaan halus untuk “kamu” atau “Anda”. Orang Betawi memakai “ente”, dari kata “anta” yakni orang kedua tunggal. Sementara “antum” adalah untuk orang kedua jamak.

Jamak (bentuk plural) dalam pengertian bahasa Arab adalah lebih dari dua orang. Agak berbeda dengan bahasa Indonesia atau Inggris yang memahami jamak sebagai lebih dari satu orang.

Antum” sering digunakan untuk sapaan halus dan akrab. Analoginya, sama seperti kebiasaan orang Indonesia menyebut “kami” sebagai pengganti “saya” — meskipun sang pembicara hanya satu orang — agar terdengar lebih sopan atau halus.

Sewaktu ramai kasus penangkapan tersangka teroris Muhammad Jibril (pemimpin redaksi situs arrahmah.com), ada wawancara live via telepon di petang hari antara presenter salah satu TV swasta dan si tersangka pascapengumuman polisi bahwa Muhammad Jibril masuk DPO (Daftar Pencarian Orang) yang dikeluarkan Polri.

Sepanjang wawancara, sang presenter ber-”antum” ria dengan M. Jibriel, seakan mereka kawan lama dalam pergerakan Islam. Barangkali maksudnya agar lebih akrab dan ada chemistry dengan yang diwawancarai — yang memang banyak menggunakan istilah-istilah khos seperti antum, harokah atau ikhwan.

“Gimana perasaan antum?” dsb…Demikianlah wawancara tersebut berlangsung.

Hingga, saat menutup wawancara, si presenter pun mengatakan,”Terima kasih antum.”

Ah, serasa “antum” itu nama orang saja…

Sementara di sebuah milis, seorang kawan berbagi cerita mengenai pengalaman rekannya yang menerima sms tentang sebuah kabar demonstrasi.

Di ujung sms, si pengirim berterima kasih dengan ucapan “syukron”.

Syukron” sendiri adalah ucapan terima kasih yang umum. Bentuk yang lebih halus — karena berisi doa — adalah “jazakallah” (ditujukan kepada lelaki) atau “jazakillah” (ditujukan kepada perempuan) atau “jazakumullah” (ditujukan kepada banyak orang) yang artinya “semoga Allah yang membalas (kebaikanmu).”

Lebih lengkapnya, jazakallah khoirol jaza’, semoga Allah membalas (kebaikanmu) dengan sebaik-baiknya balasan, atau cukup jazakallah khoir.

Back to laptop, si wartawati yang tertarik pada kabar itu ingin menindaklanjutinya. Ia pun menelpon nomor si pengirim dan membuka percakapan dengan, “Pak Syukron, saya dari….

Kesimpulannya, Kanjeng Nabi Muhammad benar 100 persen ketika berpesan,”Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan bahasa kaumnya.”Sesuaikan pembicaraan dengan bahasa kaum atau audiens yang dihadapi

4 Komentar

  1. Citra W. Hapsari

    yappp,..
    dimana bumi dipijak disitu langit dijinjing,..
    menyenangkan orang dgn memanggil nama kesukaannya lebih afdho drpd islamic hanya sebatas sapaan,.

    • Betul sekali, Mbak. Terima kasih sudah singgah. Salam kenal:).

  2. Hmmmm…
    Ana boleh belajar ke Antum
    Biar bisa beranjangkata stadz?!?

    • Hehe..kita saling belajar sajalah, Pak Razak:D. Silakan beranjangkata ke blog ini atau ke FB saya. Syukur2 jika kelak bisa beranjangsana. Amin!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: