Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Fakir Missed Call

Menjadi fakir itu tidak enak. Dalam terminologi ilmu fiqh, “fakir” adalah derajat lebih rendah dari “miskin”. Istilah dalam bahasa Indonesia yang biasa kita kenal yakni “fakir miskin” menyimbolkan kondisi kenestapaan seorang insan. Dalam konteks yang lain, kerapkali para ulama besar–sekadar contoh — K.H Abdullah Syafi’i, seorang ulama Betawi pendiri Perguruan Islam Asy-Syafi’iyah dan guru K.H Rahmat Abdullah, sang syaikhut-tarbiyah— membahasakan diri sebagai “Al faqir”, sebagai simbol kerendahan hati.

Fakir Missed Call?

Ah, ini juga tidak enak. Bayangkan sebuah situasi, misalnya, kita mendapat penawaran order bisnis via sms oleh salah satu kolega. Penawaran itu harus dijawab cepat jika tidak alamat disambar pesaing lain. Sementara pulsa terbatas. Dan kita tak cukup bermuka tembok untuk pinjam pulsa orang.Mungkin karena kita terlalu sering “fakir pulsa”. Alhasil, jadilah kita fakir missed-call yang setia. Meski cara ini tak layak direkomendasikan untuk berbisnis.

“Halo?” Terdengar suara kolega di seberang sana. HP pun ditutup. Si fakir missed call berharap sang kolega akan menelepon balik. Tapi kok beliau tak menelepon balik?

Dicoba sekali lagi, dengan menahan malu (jika stoknya masih ada). Tapi lagi-lagi tak ada balasan. Tapi, tunggu dulu, menjerit sebuah sms. Pas dibuka. Isinya: “Maaf, Mas, pulsa saya tiris. Via sms aja ya…”

Aarrgh! Ternyata kolega kita bahkan lebih fakir dari seorang fakir missed call seperti kita.

Seorang teman secara serampangan — seribu maaf kepada Ibu Nisrina Nur Ubay dan Pak Anton Hilman — menerjemahkan “missed call” sebagai “panggilan rindu”. Katanya, “Miss” kan “rindu” dan “call” artinya “panggilan”. Jadi maksudnya “panggilan rindu”. Ah, mohon jangan dituruti ya fatwa sesat tersebut. Karena “missed” bermakna “kekeliruan atau kesalahan”. Atau bentuk negatif dari suatu kata kerja atau kata benda. Seperti halnya kata “misbehave” yang maknanya “berperilaku tidak baik”. Tapi, secara sosiologis, bisa jadi benar. Karena para pecinta yang berkasih-kasihan kadang saking kangennya hingga menjadi fakir missed call bahkan fakir pulsa karena bertelpon-telponan setiap malam.

Dalam perspektif yang lebih canggih, seperti yang pernah diungkapkan Bung Zaim Uchrowi, bahwa penggunaan telepon genggam (telgam) kadang meruyak kehidupan privasi kita. Kita menjadi amat sangat bergantung pada benda temuan abad millenium ini. Hingga kadang kita merasa sangat sengsara ketika kehabisan pulsa atau, lebih parah lagi, kehilangan telgam kita. Sehingga menjadi fakir missed call pun serasa lebih nestapa ketimbang fakir amal. Karena tak jarang kita berboros-boros pulsa sementara banyak kebutuhan hidup orang lain dalam sebulan sama nilainya dengan belanja pulsa kita dalam sepekan. Atau nilai pulsa kita sepekan sama nilainya dengan dua buah buku yang bisa kita sumbangkan untuk program donasi buku amal untuk kalangan dhuafa yang menganggap buku sama mewahnya seperti membeli baju.

Sudahkah kita menghitung-hitungnya? Masalahnya, bukanlah haram untuk memiliki pulsa berlimpah, jika memang sesuai keperluan. Namun, “mubazir pulsa” juga kata yang perlu direnungkan, dan seberapa banyak proporsinya terhadap kontribusi infaq dan shodaqoh kita untuk –bahasa heroiknya– memberantas kemiskinan. Atau dalam bahasa santunnya, “untuk berbagi dengan orang lain”. Bukankah orang terbaik di antaramu adalah orang yang paling bermanfaat untuk orang lain alias yang paling kontributif? The best amongst you is the most contributive one. Demikian kata tokoh dunia yang berdasarkan survei oleh Michael Hart sebagai orang nomor satu berpengaruh di dunia, Nabi Muhammad SAW. Persis di atas Isaac Newton.

“Jika kemiskinan itu berwujud seorang manusia maka akan aku tebas batang lehernya!” fatwa Ali bin Abi Thalib. Jika kita merasa miskin dengan menjadi fakir missed call barangkali patut kita menengok riwayat Kerajaan Bhutan di lereng Himalaya yang menetapkan pencapaian keberhasilan pembangunannya dengan standar Gross Happiness Index (Indeks Kebahagiaan) dan bukan semata dengan indikator-indikator ekonomi klasik semacam Gross National Product atau tingkat pendapatan per tahun. Cukup menarik bukan?

Menjadi fakir missed call memang tidak enak (barangkali lebih karena faktor kebiasaan semata). Tapi juga tidak berdosa. Karena adakalanya belanja pulsa kita justru memakan hak orang lain dalam harta kita sehingga menyebabkan hilangnya keberkahan dalam usaha dan asset kita. Inna lillahi wa inna ilahi raji’un.

Empang Tiga, 28 April 2008

yang sedang merasa berdosa-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: