Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Belajar Menjadi Ayah

“Bakat terbentuk dalam kesunyian, watak terpupuk dalam riak besar kehidupan.” (Goethe)

Menjadi ayah, bagiku, adalah kegembiraan dan juga salah satu riak besar kehidupan. Kegembiraan akan datangnya sang buah cinta dan darah daging adalah hal wajar. Namun pada saat yang sama riak besar kehidupan mungkin tidak selalu menyertai perjuangan setiap calon ayah.

Buatku ini sebuah ujian kehidupan untuk menggembleng watak. Barangkali aku patut bersyukur semestinya. Karena sepertinya, setelah sepekan pertama menjadi ayah, Allah memberikan gelombang riak besar jelang kelahiran bayiku sebagai ujian agar kuat bertahan dalam gelombang-gelombang besar berikutnya. Pre-test, barangkali maksud-Nya demikian.

Jelang kelahiran bayiku, permohonan kasbon sebulan gaji ditolak boss. Padahal sudah sejak sebulan sebelumnya ia sudah mengulur-ulur dengan berbagai alasan seperti kondisi keuangan kantor yang tidak memungkinkan dll – kendati aku tahu betul kegemarannya dugem yang menghabiskan jutaan rupiah tiap malam. Tapi saat kedatanganku ke ruangannya terakhir kali itu, sang boss mungkin tidak menyadari bahwa – sedetik setelah penolakannya – aku akan mengambil keputusan keluar dari kantor (pada saat yang tepat). Kembali menjadi “orang bebas” seperti tiga tahun sebelumnya.

Menjelang pernikahanku setahun lalu pada 2007, demi memenuhi keinginan ibu mertua, aku memang bekerja kantoran. Masih sebagai penerjemah legal English (dokumen hukum dan bisnis) di agensi atau biro penerjemahan. Ini juga berpindah-pindah. Dari agensi penerjemahan di Jakarta Timur aku hanya bertahan lima bulan. Ada persoalan ketidakberesan gaji dan perlakuan yang tidak manusiawi. Setelah pindah ke biro yang lain – yang ini karena sang boss adalah sahabat lamaku dan ada beberapa kompromi termasuk gaji, di mana aku lebih mengalah, dibuat – aku juga tak bertahan lama.

Per Desember 2008 aku resmi berhenti bekerja kantoran. Membuka bisnis agensi penerjemahan sendiri. Meski, dilihat dari kesiapan infrastruktur dan modal, lebih cocok untuk disebut “penerjemah freelance”. Bayangkan saja kantor agensi penerjemahan tanpa fasilitas printer, koneksi internet, faksimili dan sambungan telepon rumah. Ruangannya pun menyatu dengan sebuah kamar – yang aku, istri dan anakku tempati – yang menumpang pada rumah ibu mertuaku. Lebih persis lagi, kantorku adalah seperangkat komputer – yang, alhamdulillah, sudah lunas — kreditan. That’s it!

Gila! Mungkin ada yang menyebut demikian. Termasuk beberapa kawan dan kerabat yang menyayangkan mengapa aku berhenti bekerja justru di saat baru memiliki anak. Sementara istriku juga sudah berhenti bekerja sejak mengandung dua bulan. Tapi aku yakin Allah Maha Pemurah. Bagi manusia, tanpa pandang kualitas ibadah atau agamanya, pasti ada rejeki masing-masing asal berani menjemput. Termasuk, yang aku yakini juga, ada bagian rejeki yang sudah dicatatkan-Nya di lauhul Mahfuz di atas sana untuk anakku yang kini sedang lucu-lucunya di usianya yang tiga bulan.

Ya, aku sedang belajar menjadi ayah. Pelajaran pertama yang kucatat, saat permohonan kasbonku ditolak boss yang notabene sahabat sendiri, adalah hanya Allah yang sesungguhnya dan selayaknya menjadi tempat bergantung. Sedekat apapun manusia, mereka punya keterbatasan dan tak bisa selalu diharapkan.

Ketika kasbon ditolak sementara dokter sudah menvonis istriku harus dioperasi caesar beberapa pekan lagi, datang tawaran dua order besar – yang terbilang jarang aku dapat–kepadaku. Aku ajukan kesanggupan dan minta klien-klienku tersebut setor uang muka (DP, down payment) terlebih dulu. Kendati itu harus aku tebus dengan bekerja dobel keras karena selepas ngantor aku harus begadang hingga dini hari untuk menyelesaikan kedua order tersebut hingga sebulan lebih. Tapi dengan itulah aku dapat mencukupi biaya operasi caesar istriku. Alhamdulillah, anakku lahir dengan selamat. Laki-laki. Muhammad Alham Navid namanya.

Empat puluh hari pertama bagi seorang ayah baru sepertiku sungguh tak terlupakan. Sementara berjuang bermalam-malam menyelesaikan dua order terjemahan tersebut, aku juga harus membantu istriku mengganti popok bayi atau menidurkannya. Frekuensi menyusui dan buang air (kecil dan besar) bayi dalam 40 hari pertama sungguh dahsyat. Rata-rata nyaris seperempat jam sekali. Alhasil, meski sudah dibantu ibu mertua dalam merawat bayi kami, aku ambruk dan sempat jatuh sakit. Cukup parah hingga seminggu tidak ngantor. Dan aku pikir itulah saat yang tepat untuk resign, berhenti bekerja. Setelah agak membaik, aku pamit baik-baik dari kantor.

Rasanya sudah cukup aku memperkaya sahabatku itu  — hingga tubuhku bobrok — yang tak peduli dengan kondisiku yang notabene pegawainya sendiri. Di kantorku tersebut hanya ada dua orang tenaga penerjemah termasuk aku. Sehingga aku tahu betul – semestinya – posisi tawar kami. Namun hidup memang keras. Dan barangkali itu yang harus dijalani.

Aku bukan super daddy, ayah super dan juga tak ingin menjadi seperti itu. Aku hanya ingin jadi ayah yang baik, yang mampu memberikan kehidupan dan penghidupan yang layak bagi anaknya. Jalan terbaik, yang ada di pikiranku saat itu, adalah mencoba mandiri, berusaha sendiri. Jatuh bangun, aku pikir sudah biasa, niscaya akan mendewasakanku.

Tak urung aku shock juga ketika riak-riak besar yang lain menghantam. Dua klienku yang sebelumnya itu  — ketika pekerjaan sudah aku serahkan — lari dengan meninggalkan sisa tagihan tak terbayar. Jumlahnya mencapai enam setengah juta rupiah. Lebih terpukul lagi ketika, saat malam berhujan lebat dan dingin menyengat, dada kiriku nyeri dan aku terbatuk-batuk hebat di kamar mandi. Ketika aku meludah, ludahku merah seperti bekas ludah nenekku dahulu yang suka makan sirih. Merah darah. Berkali-kali aku meludah, hal yang sama berulang. Juga di hari-hari berikutnya. Ya Allah, cobaan apalagi ini?

Bukan itu saja. Sebagian kawan tak percaya waktu aku bilang hidup satu atap bersama mertua tidaklah mudah. Mereka mengajukan argumentasi soal penghematan biaya hidup dan kemudahan saat mengurus anak yang masih bayi. Aku tertawa. Aku dan kawan-kawan itu tak punya definisi yang sama soal “tinggal di wisma mertua indah”. Setiap definisi, seumum apapun cakupannya, tentu tak sanggup mencakup sesuatu yang di luar kelaziman. Nah, itulah yang aku jalani. Buktinya barangkali bisa ditanyakan pada mas kawin pernikahan kami yang rajin “disekolahkan” di pegadaian. Barangkali saat ini mereka sudah pintar mengajari kami – aku dan istriku – soal perjuangan hidup.

Aku selalu menghibur istriku, setelah sholat malam dan di berbagai kesempatan, bahwa roda senantiasa akan berputar asalkan kita tak kenal lelah untuk memutarnya. Sebagai ayah, aku belajar mempersiapkan mental baja agar anakku nanti tak lemah. Sepeninggalku, jika sampai waktuku, aku tak ingin meninggalkan keturunan yang lemah, yang hanya bergantung pada orangtua bahkan hingga mereka dewasa dan saatnya menikah. Bukankah anak singa takkan lahir dari seekor kambing?

Sesungguhnya penghiburan terutama bagi kami – yang penat dengan jungkir balik kehidupan terutama pasca aku berhenti ngantor – adalah sang putera tersayang, Alham. Beratnya yang saat itu mencapai lima kilo lebih dengan pipi gembul dan perawakan jangkung membuatnya tampak lebih besar dari bayi-bayi seusianya. Ocehannya yang banyak, terutama selepas disusui, kerap membuatku sadar bahwa banyak hal yang patut disyukuri ketimbang disesali dalam hidup ini.

“Mencintai seseorang akan membuatmu berani, dan dicintai seseorang akan membuatmu kuat,” demikian kata Lao Tze, sang filsuf dari Tiongkok kuno. Itu pelajaran kedua bagiku sebagai ayah. Berani berhutang, bentuk praktisnya.

Saat orderan terjemahan sepi, sementara aku mengisi waktu dengan menulis untuk koran, dan kami berhari-hari bertahan hidup dengan mie instan plus telur dan tak jarang hanya nasi goreng tanpa lauk – tanpa mertua dan kakak ipar tahu – aku tak tega membiarkan anakku yang masih menyusui hanya dapat asupan ASI yang alakadarnya.

Selain menerjemahkan dan menulis, aktivitasku sebagai trainer penulisan untuk anak-anak dhuafa sama sekali – dan memang bukan tujuan – tidak dapat diandalkan untuk tambahan pendapatan. Solusi kuno yang termudah, sejak awal peradaban manusia, untuk kekurangan pendapatan adalah berhutang meski salah satu hadis Rasullulah SAW mengatakan bahwa itu sebagian dari tanda-tanda kehinaan.

Mata anakku yang bening dan besar saat menatapku, kerapkali saat aku gendong untuk menidurkan atau membuatnya bersendawa, seakan bertanya kepadaku,”Abi ngutang lagi ya?”

“Iya nih,” jawabku dengan mimik dibuat lucu untuk mencandainya. Biasanya ia yang murah senyum akan tertawa terkekeh-kekeh. Terlebih lagi jika aku dengan gokil menirukan gaya tangannya yang khas seperti gaya orang menyetir mobil atau seperti gaya Superman terbang – dengan satu tangan teracung lurus ke depan.

“Nanti Alham sekolah yang tinggi ya. Biar jadi orang kuat,” pesanku. Entah mengerti atau tidak, ia tersenyum lebar. Tampak lucu menggemaskan dengan penampakan gusi kosong dan binaran mata kelerengnya. Semoga saja harapan ayahnya ini terpatri di alam bawah sadarnya kelak saat dewasa.

Ya, menjadi orang kuat – dalam pengertian fisik, keimanan, ilmu, finansial dan kedudukan – adalah syarat seorang pejuang, nama “Alham” adalah salah satu nama penulis-pejuang yang aku kagumi, dalam apapun bentuk perjuangan yang ditekuninya.

Jika ada tangga menuju kesuksesan di masa depan yang harus didaki anakku ini maka aku rela jadi anak tangga terbawah untuk ia pijak menuju pijakan berikutnya. Ketika banyak orang maupun tetangga memuji-mujinya sebagai anak yang “pintar” atau “responsif”, aku termimpi-mimpi Alham berkuliah di luar negeri. Ah, mimpi yang indah.

Sayang aku lekas terbangun di dini hari itu. Entahlah apakah ini juga obsesi masa laluku yang tak sampai ketika seorang dosen menawariku beasiswa S-2 ke Jerman bahkan ketika aku masih di semester lima. Sayang tak kesampaian. Kekurangan biaya, alasannya. Klise memang.

Belajar menjadi ayah memang perlu waktu panjang. Aku rasa aku masih di tahap teramat dini di usia anakku belumlah genap setahun. Namun pelajaran ketiga yang utama yang aku dapatkan pada fase tiga bulan menjadi ayah adalah: jika ada kemauan pasti ada jalan. Dengan kondisi menjadi ayah dan suami berpenghasilan tak menentu yang pernah tertipu orang, terlilit hutang dan kehabisan tabungan – yang merupakan ujian Allah agar emas terpisah dari loyang – aku belajar mengendalikan emosi, lebih menghargai istri dan belajar mensyukuri yang ada serta lebih gesit mengejar peluang.

Di titik inilah aku merasakan dengan makna sejati-jatinya bahwa pernikahan – termasuk keberadaan anak –mendewasakan orang. Saat beberapa teman lajang curhat kepadaku tentang susahnya hidup melajang dan mereka berangan-angan tentang (melulu) indahnya pernikahan, aku tersenyum. Aku hanya berdoa semoga kelak, dengan harapan semuluk itu, mereka tidak menyesal menikah.

Karena sebenarnya ungkapan lama “sengsara membawa nikmat” dari Tulis Sutan Sati – penulis Melayu angkatan Balai Pustaka – dalam konteks pernikahan dapat terbolak-balik letaknya. Dan cinta tak selalu semakna dengan bisikan mesra atau tatapan sayang. Cinta sejati lebih merupakan perjuangan yang tak jarang berlumur peluh dan air mata.

Jakarta, 14 Februari 2009

4 Komentar

  1. Bindus Abid

    Ms, salam kenal,,,
    Nama DD’ ny Bagus Ms,,,
    Usul Ms: Mungkin Bisnis Internet dapat Membantu. Njenengan kn Penterjemah, knp g Coba Paid to Review, dBayar t Review sbuah Web. Y, memang agak Sedikit Ms Phasilanny, min $5 per review, tp Perlu dCoba,,,
    Saran sy, ikut Sponsoredreviews aja Ms, yg udah tbukti Mbayar,,,
    Alhamdulillah, smg dpt Membantu,,,

    • Salam kenal, Mas Abid:). Terima kasih untuk apresiasinya ya.
      Wah, terima kasih ya usulan dan rekomendasinya. Saya memang sudah lama ingin coba. Tapi yah, kuatir gak dibayar,hehe..

      Syukurlah ada njenengan yang memberikan testimoni. OK, Insya Allah, saya coba. Kendati ekonomi kami sekeluarga sudah sedikit membaik ketimbang saat tulisan tsb dibuat (2008) tapi tetap saja banyak kebutuhan lain, terutama anak, yang harus diperjuangkan untuk dipenuhi:).

  2. Sofi

    Saya belajar banyak hal dari tulisan ini. Terima kasih sudah berbagi.:)

    • Alhamdulillah, semoga bermanfaat ya dalam mengiringi perjalanan Mbak Sofi belajar menjadi calon ibu atau ibu:).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: