Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Hari Pertama Menjadi Ayah

Apapun pengalaman pertama – seperti hari pertama masuk sekolah atau malam pertama pernikahan — selalu menegangkan. Juga hari pertama menjadi seorang ayah.

Di awal hari, aku bingung hendak izin tidak masuk kantor lagi atau tidak. Sebab sehari sebelumnya aku sudah minta izin dari boss untuk absen sehari terkait persiapan persalinan. Jumat pekan sebelumnya juga aku izin, karena jadwal check up kandungan istri di sebuah rumah sakit umum daerah di bilangan Jakarta Timur. Dan dokter meminta suami istriku – yakni aku – untuk khusus datang karena ada masalah dengan kandungan istriku. Jadi ini hal penting yang membutuhkan aku sebagai decision maker, pengambil keputusan.

Rupanya posisi bayi kami ternyata menyamping alias lintang. Juga terlilit tali pusat. Tak ada jalan lain, kata sang dokter, selain operasi caesar. Padahal istriku sudah aktif senam hamil. Ini akibat kandungan istriku sempat dipijat dukun pijat saat usia kehamilan tiga bulan – karena letak kepala bayi yang sudah menukik di jalan lahir — sehingga istriku susah berjalan dan kami kuatir terjadi keguguran. Ternyata itu keputusan yang salah karena justru mengganggu pergerakan alamiah sang bayi.

Benar kata orang bijak, saat istri kita hamil, semua orang di sekeliling kita mendadak menjadi ahli kehamilan. Semua memberikan saran dan rekomendasi tak peduli benar-benar tahu atau cuma sok tahu. Tapi semua terpulang kepada kita sebagai decision maker. Dan saat itu aku membuat keputusan yang keliru. Maafkan Abi, ya Ummi, ya Nak!

Dengan menahan nafas – karena kecewa istriku tak bisa melahirkan normal sekaligus terbayang bilangan nominal tabungan yang akan keluar – sang decision maker yang pernah keliru ini menyanggupi. Lebih tepatnya, terpaksa menyanggupi karena toh tak ada opsi lain. Disepakatilah jadwal check up terakhir – yang jika perlu, berdasarkan hasil pemeriksaan lab dan lain-lain, merupakan tanggal operasi persalinan – pada hari Selasa, 18 November 2008. Ancer-ancer dokter, jika positif, operasi caesar akan dilakukan pukul lima sore.

Nah, di Selasa pagi itulah, sebagai pekerja (yang notabene masih ‘kuli’ orang lain) dan calon ayah, aku terjebak dilema. Di saat seperti itu aku bernostalgia masa-masa “merdeka” sebagai penerjemah full time freelance yang relatif bebas mengatur waktu. Tidak bergantung pada jadwal kantor atau ngamuk tidaknya boss kita jika kita berkali-kali izin terutama di saat pekerjaan menumpuk.

Melihat aku pagi-pagi merenung, dengan gaya standarku yang bertopang dagu dan kening berkerut, istriku, Yuni segera paham dan memberikan solusi. “Ya udah, abang ngantor aja.” Ajaib! Sebelas bulan berumahtangga ternyata memberikan sang istriku tersayang kemampuan membaca pikiran. Setidaknya ilmu empatinya lebih terasah ketimbang aku, selepas jam kantor, yang kadang masih saja asyik menerjemahkan – order penerjemahan di luar kantor – sementara Yuni menatapku dengan isyarat punggungnya minta diusap.

Ibu hamil memang paling suka jika punggung bagian bawahnya diusap-usap. Konon rasa usapannya itu bisa terasa hingga ke perut dan bayi – yang di trimester ketiga sangat aktif bergerak hingga membuat nyeri dan sesak ibunya — jadi lebih anteng. Alhasil, Yuni pun lebih bisa tidur lelap. Setidaknya dalam standar tidur lelap seorang ibu hamil. Karena bagi bumil, di trimester tiga, tidur lelap adalah barang mewah.

Singkat cerita, setelah mengantongi empati dan restu istriku, aku berangkat ngantor. Itu pun dengan perasaan paranoid sendiri (tentu saja tidak rame-rame karena bisa terjadi histeria massal) dalam segala hal. Saat menyeberang menuju Stasiun Lenteng Agung, stasiun terdekat dari domisili kami, aku menjadi kelewat amat sangat berhati-hati sekali. Takut ketabrak nanti tak bisa melihat bayiku yang sudah aku tunggu 31 tahun ini (semasa bujang pun aku sudah pingin punya anak, soalnya). Waktu naik kereta yang berjubel hingga ke pintu, meski aku berada di tengah, jadi paranoid takut keseret ke pintu dan terjatuh. Sungguh menyebalkan. Karena hari itu jadi tak biasa dan terasa lamban.

Di kantor, tak seperti biasa – mungkin kehendak Tuhan – kerjaan sepi. Padahal biasanya di akhir tahun begini deadline order terjemahan menggila. Persis kebiasaan pegawai kelurahan, aku dan teman-teman kantor ngobrol ngalor-ngidul. Aku jadi pembicara utama soal kehamilan istriku. Karena memang tak ada orang lain di kantor yang bisa bicara itu (karena yang hamil istriku).

Jelang tengah hari, masuk sms dari Yuni. Beritanya? Ternyata pihak rumah sakit menelepon agar istriku segera datang ke rumah sakit. Rencana tes lab dimajukan jadi pukul satu siang. Yuni mohon doa dan mengungkapkan ketakutannya. Dengan gaya motivator ulung a la Mario Teguh, aku memberikan advis bernuansa Law of Attraction kepadanya plus amalan wirid Asmaul Husna sebagai penenang.

Ketika hape ditutup, aku masih berharap dapat menemani Yuni di ruang operasi jika hari itu juga ia harus menjalani operasi caesar. Prediksiku, operasi – jika harus dilakukan – sekitar pukul lima sore. Dan aku masih bisa mengejarnya dengan pulang dari kantor jam empat sore. Untuk pergi ke rumah sakit, sudah ada ibu mertua, paman istri dan adik iparku yang mengantar. Lengkap sudah armada dan sopir menuju medan jihad.

Persis jam satu siang, setelah sholat Zuhur, ibu mertua menelpon.

“Salam, Yuni jam satu ini dioperasi. Tanda tangan suami sudah ibu wakilkan,” ujar ibu mertua. Alamak. Rupanya tanpa tes lab lagi operasi caesar dimajukan 4 jam. Sebagai suami, aku merasa tak lengkap. Karena bukan aku yang menandatangani surat persetujuan operasi caesar istriku. Dan aku tak dapat mendampingi istriku di ajang hidup mati itu. Selain karena faktor waktu juga karena mendadak perutku mulas luar biasa.

Duh, ini kebiasaan lamaku jika sangat tegang. Terakhir kali aku mengalaminya saat didaulat berpidato sebagai SK Idol pada HUT ke-1 komunitas Sekolah Kehidupan di Kuningan, Jakarta, pada 2007. Tapi kali ini tegangnya kurang ajar betul. Hingga aku harus buang hajat dalam waktu lama di toilet. Sekaligus membuat Rivai – teman kantorku – yang berinisiatif baik mengantarku ke Pasar Minggu dengan motornya harus cengok menunggu di depan gerbang kantor seperti tukang ojek menunggu penumpang. Untuk hal ini tak sepenuhnya salahku. Sudah lama aku menyarankan kepada temanku itu untuk mengganti model helm motornya.

Tiba di rumah sakit – di tengah macetnya lalu lintas di mendung Jakarta – pukul setengah dua lewat, aku bergegas memburu lift ke lantai 4, sesuai info dari adik iparku via sms, dengan gaya orang kebelet buang hajat. Lebih sopannya, dengan gaya orang pingin ambil duit gajian. Terburu-buru, intinya.

Memang isti’jal alias tergesa-gesa itu tidak baik. Aku memang tiba di lantai 4. Tapi bukan lantai 4 tempat ruang operasi. Ola la, ternyata rumah sakit ini punya dua gedung yang dibangun menyatu. Alhasil, ada dua lantai 4 di satu bangunan. Aku, berbekal petunjuk petugas cleaning service yang simpatik dan baik budi, turun lagi ke lantai 2 dan berbelok ke kiri dari tempatku naik lift yang pertama. Inilah titik persambungan dua gedung itu.

Di dekat lift persis di depan kios koran dan gerai donat, aku menunggu lift dengan dag-dig-dug-der. Oh, God, I am nervous! Syukurlah kali ini tidak dibarengi dengan mulas. Ia sudah aku tinggal di kantorku di Pasar Minggu. Karena ia bukan pendamping yang baik saat kondisi tegang begini.

Alhamdulillah, di lantai 4 yang benar-benar tujuanku, aku ketemu dengan rombongan pengantar istriku yang juga wajah mereka tak kalah pias. Terutama ibu mertua. Maklum, bayiku adalah cucu pertamanya. Sementara Wak Ngah, salah satu paman istri, berusaha menenangkan kami.

“Tenang ajalah. Ayah (ia memang membahasakan dirinya demikian) malah waktu itu lihat langsung persalinan caesar Eka. Lancar-lancar aja kok. Sekarang semua sudah canggih. Sudah biasa itu di-caesar. Aman, Insya Allah,” ujarnya memberi semangat. Aku yang mengambil tempat di kursi pojok tersenyum basa-basi. Tapi lantas tak urung Wak Ngah berjalan mondar-mandir tak keruan di ruang tunggu itu. Ah, tak apalah, aku hargai niat baiknya menghibur kami…

Selama menunggu, tak putus-putus hafalan Qur’an kulafalkan. Juga Al Ma’tsurot. Masih kurang juga, aku lanjutkan dengan tilawah Surah Yasin dengan penuh harap akan keselamatan istri dan anakku. Apa pun jenis kelaminnya dan putih atau hitamkah warna kulitnya. Inilah harapan universal setiap calon ayah di muka bumi.

“Katanya cuma setengah jam ya, Ning,” ujar Wak Ngah yang mendadak lupa kepada kata-katanya sendiri. Bu Ayuningsih, ibu mertuaku, merengut. Aku tersenyum geli. Dalam literatur operasi caesar pengambilan bayi memang hanya setengah jam. Namun perlu waktu lebih hingga 2-3 jam untuk menjahit luka pada perut si ibu. Untunglah bertubi-tubi sms doa dan motivasi dari para Sahabat di milis Sekolah Kehidupan (Mas Adjie, Novi, Nia, Mas Suhadi, Pak Teha, Kang Dani, Sinta, Ugik, Mbak Rinurbad, Retno & Catur, Kang Hadian dll) dan teman-temanku yang lain setia menemani dalam kurun waktu itu. Bahkan sebagian langsung menelpon meski – maaf ya! – saat itu aku harus menjawab dengan suara bergetar saking tegangnya penantian. Besarnya harapan kadang menjadi beban.

Hukum relativitas waktu hari itu juga bekerja efektif. Waktu serasa ngesot. Dalam lantunan doa dan gumpalan harap, ditingkahi siaran infotainment dari TV di ruang tunggu, aku merasa pasrah pada-Nya. Aku hanya menyisipkan doa pamungkas kepada Allah di ujung penantian dua jam yang menyiksa itu.

Ya Allah, aku sudah banyak kehilangan. Kehilangan ayah, ibu dan kakak sulungku yang guru menulisku dan guru ngaji pertamaku. Kehilangan biro penerjemahanku dan segenap hartaku selepas banjir bandang 2007 lalu. Tapi, ya Allah, tak usah engkau kembalikan semua itu karena aku sudah relakan semuanya. Cukup tambahkan satu saja untukku dan jangan kau ambil istriku sebelum aku dapat memenuhi janjiku untuk membuatnya tinggal di rumah milik kami sendiri dan mengajaknya berhaji…

Mungkin, kata Hanung Bramantyo, itu termasuk kategori doa yang mengancam. Tapi setidaknya aku lega sudah curhat kepada Tuhan. Karena kita tak boleh sombong dengan hanya bergantung pada kecanggihan teknologi manusia. Tuhanlah yang punya kuasa. Dalam hal apa pun. Terlepas kita percaya atau tidak akan keberadaan-Nya.

Lima menit jelang azan Ashar, pintu ruang operasi terbuka. Istriku dalam kondisi lemas dan wajah pucat diantar keluar dengan masih berbaring di atas tempat tidur. Dua orang perawat muda mengantarnya ke ruang perawatan. Aku menyambutnya dengan haru dan ciuman di dahi.

“Udah lihat bayinya?” Itu pertanyaan pertama Yuni. Rupanya selama di ruang operasi Yuni belum sempat melihat bayinya. Ia hanya mendengar suara tangisan sang bayi yang segera dibersihkan. Bahkan Yuni sempat melarangku untuk ikut ke ruang perawatan di lantai 3 agar aku bisa melihat sang bayi yang dibawa ke tempat berbeda. Biar bisa menceritakan kondisi bayinya, demikian alasan Yuni. Ah, mungkin ini naluri seorang ibu. Aku jadi paham sepaham-pahamnya mengapa dalam setiap kasus perceraian seorang ibu akan mati-matian mendapatkan hak pengasuhan anaknya.

Tepat azan Ashar. Pintu ruang operasi kembali terbuka. Kali ini seorang bayi montok sehat kemerahan diantar para perawat dalam sebuah boks mungil beroda. Tangisnya memekakkan telinga. Tangan dan kakinya bergerak-gerak lincah. Tertera pada catatan di boks: berat 3,150 kg dengan panjang 51 cm. Rambutnya hitam dan tebal ikal seperti rambutku. Wajahnya pun demikian. Tapi bibir atasnya mirip bibir istriku.

“Aih, cantiknya!” seru ibu mertuaku. Ia memang sangat ingin punya cucu perempuan. Katanya anak perempuan enak, bisa didandanin. Maklum, ia penata rias penganten.

“Ibu, ini laki-laki,” ujar salah satu perawat seraya menyingkap selimut bayi. Tampaklah jelas kelamin anakku. Anak pertamaku laki-laki. Sungguh ideal sekali dalam pandangan tradisional sebagian suku di Nusantara.

Tapi ibu mertua tak patah arang. Ia memang sudah lama mendamba cucu karena baru satu orang anaknya — dari ketiga anaknya – yang menikah. Tatapan matanya dan bahasa tubuhnya menyiratkan sekali hal itu. Aku teringat almarhumah ibuku yang dulu tak sempat melihat cucu pertamanya lahir.

Ibuku wafat karena tumor ginjal saat cucu pertamanya masih berusia 3 bulan dalam kandungan. Kali ini aku merindu almarhumah ibuku yang juga tak bisa melihat anakku, cucu kelimanya. Juga rindu almarhumah aba, panggilan ayahku, yang dulu selalu menyindirku dengan bilang,”pengen deh dapat cucu dari Salam” karena beliau selalu mendesakku – dengan caranya yang khas – untuk segera menikah. Aba, ibu, I miss u…

Segera, setelah menunggu ibu mertua mengagumi cucu pertamanya, aku mengazani bayi itu. Ya, bayiku sendiri! Dulu aku pernah mengazani bayi ketika keponakan pertamaku, Rayhan Wildan Ramadhani – ini nama pemberian dariku – dilahirkan beberapa tahun lalu. Mengazani bayi – dan iqomah di telinga kiri – selalu berkesan. Tapi kali ini terasa berbeda. Ah, inikah naluri seorang ayah?

Di masjid rumah sakit, selepas mengurus administrasi rumah sakit dan sholat Ashar, aku bersujud syukur. Aku kini – dengan anugerah Allah – menjadi ayah. Suatu amanah yang berat atas kepercayaan Allah ini. Sebuah amanah bernama Muhammad Alham Navid. Sebuah nama yang kami rancang jauh-jauh hari – bahkan dirahasiakan kepada keluarga dekat sampai hari-H untuk menghindari plagiarisme — yang bermakna “Inspirasi terpuji yang membawa gelombang kebahagiaan”. Berbekal panduan buku nama-nama bayi (special thanks to Mbak Rinurbad!), didapatlah nama tersebut yang – menurut Mbak Rinurbad yang konsultan nama-nama bayi – bagus, unik dan langka. Semoga sebagus itu juga akhlak dan takdir nasibnya!

Jika ada kekecewaan – karena manusia, kurang ajarnya, tak pernah puas – adalah karena istriku tak bisa melakukan inisiasi menyusui dini (IMD). Perih juga hatiku menyaksikan bayiku baru bisa menikmati laktogen yang diberikan perawat dan bukan kolostrum ASI ibunya. Tapi, apalah daya, Yuni yang dirawat di ruang perawatan kelas II dan Alham yang dirawat di ruang perinatologi masih belum bisa dirawat gabung. Yuni masih terlalu lemah dan menahan nyeri yang amat sangat – terlihat dari wajahnya – karena pengaruh obat bius yang mulai menghilang. Panas sekali, rintihnya. Sementara obat pereda nyeri baru boleh diberikan pada pukul sepuluh malam. Artinya, selama setengah hari atau enam jam, istriku harus berjuang menahan sakit. Namun telepon dari sahabat-sahabatnya yang membuatnya berbicara dan curhat juga dapat membuatnya melupakan nyeri.

Melihat kondisi Yuni sedemikian nelangsa, aku mengurungkan niatku di awal nikah dahulu untuk punya anak sebanyak jumlah saudara kandungku. Enam orang. Sebenarnya dua belas, karena yang enam meninggal waktu kecil atau dalam kandungan. Maklum, ibuku menikah muda di usia 16 tahun. Dan ibuku bukan Yuni. Mereka juga terpisah oleh zaman yang berbeda. Biarlah aku kubur egoisme maskulinitas itu demi sang istri yang telah berjuang heroik selama kehamilan – yang rasanya wahnan ‘ala wahnin, sakit di atas sakit – dan selama persalinan. Oh, I love u, Babe…

Terinspirasi semangat istriku, pukul sebelas malam, sepulang dari rumah sakit, aku mencuci sendiri ari-ari bayiku dan menguburnya dengan berbungkus kaus putih – karena tak ada kain putih sebagai syarat dari orang-orang tua yang menyuruhku – dan menguburnya dengan didahului doa-doa di dekat pot tanaman hias ibu mertua.

Semula aku ingin menguburnya – karena banyaknya syarat yang harus dipenuhi – sekalian saja di pot anthurium gelombang cinta koleksi ibu mertua. Biar makmur jadi milyader anakku. Tapi kubatalkan karena pertimbangan stabilitas sosial politik rumah tangga dan lain-lain. Itu pun prosesi penguburan ari-ari sudah aku persingkat, jika dibandingkan petuah dari Wak Ngah dan ibu mertua yang bahkan mensyaratkan mengubur alat-alat tulis agar si Alham jadi anak pinter.

“Sekalian saja laptop, Wak!” ledek Sutami, adik iparku. Wak Ngah melotot kesal. Duh, tradisi!

Sebelumnya pukul sepuluh malam aku melangkah pulang dari rumah sakit dengan langkah-langkah panjang dan hati senang. Aku tidak menginap di rumah sakit. Sudah ada ibu mertua dan Wak Ngah yang menunggui istriku. Apa boleh buat, aku harus ngantor dan selesaikan proyek-proyek terjemahan di luar kantor – sebagai penghasilan tambahan – yang bertenggat ketat. Kata istriku, demi dua ekor kambing aqiqah. Ya, demi anak. Karena kini aku seorang ayah. Bagi seorang ayah baru, hiruk pikuk bising berpolusi lalu-lintas Jakarta pun serasa konser musik paling syahdu malam itu.

Sahabat, makasih atas semua doa dan motivasinya. Terus doakan kami ya!

Jakarta, 19 November 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: