Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Ketika Sahabat Bertanya,”Bolehkah Tidak Menikah Mengikuti Rabi’ah Al-Adawiyah?”

Apa jawabku?

Sahabat, sebagai Muslim, sembahan kita adalah Allah SWT dan kita berpanutan kepada Nabi Muhammad SAW. Jika manusia lain yang dijadikan panutan (ulama sekalipun) akan banyak perdebatan yang timbul. Jika soal tidak menikah, Imam Ahmad bin Hambal dan Ibnu Taimiyah juga tidak sempat menikah. Bukan karena tidak mau, karena kesibukan mengajarkan dan membela Islam saat itu. Imam Ahmad disibukkan dengan perdebatan soal apakah Qur’an itu “makhluk” atau tidak dengan kaum Mu’tazilah, dan Ibnu Taimiyah dengan perjuangan melawan penjajah Tartar.

Memang Rabi’ah Al-Adawiyah, wanita sufi dari Basrah (Irak)  konon memutuskan untuk tidak menikah untuk semata-mata “bercinta” (baca: beribadah) dengan Allah. Bahkan beliau bermunajat kepada Allah agar meminta tubuhnya kelak membesar memenuhi neraka sehingga tak ada manusia yang masuk ke neraka (karena tidak ada tempat lagi). Soal timbangan pahala seseorang, wallahu a’lam. Hanya Allah yang mengetahui kadar takarannya. Sama halnya seperti seorang wanita pelacur yang justru dijamin masuk surga karena menolong mengambilkan air bagi anjing yang kehausan. Atau, dalam derajat yang sama, kisah seorang sufi yang di akhir hayatnya justru bermaksiat yakni berzina dan membunuh karena terlalu asyik-masyuk dan bangga dengan ibadahnya. Sekali lagi, wallahu a’lam. Namun, intinya, jika manusia yang dijadikan standar akan sangat relatif. Karena terlalu banyak variabel. Dan banyak muncul kesimpangsiuran yang merongrong iman seseorang.

Yuk, sebagai Muslim, kita berpegang pada standar yang sama (Allah dan Rasulullah SAW). Bukankah Nabi Muhammad SAW juga terluka ketika berperang, sholat dan menikah seperti manusia normal yang lain? Bahkan beliau melarang beberapa sahabatnya berpuasa tanpa henti dan tidak menikah. Andai Rabi’ah hidup pada zaman yang sama dengan nabi Muhammad niscaya Rabi’ah pun akan diperintahkannya untuk menikah.

Jadi, demi penghormatan kepada Rabi’ah dengan segenap jasanya, mari terima dan akui fakta riwayat hidupnya sebagai fakta historis dan bukan fakta ideologis apalagi teologis (tauhid) yang bersifat mengikat dan harus dipanuti. Ia manusia biasa, bukan Nabi yang ma’shum (bebas dari dosa).

So, Sahabat, riwayat Rabi’ah Al-Adawiyah atau tokoh-tokoh lain yang tidak sejalan dengan sunnah Nabi bukan suatu pembenaran yang cerdas untuk takut menikah atau menghindari menikah.Soal ada jodoh atau tidak, itu urusan yang lain. Yang penting pancangkan niat untuk menikah. Seperti petuah sakti dalam The Secret, “Jika niat sudah dipancangkan maka semesta akan membantu.” Jika sudah bertekad maka bertawakkallah, kata kanjeng Nabi.

Akhir kata, ada kutipan pepatah bahasa Jerman,”Wenn man will, sucht man wege. Wenn nicht will, sucht man gruende.” Jika orang punya kemauan, ia akan selalu cari jalan. Jika tidak punya kemauan, ia akan cari alasan.

9 Komentar

  1. watur

    Yang jelas ikuti saja kanjeng rasul bukan ikuti rabiah

    • Betul, Pak. Rasulullah SAW adalah suri tauladan terbaik. Terima kasih atas kunjungannya:).

  2. Assalamu’alaykum ya Akhi Nursalam,

    Salam kenal dari salah satu teman Bahtera. Darry.

    Setahu saya, Imam Malik itu beristeri lho. Putera beliau ada tiga: Yahya, Muhammad, dan Hammad. Dan setahu saya pula, yang konsisten memperjuangkan–dan tentunya menjadi sibuk–aqidah “Al Qur’an adalah kalam Allah” dalam membendung aqidah Mu’tazilah “Al Qur’an adalah makhluk” adalah Imam Ahmad bin Hanbal.

    Ini ada situs yang memberikan keterangan bahwa Imam Malik memiliki 3 putera. Mungkin saya bisa salah jikalau ada info lain yang lebih sahih dan terpercaya.

    http://www.islamcan.com/cgi-bin/increaseiman/htmlfiles/static/113163876811245.shtml

    • Wah, terima kasih banyak, Mas Darry. Ya,ini info yang sama sekali baru buat saya. Terima kasih banyak. Salam kenal juga.

    • Ah, Anda benar, Mas. Maksud saya, Imam Ahmad bin Hanbal. Saya salah membaca referensi. Terima kasih banyak ya.

  3. Faizal Arifin

    Tulisan yang kritis dan mengingatkan kita untuk kembali kepada Rasulullah dan tidak terlalu terpaku pada ulama yang sebagai manusia biasa (bukan nabi/rasul) memiliki potensi untuk berbuat kesalahan dan dosa. Semoga bermanfaat

    • Amin.

      Terima kasih untuk apresiasinya, Mas Faizal Arifin.

  4. Elya Annazeerah

    maaf, tapi setahu saya Rabi’ah al Adawiyah tidak berkahwin kerana dia sudah tidak mempunyai nafsu untuk berkahwin. bukankah haram berkahwin bagi seseorang yang sudah tidak bernafsu untuk berkahwin kerana dikhuatiri akan menzalimi salah seorang daripada suami atau isteri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: