Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Melarung Duka


Saat berangkat kerja hari ini melewati tegalan pohon pisang di sisi Kali Ciliwung menuju halte bus terdekat tampak Kali Ciliwung meluap hingga dua tiga kali dari permukaan normalnya. Air kecoklatan dan berarus deras melimpah hingga hanya sejarak lima meter dari batas jalan beton swadaya warga — tempatku melintas. Sebagian pohon pisang di sempadan kali rebah, daun panjangnya menjuntai dicium air. Di seberang kali, di dataran yang lebih rendah, rumah-rumah warga terendam air sebatas pinggang. Bukan pinggang balita, tapi setidaknya pinggang orang dewasa setinggi 175 cm.

Entah dari mana luapan air ini datang. Kami, penduduk sekitar Kali Ciliwung, biasa menyebutnya “banjir kiriman” — yang tertuju ke limpahan air dari Bogor, hulu Kali Ciliwung. Apapun nama dan sebabnya, aliran deras air ini selalu menuju dari selatan ke utara, menuju Pintu Air Manggarai, singgah di Pintu Air Gambir dekat Istana Merdeka dan berakhir di laut melalui muara Teluk Jakarta. Selalu demikian jika telah tiba waktunya, tanpa ragu, bertenaga dan yakin. Karena ia hanya tunduk pada hukum alam atau sunnatullah yang digariskan penciptanya bahwa ia harus berpindah dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah, dari hulu ke muara.

Barangkali tenaga atau energi yang besar dari kali atau sungai semacam inilah yang menginspirasi seorang Paulo Coelho dalam novel The Alchemist menuliskan perkataannya yang terkenal untuk melarung segala kesedihan yang telah kita tumpahkan pada sebuah kertas di sungai. Sungai akan membawa kertas duka itu jauh, sampai jauh, akhirnya ke laut*. Sejauh itulah, diharapkan, duka akan lenyap dari diri kita.

Andai saja semudah itu cara menghilangkan duka tentu jasa psikolog atau psikiater takkan laku. Karena seringkali kendati kertas duka telah kita larungkan namun kita masih erat menyimpan salinannya di dalam hati kita. Kita baca ulang dengan mengingat-ingatnya. Alangkah meletihkannya, Kawan!

“Dirampok atau hati dilukai sesungguhnya takkan berarti apa-apa, kecuali jika kita terus-menerus mengingatnya,” pesan Eyang Konfusius, sang filsuf asal Tiongkok.

Ah, andai saja kita bisa ikhlas, tentu hidup ini akan lebih mudah. Seikhlas para penghuni bantaran Ciliwung saat buang hajat pagi di tepi kali tercinta. Ikhlas, tak merasa rugi atau terbebani dengan apa yang terlepas dan terlarung…

Sudirman, 26 Agustus 2010

*kutipan dari syair Bengawan Solo karya mendiang Gesang

2 Komentar

  1. apurw

    enak didengar apalagi didendangkan oleh tantowi yahya versi country …

    • Hehe..Iya ya,sampai lagu “Bengawan Solo” terkenal hingga ke Jepang:). Terima kasih komentarnya ya:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: