Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Tuesdays with Morrie:Kita Bagian dari Lautan

Setelah seminggu terlantar tak sempat dibaca, akhirnya dalam dua hari saya berhasil menamatkan buku Tuesdays with Morrie karya Mitch Albom. Buku (versi terjemahan dalam bahasa Indonesia) setebal 200-an halaman ini tuntas saya baca saat perjalanan pulang dan pergi kantor dengan kereta rel listrik (KRL).

Inilah salah satu alasan mengapa saya lebih memilih naik KRL ketimbang moda angkutan umum lainnya. Meski lebih sering tak kebagian tempat duduk, setidaknya kondisi KRL lebih memungkinkan untuk membaca buku atau koran.

Tuesdays with Morrie, yang versi aslinya terbit tahun 1997 dan versi bahasa Indonesia tahun 2001, tergolong buku lama, yang memang sudah lama juga saya penasaran untuk membacanya setelah banyak diperbincangkan kawan-kawan di berbagai komunitas. Ternyata memang benar. Banyak inspirasi hidup dan mutiara hikmah berharga di dalamnya. Tampaknya sang penerjemah, Alex Tri Kantjono  Widodo, sukses mengalihbahasakan buku ini hingga terasa tetap mengalir dan alami. Harga beli buku ini sendiri jauh lebih murah ketimbang lautan filosofi dalam buku yang merupakan catatan kenangan Mitch Albom atas gurunya, Morrie Schwartz, yang wafat karena penyakit Lou Gehrig yang menggerogotinya bertahun-tahun.

Salah satu bagian yang menginspirasi adalah saat Morrie mengisahkan cerita tentang sebuah gelombang kecil di lautan. Berikut kutipan langsung halaman 192-193:

“Kemarin ini aku mendengar sebuah kisah yang bagus,” kata Morrie. Ia memejamkan matanya beberapa saat, maka aku menunggu.

“Baik. Kisah ini tentang sebuah gelombang kecil, yang asyik bermain enjot-enjotan di tengah lautan, naik turun, berayun, seolah-olah tak akan berakhir. Begitu senangnya ia menikmati angin dan udara segar yang bertiup sepoi-sepoi – sampai ketika pada suatu ia menyaksikan gelombang-gelombang lain di depannya, pecah, terhempas berhamburan begitu saja di tepi pantai.

“Ya Tuhan, mengerikan sekali,” kata gelombang itu, yang kini sudah besar. “Lihat! Akan seperti itukah nasibku nanti?”

Sebuah gelombang lain yang berada di dekatnya melihat kemurungan di wajah gelombang yang pertama, maka ia bertanya kepadanya,”Mengapa engkau tampak begitu sedih?”

Gelombang yang pertama menyahut,”Engkau tidak mengerti! Kita semua akan hancur berantakan! Semua gelombang seperti kita akan lenyap tanpa bekas! Tidakkah itu mengerikan?”

Gelombang yang kedua berkata,”Sebaliknya, justru engkau yang belum mengerti. Engkau bukan gelombang, engkau bagian dari lautan…”

Saya terpaku pada bagian ini beberapa menit, merenung. Saya baca lagi hingga tiga kali. Meresapi maknanya hingga ke lubuk hati. Ada yang ngilu di bagian itu. Ya, ngilu. Karena, bagi saya sendiri, ada banyak hal yang ternyata tak tampak seperti yang terlihat. Betapa sesuatu yang menurut kita kacau balau dan suatu kondisi yang tak beraturan – sebagaimana yang dilihat si ombak kecil – ternyata adalah bagian alami dari suatu proses atau bagian yang lebih besar. Bahwa bergulungnya ombak dan pecahnya adalah bagian dari sistem kehidupan laut yang menyatu.

Terkadang kita sangat kuatir dengan suatu kondisi, hingga teramat kuatirnya hingga kita putus asa dan kehilangan harapan bahkan tak lagi mempercayai bahwa harapan itu ada. Di sisi lain, jika kita mau sedikit saja menggeser sudut pandang, ada harapan yang tersembunyi atau kenyataan lain bahwa sebetulnya kekuatiran itu ada hanya karena kita tak memandangnya secara utuh, atau karena kita terlalu terpaku pada sisi mengerikan dari segala sesuatu.

Barangkali sama halnya seperti ketika kita memandang jijik pada ulat yang melata di sekitar kita namun beberapa waktu kemudian kita terpana melihat kupu-kupu indah yang sebenarnya adalah metamorfosis dari si ulat yang menjijikkan itu. Ulat dan kupu-kupu adalah satu kesatuan dari suatu rangkaian proses kehidupan yang diperantarai masa kepompong yang tak ringan. Sama tak ringannya, setidaknya bagi orang yang melihat atau si ombak kecil, tergulung atau pecahnya ombak di lautan.

Everything’s gonna be all right,” kata Akshay Kumar dalam Jumbo, sebuah film kartun anak-anak India tentang seekor gajah cilik yang mencari ayahnya yang hilang dalam perang. Versi Indonesianya,”everything’s gonna be OK,” senandung Bondan Prakoso, mantan penyanyi cilik yang menjelma menjadi rocker muda yang gemilang.

Ya, semuanya akan baik-baik saja, tergantung dari sisi mana kita meletakkan sudut pandang dan harapan kita. Karena kita adalah bagian dari lautan kehidupan yang selalu bergejolak mencari sisi keseimbangan dan keteraturan.

Dukuh Atas, 1 April 2011

– saat gerimis merincis dan mengembun di kaca –

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: