Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

KRL, Yahudi dan Kambing

Kondisi KRL Ekonomi di Jakarta, IndonesiaSeperti biasa, pagi itu, sebagai pengguna KTB (Kartu Tanda Berlangganan) Ekonomi AC, saya naik KRL Eko AC jurusan Depok-Tanah Abang yang mampir di Stasiun Lenteng Agung sekitar pukul 07.30 WIB. Saya sendiri turun di Stasiun Sudirman (2 stasiun sebelum Stasiun Tanah Abang), persis di seberang gedung kantor.

Nampaknya pagi ini kondisi sudah “normal”. Jadwal kedatangan KRL tak ngaret lagi dan juga di dalam kereta tidak super duper puadet seperti seminggu sebelumnya.

Seminggu sebelumnya, jangankan untuk berdiri nyaman, untuk masuk saja, harus berjuang keras (desak dan dorong dengan badan dan pantat). Selain karena volume penumpang yang mendadak melonjak (konon karena banyak KRL Ekonomi Reguler yang telat atau “hilang”) juga karena mendadak banyak egoiser (baca: penumpang egois) di Ekonomi AC, yang malas bergeser dari pintu hingga menghambat arus masuk dan keluar. Meskipun yang bakal naik kalangan perempuan atau ibu hamil (bumil) sekalipun. *prihatin sangat*.

Di dalam kereta, saya banyak bersyukur. Meski kalau dipikir-pikir sebenarnya ini kondisi yang tak lebih baik seperti seminggu sebelumnya. Bukan sama sekali ideal. Saya jadi teringat salah satu humor dalam buku Mati Ketawa Ala Rusia (yang diberi kata pengantar oleh mendiang Gus Dur) terbitan Gramedia tahun 1980-an. Humor itu berkisah tentang seorang Yahudi Rusia yang datang mengeluh ke seorang terapis karena merasa rumahnya tak nyaman, dan ia tak betah sama sekali.

Pada kunjungan pertama, sang terapis memintanya memasukkan 1 ekor kambing ke rumahnya, dan memintanya datang seminggu kemudian. Meski heran, si Yahudi menuruti dan memelihara kambing itu dalam rumahnya.

Seminggu kemudian, ketika ia kembali datang, sang terapis bertanya,”Bagaimana kondisi rumahmu?”

“Parah. Rumah saya berantakan. Bagaimana ini??” jawab si Yahudi muram.

Sang terapis tersenyum, dan kembali menyarankan si Yahudi untuk memasukkan 2 ekor kambing lagi ke dalam rumah, dan kembali memintanya datang seminggu kemudian. Lagi-lagi si Yahudi, meski melotot, tetap menurut.

Seminggu berlalu. Sang terapis kembali bertanya,”Dengan 3 ekor kambing di rumahmu, bagaimana kondisi rumahmu?”

“Duh, Pak, ampun deh,” si Yahudi terlihat nelangsa.” Rumah saya amburadul,lebih parah dari kapal pecah. Saya sudah tak tahan lagi.”

“Baiklah, kalau begitu masukkan lagi 2 ekor kambing. Jangan lupa seminggu lagi kembali ke sini ya,” pesan sang terapis. Si Yahudi nyaris mati pingsan mendengar advis “gila” terapisnya. Namun, ia kembali menurut,meski dengan bersungut-sungut.

Saat kunjungan ketiga, seminggu kemudian, si Yahudi meratap bersujud di depan sang terapis. “Tolong,Pak, rumah saya sudah seperti neraka! Lima ekor kambing itu benar-benar membuat saya gila!!Tolonglah!”

“Baiklah. Keluarkan 3 ekor kambing dari rumahmu,” pesan sang terapis. “Kita lihat perkembangannya seminggu lagi.”

Dengan senang hati, si Yahudi menurutinya.

Seminggu kemudian, saat sang terapis menanyakan kondisinya, si Yahudi mulai menjawab dengan tersenyum,”Membaik, Pak. Tidak separah sebelumnya. Saya bisa lebih tenang sekarang.”

Kemudian sang terapis meminta si Yahudi mengeluarkan 2 kambing yang tersisa.

Seminggu kemudian, sambil bersiul-siul saat ditanya, si Yahudi menjawab,”LUAR BIASA! Kambing-kambing itu tak ada lagi sekarang. Sekarang rumah saya bagai surga! Terima kasih,Pak!”

Si Yahudi senang, sang terapis pun senang. Namun, apakah kondisi sebenarnya berubah? Yang berubah, dan mesti berubah, adalah respons atau tanggapan atau sikap mental kita terhadap suatu masalah yang secara wujud sebenarnya sama saja.

Jakarta, 13 April 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: