Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Salahkah Menjadi Epigon?

“Yang paling penting bagi setiap pengarang ialah jiwanya sendiri…”
(John Cowper Powys)

Yang namanya ekor letaknya selalu di belakang. Ia membuntuti sesuatu yang berada di depannya. Dalam kepenulisan, orang yang latah meniru-niru gaya tulisan seorang penulis lazim disebut epigon. Sebagaimana ekor yang takkan pernah mendahului kepala, seorang epigon tidak akan pernah berhasil mengungguli penulis yang ditirunya. Lantas salahkah menjadi epigon? Salahkah bila kita meniru gaya bertutur JK Rowling atau gaya kontemplatif Goenawan Mohammad?

Penulis epigon adalah "bayi" yang perlu menjadi dewasaPrinsip belajar yang paling primitif adalah mengamati dan meniru. Bayi manusia belajar berbicara dengan mengamati dan menirukan suara-suara di sekitarnya terlepas dari apapun penafsiran manusia dewasa akan hasil peniruan sang bayi. Demikian juga dalam kepenulisan.

Prinsip copy the master adalah kelaziman—sebagian buku panduan menulis bahkan menyebutnya “kewajiban”—dalam tahap awal pembelajaran menulis. Sebagian penulis besar Indonesia yang dicatat Pamusuk Eneste dalam serial buku Proses Kreatif—dari A.A Navis sampai Arswendo Atmowiloto—bahkan menerjemahkan prinsip tersebut dengan menyalin atau mengetik ulang tulisan-tulisan penulis idola mereka untuk kemudian dibaca dan dibedah isi perutnya.

Tak heran Pramoedya Ananta Toer—satu-satunya kandidat “abadi” penerima hadiah Nobel Sastra dari Indonesia—tak malu mengakui bahwa ia terpengaruh dengan gaya John Steinbeck. John Steinbeck adalah pengarang peraih Nobel Sastra kelahiran Amerika Serikat yang digjaya dengan novel-novel realisnya seperti Of Mice and Man (diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Pram menjadi Manusia dan Tikus), The Grapes of Wrath dan Pearl. Atau seorang Achdiat Kartamihardja dengan roman legendaris Atheis yang jujur mengakui mempelajari teknik menulis pengarang Perancis Victor Hugo yang masyhur dengan roman Les Miserables.

Bagi seorang penulis, menjadi epigon adalah seperti menjadi seorang bayi. Ia butuh mengamati dan ia butuh asupan bergizi. Dalam Sastra dan Tekniknya (1997), menurut Mochtar Lubis, tiga perangkat wajib seorang pengarang atau penulis adalah observasi, imajinasi dan logika. Dan ASI bagi sang “bayi” penulis adalah buku. Seperti ucapan Mark Twain, “The man who does not read good books has no advantage over the man who cannot read them.” Orang yang tidak membaca buku-buku bagus tak ada bedanya dengan orang yang tidak bisa membaca. Sementara Samuel Johnson (1709-1784), seorang penulis berkebangsaan Inggris mengatakan,”Sebagian besar waktu seorang penulis dihabiskan untuk membaca agar bisa menulis. Ia perlu membuka halaman separuh isi perpustakaan untuk menciptakan sebuah buku.”

Sebagai “bayi”, meniru atau mengimitasi adalah perlu. Tak perlu malu menuruti George Orwell, seorang penulis Inggris yang bernama asli Eric Arthur Blair dan populer dengan novel 1984 dan Animal Farm, yang menyarankan agar kata-kata dalam tulisan kita hendaknya pendek-pendek dan lugas agar pembaca terang dengan maksudnya. Karena, lanjutnya, musuh besar bahasa yang jernih adalah ketidaktulusan. Ketika ada jurang antara maksud sesungguhnya dan apa yang diungkapkannya, secara naluriah orang berpaling pada kata-kata panjang dan ungkapan yang lemah, bagaikan cumi-cumi menyemburkan tintanya. Intinya, kalimat-kalimat panjang sebenarnya menandakan sang penulis tidak terbuka dalam menyampaikan maksudnya.

Juga tak perlu sungkan membeo wejangan Ernest Hemmingway—yang piawai dengan diksi yang sederhana namun kuat dan dialog-dialog yang tajam seperti dalam beberapa karyanya yakni For Whom The Bells Toll dan The Oldman dan The Sea—bahwa cara terbaik untuk mengetahui apa sesungguhnya perasaan kita adalah dengan menuliskan perasaan tersebut.

Namun hidup manusia tak sekadar dan tak layak terhenti pada masa bayi atau kanak-kanak. Kisah manusia yang selamanya kanak-kanak hanya ada dalam dongeng Peter Pan dengan peri Tinker Bell-nya. “Bayi” butuh menjadi dewasa. Ia butuh menjadi diri sendiri. Para penulis atau pengarang besar meraksasa karena mereka kreatif membebaskan diri dari meniru gaya para penulis terdahulu yang dikagumi.

Karena, ujar Mochtar Lubis, imitasi bagaimanapun juga baiknya akan tetap tinggal imitasi. Dan gaya pengarang tergantung sebagian besar dari watak pengarang itu sendiri. Ia haruslah menumbuhkan gaya mengarang sendiri, yang sesuai dengan watak, emosi dan dengan pertimbangan serta apresiasi bahasanya sendiri.

Atau dalam bahasa John Cowper Powys, “Yang penting bagi setiap pengarang ialah jiwanya sendiri; apa yang dimilikinya dalam kepalanya, dalam alat-alat panca inderanya, dalam watak dan pribadinya, dalam darah dan temperamennya. ”

Alhasil, tulis Pramoedya Ananta Toer dalam Jejak Langkah yang merupakan salah satu roman dalam Tetralogi Pulau Buru, sesederhana apapun cerita yang dibuat, ia mewakili pribadi individu atau bahkan bangsanya.

Itulah yang menjadi keunikan setiap pengarang atau penulis. Karenanya gaya menulis tidak bisa diajarkan. Ia hanya bisa dipelajari dan ditiru. Dan tiada jalan pintas untuk mendapatkan gaya menulis tersebut. Persis seperti yang diungkapkan William Faulkner dalam sebuah wawancara bahwa tidak ada jalan mekanis untuk mengarang. “Pengarang muda akan bodoh untuk mengikuti suatu teori. Ajar dirimu dengan kesalahan-kesalahan yang engkau buat sendiri. Orang hanya belajar dengan membuat kesalahan.”

Jadi, salahkah menjadi epigon?

Maybe yes, maybe no.

Ya, epigon adalah salah apabila kita melakukan kesalahan sebagaimana salahnya bayi yang menolak menjadi dewasa. Ia selamanya kerdil dalam bayang-bayang orang-orang besar. Seperti kata Mochtar Lubis, lagi-lagi dalam Sastra dan Tekniknya, bahwa orang hanya menulis apabila ada sesuatu dalam jiwanya yang mendesak-desak, memaksanya mengambil alat tulis dan menulis. Jika orang mengarang karena ikut-ikutan atau sekadar meniru karena ingin terkenal atau masyhur maka orang yang demikian pastilah dari semula tidak akan berhasil menjadi pengarang. Sang epigon primitif ini tak akan pernah mengungguli para pengarang aslinya.

Tidak, epigon tidak salah apabila kita memperlakukan masa peniruan yang entah sekian tahun lamanya itu sekadar sebagai masa pendadaran, masa awal pembelajaran yang tentu saja waktunya pun tidak mungkin selamanya. Anggap saja fase menjadi epigon itu sekadar fase ketika kita mulai menaiki bahu-bahu raksasa agar kita dapat melihat dunia dengan sudut pandang yang lebih luas. Hingga akhirnya tibalah saatnya tumbuh sayap-sayap keberanian kita untuk melompat dan terbang lebih tinggi. Dan bebaslah kita, seperti bebasnya ekor cecak yang masih sanggup bergerak-gerak sendiri ketika terputus dari tubuh inangnya. Jika kita berani mandiri seperti—sebuah contoh yang sangat minimalis–ekor cecak maka kita adalah para epigon kreatif yang berhak punya sayap-sayap keberanian sebagaimana berhaknya bayi tumbuh gigi sebagai tanda berjalannya proses kedewasaan yang lumrah.

Sayap-sayap keberanian itu sendiri tak mungkin tumbuh tanpa–dalam formula untuk menjadi pengarang atau penulis yang baik menurut William Faulkner—99% disiplin dan 99% kerja. “Jangan sibuk berusaha menjadi lebih baik dari para pengarang yang lebih dahulu tapi cobalah menjadi lebih baik dari dirimu sendiri,” pesan sang sastrawan peraih Nobel Sastra dari Perancis ini.

4 Komentar

  1. Aku sedang menjadi epigonmu, mas.😀

    • Terima kasih, Pak:). Sesama penerjemah dan penulis memang harus saling berguru ya…

  2. wah, artikel-artikel di sini, sangat menarik. Kebetulan saya sendiri juga baru belajar sastra dan mencoba menyalurkan pemahaman saya dalam http://www.kritiksastraflpmalang.blogspot.com

    Saya pingin banget tukeran link, jadi kalau sewaktu-waktu mau saling mengunjungi enak. Lagipula sepertinya Mas jauh lebih expert jadi bisa memberikan komentar revisi untuk blog sastra saya yang sangat awam ini (secara adminnya juga awam hehehe) Tapi btw kalau mau follow blog wordpress itu harus via email ya? Apa tidak bisa hanya menampilkan postingan blog ini di dashboard saya seperti kalau saya follow blogspot lainnya? (takut kebanjiran e-mail heheheh..)

    Mohon maaf kalau ada komentar yang menyinggung. Overall this is a nice blog with so many nice articles. I’ll visit you again later

    • Terima kasih ya atas apresiasinya. Untuk berlangganan komentar atau postingan di blog ini (gratis tentunya!), cukup klik fitur “BERLANGGANAN” di laman muka blog ini, dan masukkan alamat email Anda, dan klik SIGN-UP. Jadi deh kita berteman,hehe…

      Jangan takut kebanjiran email,karena postingan saya toh tak sederas hujan bulan November:D. Lha wong ini aja lama balas emailnya.

      Insya Allah, kita saling berbagi saja ya. Itu akan lebih enak dan tidak kaku nantinya. Karena pada dasarnya kita semua guru, dalam pengertian apapun dan tingkatan apapun.

      Tabik,

      Nursalam AR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: