Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Kontribusi Pemuda: Mitos atau Fakta?

Sebuah pepatah Arab mengatakan mengenai sebuah ciri pemimpin, “Himmatus syabab, hikmatus syukhuh”. Semangat pemuda dan kebijaksanaan orang tua. Itulah gambaran ideal karakter seorang pemimpin. Ia bersemangat berapi-api seperti pemuda dan bijaksana laksana orang tua.

Namun, kita layak mengevaluasi dan berintrospeksi apakah kontribusi pemuda dalam kepemimpinan bangsa yang selama ini didengung-dengungkan – di mana peristiwa Sumpah Pemuda secara kolektif dikenang sebagai tonggak historis – merupakan mitos atau fakta.

Kahlil Gibran berkata, “Kita semuanya terpenjara, namun beberapa di antara kita berada dalam sel berjendela. Dan beberapa lainnya dalam sel tanpa jendela.”

Mitos adalah bagian dari salah satu penjara tersebut. Kendati, dalam konteks kebangsaan, kadang mitos memang diperlukan untuk membangkitkan semangat patriotisme atau bela bangsa. Seperti halnya mitos Al Qaeda dan Osama bin Laden, setidaknya demikian yang diyakini sebagian kritikus, yang dimanipulasi George W. Bush untuk memantik patriotisme bangsa Amerika.

Namun, mitos yang kelewat megah juga acapkali membelenggu dan memanjakan para pengagum yang menganggapnya sebagai hal yang taken for granted, diberikan begitu saja. Padahal realitas keseharian kita membuktikan bahwa there’s no free lunch, tidak ada di dunia ini yang gratis. Semua perlu ikhtiar dan tekad kuat.

Versi resmi catatan sejarah nasional berbicara bahwa pada setiap pergolakan kekuasaan di negeri ini kalangan muda selalu tampil terdepan. Sebut saja mulai dari Dokter Soetomo dari STOVIA, sebuah sekolah dokter Jawa yang didirikan Belanda, mendirikan Boedi Utomo. Gerakan-gerakan perjuangan kebangsaan tersebut memuncak pada 1928 ketika berbagai jong atau bond pemuda dari berbagai penjuru nusantara menyatukan tekad kebangsaan pada Kongres Pemuda II di Jakarta.

Saat proklamasi 1945, Soekarno dkk yang berusia 45-an tahun bergerak mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia. Tahun 1966, Soe Hoek Gie dkk gantian menggulingkan rezim Orde Lama yang dipimpin Soekarno – tokoh pemuda yang berubah menjadi tiran. Tahun 1974, Hariman Siregar dkk menggoyang dominasi produk Jepang di Indonesia di bawah rezim Orde Baru pimpinan Soeharto.

Tahun 1998, gerakan reformasi 1998 yang dimotori kalangan mahasiswa melengserkan Soeharto — seorang perwira muda berusia 46 tahun yang menggantikan Soekarno sebagai presiden Republik Indonesia melalui Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) 1966 – dan menjelma menjadi diktator yang berkuasa selama 32 tahun. Selepas 1998 pun berbagai aksi demonstrasi – sebuah fakta yang kasat mata – banyak dilakukan pemuda dalam hal ini kalangan mahasiswa dan intelektual muda.

Apakah semua itu murni kontribusi pemuda? Tidakkah kelewat berat beban sejarah tersebut dipanggul sendirian oleh kalangan muda sebagai satu kalangan dari banyak elemen penyusun sebuah bangsa?

Maaf, jika terkesan terlalu skeptis. Seperti kata Rene Descartes, “I think therefore I am.” Untuk menemukan kebenaran, salah satunya, kita harus mempertanyakan banyak hal secara kritis. Termasuk terhadap diri kita sendiri, sebagai bangsa.

Siapakah pemuda?

Ada tiga hal yang merupakan ciri pemuda: perubahan, semangat dan kemandirian. Perubahan sarat dengan muatan visi, gagasan, kepedulian dan harapan.

John C. Maxwell berujar, ”Orang tidak peduli seberapa banyak yang Anda ketahui, hingga mereka tahu seberapa jauh Anda peduli.”

Dalam The Seven Habits for Highly Effective People, Stephen R. Covey berpesan, ”Taburlah gagasan petiklah perbuatan; taburlah perbuatan petiklah kebiasaan; taburlah kebiasaan petiklah karakter; taburlah karakter petiklah nasib.”

Harapan, menurut Ary Ginanjar Agustian dalam ESQ (Emotional Spiritual Quotient), 2005, adalah bahwa saat kita berjanji, sesungguhnya kita menarik energi suara hati orang lain secara besar-besaran. Inilah yang dinamakan harapan. Lalu energi itu kita bawa pulang, dan jika tidak kita kembalikan ke sumbernya, keseimbangan orang lain akan terganggu. Harapan (akan realisasi janji tersebut) telah kita tarik, dan belum kita kembalikan (baca: janji belum terealisasi). Dan setiap aksi akan menimbulkan reaksi.

Sementara semangat mewakili aksioma optimisme dan proaktif. Menurut Stephen R Covey, ”Sikap proaktif sangat berguna bagi manusia terutama dalam menghadapi rintangan maupun dalam berinteraksi dengan manusia lain. Sikap proaktif menunjukkan tingkat kecerdasan emosional yang tinggi.”

Lawan proaktif adalah reaktif, lagi-lagi meminjam istilah Stephen R. Covey, “Reaktif adalah sikap seseorang yang gagal membuat pilihan respon saat mendapat rangsangan atau stimulus dari orang lain.”

Dan kemandirian mewakili muatan kritisisme dan nalar. “Menerima ide-ide tanpa berpikir merupakan virus yang meracuni kebutuhan manusia akan pembebasan, berolah nalar, bertanya dan berimajinasi,” ujar Milan Kundera.

Menurut sastrawan dan cendikiawan dunia ini, hal tersebut menelan individu dalam kerumunan kolektif. Kebutuhan manusia akan individualitas, prinsip dan orisinalitas lenyap dalam komunalitas tanpa makna. Ya, komunalitas tanpa makna inilah yang saat ini, dalam konteks lokal, dalam salah satu bentuknya menjelma dalam demonstrasi atau tawuran brutal.

Namun, ada sebuah pertanyaan besar lain: apakah pemuda lebih merupakan kata sifat atau kata benda? Perhatikan berbagai fakta sejarah tersebut di atas. Sebagai kata sifat, ia tak butuh rupa fisik yang gagah. Sepanjang ia memiliki semangat dan visi perubahan, ia adalah pemuda. Sebagai kata benda, ia memang harus muda, cergas dan lincah selayaknya Barack Obama. Tapi banyak orang-orang muda gagah, berusia belia yang pemikirannya hanya menyalin ide-ide lama bahkan anti perubahan. Apakah mereka layak disebut pemuda dalam artian sebenarnya?

Singkatnya, secara ideal, pemuda adalah kata sifat dan kata benda. Seorang pemuda selain berusia muda juga memiliki visi perubahan (ke arah yang lebih baik) dan memiliki semangat antusiasme yang besar. Demikian juga soal hikmatus syukhuh, kebijaksanaan, yang erat diasosiasikan dengan privilege kalangan tua, adalah hal yang juga lebih merupakan kata sifat. Seorang pemuda, dengan intensitas dan interaksinya, dapat memiliki kebijaksanaan tersebut dalam satu paket.

Jika ada standar saklek, itulah perubahan. Pemuda adalah perubahan. Itu harga mati.

“Orang lanjut usia yang berorientasi pada kesempatan adalah orang muda yang tidak pernah menua. Tetapi pemuda yang berorientasi pada keamanan telah menua sejak muda,” ujar seorang motivator Indonesia, Mario Teguh.

Soekarno muda pada 1945 – tatkala berusia 44 tahun–adalah seorang pendobrak. Tapi ketika ia tak mau berubah, ia menjadi tiran, dan menua. Soeharto muda mendobrak ekonomi bangsa selepas 1966 dengan konsep pembangunan Repelita terencana. Tapi ketika ia tak mau berubah baik karena alasan kroni atau korupsi, ia anti perubahan, ia menua. Lagi-lagi pemuda adalah perubahan. Demikian hukum semesta yang berlaku pada kalangan pergerakan dari Akbar Tanjung dkk (1966), Hariman Siregar dkk maupun kalangan aktivis pergerakan 98 dan angkatan-angkatan pemuda yang akan terus bermunculan.

Dalam konteks anatomi sejarah peradaban, kepemimpinan pemuda adalah hal yang alamiah, fitrah. Di usia tua, seseorang cenderung lebih banyak berpikir dan akibatnya cenderung lebih ragu atau takut memulai untuk sesuatu yang baru. Sementara pemuda, dengan kemudaannya dan semangat menyala, cenderung bertindak.

Namun, dalam banyak riwayat perjalanan sejarah, kalangan tua terbukti banyak menyokong kalangan muda. Ini artinya kepemimpinan muda bukanlah hal yang kelewat istimewa atau megah, yang harus dipuja-puja dengan meninggalkan atau bahkan menginjak kalangan tua. Ia hanyalah merupakan pergiliran alamiah.

Maka membincangkan kontribusi pemuda dalam kepemimpinan bangsa adalah membincangkan suatu bangsa secara utuh, tak bisa terlepas dari kontribusi elemen bangsa yang lain termasuk kalangan tua. Dalam teori marketing, semua segmen sama, dan pemuda hanyalah merupakan satu segmen yang tingkat urgensinya tergantung konteks. Jadi kepemimpinan pemuda adalah suatu fakta. Tapi ia bukan pemuda an-sich. Ia adalah bagian elemen anak bangsa yang tidak bisa berdiri sendiri. Dalam sebuah keluarga besar tak semua harus maju terdepan. Tak lantas setiap orang muda membawa perubahan.

Pemuda adalah kata sifat dan kata benda, dan standarnya adalah perubahan. Sekalipun ia berusia muda namun hanya membawa ide lama maka ia telah gagal sebagai pemuda kendati mengusung bendera ormas pemuda dan lembaga kemahasiswaan atau partai politik dengan gegap-gempita. Dan ia tak layak sebagai pemegang estafet untuk menentukan ke arah mana tangga bangsa akan disandarkan,

Seperti kata Isaac Newton, “I could see farther because I was standing on the giants’ shoulders.” Jika para pemuda dapat memandang lebih jauh ke depan, itu juga karena berpijak pada pengalaman dan kontribusi para raksasa tua sebelumnya. ***


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: