Pekerja Kata

Sebab kata adalah karya

Aneka Rasa Menjadi Penerjemah

“Mas, ada kerjaan (terjemahan) Inggris-Indonesia. Kontrak bisnis. Untuk Selasa bisa nggak?” tanya salah satu klien.  Waktu itu hari Jumat.

“Berapa halaman?” tanyaku.

“Banyak nih, 100 halaman. Sanggup tidak? Atau di-split aja?”

Wah, lumayan nih, pikirku. “Oke, Mas, sanggup. Saya ambil semuanya.”

“Oke, nanti kurir saya antar dokumennya ke rumah. Benar ya, Mas, Selasa. Jangan sampai telat. Kalau tidak, kami kena penalty dari klien.”

Aku mengiyakan. Entahlah, aku lupa, sudah mengucapkan Insya Allah atau tidak saat itu. Yang jelas, ini order kakap. Itu yang ada dalam pikiranku.

Tak lama masuk satu orderan lagi dari bahasa Inggris untuk diterjemahkan ke bahasa Indonesia, sekitar 30 halaman spasi rapat, untuk hari Rabu. Aku juga sanggupi. Dalam hitung-hitunganku, 30 halaman spasi rapat itu berarti sekitar 90 halaman hasil. Kalikan saja dengan Rp 7.000, lumayan kan?

Harap maklum saat itu, sebagai penerjemah pemula, tarifku masih jauh dari standar tarif yang ditetapkan Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI). Kompetisi pasar yang ketat antarpenerjemah juga membuat biro-biro penerjemah leluasa menekan harga.

Eh, ada lagi order terjemahan ekspres untuk keesokan harinya 10 halaman. Ini berarti double price, honornya Rp 14.000 sampai Rp. 20.000 per halaman hasil. Juga aku ambil. Saat itu aku tidak berniat mengoper sebagian orderan itu ke penerjemah lain. Yang lebih aku pikirkan banyaknya uang yang bakal aku dapat sendirian. Sebab jika dibagi dengan penerjemah lain otomatis pendapatanku berkurang. Bayang-bayang penghasilan sekitar Rp 2,5 juta dalam waktu kurang dari sepekan jelas lebih menggiurkan.

Alhasil, keserakahanku menyeretku dalam perjibakuan dari Jumat sampai Selasa dengan ketiga order terjemahan dengan total halaman hasil sekitar 300 halaman. Padahal kemampuanku menerjemahkan dokumen adalah 30 halaman spasi dua dalam sehari.

Ketika tenggat berjatuhan, mulailah bencana itu. Dua orderan memang terkejar tuntas pada waktunya meski di ujung-ujung injury time. Tapi justru orderan pertama sebanyak 100 halaman tak tertanggulangi. Aku gagal menyelesaikannya tepat waktu. Selisihnya pun jauh, masih separuh halaman lagi. Aku minta maaf pada pemilik biro tersebut yang habis-habisan memakiku.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban, aku gratiskan klienku tersebut untuk tak perlu membayar jumlah halaman yang sudah dikerjakan. Ini musibah betul buatku. Klien itu termasuk klien yang rajin menyuplai order kepadaku, dan hubungan bisnis kami sudah terbina hampir separuh perjalananku bekerja sebagai penerjemah lepas. Aku sudah berpikir ia akan memasukkanku dalam daftar hitam penerjemah. Alamat sepi order.

Memang setelah itu order sepi. Bahkan dalam dua minggu aku hanya dapat orderan 20 halaman. Untungnya aku hobi menulis sehingga dapat mengisi waktu yang lowong dengan menulis. Namun, hikmahnya, dalam waktu sekitar tiga pekan kosong tanpa order terjemahan aku punya banyak waktu luang untuk menemani ayahku ngobrol. Bekerja a la SOHO tidak serta-merta menjamin kita bisa dekat dengan keluarga atau orang-orang yang kita sayangi.

Selang dua hari kemudian datang kurir dari biro klien tersebut. Ada orderan yang tenggatnya seminggu. Total honor Rp. 300.000. Lumayanlah, yang penting aku masih mendapat kepercayaan. Itu hal yang mahal dalam bisnis.

Itu “rasa” perjuangan sebagai penerjemah. Ada “rasa” lain yang unik.

Pernah seorang klien terbahak-bahak ketika memeriksa hasil terjemahanku. Entah mengapa aku tak mengerti.

“Mas, ini tidak usah diterjemahkan. Biarkan saja,” ujarnya seraya menunjuk kata software. Kebetulan naskah terjemahan yang aku kerjakan mengenai manual produk komputer terbaru.

“Kenapa, Pak? ‘Kan sudah ada bahasa Indonesia bakunya?”

“Tidak kenapa-kenapa sih,” balasnya sambil garuk-garuk kepala. “Tapi saya jadi ingat punyanya istri saya!” Ia melirik penuh arti. Lalu kembali tenggelam dalam gelak tawanya.

Astaghfirullah, sedemikian asosiatifnyakah kata itu?

Dalam naskah tersebut, software aku terjemahkan menjadi perangkat lunak.

Akhirnya didapat suatu istilah hasil kompromi, karena aku sedapat mungkin menjunjung prinsip indigenasi bahasa, yakni piranti lunak. Demi menghindarkan asosiasi negatif, dalihnya. Entahlah apakah sedemikian ngeresnya benak konsumen produk komputer tersebut.

Memang beraneka rasa menjadi penerjemah.

Catatan: Harga terjemahan adalah harga lama:)

*tulisan ini dimuat di buku antologi komunitas Bahtera “Tersesat Membawa Nikmat”.

2 Komentar

  1. arfan

    kalo sekarang udah gak 7000 lagi per halaman dong….???😀

    • haha…tenang,Bang, sudah gak segitu lagi. Sudah tobat sejak kenal Bahtera dan kena provokasi ente tentang pentingnya menjaga martabat penerjemah:). Terima kasih ya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: