Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Tentang Nama: Dari Evie Tamala Hingga Baladewa

William ShakespeareNama merupakan persoalan penting. Meski William Shakespeare mengatakan, “What’s in the name, a rose is a rose“, apalah artinya sebuah nama, mawar tetaplah mawar (apapun namanya) yang tetap harum mewangi. Tetap saja seorang penyanyi kesohor, Reza Arta Mevia, mengubah namanya yang terlanjur kondang tersebut pada 27 Maret 2007.

Menurutnya, seorang bijak mengatakan kepadanya untuk mengganti namanya karena namanya yang sekarang beraura negatif. Arta Mevia, dalam bahasa Latin, berarti “monumen kesedihan”. Maka nama mantan istri pertama (alm) Adjie Massaid tersebut berganti menjadi Rezza Arta Mevira, yang konon diyakini lebih bermakna positif. Mevira, juga dalam bahasa Latin, berarti “kebahagiaan”. Rezza? Entahlah, tak disebutkan maknanya, hanya saja demikian anjuran si orang bijak.

Terlepas apakah itu anjuran orang bijak atau orang “pinter”, perkara nama konon bisa membawa hoki. Annisa Tribanowati, juga selebritas, mengganti nama jadi Anisa Trihapsari. Juga karena anjuran orang yang bilang bahwa Banowati adalah nama tokoh wayang perempuan yang dikenal genit dan jalang.

Intinya, nama itu dikhawatirkan beraura negatif dan tidak membawa keberuntungan. Entah percaya atau tidak, juga barangkali karena saat itu ia baru saja “tidak beruntung” (baca: bercerai dari suaminya, artis Adjie Pangestu), Anisa pun menggaet nama “Trihapsari” yang diyakini lebih membawa hoki. Beberapa selebritas lain juga punya nama panggung yang berbeda dari nama aslinya. Ainurrokhimah (mata yang penuh kasih sayang-dalam bahasa Arab) berubah jadi “Inul” dan seorang qori’ah (wanita pembaca Qur’an) asal Tasikmalaya pun menjelma menjadi penyanyi dangdut tersohor bernama “Evie Tamala”, yang merupakan akronim dari “Evie dari (Ta)sik(ma)(la)ya”.

Evie Tamala

Sewaktu baru lahir, orang tua saya sempat memberi saya nama “Jaelani”. Barangkali jika tetap dipertahankan mungkin sekarang panggilan saya “Jay”, bukan “Salam”. Tapi karena kakak laki-laki tertua saya heboh mengkritik dan meledek memanggil bayi mungil ini dengan panggilan “Kong Jelan”, seperti nama seorang kakek (engkong, dalam bahasa Betawi) renta di kampung kami, ayah pun berubah pikiran. Dipilihlah nama “Nursalam”, cahaya keselamatan atau kesejahteraan dalam bahasa Arab. Alhamdulillah. Karena salah seorang tetangga yang (juga) bernama “Jaelani'” dipanggil “Jejen”. Nama yang baginya sendiri bikin malu ketika di kantor. Kampungan, keluhnya. Yah, saya bayangkan kelak saat ia tua dipanggillah ia “Kong Jejen”. Jadi komplitlah sudah di kampung saya ada Kong Jelan dan Kong Jejen.

Kakak laki-laki kedua saya juga dulunya diberi nama “Jamhuri”. Tapi lagi-lagi karena ledekan sang kakak pertama—yang menyebutnya “Jambu Buri”–ia pun diberi nama ulang menjadi “Ahmad Satiri”, memodifikasi nama seorang ulama Betawi kenamaan saat itu, K.H. Satiri Ahmad, yang memimpin perguruan islam Ath-Thahiriyah di Kampung Melayu, Jakarta Selatan.

Sang kakak tertua sendiri bernama Khaeruddin, yang artinya dalam bahasa Arab ‘agama yang baik’. Sementara itu selain kedua kakak saya tersebut orang tua kami, mungkin untuk menyeragamkan, memberi nama yang berawalan sama untuk keempat anaknya yang lain: Nurseha (cahaya kesehatan), Nurlaela (cahaya malam), Nursalam dan Nurzaki (cahaya kepandaian). Meski agak merepotkan sewaktu satu keluarga masih utuh dan berkumpul dalam satu rumah jika ada panggilan telepon, misalnya.

“Mau bicara dengan siapa?”

“Dengan Nur.”

“Nur yang mana ya?”

“Yang mana ya? Ya, Mbak Nur. Ada nggak?”

“Yang perempuan ada dua. Yang mana?”

“Mm..Nurhayati.”

“Wah, nggak ada tuh. Salah sambung!”

Bayangkan lelahnya sang penerima telepon juga sang penelepon.

Lain lagi seorang teman SD saya—juga orang Betawi asli–bernama Safar, diambil dari nama bulan Islam. Saya tidak tahu siapa nama lengkapnya. Yang jelas saat masuk SD ia pun berganti nama jadi “Sapardi”. Konon agar lebih berbau Jawa.

Era 80-an saat rezim Soeharto yang notabene orang Jawa berkuasa, posisi etnis minoritas seperti Betawi memang terpinggirkan dalam pemerintahan dan birokrasi. Saat itu sudah rahasia umum jika mau cepat diterima kerja atau jadi pegawai negeri, kita harus menggunakan nama berbau Jawa. Alhasil, ada beberapa orang kawan Betawi yang namanya Subarjo, Bejo atau Tono. Padahal kedua orang tuanya berdarah asli Betawi dan brojol di tanah Pitung ini.

Nama adalah doa, demikian sabda Kanjeng Rasulullah SAW. Setiap orang kelak akan dipanggil dengan namanya di dunia, lanjutnya dalam salah satu hadis. Jadi setiapkali orang memanggil nama seseorang itu adalah doa bagi sang empu nama. Jadi jika Anda memanggil nama seorang kawan bernama Sabar, Insya Allah, itu juga doa baginya agar senantiasa sabar.

Maka dalam konteks keyakinan budaya Timur–yang sarat filosofi dan simbolisme–dan etos keagamaan, proses pemberian maupun penggantian nama menjadi hal penting tersendiri. Dalam budaya Jawa, mungkin juga dalam budaya lain, ada prosesi penyajian bubur merah putih. Saya sempat menikmati manisnya bubur itu saat seorang tetangga saya memutuskan berganti nama. Konon, juga kata orang bijak, namanya “terlalu berat”. Karena faktor keberatan nama itulah, ia sakit-sakitan. Bung Karno pun sebelum menyandang nama yang legendaris tersebut pernah punya nama lain, yakni Kusno.

Dalam bisnis, nama adalah brand (merek), yang perlu dijual dan ditanamkan dalam benak konsumen, kata Hermawan Kartajaya, sang guru marketing. Tak heran penggantian nama lotion anti-nyamuk Sari Puspa menjadi Shoffel memakan biaya milyaran rupiah. Selain memang kepemilikan saham dalam perusahaan itu dikuasai pihak pemodal asing.

Tapi untunglah proses pencarian nama saat ini baik untuk perusahaan atau nama anak dilakukan dengan hati-hati dan tidak sembarangan. Bahkan lewat riset, atau mencari nama anak di buku-buku nama anak yang terdapat di toko-toko buku bagi calon bapak atau ibu yang punya hajat akan nama anak yang Islami, indah dan bermakna.

Orang Betawi dulu, cerita almarhum ayah saya, mencari nama anak dengan merujuk pada kitab suci Qur’an. Bagus niatnya. Tapi kadang salah metodenya. Tidak setiap kata dalam Qur’an dapat dijadikan nama anak yang kelak disandangnya sampai wafat. Alhasil, terjadilah seorang anak dinamai “Mujrimin”. Sampai kini Bang Jerimi (mungkin jika di Barat ia dipanggil “Jeremy”) yang tukang batu itu sedikit malu jika orang mengulik arti namanya. Mujrimin, dalam bahasa Arab, berarti ‘orang-orang penghuni neraka’.

Di zaman terdahulu lagi, bahkan pemberian nama anak sekedar berdasarkan nama benda yang dilihat. Tak ayal ada salah seorang teman yang kakek buyutnya (kumpe‘ dalam bahasa Betawi) bernama “Pengki”. Nama kakeknya kumpe‘–yang konon cikal bakal keluarga Betawi terbesar di Kampung Pengadegan, Jakarta Selatan–alias leluhur saya adalah Goyot. Sebagaimana kebiasaan orang Betawi saat itu yang menyandingkan nama diri dengan nama ayah dengan “bin” atau “binti”–sebagaimana kebiasaan orang Melayu Malaysia–nama lengkapnya adalah “Goyot bin Damping”. Cukup aneh untuk ukuran nama orang sekarang bukan? Namun, tiap zaman memang punya ukuran dan takaran kepatutan masing-masing.

Belajar dari hal tersebut, saya sebagai paman yang baik–karena kerap dimintai bantuan memberi nama untuk keponakan–punya kriteria untuk membuat sebuah nama. Pertama, nama itu harus indah dan bermakna positif. Kedua, nama lengkap itu harus bagus ketika menjadi nama pendek atau panggilan. Ketiga, nama itu harus bisa jadi ‘nama tua’, dengan artian tetap layak bagi sang penyandang nama saat ia sudah jadi kakek atau nenek.

Nah, dari keempat keponakan saya,saya memberikan nama untuk dua orang. Keponakan pertama, dari kakak lelaki nomor dua, saya usulkan diberi nama Rayhan Ramadhani. Rizki (di bulan) Ramadhan. Karena ia lahir di bulan Ramadhan. Kalaupun jadi nama panggilan, ia bakal dipanggil “Ramadhan” atau “Rayhan”. Masih tetap bagus kan? Saat ia tua, masih layaklah ia dipanggil Opa Ramadhan atau Kakek Rayhan. Kini setelah mempertimbangkan usul saya, si anak yang sudah kelas tiga SD diberi nama “Rayhan Wildan Ramadhani”. Rizki anak laki-laki pada bulan Ramadhan. Namun panggilannya–agak meleset dari perkiraan saya–“Wildan”. Ia pun membahasakan dirinya–lebih meleset lagi–“Idan”.

Sementara untuk keponakan perempuan, dari kakak perempuan di atas saya, saya kasih nama “Shabrina Muthmainnah”, kesabaran yang menenangkan. Ia memang lahir prematur, dan setelah lahir pun ia sempat harus menjalani masa perawatan dalam inkubator selama beberapa bulan. Sampai kini ia didiagnosis menderita lemah jantung. Konon akibat sewaktu hamil, ibunya mengalami baby blues dan harus dioperasi usus buntu.Awalnya Muthmainnah diberi nama “Ikrima Izzati”, harga diri yang mulia. Namun karena suatu pertimbangan kakak saya meminta bantuan saya untuk memberikan nama baru buat anak pertamanya itu. Tapi Muthmainnah lebih akrab dipanggil “Imut”, karenanya tubuhnya yang mungil. Meskipun ibunya membiasakan memanggilnya “Muthi”. Seorang bibinya dari pihak keluarga ayahnya memanggilnya “Rina” karena si bibi bernama “Rina”. Untunglah tidak ada pihak keluarga yang lain yang bernama “Shabri”.

Jelas perkara nama bukan perkala sepele. Ialah citra kita dan cerminan harapan kita akan seperti apa ke depan. Termasuk memilih nama perkumpulan atau sapaan sebuah anggota paguyuban, komunitas atau organisasi. Kenapa group band Dewa 19 memilihkan nama “Baladewa” bagi para penggemarnya atau “Sobat Padi” bagi perkumpulan fans Padi? Semuanya, seperti kebiasaan orang Timur, tentu ada makna filosofisnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: