Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Ironi Keperawanan

Chastity belt alias sabuk keperawanan. Inikah solusi??

Kau masih gadis atau sudah janda?

Katakan saja jangan malu…

Makna syair sebuah lagu dangdut klasik yang dinyanyikan duet salah satunya oleh Elvi Sukaesih itu mungkin saat ini tidak terlalu relevan. Apalah daya. Zaman sudah berubah. Nilai moral konon berubah-ubah sesuai standar masyarakat. Celakanya, masyarakat pun berubah-ubah perilaku dan cara pandangnya dalam menilai sesuatu.

Masih ingat busana keluarga Laura Ingalls dalam novel anak Little House On The Prairie yang kemudian difilmkan?Ya, busana yang tertutup rapat nan sopan dengan rok panjang menggembung. Itulah potret masyarakat Amerika Serikat pada suatu kurun waktu. Di kurun waktu yang lain, busana seperti itu hanya jadi kenangan dan dongeng di zaman kakek-nenek mereka.

Tak heran jika Asy-Syahid Sayyid Quthb—sang aktivis pergerakan dan sastrawan Mesir yang masyhur dengan buku Ma’alim Fith Thariq (Petunjuk Jalan) dan Fi Dzilalil Qur’an (Di Bawah Naungan Qur’an)–punya formula dalam teori pembentukan masyarakat madani (civil society). Menurutnya, jika enam puluh persen masyarakat sudah berperilaku beradab atau Islami maka masyarakat itu dapat dikatakan sebuah masyarakat ideal.

Juga tak heran, dalam catatan seorang sosiolog ketika membahas kasus rekaman video syur seorang mantan wakil rakyat, jika dulu ketika era 50an beredar foto mesum seorang artis cantik orbitan sutradara Usmar Ismail—bapak perfilman Indonesia–banyak pasangan kekasih yang kontan berpisah atau para istri yang menuntut cerai karena pasangan mereka kedapatan memiliki foto sang artis tersebut. Konon foto itu dianggap mesum karena memperlihatkan belahan dada dan sedikit bagian paha yang terbuka bebas.

Tapi kini ketika sang suami  yang notabene wakil rakyat (Yahya Zaini) tertangkap tangan berselingkuh dengan wanita lain (Maria Eva) bahkan dengan bukti rekaman video yang sangat vulgar pada 2007, sang istri justru tampil membela sang suami bejat di depan khalayak ramai. Adakah yang salah? Entahlah. Yang jelas ada yang hilang. Yakni rasa malu. Ya, rasa malu yang hilang, yang bahkan “mendidik”  mencuatnya kasus video porno Ariel Peter Pan dengan Luna Maya dan Cut Tari pada 2010.

Kencingilah air zamzam maka kamu akan terkenal, demikian bunyi salah satu pepatah Arab. Artinya kadang untuk populer harus ada yang dikorbankan. Yakni rasa malu.

Dalam pemaknaan positif, hal itu dapat mendorong berlipat gandanya semangat kita menjemput kesuksesan. Dalam pemaknaan negatif bahkan pejoratif, kita kehilangan esensi kebermaknaan hidup kita sendiri. Yakni iman. Rasa malu itu sebagian dari iman. Tidaklah beriman seorang Muslim ketika ia berzina. Pada saat itu lepaslah iman dari dadanya. Belasan abad silam Nabi Muhammad SAW telah berbicara mengenai sebuah pondasi moral dan etika masyarakat. Sebuah nilai yang abadi, universal dan hakiki.

Pertanyaan “gadis atau janda?” mungkin sangat amat relevan ketika sebuah keperawanan (virginity) menjadi tolok ukur dan standar moral suatu masyarakat. Seperti yang dituturkan Nawal El Saadawi dalam novel Perempuan Di Titik Nol mengenai kebiasaan masyarakat tradisional Arab mengarak potongan kain bernoda darah keperawanan seorang pengantin wanita pada malam pertamanya. Sebuah tradisi yang dilestarikan untuk menjunjung nilai sebuah keperawanan sebagai simbol peradaban moral. Namun juga sebuah tradisi yang dapat dikatakan naïf.

Karena dalam tinjauan medis seorang pengantin yang paling perawan sekalipun bisa saja tidak mengeluarkan darah pada malam pertamanya karena saking alotnya sang hymen alias selaput dara. Atau justru ia kehilangan “keperawanan” saat memanjat pohon atau gemar bersepeda sewaktu remaja. Lagi-lagi, karena tipisnya selaput dara yang dimiliki sang dara.

Di belahan bumi Eropa pada abad pertengahan, para bangsawan kerajaan juga tak kalah naifnya. Para perawan mereka “dipersenjatai” dengan chastity belt, sabuk keperawanan dari besi yang dilengkapi gembok dan lubang kunci untuk menjaga kesucian mereka. Benar-benar sebuah penjagaan dalam arti sebenarnya.

Dalam film Robinhood: Prince of Thieves (1991) besutan Kevin Costner digambarkan seorang bandit rival Robinhood yang ingin menodai Marion harus berjibaku berebut anak kunci guna melampiaskan birahinya. Karena kendati busana sang kekasih Robinhood sudah tuntas terlucuti namun niatnya terhalang sabuk keperawanan yang dikenakan Marion. Alhasil, finishing touch pun gagal!

Jika Anda tersenyum membayangkan unik atau naifnya ide sabuk keperawanan tersebut, jangan harap semua orang berpikiran serupa. Pada 1999, ketika sebagai dampak keterbukaan informasi akibat reformasi 1998 menyeruak dari balik karpet tingginya angka perkosaan dan aborsi di Indonesia, seorang perancang busana dari Solo meluncurkan prototipe sebuah sabuk keperawanan versi modern yang menurutnya lebih ringan karena terbuat dari bahan yang ringan, kuat dan berlapis-lapis. Sehingga barangkali setidaknya membuat para calon pemerkosa kapok karena kelelahan membukanya sekaligus memberi waktu sang bakal korban berteriak minta tolong atau melakukan perlawanan. Ide yang kongkret dan kreatif, sebetulnya. Permasalahannya, bagaimana jika sang bakal korban sendiri yang secara sukarela membukanya atau dalam bahasa populer kasus perzinaan: suka sama suka?

“Keperawanan hanyalah masalah selisih beberapa detik saja,” tulis Pramoedya Ananta Toer dalam salah satu kumpulan cerpennya. Ini masalah teknis saja, maksudnya. Secara teknis, seorang wanita bisa jadi masih perawan semata-mata karena tidak ada penetrasi alat tumpul ke dalam gua garbanya. Tapi bagaimana secara hakikatnya? Inilah makna di balik ucapan populer yang barangkali sering kita tirukan bak beo,” Don’t touch me!”

Jika para gadis konsekuen mengamalkan ucapan tersebut dalam pengertian sebenarnya niscaya mereka tidak sekadar technically virgin, secara teknis perawan tapi tubuhnya sudah “dijarah” dengan etos “sedikit bicara banyak kerja” yang populer dalam kamus umum bebogohan era modern.

Era yang katanya maju namun sebenarnya primitif. Karena bagai pinang dibelah dua dengan perilaku penduduk kota Pompeii (Italia)—dalam temuan Harun Yahya–yang musnah dihajar letusan gunung Vesuvius dan banyak korban didapati berpuluh-puluh tahun kemudian membatu dalam posisi bersenggama. Sebuah gambaran meluasnya perilaku seks bebas dalam sebuah masyarakat di suatu kurun waktu.

Lebih jauh ke belakang sama seperti akhlak orang Romawi kuno yang mengagungkan kebebasan seks dan mendapat antitesisnya pada Abad Pertengahan di Eropa—yang secara ekstrem—berupa penisbahan sumber bencana seksual itu pada kaum perempuan yang dianggap menjadi penggoda laki-laki dengan kodrat keindahan tubuh dan suaranya. Tak dapat dipungkiri asal-muasal kutukan tersebut bermuara pada sebuah mitologi Eropa kuno bahwa sang nenek moyang manusia, Eva (baca: Hawa) yang merayu Adam agar memakan buah keabadian sehingga mereka terusir dengan hina ke muka bumi.

Soal keperawanan adalah juga soal ekstremitas. Di satu kutub sebagian orang mengagungkan keperawanan dalam pemaknaan yang sempit seperti dalam tradisi “pengarakan kain pada malam pertama” di jazirah Arab tersebut dan di kutub ekstrem yang lain sebagian orang menggampangkan keperawanan seperti gampangnya orang buang hajat. Murah, bahkan diobral. Dalam varian kutub ini, keperawanan diperlakukan sebagai hal yang relatif.

“Enggak masalah cewek gue perawan atau nggak. Nggak penting bo!” ujar seorang pelakon pria dalam sebuah reality show cinta-cintaan di sebuah televisi swasta. “Dapet yang perawan yah syukur. Kalo nggak, no problem.” lanjutnya enteng.

Seperti relatifnya sebagian anak muda memaknai pernikahan atau perkawinan. Dua kata yang bahkan dalam undang-undang atau dokumen negara dapat saling dipertukarkan dan dianggap sama maknanya ternyata dapat ditafsirkan berbeda bahkan secara diametral. Kendati barangkali—dapat dianggap–dalam level kelakar belaka.

“Sudah kawin?”

“Kawin sudah, nikah belum.”

“Lho, apa bedanya?”

“Kawin pake urat, nikah pakai surat.”

Atau

“Pusing gue belum check.”

“Ya sudah, check up aja ke rumah sakit.”

“Bukan. Belum check in ke hotel.”

Istilah check in yang netral kerap dipersepsikan dengan aktivitas yang menjurus kepada hal-hal saru atau yang “berada di balik sarung”.

Ketika segala sesuatu direlatifkan maka ia menjadi conditional atau bersyarat. Kabur dan ambigu. Sama relatifnya seperti–dalam pandangan teori relativitas—usia seseorang astronot di luar angkasa dan ketika berada di muka bumi. Ada standar-standar yang berbeda yang tak ketemu jika dikompromikan. Di sinilah titik benturan yang keras dengan nilai-nilai moral dan agama yang—dalam pandangan sebagian orang—dianggap rigid atau kaku.

Sama relatifnya ketika soal keperawanan ditudingkan balik kepada laki-laki. Kenapa tidak? Jika seorang perempuan menghadapi masalah originally virgin atau technically virgin sesungguhnya lelaki berhak dipertanyakan pula kadar “keperawanan” yang dimilikinya. Dalam bahasa Inggris, kata “virgin” juga berlaku sama bagi kedua gender yang bagi laki-laki lebih tepatnya dapat diterjemahkan sebagai “keperjakaan”.

Terlepas dari fakta anatomis bahwa lelaki cenderung tidak memiliki “bekas” ketika sudah tidak “perjaka”, menjadi diskursus yang menarik jika seorang lelaki dikatakan “bujang tapi sudah tidak perjaka”. Persis seperti seorang perempuan yang disebut “gadis tapi tidak perawan”. Apakah sang lelaki juga originally virgin dalam artian tidak pernah berhubungan seks maupun aktivitas seks yang menjurus seperti onani, petting atau seks oral? Ataukah ia hanya technically virgin yakni “hanya” tidak pernah berhubungan seks dalam artian senggama sementara yang lain sudah khatam dijalaninya?

Soal relevansi keperawanan atau keperjakaan sebagai standar moral dalam masyarakat dalam masyarakat yang berubah cepat dalam turbulensi perbenturan berbagai sistem nilai dan peradaban ini tampaknya secara pesimis bernasib sama seperti UU Antipornografi dan Pornoaksi—kini kehilangan kata bertuah “anti”—yang tak kunjung usai dan pembahasannya berlangsung alot hatta hingga resmi diundangkan sekalipun. Sealot kepentingan syahwat yang melingkupinya baik syahwat politik, bisnis atau syahwat beneran.

Lagi-lagi jika demikian, kendati klise, segalanya terpulang pada nurani—yang dalam pemaknaan Nurcholish Madjid sebagai “tempat yang mendapat cahaya (nur) Ilahiah–tiap individu jika nurani penguasa atau legislator sudah mati. Barangkali inilah salah satu tanda akhir zaman yang kerap disitir Nabi Muhammad SAW yakni ketika seseorang harus mempertahankan keimanannya seorang diri bagai “memegang bara di telapak tangan”.

Semoga saja kisah seperti cerita imajiner dari negri antah berantah ini tidak terjadi kelak.

Alkisah, seorang wakil rakyat yang menentang usulan pemberlakuan hukum potong tangan bagi para pencuri berargumen lantang,”Hukuman itu tidak manusiawi karena tidak berdasarkan semangat kemanusiaan!”

Beberapa saat kemudian ia mendapat kabar via telepon bahwa rumahnya kemalingan. Dan barang-barang berharganya ludas.

“Kurang ajar maling itu!” semprotnya. “Cepat tangkap maling keparat itu. Bakar dan cincang saja biar mampus!”

Jika manusia mengandalkan logika dan nafsu niscaya penjara ekstremitas akan selalu mengungkungnya. Bukankah kata Ali Syari’ati salah satu “penjara” dalam hidup manusia adalah dirinya sendiri? Termasuk ketika memaknai untuk sebuah pegangan diri apakah keperawanan atau keperjakaan itu pilihan atau kemutlakan.


*tulisan ini dimuat di rubrik Wanita dengan judul “Gadis atau Janda?” di majalah Sabili edisi 2008. Beberapa data tambahan dimasukkan untuk membuat artikel ini lebih up to date.

6 Komentar

  1. Ikha Ismawatie

    Jadi banyak tau….
    Makasih mas…🙂

    • Terima kasih:). Yah, inilah blog baru saya ya,hehe..

  2. Betul, yang bisa menjaga wanita itu, ya wanita itu sendiri. Sudah Allah lengkapi kita dengan akal dan kebaikan dalam diri, namun banyak pula yang tidak menggunakannya dengan optimal….Jazakallah tulisannya….

    • Benar sekali, Mbak Meliana. KIta memang banyak alpa dan lupa untuk bersyukur. Tarikan hawa nafsu, jika tak ditandingi iman, berperan sekali dalam hal itu. Makasih ya apresiasinya:).

  3. yah jaman sekarang moral keagamaan sudah berkurang. entah kenapa saya juga bingung memikirkan hal ini. sekarang, saya memulai dari diri saya sendiri untuk memperbaiki segala kesalahan agar tidak seperti orang2 seperti itu.

    • Jangan bingung, Mas, tetap berpegang pada standar moralitas yang diturunkan dari Yang Maha Pencipta Semesta saja. Insya Allah tidak bingung:). Toh, langkah Anda sudah tepat. Memulai dari diri sendiri, dari hal terkecil dan dimulai sekarang juga.

      Salam kenal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: